Saat Harus Melewati Pos Imigrasi Itu…

Setiap kali hendak mengadakan perjalanan lintas  negara, saya pasti berdebar-debar saat akan melewati pemeriksaan di pos imigrasi. Beberapa teman pernah mengalami pengalaman menyebalkan termasuk saya sendiri.

Pertanyaan standar yang diajukan saat melewati pemeriksaan biasanya:

“Kemana tujuan kamu? Apakah sudah pernah ke sana sebelumnya”

“Berapa lama, dimana dan dengan siapa akan tinggal di tempat tujuan?”

Jika sedang beruntung, petugas hanya mengecek identitas di paspor, melihat dengan teliti halaman visa  dan selanjutnya mengecap stempel, beres. Jika sedang sial, selain pertanyaan standar, pertanyaan yang lebih spesifik juga diajukan seperti:  “Siapa yang mengundang dan membiayai perjalanan?”, “Apakah pernah tinggal sebelumnya di LN? Dimana? Berapa lama? Dalam rangka apa?”, “Apa pekerjaan sebelumnya?”  Termasuk mencek tiket perjalanan, bukti booking hotel, surat sponsor perjalanan dll…dll…

Memasuki wilayah yang tidak biasa seperti Colombo pertanyaan pun menjadi sedikit berbeda pula.

Foto: Patung Sang Buddha yang sedang tertidur di Kataragama-Sri Lanka

Pengalaman menyebalkan pertama saya alami saat kembali ke tanah air usai studi beberapa tahun silam. Saat transit di bandara Frankfurt- Jerman, saya terkena ‘jatah’ dilayani oleh seorang  petugas imigrasi yang serius, tegas dan tidak nampak  tersenyum sama sekali. Si petugas mengajukan pertanyaan yang telah saya antisipasi.

Si Petugas Yang Rese (SPYR) :” Negara tujuan kamu ke mana?”

Me: “Indonesia”

SPYR: “Apa tujuan kamu ke Indonesia?”

Me:”Pulang kampung,  setelah selesai studi”  *kalem*

SPYR: “Kenapa pulang kampungnya ke Indonesia?”  

…Hmmm pertanyaan yang sungguh aneh, jelaslah kampung saya di Indonesia, bukan di Alaska!!!... *mulai tidak sabar karena kuatir tertinggal penerbangan lanjutan yang mepet sekali waktunya*

Me: “Keluarga saya di Indonesia, orang tua saya tinggal di sana”

SPYR: “Apa yang kamu lakukan sebelumnya di Den Haag? Apa jurusan studinya? Kapan selesai? Siapa yang membiayai? Berapa lama waktu studi?… Mana bukti kartu pelajar kamu?”

Usai menjawab pertanyaan yang bertubi2x tadi, saya menunjukkan kartu pelajar dan berharap semua akan selesai setelah identitas sebagai pelajar diperlihatkan, ternyata saya keliru. Si petugas kembali bertanya:

“Mengapa waktu berlakunya sudah habis?”

Karena merasa kesal, lelah dan rasa  kuatir yang mendera saya pun menjawab dengan tidak sabar serta emosi (sangat tidak dianjurkan, guys… it’s a big NO…NO...)

Look! , kartu pelajar saya habis masa berlakunya karena masa studi saya sudah selesai dan saya akan pulang ke tanah air. Does  it sound logical enough for you?… Saya punya ID lain yang masih berlaku kalau kamu masih penasaran (sambil menunjukkan beberapa ID lain)…I want to go home to my own country!…. Tuh, teman2x saya yang serombongan nggak ada masalah… Kenapa kamu rese banget  siyyy????!!!!…”

Entah karena saya menjadi terlihat lebih dewasa dan meyakinkan kalau galak (ini salah satu bukti betapa repotnya punya wajah memelas, hehehe :D), atau si petugas yang merasa kasihan, akhirnya setelah membolak-balik paspor ia memberikan stempel dan menyilakan saya pergi, PHEWWWW….

Saat mengunjungi London ada beberapa kejadian tak menyenangkan yang saya alami. Petugas imigrasi di bandara Stansted, London melakukan pemeriksaan ekstra saat melihat stempel di bagian belakang passport (waktu aplikasi visa ditolak sebelumnya, ada stempel hitam di passport dari kedubes UK di Oslo)

Ahhhhhhhh…..sungguh siyallll….😦

Foto: Buckingham Palace-London  (sayang hanya bisa mengelus2x pintu pagar saja :D)

Petugas menanyakan tujuan, lokasi pelatihan, sponsor perjalanan, berapa lama tinggal di domisili terakhir, mengapa memilih berdomisili di sana dll. Karena sudah ‘terlatih’ saya menjawab semua pertanyaan dengan fasih dan lancar (pengalaman adalah guru yang terbaik, you know… :D) serta memberikan semua dokumen dan surat2x bukti yang diminta. Tak lama kemudian petugas meminta saya duduk dan menunggu. Saat itu bandara sedang sepi, ada seorang perempuan muda berwajah Asia Selatan juga sedang menunggu. Saya membaca secarik kertas yang diberikan oleh petugas yang menyatakan kurang lebih: “You are under detention…. kami akan mengadakan pemeriksaan terhadap identitas anda bla..bla..bla…” (well, sounds a bit scary… I have to admit…).

Tak sengaja beberapa hari sebelum keberangkatan itu saya melihat sebuah program dokumenter tentang petugas imigrasi di Australia. Dari sana saya tahu bahwa lewat kamera pengawas yang tersebar, petugas mengamati gerak-gerik mereka yang berlalu-lalang, maka masa2x menunggu itu saya gunakan sebaik2xnya untuk memberikan kesan baik (lah iya lahhhh….:D), mencoba tenang, tidak panik ataupun menimbulkan kehebohan yang menarik perhatian. Sambil membuka bahan2x pelatihan yang belum sempat dibaca, saya membuat sejumlah catatan kecil di buku catatan (maksudnya supaya terkesan serius….hmmm ngaruh nggak yah?…).

Sepuluh…lima belas…dua puluh…tiga puluh menit berlalu… hingga beberapa saat kemudian si petugas imigrasi kembali ke posnya dan memberikan isyarat agar saya menghampiri. Ia tersenyum (…jiyahhhh….tersenyum juga…..kenapa nggak sejak tadi … mas…mas…..). Si petugas yang sekarang terlihat ganteng (kesempatan cuci mata yeee…:D..) mempersilakan saya melewati pos pemeriksaan dan menyatakan bahwa semua baik2x saja. Pemeriksaan dilakukan jika ada sesuatu yang dianggap tidak biasa.

Foto: Bunga Teratai di pasar tradisional dan sebuah mall di tengah kota Bangkok-Thailand

Pengalaman yang unik lain dialami saat saya dan hubby berkunjung ke Thailand tahun lalu. Saat memasuki pemeriksaan, semua pendatang diharuskan berdiri di depan meja petugas imigrasi dan menghadap kamera untuk diambil foto diri. Satu minggu kemudian, saat akan meninggalkan Bangkok, T sempat tertahan sebentar di pos imigrasi dan terlibat percakapan lumayan panjang dengan petugas yang hampir tidak pernah terjadi sebelumnya. Ternyata….si petugas penasaran dengan rambut T yang terlihat berbeda (lebih pendek) serta menanyakan sejumlah hal seperti: “Apakah anda baru memotong rambut?…Dimana?… Mengapa?….” Saya hanya menggoda, barangkali si petugas heran karena T terlihat lebih mak nyuss…. hehe😀

MORAL OF THE STORY:

1. Suka atau tidak, petugas imigrasi hanya menjalankan tugasnya. Boleh berdebar-debar dan kuatir namun jangan berlebihan karena justru akan terkesan mencurigakan (kalau sudah begini dijamin anda akan mengalami masalah…)

2. Mereka bertugas memeriksa paspor, kelengkapan dokumen serta surat perjalanan dan memastikan bahwa semua sesuai prosedur dan hukum yang berlaku.

3. Tersenyum, rileks dan percaya diri adalah sikap yang harus dipraktekkan saat menghadapi mereka. Jangan terlihat memelas dan pasrah (nanti dianggap calon pendatang haram…) atau lirak-lirik kanan-kiri (nanti dikira copet… :D).

4. Jika mereka mengajukan pertanyaan, jawablah dengan sebaik2xnya dan seyakin2xnya. Jangan lupa siapkan bukti2x pendukung dari alibi…ooppsss… cerita anda tadi.

5. Petugas imigrasi juga manusia, berdoalah agar saat anda menjalani pemeriksaan si petugas sedang dalam mood yang bagus, sedang mengantuk, sedang ingin ke toilet atau ingin secepatnya bertemu sang pujaan hati dan tidak sabar ingin segera menyelesaikan tugasnya.😀

36 thoughts on “Saat Harus Melewati Pos Imigrasi Itu…

  1. Pingback: “Kok kamu gosong sih?…” « My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s