My Sporty Valentine’s Day

V alentine’s Day ala kami and the gank… (surprise..surprise…:D) tahun ini dihabiskan di puncak gunung. Niat awal perjalanan sebenarnya hanya untuk menghabiskan akhir pekan dengan berski bukan untuk merayakan valentine, yang buat kami tak jauh beda dengan hari2x biasa lainnya. Hmmm, candlelight dinner, coklat dan bunga tidak sempat mampir di sini, hehe…🙂

Foto: Persiapan sebelum ski, mengoleskan lapisan wax (lilin) agar papan ski tidak terlalu licin. Jenis wax yang dipakai tergantung dari temperatur di luar.

Jika ditotal, kami menempuh rute setidaknya 25 KM di hari pertama dan 15 KM di hari kedua ski trip. Persiapan dimulai dengan makan pagi yang cukup untuk energi sepanjang perjalanan serta menyiapkan bekal makan siang, minuman hangat dan snack. Tak lupa, persiapan pakaian hangat, mulai dari wool underwear (atasan dan bawahan), kaus kaki wool, penutup kepala, scarf, jaket fleece, jaket windproof dan waterproof, sepatu khusus untuk berski, celana waterproof dan windproof (tergantung temperatur), sarung tangan, gamas (pelindung agar salju tidak masuk ke kaki, khususnya saat jatuh ke salju). Barang2x tambahan lainnya adalah extra baju hangat yang dipakai saat berhenti, extra sarung tangan atau kaus kaki yang bisa basah karena keringat atau masuknya salju yang mencair. Semua ini menjadi sesuatu yang rutin dilakukan sebelum berski.

Foto: Untuk jalur ski menanjak seperti ini dipakai teknik ‘fish bone’ alias ‘tulang ikan’. Papan ski disilang menyerupai bentuk tulang ikan sambil kaki bagian dalam menahan berat badan agar tidak jatuh ke belakang.

Buat saya ini adalah pengalaman kali pertama berski mendaki lembah dan mengelilingi gunung di luar ski track (jalur untuk berski) yang biasanya disiapkan dengan alat khusus oleh pengelola areal ski. Ski track yang baik biasanya berupa jalur paralel di sisi kanan untuk arah maju dan sisi kiri untuk arah sebaliknya, di jalan yang cukup lebar dan padat kadang dijumpai empat jalur paralel bersisian.

Foto: Kabin di pegunungan yang banyak dijumpai…

Berbeda dari pengalaman berski di areal seputar Oslo yang banyak dikunjungi keluarga dengan anak 2x kecil seperti dalam postingan terdahulu. Kali ini justru banyak dijumpai skiers yang membawa anjing2x mereka untuk berski bersama.

Pemandangan yang kami lewati saat berski sangatlah indah, langit yang biru bersih, matahari yang bersinar cerah, kristal2x es yang membentuk formasi unik, hamparan pohon2x cemara serta kabin2x yang tersebar mengingatkan saya pada gambar2x pemandangan yang biasa dilihat di kalender atau discovery channel (saluran TV favorit :D)

Foto: Kristal es yang mengambang di atas sungai, menyerupai bentuk bunga liar…

Keluar dari ski track yang normal adalah sebuah tantangan tersendiri. Saat harus menanjak di kemiringan hampir 30 derajat misalnya, mau tak mau kita harus memutar badan dan berjalan dengan papan ski paralel setapak demi setapak. Melepas sepatu ski sangat tidak dianjurkan karena salju yang lunak (soft snow) bisa ‘menenggelamkan’ kita saat menginjakkan kaki dengan kedalaman setidaknya mencapai pinggang orang dewasa (been there, done that :().

Foto: Melewati danau yang membeku

Hal lain yang harus diwaspadi saat berski di daerah pegunungan adalah bahaya longsor salju (avalanche), karenanya peralatan seperti peta, kompas, transmitter (pemancar sinyal jika tertimbun salju) sangatlah penting. Headlight (lampu yang digunakan di kepala) atau senter dan stok air yang mencukupi juga penting.

Foto: Jejak ribuan raindeer (rusa) yang melewati kawasan pegunungan, biasanya mereka akan menghindar jika bertemu manusia dan dapat dijumpai saat subuh atau menjelang gelap.

Beberapa teknik berski mendasar yang harus diketahui sebelum memutuskan untuk berski di luar ski track adalah:

1. Teknik berjalan di atas papan ski di daerah yang mendatar (flat). Bagi mereka yang cepat merasa bosan, berjalan di areal mendatar selama beberapa kilometer bisa jadi sebuah siksaan, apalagi jika energi sudah terkuras. Teknik berjalan ini juga termasuk teknik ‘menendang’ (kicking), meluncur (sliding) dan memegang gagang stik yang baik dan benar.

2. Teknik berski di atas jalur menanjak dengan teknik ‘fishbone’ atau tulang ikan atau berjalan bersisian dengan papan ski paralel. Berat tubuh akan lebih terasa jika menanjak di daerah curam dan salju yang lunak.

3. Teknik meluncur di jalur menurun, termasuk teknik berbelok, mengerem dan menjatuhkan diri. Biasanya kecelakaan saat berski terjadi di jalur menurun yang curam saat akumulasi kecepatan tidak dapat dikontrol jika belum menguasai teknik mengerem dengan baik dan benar. Saya sendiri sudah kenyang jatuh saat berski hingga tak terhitung jumlahnya (lihat cerita tentang teknik menjatuhkan diri sebelumnya)). Mulai dari menabrak, ditabrak, tertabrak, jatuh di sisi kiri, kanan, depan, belakang, atas bawah, jungkir-balik… Yang jelas, memiliki polis asuransi yang masih berlaku sangat amat dianjurkan sebelum berski, hehe🙂

Foto: Kawasan pegunungan yang indah disinari cahaya matahari.

Saat berhenti untuk beristirahat, sangat dianjurkan untuk meminum minuman hangat (dalam termos), serta memakai baju hangat extra untuk menjaga suhu tubuh agar tidak drop. Jika terpaksa harus memakan (atau meminum?) salju, maka harus diperhatikan agar tidak memilih salju yang terkontaminasi. Meski bebas dari polusi, tak jarang dijumpai kotoran hewan yang diajak berski bersama pemiliknya atau bekas jejak rusa liar di sekitar jalan yang dilewati.

Foto: Di atas puncak sebuah lembah

Kami menghabiskan waktu sekitar 6 jam di hari pertama dan 4 jam di hari kedua ski trip akhir pekan lalu. Memang terasa melelahkan jika dibayangkan, namun kenikmatan saat melihat pemandangan yang indah, suasana yang tenang, udara bersih bebas polusi, plus membakar kalori dan timbunan lemak di tubuh😀 *wink…wink*) adalah sebuah ‘reward‘ tersendiri.

Klip video singkat, oleh2x dari ski trip di akhir pekan lalu.

Foto: Maksudnya sih ingin membentuk lambang ‘love’ tapi kok susah ya… Hmmm, lumayan, mendekati😀 (*maksadotcom*)

Hmmmm…. kalau sudah begini, saya jadi merasa tua karena ‘kehebohan’ merayakan hari kasih sayang nyaris tak terdengar di puncak gunung. Namun, saya yakin bahwa menikmati waktu bersama pasangan tidak kalah berharganya dari sekedar ucapan, setangkup bunga atau sebungkus coklat…🙂

15 thoughts on “My Sporty Valentine’s Day

    1. Felicity Post author

      Bisa kok dimakan…🙂, dibikin es serut nggak usah cape2x nyerutnya… Tapi tetep nggak ngaruh, kalo dingin masa minum yang dingin2x juga, hehe…😀

      Reply
  1. Ria

    bikin iri! walaupun harus menempuh sepinggang es dengan derajat kemiringan 30…hehehe tapi kan happy mbak…
    kapan ya aku liat salju😦

    btw…foto2mu cantik mbak e’ pake kamera apakah?

    Reply
    1. Felicity Post author

      Makasih say…

      Moga2x nanti kesampean bisa liat salju yah….aminnn….🙂

      Gw pake kamera saku biasa merk Olympus…pengen punya kamera DLSR masih tunggu diskon dulu😀

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s