Punya Anak Itu Mahal Ya……

Saat menemani kawan –pasangan dari Nepal– yang sedang menantikan anak pertama mereka mencari pernak-pernik perlengkapan bayi, saya baru menyadari betapa mahalnya memiliki anak, khususnya di Norwegia dimana biaya hidup sehari2x sudah sangat tinggi. Harga2x yang terpasang di kereta dorong bayi, tempat tidur, baju, mainan serta lainnya, jika ditotal bisa mencapai nilai ribuan NOK (Norwegian Kronor). Didorong oleh rasa penasaran, saya mencoba mencari tahu tentang ‘cost-benefit analysis’ memiliki anak.

Informasi yang saya dapat dari sejumlah sumber tertulis maupun interview seadanya dengan sejumlah orang tua cukup mengejutkan. Menurut buku ‘The Baby Owner’s Manual: Operating Instructions, Trouble-shooting Tips, and Advice on First Year Maintenance’ … (judulnya lucu ya…😀 yang ditulis oleh Louis Borgenicht dan Joe Borgenicht, secara ringkasnya,  memiliki bayi yang baru lahir misalnya, pada tahun pertama dibutuhkan:



I. Sarana fisik untuk kenyamanan bayi seperti:
a. Tempat tidur, tempat ganti, diaper, baju hangat dan perlengkapan lainnya
b. Aksesoris bayi yang penting misalnya dot minum susu, alat makan, kursi makan untuk bayi, mainan dll
c. Aksesoris transport untuk bayi seperti stroller (kereta dorong), alat menggendong, tempat duduk bayi di mobil (car seats). Di sini peraturan yang ketat mengharuskan orang tua untuk menyediakan tempat duduk khusus bayi di dalam mobil yang dilengkapi safety belt, jika dilanggar sanksi serius bisa dikenakan pada orang tua yang bersangkutan.

II. Sarana non-fisik berupa pengetahuan dasar yang harus dikuasai orang tua:
a. Perawatan bayi secara umum, mulai dari cara menggendong, cara mengatasi bayi yang menangis atau mengamuk,bermain dengan bayi dll
b. Suplai energi untuk bayi yang mencukupi, meliputi cara pemberian ASI, mengatur jadwal makan, menyiapkan makanan, hingga pengaturan waktu tidur.

III. Perawatan secara umum dan maintenance
a. Mengganti diaper, memandikan dan membersihkan bayi, memotong rambut dan kuku dll
b. Mengawasi pertumbuhan bayi, menjaga keamanan dan keselamatan serta memastikan bahwa bayi dapat berkembang dengan baik, aman dan nyaman.

Foto: Stroller (kereta dorong bayi) yang tidak murah itu…

Jadi, untuk bayi yang baru lahir dibutuhkan setidaknya:
1. Tempat tidur bayi dan perlengkapannya–> +/- 4000 NOK
2. Kereta dorong (stroller)–> +/- 2500 NOK
3. Aneka pakaian, untuk musim panas dan musim dingin beragam menurut usia bayi–> +/- 2000 NOK
4. Mainan bayi—> +/- 500 NOK
5. Stok diaper—> +/- 1000 NOK
6. Makanan bayi dkk (per bulan)—> +/- 1000 NOK (perkiraan kasar)
7. Perlengkapan lainnya seperti kereta bayi untuk berski (+/- 1500 NOK), sleeping bag bayi (+/- 1500 NOK), gendongan bayi untuk aktivitas luar ruangan saat musim dingin –> +/- 1500 NOK

(Untuk lebih lengkapnya bisa diintip di sini )

Dari perkiraan sangat kasar di atas, pada bulan pertama dibutuhkan paling tidak 12.000 NOK untuk kebutuhan bayi!!!….Helloooow….. Nggak salah nih???…Semahal itukah???…*garuk2x kepala sambil berharap bahwa ada yang salah dalam perhitungan ini*

Tentu saja ada harga yang lebih murah untuk barang2x di atas jika dibeli secara second-hand, di flea market, saat sedang sale cuci gudang toko, garage sale maupun lungsuran dari orang lain. Biaya semakin bervariasi dan bertambah sejalan perkembangan usia anak.

Foto: Anak2x yang sedang bermain di taman…

Karenanya, meski biaya sekolah digratiskan untuk SD hingga universitas, biaya berobat di RS yang ditanggung pemerintah serta beberapa support lainnya (jatah cuti hamil 1 tahun untuk ibu dengan gaji penuh dan posisi yang tetap dijaga di kantor, jatah cuti untuk ayah yang baru memiliki bayi hingga beberapa bulan) masih banyak keluhan terdengar dari para orang tua.

Foto: Perhatian dan bimbingan orang tua yang tak boleh diabaikan…

Umumnya keluhan yang saya dengar dari orang tua baru (OTB) adalah:

1. Kurangnya waktu bagi mereka untuk berdua sebagai pasangan seperti masa2x pacaran dahulu (loh kokkkk?…. bukankan ini resiko mempunyai anak ya….)

2. Sulitnya menemukan baby-sitter. Peraturan perburuhan yang ketat di Norwegia mengharuskan orang tua membayar upah minimum untuk baby sitter (yang legal) dengan tidak murah. Au pair pun memiliki prosedur khusus dengan peraturan khusus dan tidak bisa seenaknya didatangkan. Budaya hidup yang individualistis tidak bisa seenaknya menitipkan anak pada tetangga (boro2x mau menitipkan anak, wajah dan nama tetangga sebelah pun sering tidak tahu…). Satu2xnya andalan adalah menitipkan anak pada kakek-nenek, jika mereka bersedia…

3. Sulit menemukan TK (barnehage) yang diinginkan. Di Norwegia, anak usia 1 tahun sudah ‘harus’ masuk TK jika kedua orang tuanya bekerja. Baby-booming beberapa tahun terakhir menjadi kendala tersendiri karena jumlah TK yang terbatas dibandingkan jumlah bayi yang baru lahir dan mahalnya biaya masuk TK (biaya untuk TK tidak disubsidi pemerintah). Waiting list (daftar tunggu) masuk TK pun panjang….. Karenanya saat anak usia beberapa bulan, orang tua sudah mulai berburu TK dan memasukkan nama anak dalam daftar tunggu. Krisis TK ini sempat menjadi headlines dalam pemberitaan media tahun lalu….ckckck…

Tentu saja, saya juga penasaran dan mencari tahu tentang ‘benefit’ atau ‘segi positif’ memiliki anak… (mungkin subjek ini jarang dibahas karena menjadi orang tua dianggap sebagai sesuatu yang ‘taken for granted’ alias diterima apa adanya):

1. Hiburan. Usai seharian penat di kantor, melihat wajah anak 2x yang polos dan kelakuan mereka yang ajaib menjadi sumber keceriaan tersendiri😀

2. Pengusir sepi. Rumah terasa lebih ramai dan berwarna jika ada anak2x, suara canda dan tawa mereka menjadi ‘musik’ yang indah di telinga mengusir sepi.

3. Teman. Anak juga bisa menjadi teman yang dibutuhkan saat kita ingin bermain, bercanda dan menikmati kembali masa kanak2x bersama mereka. O ya, saat kita tua, anak yang baik dapat menjadi sumber pertolongan jika dibutuhkan.

4. Penerus generasi. Hmmm…konon ini adalah salah satu dorongan paling natural untuk memiliki anak. Kebutuhan adanya ‘the other me’ yang membawa warisan genetik kita selanjutnya alias regenerasi.

O ya, semua ‘manfaat’ di atas hanya akan memberikan dampak positif jika si anak adalah anak yang baik budi, hormat pada orang tua, berbakti dan berbudi pekerti. Jika si anak menjadi anak yang durhaka, kurang ajar, menjadi sumber masalah dan merepotkan….yang ada justru orang tua pusing tujuh keliling…. (amit2x jangan sampe…)

Kesimpulan:

1. Dimensi ekonomis (cieee….bahasanya…. ) dari memiliki anak memang cukup mengkuatirkan (baca: punya anak itu mahal dan perlu modal). Diperlukan persiapan ekonomi selain fisik sebelum memutuskan untuk memiliki anak. Bermodal nekat tidak dilarang, asal siap bertanggung-jawab dengan resiko yang mengikuti (nah loh….)

2. Selain persiapan fisik, diperlukan persiapan psikis sebelum memiliki anak. Tanggung jawab dan status sebagai orang tua melekat sampai hayat dikandung badan (tidak ada mantan anak atau mantan orang tua ya…. kecuali dalam kisah si Malin Kundang)

3. Memiliki anak atau tidak adalah sebuah pilihan yang harus dihormati.

4. Anak adalah titipan Yang Di Atas, harus dijaga, dirawat dengan penuh kasih dan cinta.

5. Sebagai anak dilarang untuk kurang ajar kepada orang tua… Ingatlah ‘biaya’ yang telah mereka keluarkan untuk kita sebagai anak baik ‘biaya’ dalam makna fisik maupun non-fisik.

*mengelus dahi, mengelap keringat sambil bertanya2x mengapa saya menulis postingan seperti ini???…ABCD…

Demikianlah pembaca sekalian…hasil pemikiran dan unek2x saya di sela kegiatan mencuci baju hari ini…
😀

20 thoughts on “Punya Anak Itu Mahal Ya……

  1. dayu

    sepertinya hanya di Indonesia saja biaya punya bayi kalau dibandingkan dengan negara lain, lebih “murah”. tapi dalam artian, punya bayi ya yang sekedar hamil dan melahirkan saja, tanpa mempertimbangkan kualitas gizi, mutu pendidikan, dan jaminan masa depan (asuransi jiwa+kesehatan). kalau dipikirkan untuk memberikan yang terbaik sampai masa depannya, punya bayi memang mahal.
    tapi bukankah itu menjadi hal yang wajar. harga yang harus dibayar? ditukar dengan betapa bahagianya punya keturunan, keceriaan yang diberikan oleh si bayi untuk pasangan keluarga, dan masa depan ada yang mengurus saat orang tua beranjak lansia.

    i really wanna have a baby, berapapun biayanya, mudah2an saya bisa menyediakan yang terbaik untuk keturunan saya. amin.

    salam kenal.
    mampir ke blog saya ya.

    regard,
    d.

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hi Dayu….. thanks sudah mampir di sini ya.

      Yup, tergantung biaya hidup di lokasi masing2x ya, di Indonesia mungkin masih lebih murah daripada di Norwegia misalnya. Hal yang wajar dan harus dibayar oleh ortu yang peduli pada masa depan anaknya.

      Wishing you all the best for the baby…🙂

      Reply
  2. Ria

    jangan2 bentar lagi aku punya ponakan ya?
    tumben2 nulis beginian? *curiga euy…heheheheh*

    demikian banyak persiapannya mbak…gak yakin kalo di indo orang2 akan berfikiran sama dengan…merried punya anak, bagaimana ongkosnya belakangan aja😀 hahahahaha…kenyataan loh😛

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hehe…kepikiran siy, tapi musti direncanakan dan diperhitungkan dengan matang, bukan begitu?…

      Orang beda2x kali ya…ada yang sangat hati2x kalo mau merit n punya anak, ada yang nyante aja dan lihat gimana nantinya. Kebetulan gw n hubby tipe pasangan yang sebenarnya fleksibel tapi buat hal2x tertentu yang penting kita sangat penuh persiapan. Sedia payung sebelum banjir😀

      Reply
  3. didut

    loh lagi di norway mbak? temen dari semarang barusan ada yg punya anak di norway🙂 … tp ada yg disupport juga khan dr pemerintah melihat angka pajaknya yg besar🙂

    Reply
    1. Felicity Post author

      O ya… Jangan2x saya tahu temennya nih.Di Oslo juga? Iya ada support, tapi tetep biaya hidup tinggi dan pajak yang gila2xan di sini, huhuhu😦

      Reply
  4. quinie

    wew… potonya bagus2 mbaa
    btw, ngobrol ama orang nepal itu pake basa inggris atau pake bahasa lain?

    oiya, mo nambahin juga, selain punya anak, nikah juga mahal euyy di sini😦. jadi mikir2 dulu punya duit berapa untuk nikah😦 *kok curcol?!*
    xixi

    btw, link dikau udah dakuh pasang🙂 dan akan sering kemariii

    Reply
    1. Felicity Post author

      Makasih Quinie…

      Ngobrol sama pasangan Nepal itu kudu pake 3 bahasa. Bahasa Norsk (Norwegian) ke si isteri (karena dia nggak bisa bahasa Inggris dan saya nggak bisa bahasa Nepal) plus bahasa tarzan😀 Kalo ke suaminya pake bahasa Inggris.

      Yup, biaya nikah juga mahal banget…. Saya kepikir mo bikin postingan tentang ini nanti. Makasih dah pasang link-nya… Aku bakalan sering main ke tempatmu juga…😀

      Reply
  5. damz

    mbak, di swedia kalo punya anak malah dikasih tunjangan dari pemerintah.. udah gitu TK-nya gratis pula..
    tapi tetep lho orang-orang sini pada nggak demen menikah & berkeluarga.. akhirnya fasilitas ini banyak dimanfaatkan oleh imigran dari afrika & timur tengah yang pada produktif bikin anak..🙂

    Reply
    1. Felicity Post author

      Yup, di sini punya anak dapet tunjangan dari pemerintah juga, tapi tetep biaya hidup tinggi. Hmmm…TK bisa jadi krisis satu negara loh di sini😀.

      Sama dong, …banyak imigran yang punya anak banyak banget dan meng-abuse sistem kesejahteraan yang ada. Tadi baru baca website pemerintah kalo 40% ibu di sini itu single mother. kayaknya menikah itu bukan hal yang morally obliged deh…makanya pada nyante aja.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s