Jangan Anggap Rendah Ibu Rumah Tangga!

“……agak gimanaa gitu ma seseorang yang berseloroh ma gw.. “sayang yaahh.. padahal kamu pinter dari dulu, kuliah sampe selesai, punya gelar.. ternyata tetep di rumah aja.. brarti buat ortumu kamu adalah investasi yang gagal *gubraaakzzz.. @%#%@$^#%… hanya bisa senyum kecut scara dia adalah orang yg mesti gw hormati*…”

Kata2x di atas adalah kutipan status FB seorang kawan yang saya baca kemarin. Entah mengapa perasaan saya langsung campur aduk antara marah karena perlakuan yang diterima kawan tadi, gusar karena ia hanyalah satu dari sekian banyak ibu rumah tangga yang mengalami ‘pelecehan’ semacam ini dan kesal karena pandangan yang banyak dianut di masyarakat yang kian hedonis.

Setelah postingan sebelumnya membahas tentang ‘cost-benefit analysis’ memiliki anak…. mendengar suara hati kawan di atas saya jadi kembali berpikir. Apa betul anak dianggap ‘investasi’ masa depan oleh orang tua? Kalau memang iya apa wujud ‘balik modal’ di mata orang tua? Apa ‘balik modal’ tadi ditujukan hanya untuk orang tua atau termasuk anggota keluarga yang lain?…

Tidak adil jika saya menggeneralisasi bahwa semua orang tua memiliki karakter yang sama… Jujur saja, orang tua juga manusia. Ada yang matre dan juteknya setengah mati ada yang sederhana dan rendah hati, ada yang suka pamer ada yang lebih suka diam dan tidak berkoar2x tentang harta, prestasi atau kelebihan yang dimilikinya, terutama yang menyangkut si anak.

Miris rasanya jika anak dipandang hanya sebagai investasi untuk balik modal secara materi. Kalau sudah begini, anak dianggap sebagai mesin uang atau bank yang menjadi sumber pemasukan atau kebanggaan. Seorang kawan pernah bercerita bahwa ibunya pernah memiliki obsesi untuk menjadi model dan gagal. Selanjutnya, si ibu meneruskan obsesi yang gagal terhadap si anak (kawan saya tadi) dan kembali gagal karena kawan tersebut tidak memenuhi kriteria ‘kutilang’ (kurus-tinggi-langsing) yang banyak dituntut dari seorang model. Alhasil….seperti sebuah lingkaran setan, si kawan tadi kini berusaha mati2xan mengorbitkan anaknya menjadi selebriti cilik, seperti sebuah pelampiasan mimpi2x yang pernah kandas dan ‘diwariskan’ dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam situasi semacam ini, anaklah yang akan menjadi korban. Tuntutan dari orang tua yang tak ada habisnya bisa menjadi beban mental dan moral. Tak sedikit anak yang harus ikut les ini-itu usai jam sekolah atau di waktu luang supaya ‘pintar dan berprestasi’. Padahal, anak juga perlu waktu bermain, bersosialisasi dan menikmati masa kanak2x yang hanya datang sekali seumur hidup ini.

Biaya2x apa saja sebenarnya yang sudah ‘diinvestasikan’ ke seorang anak?… Secara kasar saya melihatnya sebagai berikut:

1. Biaya maintenance fisik (sandang, pangan, papan)

2. Biaya pendidikan formal di sekolah

3. Biaya les ini-itu

4. Biaya kesehatan

5. Biaya kebutuhan tambahan lainnya (liburan dll)

Ok, jika ditotal…biaya yang dikeluarkan orang tua sejak bayi hingga si anak dewasa (18 tahun) memang tidak sedikit.

Jika orang tua memiliki keterbatasan ekonomi dan harus memilih mana yang harus diprioritaskan, maka (kemungkinan besar) si orang tua akan memprioritaskan anak laki2x untuk bersekolah setinggi mungkin. Pandangan budaya patriarki bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi2x karena pada akhirnya hanya akan berakhir di dapur, kasur dan sumur masih banyak dianut di masyarakat, khususnya di kalangan generasi kakek-nenek kita.

Perpaduan antara hitung2xan ekonomis dan budaya patriarki tadi menjadi salah satu sebab munculnya ‘pelecehan’ terhadap profesi ibu rumah tangga, khususnya jika si ibu memiliki gelar sarjana. Mungkin orang2x yang matre dan patriarkis tadi akan berkata: “Nah, apa saya bilang!…akhirnya percuma sekolah tinggi2x kan?!!!…”

Seandainya saja mereka tahu bahwa menjadi ibu rumah tangga tidaklah mudah. Ia bertanggung jawab atas kelangsungan rumah dan isinya, kesejahteraan anak dan suami tercinta. Ini harus dijalankan 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu non-stop tanpa gaji rutin (selain jatah bulanan), tanpa jatah cuti, tanpa jaminan pensiun (jika tidak ada asuransi), tanpa asuransi kesehatan (jika tidak mengikuti asuransi keluarga).

Jika rumah terlihat berantakan… ibu sebagai ‘sang manajer’ akan disalahkan; jika anak nakal tidak berprestasi di sekolah…ibu sebagai ‘sang guru’ akan dianggap gagal…. jika suami tidak terurus…ibu dan juga sebagai ‘sang isteri’ akan dicibir.

Ibu rumah tangga adalah profesi mulia karena di punggung merekalah terletak kunci atas kualitas anak2x generasi penerus bangsa. Apapun pilihan yang diambil, bekerja maupun tidak bekerja, semua harus dihargai. Bukan dipandang remeh dan direndahkan.

Hmmm, mungkin saya menjadi sensitif akan isu ini karena melihat betapa ibunda (alm) dulu berjuang mati2xan menjadi seorang perempuan karir dan ibu rumah tangga yang tidak mudah. Untuk para ibu semua: I salute you!🙂

21 thoughts on “Jangan Anggap Rendah Ibu Rumah Tangga!

  1. Binar

    Hai..salam kenal..baru mampir di blog ini.
    Cuma mau sharing sedikit pengalaman menjadi ibu. Buatku anak bukanlah investasi, anak adalah “titipan” seperti puisi Kahlil Gibran “Anakmu bukanlah milikmu”🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s