Batiknisasi dan Belanja Online

Kala sedang iseng2x membaca sebuah majalah perempuan berbahasa Norsk, mata saya tertuju pada halaman mode yang menampilkan motif batik sebagai tema utama. Nampaknya batik semakin bersinar tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kancah internasional.

Pengantar dalam majalah itu kurang lebih: “Pada era 1970-an, kain batik dipakai para perempuan di dapur rumahan. Kini para desainer telah memodifikasi teknik yang digunakan dan memberikan sebuah nuansa yang sungguh baru dan trendy”… Hmmm, kesan batik yang membosankan, formil dan kurang gaul nampaknya sudah berubah.

Foto: Model terusan yang simpel dipadu dengan scarf

Pengakuan dari UNESCO bahwa batik Indonesia merupakan sebuah ‘Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity’ pada tanggal 2 Oktober 2009 lalu merupakan sebuah momen bersejarah yang menjadi tonggak kebangkitan batik.

Foto: Baju berlengan model balon dikombinasikan dengan jaket kulit dengan ‘quilt’

.

Terus terang, sebelumnya saya selalu mengasosiasikan batik dengan baju daster yang sering dipakai ibu2x di rumah, kain jarik untuk gendong bayi, baju Korpri yang wajib dipakai PNS, baju resmi yang sering dipakai para pejabat di TV, terutama di jaman Orba, baju batik yang wajib dipakai di sekolah saya dulu waktu SD setiap hari Sabtu atau Senin. Tidak terpikir sedikitpun untuk memakai batik untuk acara santai, JJS apalagi kumpul2x dengan kawan sebaya (kesannya tua atau resmi banget deh… ) Sekarang…wow, bikini berbahan batik pun tersedia.

Foto: Batik yang transparan. Perpaduan bahan di bagian dalamnya memberikan aksentuasi tersendiri.

Foto: Bikini dan tas bermotif batik dengan warna gelap.

Foto: Batik bermotif bunga2x yang besar.

Kini pemasaran batik secara online lewat media sosial seperti blog atau facebook banyak ditemui. Model2x produk yang ditawarkan pun beragam, tidak hanya baju, tetapi juga mebel dan pernak2x interior rumah bermotif batik.

Foto: Batik sebagai atasan, kombinasi model hippie tahun 1970-an dengan satin look tahun 80-an.

Setelah insyaf menyadari bahwa batik adalah kekayaan budaya nan adiluhung dengan kandungan makna dan nilai spiritual budaya yang perlu dilestarikan, kini saya semakin menghargai batik. Dulu, dalam acara resepsi pernikahan di Oslo, sengaja kami memilih kain sutra bermotif batik sebagai suvenir yang ternyata menjadi incaran para tamu. Kini saat kebetulan bertemu atau berkunjung ke tempat anggota keluarga atau kawan yang hadir di resepsi, tak jarang saya melihat scarf batik suvenir pernikahan kami tergantung di leher mereka. Bahkan ada yang dipakai beberapa hari berturut2x tanpa bosan (deuuu… sampe segitunya..)… Banyak yang berkomentar bahwa suvenir scarf batik tersebut sungguh cantik (*yess…misi batiknisasi yang berhasil!…😀 *)

Belanja Batik Online

Minggu lalu, saya mencoba untuk pertama kalinya membeli batik secara online. Kuatir juga membayangkan kualitas bahan dan ukuran yang mungkin tidak sesuai kenyataan. Belum lagi biaya ongkos kirim yang meliputi sekitar 30% dari keseluruhan transfer (betul2x berat di ongkos kirim…). Untunglah barang diterima dalam keadaan utuh dan hampir semua bisa dipakai (dari total 8 pieces yang dipesan, 2 tidak sesuai harapan).

Foto: Home-industry batik di Solo yang sempat kami kunjungi saat liburan tahun lalu.

Lessons-Learned:

Untuk melakukan belanja baju online:

1. Perhatikan ongkos kirim, khususnya untuk pos antar-negara. Di sejumlah negara ada peraturan ketat tentang jumlah dan jenis barang yang dianggap ‘komersial’ yang masuk dan bea yang harus dibayar. Perhatikan service charge dari bank di negara asal dan negara tujuan, karena saya masih newbie dalam belanja online dan kurang teliti, alhasil pihak toko online yang saya pesan justru harus ‘nombok’ biaya kekurangan sekitar Rp 60.000 (maaf ya….ilmu belanja saya masih kurang canggih, nanti diganti deh…)

2. Perhatikan model baju dilihat dari BELAKANG (nah, ini yang jarang diperhatikan…. kebanyakan foto model baju yang ditawarkan oleh penjual online hanya ditampilkan dari depan). Salah satu baju yang saya pesan terlihat cantik dari depan, namun saat diterima ternyata ada detil pita di bagian belakang yang tidak sreg buat saya.

3. Membeli baju perempuan dengan model yang sedikit ‘ramai’ seperti detil kerutan, draperi dll harus lebih teliti. Seringkali baju terlihat cantik di badan manekin atau model dalam foto, namun dalam kenyataannya bahan batik dari katun yang agak kaku sering kurang cocok untuk model ini (baca: jatuhnya kurang pas di badan)

4. Harga tidak menipu. Membeli baju dengan harga relatif murah secara online cukup beresiko. Baju mungkin terlihat ‘wah’ dan ‘mahal’ di foto, namun, dalam kenyataannya bisa jadi jahitan kurang rapi, baju terkesan ‘murah’ (hmmm…yah kalo memang ‘begitulah’ harganya, trus mau gimana lagi dunk?…). O ya, jangan kuatir… ada juga baju batik dengan harga relatif murah namun berkualitas.

5. Sadar dengan ukuran badan sendiri. Hmmm… karena selalu memiliki ukuran XS dan S, maka saya selalu berkhayal berpikir bahwa ukuran badan tidak akan berubah. Ternyata saya keliru. Ukuran baju S yang saya pesan nyaris tidak muat lagi…(reality hurts… *sigh*)

6. Jangan mudah tergoda, ingatlah tagihan bulanan yang bisa membengkak😀 (..yaya…saya tahu)

Foto: Customer yang antusias mencoba kiriman batik yang baru tiba😀

Sumber foto: KK edisi 25/2009 dan koleksi pribadi.

TABIK

21 thoughts on “Batiknisasi dan Belanja Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s