Tersesat…Lagi.

Bersyukurlah mereka yang memiliki kemampuan membaca peta dengan baik dan benar, karena tidak sedikit yang memiliki ‘keterbatasan’ dalam membaca dan memahami peta… ehm, seperti saya…

Keterbatasan skill membaca peta ini seringkali menjadi masalah yang menganggu, khususnya kala harus berada di tempat baru dan asing. Sejak tersesat seorang diri dan terpaksa harus berputar2x di tengah kota Oslo selama 5 jam, juga pengalaman tak mengenakkan ketika tengah malam tersesat di kota Roma , saya bertekat untuk TIDAK LAGI tersesat… ‘Alarm’ pun langsung waspada saat tiba di lokasi baru dan mulai serius memperhatikan tanda2x jalan atau bangunan sebagai pengingat jalur yang dilewati.

Ternyata, nasib berkata lain. Kembali saya mengalami kejadian tak mengenakkan ini, di tengah kota London, menjelang tengah malam buta. Untung kali ini saya tidak sendiri.

Usai pelatihan, Ellen (kolega asal Norwegia berumur akhir 30-an),  ingin pindah lokasi hostel tempat kami menginap sebelumnya yang ada di daerah sekitar stasiun subway Warren’s Street. Menurut Ellen, akomodasi di tempat baru lebih dekat ke lokasi pasar rakyat yang ingin dikunjunginya keesokan hari di daerah Portobello, Notting Hill.

Saya sendiri sudah mempunyai rencana lain, yakni tetap tinggal di lokasi yang lama dan menunggu T yang akan datang menyusul malam itu. Karena ada waktu beberapa jam sebelum T tiba, saya menawarkan diri membantu membawa barang2x Ellen dan menemaninya mencari alamat yang ia tulis di atas secarik kertas.

Persoalan muncul kala alamat hostel yang ditulis Ellen sangatlah simpel: “Youth Hostel-London Holland Park”…. THAT’S  ALL!!!  Tidak ada keterangan nama jalan, tidak ada nomor jalan dan petunjuk lain kecuali info bahwa hostel tadi ada di tengah taman ‘Holland Park’ tidak jauh dari stasiun Notting Hill. Respon saya dalam hati:…. “Yaelahhhhh…mbak…mbak…. yang canggih dikit napa seh…. Kok mencatat alamat nggak jelas begitu… Siap2x nyasar deh kita…”

Dan ‘penderitaan’ pun dimulai… ternyata kami harus mengambil rute subway berbeda dari yang direncanakan karena adanya jalur yang ditutup akibat pekerjaan konstruksi. Lagi2x kejadian tak terduga terjadi saat tanpa sadar menaiki jurusan yang keliru. Akibatnya bisa ditebak, kami harus berhenti di stasiun-yang-tidak-jelas-apa-namanya-itu serta harus berganti subway lagi…dan lagi… Setelah bertanya beberapa kali, kami tiba di stasiun tujuan di Notting Hill. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Saya sengaja menunda makan malam agar bisa makan bersama T nantinya.

Karena tidak tahu harus mengambil arah ke kiri atau ke kanan, kami bertanya pada beberapa orang yang lewat tentang ‘youth hostel di tengah Holland Park’ dan…tidak banyak yang mengetahuinya. Seorang perempuan muda berdarah Afrika yang bertugas di stasiun akhirnya mencoba menunjukkan ‘ancer2x’ ke arah taman. Ada beberapa alternatif jalan. Sayangnya sejumlah jalan di daerah itu gelap tanpa penerangan lampu. Lokasi hostel di tengah taman yang mirip hutan pun membuat petugas tadi kuatir. Ia menyarankan kami untuk mengambil jalan yang lebih jauh namun aman untuk pejalan kaki.

Mengikuti petunjuk tadi kami melangkahkan kaki, menyusuri jalan besar, berbelok ke kiri… TERUSSSS…DAN  TERUSSS…. berjalan…. berbelok ke kanan….ke kiri lagi… melewati daerah pemukiman yang sepi… melewati daerah tanpa penerangan jalan yang memadai…hingga akhirnya harus berhenti karena jalan buntu. Hingga akhirnya hanya ada sebuah tembok tinggi dan gerbang di akhir jalan buntu tadi.

Waktu menunjukkan pukul 10 malam lebih sedikit. Sepi, dingin dan gelap. Tidak ada orang atau pejalan kaki yang kami temui untuk bertanya. Hanya deretan bangunan yang berdiri dengan angkuhnya di sepanjang jalan. Ini mengingatkan saya pada film2x horor yang bersetting kota London. Saat masih mencoba mencerna situasi, ada sebuah mobil keluar dari gerbang tadi.

Saat gerbang besar terbuka, tidak nampak apapun di dalam lokasi yang dikelilingi tembok itu, gelap. Mungkin lebih mirip kompleks pemakaman…. Saya iseng2x  melirik ke bagian bawah mobil…. AHA!  Masih menjejak bumi rupanya…. slamettt….slamettt..🙂 Kami tak menyia2xkan kesempatan untuk bertanya pada sang pengemudi yang ternyata seorang laki2x paruh baya bersama seorang perempuan di sampingnya. Mereka tidak tahu youth hostel yang dicari, tetapi mereka memberikan arah ke taman tempat hostel berada. Lumayan.

Sambil melanjutkan perjalanan saya membayangkan situasi saat itu. Dua orang perempuan di tengah kota asing, nyaris tengah malam, mencari alamat tidak jelas, hostel di tengah hutan?… COME ON!… IT CANNOT BE REAL… saya sibuk berdialog dengan diri sendiri. Perasaan yang ada pun campur aduk, perpaduan antara rasa kesal karena Ellen tidak mencatat alamat dengan jelas, rasa was2x atas segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi, (sejumlah berita kriminal yang pernah saya baca langsung berseliweran di kepala), ditambah pula rasa lapar karena belum makan malam.

Akhirnya ego saya harus mengakui bahwa kami sudah tersesat.  IT IS OFFICIAL!!!…  Sambil berjalan saya bertanya apakah ada nomor telepon yang bisa dihubungi? Ternyata ada, namun HP Ellen tertinggal di…. Oslo…. BAGOSSSSSS *getok2x kepala di tembok*.  Saya pun mengikhlaskan Ellen memakai HP pribadi untuk menelpon (hubungan internasional ye… pliss mohon pengertiannya…).  Jumlah pulsa yang terbatas membuat Ellen tidak bisa mencari info lebih lengkap… Jawaban yang diterima sama: hostel ada di tengah taman… titik. Tidak ada nomor atau nama jalan. Saya mulai panik.

Tiba2x saja: ‘KRAAAKKKKKKK!!!…‘ terdengar suara patahan…. Guess what?…. Gagang koper Ellen yang terbuat dari plastik tebal patah!!!…. Terpaksa kami harus memanggul koper yang lumayan besar dan berat itu bersama, saya di satu sisi, Ellen di sisi lain. HUHUHUHUHU….😦

Jalan semakin sepi, tercium bau wangi di antara semak2x yang kami lewati. O ya, saya juga mencium bau lain yang terbawa semilir angin…bau MARIJUANA! Saya belajar mengenali bau ini saat studi di Belanda. Bau serupa seringkali tercium dari balik jendela flat atau taman publik di kota Amsterdam dan Den Haag saat sedang berjalan2x. Sesekali terdengar lolongan anjing di kejauhan…

….. HIIYYYYYY…..

Kami lanjut berjalan…dan berjalan…. bertanya pada seorang bapak yang ditemui…hingga akhirnya menemukan sebuah jalan sempit di sisi taman yang dipenuhi pepohonan. Namun, gerbang telah terkunci. Di situ terpasang keterangan:  “If arriving after park gate is closed  (4pm in winter, 8pm in summer), please turn right off …bla…bla…then left into… bla…bla…where signs point you to side entrance. Ring bell... ”

…Nampaknya penderitaan kami masih belum berakhir…

Saya dan Ellen kembali berjalan melewati jalan kecil yang betul2x gelap dan sepi. Hanya ada tembok tinggi pembatas jalan di sebelah kanan dan tembok pembatas taman di sebelah kiri. Tiba2x saya melihat dua sosok bayangan bergerak di belakang mendekat ke arah kami. Tuhan, tolong lindungi kami… Jauhkan kami dari hal2x yang tidak diinginkan. Doa saya dalam hati sambil bergegas melangkah setengah berlari menuju gerbang yang dimaksud dalam pengumuman tadi.  Sosok bayangan semakin mendekat… nampak seperti dua orang laki2x… Pikiran saya sibuk menebak2x apakah mereka hanya pejalan kaki biasa, patroli keamanan, atau orang yang berniat jahat… Segalanya mungkin.

Dan, akhirnya…. Pintu gerbang itu terlihat. Saya mempercepat langkah serta berharap agar Ellen melakukan hal yang sama. Tanpa membuang waktu segera saya memencet bell, pintu terbuka dan kami bergegas masuk ke dalam kompleks yang ada di tengah rimbunnya pepohonan itu. PHEWWWW…..

Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Saya menemani Ellen check-in, menaruh barang di kamar hostel yang ternyata penuh sesak karena harus sharing dengan banyak orang. Selanjutnya…. BAGAIMANA DENGAN SAYA???…….

Saya harus kembali menyusuri jalan2x sepi dan gelap tadi menuju stasiun subway (yang moga2x masih beroperasi). Kini, Ellen yang menawarkan diri untuk menemani menuju lokasi tempat menginap. Setelah mencek kembali lokasi hostel dan bertanya pada resepsionis tentang jalan paling singkat ke arah stasiun kami pun bergerak.

Jalan paling singkat tadi adalah sebuah jalan yang sepi, tanpa penerangan jalan sama sekali sepanjang beberapa ratus meter. Tidak ada pilihan lain jika ingin menghemat waktu. Untunglah semua lancar2x saja. Tiba di stasiun kami pun berpisah. Ada sebuah kejadian lucu saat kami mengucapkan selamat tinggal.

Ellen: “Ok, bye-bye. Semoga kamu bisa pergi sendiri ya sampe ke lokasi. Saya nganter sampe di sini saja”

Saya: (terkejut) “LOH KOKKKK????…kamu cuma nganter sampe di sini aja?… Kirain sampe stasiun tujuan…”

Ellen: “Iya gampang kok. Saya harus balik lagi ya. DAAHHHH”

Saya: (dalam hati) “YAELAHHHH…udah dibela2xin saya anter kok kamu nggak mau nganterin saya balik seh? Eiits, tapi…bener juga nanti malah saling mengantar… bolak-balik seperti setrikaan” 🙂

Akhirnya saya hanya tersenyum dan berusaha terlihat normal meski sedikit kuatir. Waktu hampir tengah malam seperti ini, seorang diri di kota London. duh.

Tiba di stasiun tujuan, saya bertemu T yang tiba langsung dari Oslo dan lumayan lama menunggu. Semua restoran nyaris tutup. Untunglah masih ada sebuah restoran India yang masih menerima kami untuk makan. Betul2x malam yang melelahkan dengan pengalaman tersesat yang menegangkan.

Lessons-Learned:

1. Memiliki alamat tujuan yang JELAS dan LENGKAP wajib hukumnya jika tidak ingin tersesat. Lebih baik lagi jika ada print-out petunjuk dari website terkait berikut detil nomor telepon yang bisa dihubungi serta kontak personnya.

2. Sebagai turis, jangan lupa membawa PETA yang LENGKAP dan UP-TO-DATE saat hendak berkeliling. Biasanya ini dapat diperoleh gratis di resepsionis hotel, hostel atau pusat informasi wisata.

3. Telepon yang siap pakai (battery fully-charged dan pulsa mencukupi) bisa jadi penyelamat dalam keadaan darurat.

4. Jangan gengsi, malu atau segan untuk bertanya. Jika orang yang ditanya terlihat tidak yakin, tanyakan lagi ke orang lain…second opinion atau third opinion sangatlah berguna.

5. Berbuat baik seringkali tidak mudah… banyak halangan dan rintangan yang dijumpai  (bener loh…)… Kalau sudah begini, gunakanlah ilmu ikhlas  :)

15 thoughts on “Tersesat…Lagi.

  1. Pingback: Tersesat di Hutan | My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: Sh*t Happens… « My Life, My Search, My Journey

  3. Pingback: Shit Happens… « My Life, My Search, My Journey

  4. pipitta

    saya juga sering nyasar ;p paling payah kalo liat peta.. ngiter di singapore aja masih nyasar gara-gara sok-sok baca peta ;p

    sepertinya saya lebih gampang ngenali suatu tempat dari ancer-ancer bangunan tertentu gitu.. kalo disuruh liat di peta atau ngitung berapa meter lagi, nyerah deh! ;D

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s