Tetangga… Oh… Tetangga

Kota Oslo yang berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa adalah kota terbesar di Norwegia (total populasi negara +/- sekitar 4,5 juta jiwa). Namun, jika dibandingkan dengan Jakarta yang dihuni lebih dari 12 juta jiwa, Oslo mungkin dianggap seperti ‘desa’.

Pertanyaan banyak orang saat pertama kali tiba di sini adalah:

“DIMANAKAH PARA MANUSIA????…. KOK SEPI Sekaleee….???… “

Yah….. musti bagaimana lagi?…. Memang sepi di sini….

Foto: Kompleks apartemen yang baru dibangun

Bagi banyak pasangan muda (termasuk saya dan T), Oslo menjadi pilihan lokasi tinggal karena banyak hal. Akses ke transportasi publik yang mudah dijangkau, sarana hiburan dan aktivitas kultural yang lengkap, arus informasi yang nyaris tak terbatas, institusi pemerintah dan lembaga2x lain yang kebanyakan berkantor di kota ini adalah beberapa alasan. Biasanya saat pasangan muda memikirkan untuk mempunyai anak, barulah mereka berpikir untuk mencari rumah di luar kota yang lingkungannya lebih ramah terhadap anak (child-friendly environment).

Foto: Apartemen di pusat kota

Pilihan bentuk tempat tinggal yang umum tersedia di kota Oslo adalah: FLAT atau APARTEMEN. Jangan bayangkan apartemen mewah dengan lantai berkilau atau fasilitas kolam renang dan gym seperti di Jakarta. Di sini yang namanya apartemen bagi rakyat kebanyakan biasanya lebih mirip petak2x ruang yang terdiri dari kamar tidur, kamar mandi, ruang makan, ruang tamu, dapur (tergantung luas dan harga).

Jika beruntung, kompleks apartemen dilengkapi fasilitas parkir di garasi dan gudang yang memadai. Fasilitas alat deteksi kebakaran di tiap apartemen adalah wajib hukumnya. Harga sewanya?…. Untuk ruang berukuran 60 M2, sekitar 9.000 NOK (+/ 14 juta) per bulan, termasuk mahal bahkan bagi penduduk lokal. Sementara itu, sewa kamar di asrama MAHASISWA dengan ukuran lebih kecil dan fasilitas sederhana adalah sekitar 3000 NOK (5 juta) per bulan yang termasuk murah karena sewa untuk masyarakat umum jauh lebih mahal.

Foto: Salah satu asrama mahasiswa di Universitas Oslo

Foto: Dapur umum di asrama

Foto: Hall asrama

Saya dan suami tinggal di sebuah bangunan berlantai 5 (kami tinggal di lantai 3) di pusat kota. Tinggal di apartemen berarti siap hidup di lingkungan yang INDIVIDUALIS. Di sini jangankan bisa bertegur sapa dengan tetangga kiri-kanan, atas-bawah… wong wajahnya saja tidak ketahuan

Informasi tentang tetangga biasanya kami dapat sekilas2x, dari nama yang tertulis di pos surat, dari penampakan dan bahasa yang digunakan saat mereka kebetulan lewat… juga…. saat alarm kebakaran di gedung berbunyi (kadang alarm berbunyi karena ada yang merokok dalam kamar atau memasak hingga gosong dan menghasilkan banyak asap)… Barulah wajah2x asing terlihat saat semua penghuni keluar dan berkumpul di lobby menunggu sumber asap selesai dideteksi dan diatasi.

Foto: Suasana musim panas di taman terbuka tak jauh dari tempat tinggal kami.

Bagaimana rasanya suasana bertetangga seperti ini?…

1. Masing2x menganut prinsip

‘MIND YOUR OWN BUSINESS’

Alias urusilah dirimu sendiri, alias “sapeee looooo???…”  Hmmm…. kalau dipikir2x ada untungnya juga karena  kita TIDAK PERLU KUATIR dengan omongan, gosip atau mulut usil tetangga…. Bagaimana mau bergunjing…. bertegur-sapa pun jarang.

2. Jika ada keadaan emergency atau DARURAT… Bisa dijamin akan REPOT. Jangankan nomor telepon tetangga, nama mereka pun tidak tahu…

3. Setiap orang menyadari bahwa mereka berkedudukan SAMA dan SEDERAJAT serta BERHAK untuk mengekspresikan diri secara bebas… Ini bagaikan sebuah PARADOKS, pisau bermata dua….  Hidup di masyarakat yang saling hormat dan menghargai kebebasan masing2x individu adalah sesuatu yang baik… namun di sisi lain kebebasan tadi sering disalahgunakan oleh warga yang kurang bertanggung-jawab dan bertindak semaunya.

4. Kalau sudah begini, KELUARGA dan KAWAN DEKAT adalah ‘jaring pengaman sosial’ yang dibutuhkan… Merekalah tempat untuk dimintai bantuan, saat butuh baby-sitter, saat butuh tumpangan ke rumah sakit, saat ingin menitipkan barang dll. Orang Norwegia dikenal tertutup terhadap orang yang baru dikenal, apalagi pendatang asing. Namun mereka dikenal sangat loyal (setia) menjaga hubungan pertemanan. Tidak aneh jika banyak yang masih menjalin hubungan dengan kawan2x lama masa kecil, masa SD, kuliah dsb meski telah lewat puluhan tahun lamanya.

Foto: Apartemen di kawasan imigran

Secara UMUM, para tetangga kami adalah ‘ORANG BAIK2x’, mereka bisa ber-TENGGANG RASA dan ber-TEPA SELIRA alias bisa menjaga perasaan. Namun, jika sedang sial… tetangga yang ada adalah mereka yang egois dan seenaknya saja.

Dulu, tetangga di BAWAH lantai biasanya berisik saat mereka mengadakan kumpul2x di akhir pekan, kini mereka telah lebih ‘beradab’😀. Sementara tetangga SAMPING KANAN sebelumnya adalah 4 orang pelajar yang sering meletakkan plastik2x sampah di depan pintu yang kurang sedap dipandang kini berganti pasangan suami-isteri muda dengan satu bayi. Tetangga SAMPING KIRI dulunya adalah pasangan imigran Somalia yang tidak pernah bikin ulah, setelah lama tidak terlihat, ternyata tempat itu sudah ditinggali pasangan dari Eropa Timur…dan yang paling bermasalah adalah tetangga PERSIS DI LANTAI ATAS

Foto: Jenis bangunan yang banyak dijumpai di kota Oslo

Sekitar setahun lalu, pasangan muda yang berumur sekitar akhir 20-an mulai menghuni lantai atas. Saat baru pindah, kami sering terganggu dengan suara tapak kaki dari SEPATU HAK TINGGI yang berjalan kian kemari, lalu suara PERABOTAN yang digeser ke kiri…ke kanan… ke sana… ke sini… sepertinya selalu berubah2x posisi BEBERAPA KALI DALAM SEHARI, suara BOR di dinding yang memekakkan telinga, suara BASS MUSIK yang berdentam2x… hingga… suara desahan dan teriakan saat mereka BERCINTA….

Sebelumnya, saya pikir wajar kalau orang baru pindahan pasti sibuk atur sana-sini. Namun, kegaduhan tadi berlangsung hampir SETIAP HARI hingga bulan ke-4 lewat sejak mereka pindah ke flat ini. PLISSSS DEHHHHH…..

Kalau mau jujur, saya paling merasa terganggu dengan suara berisik mereka saat bercinta karena semua ‘kerusuhan‘ ‘keributan’ tadi berlangsung di jam2x seperti:

1. Malam-Subuh: jam 00.30, jam 01.30, jam 2.30,jam 3.30 (hehe…saking kesalnya…. saya membuat catatan tiap kali kegaduhan terjadi, dan menyiapkan bukti2x pendukung yang seaktual mungkin jika nanti kami harus berdebat protes… Deuuuu…. sampe segitunya…)

2. Siang hari: jam 12.00, jam 13.00, jam 14.00

Ini terjadi hampir setiap hari… sialnya justru di jam2x saat saya mencoba untuk beristirahat atau melakukan hal2x produktif seperti membaca, menulis laporan riset dll di hari biasa ataupun akhir pekan. Bayangkan, betapa sulitnya berkonsentrasi jika sudah begini…

Pernah saya terbangun jam 3.30 dini hari akibat mendengar suara keras tempat tidur di lantai atas yang mirip ‘krenyet-krenyut’ plus desahan diikuti teriakan (yup, literally screaming… alias betul2x berteriak membahana ckckckck…. Berasa di tengah hutan kali yeee…).

” HOOIIIII….. jangan berisik dunk!!!!… Terserah ente mau jungkir-balik atau loncat dari jendela…. Tapi plissss…. biarkan kami tetangga yang lain tidur dengan tenangggg!!!!!!….”

Kalau sumber suara berisik adalah suara bass musik, sepatu hak tinggi dan party yang lewat jam 1 pagi memang tidak ada masalah untuk MENEGUR. Tetapi, untuk yang satu ini saya pun bingung, bagaimana harus MENYAMPAIKAN PROTES ke tetangga yang bersangkutan????…

“Maaf, kalian berisik banget sih waktu sedang beradegan XXX *censored*…. Please make it less HOT”

Hahaha….😀 entah bagaimana reaksi si pasangan tadi jika ada tetangga lain yang protes… Saya yakin bahwa para tetangga yang lain pun merasa enggan dan TIDAK ENAK HATI untuk ikut campur urusan yang satu ini. Jangan2x si pasangan berisik tadi justru menuduh balik bahwa kami protes karena iri dan sirik.

Ihhhhhhh…… biasa aja lageee….

Karenanya saya bisa memahami perasaan para tetangga dalam berita yang saya baca kemarin di Kompas.com tentang tetangga yang protes dan menuntut pasangan yang berisik saat bercinta. Been there….felt that…

UNTUNGLAH tetangga yang berisik tadi hanya tinggal selama 6 bulan saja…. ahhh…. leganya… Tempat mereka kini dihuni pasangan suami-isteri dengan satu bayi. Kegaduhan terjadi hanya di awal2x saat mereka pindah, suara barang digeser, suara bor, suara pletak-pletuk tukang yang merenovasi kamar mandi dll.


Kini, tetangga DUA LANTAI DI ATAS kamilah yang bermasalah. Bayangkan, dentuman bas dari musik yang diputar sering terdengar hingga dua lantai ke bawah (hingga tempat kami)… Khususnya di akhir pekan yang bisa berlangsung hingga jam 2 pagi. Musik baru berkurang jika T mendatangi pintu mereka dan menyampaikan protesnya…

Foto: Protes seorang tetangga yang disampaikan lewat secarik kertas di papan pengumuman lobi.

Terjemahan dari curhat di atas adalah:

SIAPAKAH IDIOT YANG MABOK DAN MEMBANGUNKAN PARA TETANGGA JUGA MEMBUNYIKAN BEL BOLAK-BALIK DAN MENGGORES PINTU KAMI DI HARI SENIN MALAM KEMAREN?????…… HAYO NGAKU!!! JANGAN KAYAK ANAK KECIL!!!

Yaya…

TETANGGA…. OH TETANGGA….

 

Disclaimer: Foto2x di atas adalah koleksi pribadi.

48 thoughts on “Tetangga… Oh… Tetangga

  1. heru

    ngakak banget bacanya mbak hahahahahaa menghibur, andaikata penduduk indonesia cuek begitu semua yakk, rame tuh yang pasang kuping buat dengrin desahan atau teriakan wkwkwkwkwkw

    Reply
    1. Felicity Post author

      Iya…..bakalan rame banget kayaknya kalau ini terjadi di sana😉 Antara yang protes dan asik2x aja juga ngga jelas jadinya hehe…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s