Mendaki Bessegen

puncak gunung tertinggi di Norwegia (juga di Skandinavia), Galdhøpiggen ‘hanyalah’ 2,469 m…

Jangan bayangkan gunung di Norwegia serupa dengan di Indonesia. Jika dibandingkan, ketinggian puncak gunung tertinggi di Norwegia (juga di Skandinavia), Galdhøpiggen yang terletak di daerah Oppland- Norwegia bagian selatan ‘hanyalah’ 2,469 m di atas permukaan laut. Sementara Gunung Puncak Carstenz Pyramid yang merupakan gunung tertinggi di Indonesia memiliki ketinggian 4,884 m.dpl disusul Puncak Jaya dengan ketinggian 4860 m.dpl.

Foto: Pemandangan dari atas kapal

Meski tidak terlalu tinggi, kontur pegunungan di Norwegia sungguh unik. Bagian barat kawasan pegunungan bersentuhan langsung dengan laut membentuk daerah fjords yang terkenal. Gabungan antara lokasi yang berdekatan dengan Kutub Utara serta kelembaban dari North Atlantic Ocean turut andil dalam pembentukan banyak dataran es dan glacier berpadu dengan pegunungan dengan kemiringan yang tajam menciptakan pemandangan yang luar biasa mengagumkan.

Foto: Aneka flora dan fauna liar yang banyak dijumpai di awal perjalanan

Bessegen terletak di kawasan pegunungan Jotunheimen (juga bagian dari Oppland), adalah lokasi hiking yang paling populer di Norwegia. Menurut buku ‘Lonely Planet: Norway’ dalam 3 bulan musim pendakian, tak kurang dari 30.000 hikers melewati rute hiking yang ada. Musim panas tahun lalu, saya mendaki Bessegen untuk pertama kalinya bersama T yang sudah sering mendaki kawasan ini.

Foto: Melewati jalan yang masih bersalju di bulan Juni

Ada sejumlah tempat bermalam di lokasi ini seperti: Gjendeshiem Tourist Hotel yang terletak di tepi Danau Gjende serta Besshiem Tourist Hotel yang terletak sekitar 5 km dari pelabuhan di rute 51 dan Memurubu lodge yang hanya bisa diakses lewat kapal laut kecil serta perjalanan kaki.

Foto: Kapal yang membawa kami ke Memurubu lodge

Foto: Jalan berbatu dan terjal

Kami bermalam di kabin keluarga di kawasan Valdres, sekitar 1,5 jam dari lokasi parkir di daerah pendakian. Dari lokasi parkir, saya dan T menuju Memurubu dengan menumpang sebuah kapal kecil, memakan waktu sekitar 20 menit menuju titik awal pendakian. Perjalanan lewat rute Memurubu-Gjendesheim memakan waktu sekitar 6 jam.

Foto: Gumpalan awan hitam di atas langit

Beberapa saat setelah turun dari kapal, jalan setapak berbatu2x langsung menghampiri. Binatang kecil seperti kupu2x dan serangga terlihat berkeliaran di rute yang dilewati, sementara bunga2x liar di kawasan ini memiliki ciri khas tersendiri. Sekitar 10 menit kemudian, permukaan vertikal langsung menajam dan menuntut kehati2xan ekstra melewati jalan berbatu. Di beberapa tempat, kemiringan yang ada cukup curam dan memaksa kita untuk mendaki bukit batu dengan otot tangan dan kaki.

Foto: Pemandangan indah dari atas gunung, mengingatkan saya dengan Danau Kelimutu (Danau Tiga Warna di pulau Flores)

Foto: Permukaan air berwarna biru kehijauan di danau Gjende

Sayang cuaca kala itu kurang bersahabat. Awan hitam nampak bergelayut di atas kepala kami. Sesekali angin berhembus kuat membawa rombongan awan yang berjalan beriringan. Untunglah kami sudah mempersiapkan diri dengan jaket kedap air (waterproof) dan kedap angin (windproof) serta bekal makanan dan minuman hangat di dalam termos.

Foto: Capek euyyyy….

Saat itu jalur pendakian tak seramai yang kami duga. Kami sempat berpapasan dengan rombongan keluarga yang berwajah khas Timur Tengah, mereka datang dari arah berlawanan dengan rute yang kami lalui. Selanjutnya nampak dua orang perempuan dari bagian utara Norwegia yang sedang beristirahat, kelompok pemuda dari Slowakia yang menanyakan jalan, pasangan dari Italia serta rombongan yang terdiri dari dua hingga 7 orang yang berbicara dengan beragam bahasa.

Foto: Kabut dan awan hitam yang silih berganti

Beberapa jam kemudian, kami melewati jalur kecil membelah puncak pegunungan dengan pemandangan yang spektakular. Pada suatu titik, kita bisa melihat danau Bessvatnet dan danau Gjende yang mendapatkan warna hijau khasnya dari 20,000 ton glacial silt (endapan mineral) setiap tahunnya yang dibawa arus Sungai Memurubu.

Foto: Sebelum hujan turun…

Seperti yang dikuatirkan, hujan pun turun sesaat setelah kami mencapai puncak. Sesekali terdengar suara guntur di kejauhan. Saya hanya berharap agar hujan segera berhenti dan awan hitam berlalu meninggalkan rute yang kami lalui.

Foto: Pelangi…pelangi… alangkah indahmu…

Tak banyak yang bisa kami lakukan saat mencapai puncak yang ditandai dengan gundukan batu itu. Usai meminum segelas coklat hangat dari termos, kami melanjutkan perjalanan turun yang tak kalah menantang.

Kami terus berpacu dengan waktu karena suasana yang semakin gelap. Hawa kian dingin terbawa hembusan angin yang disertai curahan hujan. Gumpalan kabut terlihat kian menebal menciptakan aura mistis. Suasana saat itu betul2x mirip setting di film2x horror (hiiiiyyyyyyy….). Dalam perjalanan turun, tak ada satupun hikers lain yang dijumpai. Meski terlihat mudah, perjalanan turun harus dilakukan dengan hati2x karena bebatuan yang licin usai hujan serta jarak pandang yang terbatas hanya beberapa meter tertutup kabut.

Foto: Puncak2x gunung yang masih berselimut salju di musim panas

Akhirnya, sekitar jam 10 malam kami tiba di titik awal perjalanan. T harus berjalan ekstra sekitar 2 km lagi menuju tempat mobil diparkir, sementara saya menunggu T di tepi jalan yang gelap, sepi, seorang diri di bawah rintik hujan (huhuhu😦 another ‘what am I doing here?’ moment)

Foto: Makanan yang langsung dilahap 2 hikers yang kelaparan

Untunglah, masih ada sebuah restoran kecil yang bersedia menerima pelanggan. Rasa lapar, lelah, dingin dan lega menjadi satu. Dua porsi rømmegrot (bubur khas Norwegia yang dicampur krim susu asam, dimakan dengan mentega, gula dan kanel), teh hangat, flatbrod (roti pipih khas Norwegia seperti kertas), saft (sirup manis) dan skinke (daging asap) habis dilahap dalam sekejap.

Kami tiba kembali di kabin sekitar jam 12 malam… dan pemandangan indah di atas puncak Bessegen yang terpatri di kepala menjadi penghias tidur saya malam itu…🙂

Tips Sebelum Hiking

1. Bawalah barang yang dibutuhkan saja. Jangan sampai kelebihan beban yang tidak perlu menghambat perjalanan. Idealnya, proporsi beban yang diangkut adalah 1/7 dari berat badan kita, rasio 1/10 jauh lebih baik lagi.

2. Jika hendak bermalam di jalan: kantung tidur biasanya sudah memakan banyak tempat, jangan bawa handuk atau barang2x yang terlalu besar. Tas toilet yang cantik namun memakan tempat tidak perlu dibawa, sikat gigi dan perlengkapan toiletries bisa dimasukkan dalam kantung kecil yang praktis.

3. Masukkan baju kering ekstra di dalam kantung plastik sebelum masuk ke dalam ransel agar tidak basah oleh rembesan air hujan.

4. Beberapa lapis bahan wool yang tipis lebih baik daripada bahan wool atau jaket fleece yang tebal. Jika tubuh mulai terasa hangat dan berkeringat, lapisan wool bisa dikurangi. Yang harus dihindari adalah keringat berlebihan di hawa dingin. Berkeringat akan membuat tubuh kehilangan cairan lebih cepat (yang membuat lelah dan haus) serta resiko kedinginan. Akan sulit membuat tubuh hangat kembali jika sudah terekspos hawa dingin. Kunci yang perlu diingat adalah menjaga suhu tubuh agar tetap stabil.

5. Yang perlu dibawa: pakaian dalam berbahan wool, sarung tangan, tutup kepala, kacamata hitam, sunblock, jas hujan, jaket kedap air dan kedap angin, perlengkapan P3K, senter, peta dan kompas.

6. Berdasarkan pengalaman pribadi:
Cek jaket yang kita kenakan, pastikan agar tidak ada rembesan air hujan yang masuk. Usai mendaki Bessegen, saat tiba di kabin saya baru menyadari bahwa baju di bawah jaket basah karena ujung risleting di bagian atas tidak tertutup sempurna. Perpaduan antara kedinginan, basah kuyup dan rasa lelah membuat saya jatuh sakit selama beberapa hari kemudian.

-Pastikan agar membawa persiapan makanan dan minuman yang cukup. Termos berisi teh hangat atau coklat hangat sangat berguna.

-Jangan lupa mencek ramalan cuaca sebelum memulai perjalanan. Hal ini penting untuk faktor keselamatan dan kenyamanan selama pendakian.

-Narsis boleh2x saja… Tetapi…. jangan sampai acara foto2x menghambat perjalanan. Selain menganggu buat rekan hiker seperjalanan yang kurang senarsis kita dan terpaksa menjadi fotografer dadakan, ritme perjalanan pun akan terganggu. Haha….dalemmmm bangetttt….. (ini adalah protes khusus dari T yang tidak senarsis sayah…. :D)

Sumber foto: Koleksi pribadi.

————–

Referensi:
-http://en.wikipedia.org/wiki/Scandinavian_Mountains
-http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_gunung_di_Indonesia
-http://en.wikipedia.org/wiki/Silt
-http://www.juliegodley.com/walkinginnorway/html/bessegan.html
-‘Toppmøtte’, KK bladet, No 29/2006

32 thoughts on “Mendaki Bessegen

  1. Ria

    weks selalu dengan foto2 yg bagus mbak fel!
    Foto cowok tampak belakang itu hubby mu ya?

    mungkin akan susah bagi seorang ria ngikutin tips mu berhiking soalnya aku kalo ngepack ada saja barang yg gak penting yg terbawa…hohohoho…

    Reply
    1. Felicity Post author

      Tengkyu… Yup, itu T.

      Sebenernya gw selalu ngebawa hal2x nggak penting juga, T yang bagian sortir selalu ngeluarin printilan tadi dari ransel sambil ngedumel….

      Biasanya T bilang “Udah dibilangin kalo ini cuma ngeberatin aja dan makan tempat…masih juga ngeyel pengen dibawa!”…. Padahal itu kan majalah cewek kesayangan gw… haha😀

      Reply
  2. tya

    haaaaa aku juga pasti bisa mendaki bessegen yang hanya 2469 m dpl *jumawa*

    secara udah pernah mendaki lawu yang punya ketinggian 3245 m dpl, tapi yang ga kuat di gunung itu emang dinginnya ya mbaaa, whoaa padahal aku paling ga tahan dingin T.T

    Reply
    1. Felicity Post author

      Yup, memang gunung di sini nggak terlalu tinggi, mungkin hawa dinginnya yang beda ya… Paling nggak kuat kalo hawa dingin dibawa hembusan angin, gelap, hujan dan berkabut.

      Kalo sudah begini biasanya saya bertanya dalam hati: “Ngapainnnn yaaaa…gw kok bisa ada di sini?…” berasa pengen cepet2x pulang dan tidur di kamar yang hangat🙂

      Reply
    1. Felicity Post author

      Haha… kalo kebanyakan foto2x narsis nanti bisa nggak selese2x perjalanannya…

      T sudah protes karena saya kebanyakan moto… padahal saya biasa aja deh kayaknya…. ehm, menurut saya lohhhh…😀

      Reply
      1. arqu3fiq

        Iya sih menurut kita sbg orang Indonesia wajar dalam berfoto² kalau ada pemandangan bagus. Tapi tidak bagi orang barat, karena mereka lebih penting efisien waktu. Betul tidak mbak apa kata saya.

        Request mbak, lain kali tampilkan foto² yang menurut mbak Feli bagus tapi jangan sampe ketahuan si T. :(|)

        Reply
        1. Felicity Post author

          Betul banget…. Mereka lebih suka menikmati pemandangan daripada foto2x.

          Haha…kalo foto2x yang buat saya bagus sepanjang bukan foto T nampak depan pasti ditampilkan. Saya nggak berani menampilkan foto T tanpa seijin ybs, secara yang punya muka kan bukan saya😀

          Reply
          1. arqu3fiq

            Selain itu orang barat lebih memperhatikan waktu, karena waktu adalah uang, bukan utuk bersenang² saja, meski pada saat itu liburan bukan?

            Ya iya lah mbak, sapa juga saya minta foto si T. Aku kan request foto² Negara Norwegia dan sekitarnya yang enak di lihat mata. Thanx ya mbak .

  3. tikapinkhana

    TT keren nya warna air dan pemandangan sekitarnya, kupu-kupunya juga unik, bunga-bunganya yg ungu itu bener2 cantik ..perjalanan yang menyenangkan😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s