“Saya bukan siapa-siapa…”


Dalam suatu kesempatan saya bertemu dengan Veril (bukan nama sebenarnya), imigran dari Myanmar yang telah 4 tahun tinggal di Norwegia, menikah dengan pria lokal dan memiliki anak balita. Entah bagaimana, di tengah percakapan tercetus kalimat dari Veril yang menyentak: “Saya BENCI tinggal di sini!!!… Saya BENCI Norwegia!!!” 

Pertanyaan saya:  “WHY??? …” Dijawab Veril  dengan lantang: ” Di negara saya…saya ‘SOMEBODY’…. di sini saya ‘NOBODY’… SAYA BUKAN SIAPA-SIAPA…”

“…seperti deja -vu rasanya…”

Ada nada sedih, kecewa, marah di balik ucapan perempuan berumur pertengahan 30-tahunan itu. Saya terdiam membisu. Seperti deja-vu rasanya… Beberapa tahun lalu, saat pertama kali tiba dan memutuskan untuk menetap di Oslo, saya pun pernah merasakan hal yang sama.

Kini, saya bisa mengatakan dan merasakan bahwa Oslo adalah rumah kedua setelah Jakarta. Saya memiliki penghasilan sendiri, memiliki lingkaran pertemanan sendiri, mengenal seluk beluk kota, berani pergi seorang diri ke sana dan ke sini, bisa bercakap2x dan mengerti bahasa Norsk dan menghargai banyak hal dari rumah kedua ini, meski tetap melihatnya dari kacamata obyektif dan kritis. Sebagai imigran yang baru 26 bulan menetap, saya merasa bahwa rapor saya tidaklah buruk.

Sebagai gambaran, di Norwegia, gelombang imigran baru datang pertama kalinya di awal tahun 1970-an. Ada beberapa jenis imigran yan dikenal yakni:
1. Work-related immigrant: yang datang untuk bekerja (biasanya datang dari negara2x Schengen yang bisa masuk tanpa visa maksimum 3 bulan) atau telah memiliki kontrak kerja.
2. Asylum seekers: adalah para pencari suaka karena alasan kemanusiaan. Biasanya datang dari negara2x yang dilanda konflik.
3. Family reunification: datang ke Norwegia karena ada anggota keluarga yang telah menjadi penduduk tetap di Norwegia baik hubungan darah ataupun karena pernikahan.

Persoalan dari masing2x jenis imigran tadi ada yang umum seperti masalah surat2x resmi, birokrasi, ijin tinggal dll… dan ada yang spesifik. Imigran yang datang karena alasan kemanusiaan sering menjadi berita di media karena sejumlah masalah yang muncul. Mulai dari ‘paperless’ immigrant, data2x yang tidak akurat atau bohong, tingkat pendidikan yang rendah, masalah bahasa dan budaya, sulitnya berintegrasi, kriminalitas hingga kasus kekerasan domestik. Sementara, imigran dari negara anggota Schengen (kebanyakan dari Eropa Timur) beberapa kali menjadi sorotan karena dikaitkan dengan fakta banyak dari mereka yang menjadi pengemis di jalan2x kota Oslo, kejahatan terorganisir ala mafia… hingga prostitusi.

Saya telah bertemu dengan semua tipe imigran di atas tadi…dan semuanya memiliki atau pernah memiliki persoalan yang serupa: KRISIS IDENTITAS

Krisis identitas tadi muncul karena benturan antara hal2x yang kita bawa dari ‘tempat lama’ dengan hal2x yang kita jumpai dan alami di ‘tempat baru’.

Selain itu, di negara asalnya, si imigran mungkin memiliki jabatan, profesi atau posisi tinggi dan dihormati masyarakat sebagai dokter, dosen, pengacara, manajer bank, pemilik usaha dll… Fakta tidak diakuinya ijazah universitas negara yang bersangkutan, kendala bahasa dalam mencari kerja, persaingan dengan pencari kerja lokal, tingginya standar kualifikasi yang diminta sudah cukup mematahkan semangat pencari kerja. HARGA DIRI YANG TERLUKA inilah yang kerap menjadi sumber krisis…. (deuuu… berasa jadi psikolog)

Sejumlah pekerjaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya harus dijalani oleh banyak pendatang. Seorang rekan dokter asal Ukraina bekerja sebagai petugas pengawas apartemen karena ijasah dokternya tidak diakui, seorang rekan asal Myanmar (Veril dalam percakapan di atas) yang memiliki ijasah MBA dan pernah bekerja sebagai manajer di negara asal harus bekerja sebagai penjual bunga. Seorang imigran dari Spanyol yang menikah dengan perempuan Norwegia tidak mendapat pekerjaan sesuai pendidikannya (Ph.D) meski telah 4 tahun mencari…satu2xnya pekerjaan yang pernah dimilikinya adalah sebagai… tukang cat!!!. Mereka akhirnya bercerai setelah memiliki 3 orang anak, sungguh sebuah akhir kisah yang pahit.

Bagi saya, menetap di tempat baru adalah masalah ‘survival of the fittest’. Kecewa boleh, marah boleh… tapi jangan terlalu lama… Ada waktunya kita harus bangkit berdiri dan melakukan sesuatu yang riil. Tak ada gunanya mencaci-maki sistem birokrasi, menyalahkan pemerintah setempat yang kurang perhatian, menuduh warga lokal telah bertindak diskriminatif dan berkeluh-kesah tiada henti. Come on!… C’est la vie…. It’s life… A REAL LIFE… It sometimes sucks. So what?…

Dalam komunikasi dengan Veril selanjutnya, selalu ada saja masalah, keluhan, komplain atau sesuatu yang ‘tidak beres’ terucap darinya… Sebagai pendengar yang baik, saya mencoba mencerna kata2x ‘tersirat’ yang disampaikan rekan tadi. Seringkali makna ‘tersirat’ dalam suatu percakapan ‘speaks louder’ daripada kata2x yang terucap. Usut punya usut, Veril memiliki sedikit kendala dengan suami yang 10 tahun lebih muda, dengan mertua yang tinggal serumah dan terlalu dominan serta masalah ekonomi, tak heran jika krisis yang dialaminya seperti berlarut2x.

Waktu untuk berkeluh-kesah sudah lewat buat saya. Apapun persoalan yang muncul di kemudian hari, biasanya saya hanya berkata dalam hati… “Oh…yeahhh… just FACE IT!….and make the best out of it!” (hadapi saja, dan coba lakukan yang terbaik…). Pengalaman saat bergumul dengan berbagai persoalan membuat saya merasa lebih kuat dari sebelumnya.

…What doesnt kill you, makes you stronger, right?…🙂

Sekedar sharing: sebagai pendatang di tempat baru, beberapa masalah yang umum ditemui adalah:

1. KRISIS IDENTITAS. Been there, felt that. (lihat post curhat ini). Krisis muncul biasanya karena kesempatan mengaktualisasikan diri tertutup, tidak ada lingkaran sosial atau pertemanan, belum mendapat perkerjaan yang diidamkan, rasa ‘tidak berguna’, ‘direndahkan’ atau ‘tidak berharga’ karena pekerjaan yang dianggap ‘low status’ dibandingkan dengan posisi sebelumnya di negara asal.

2. MASALAH DOKUMEN DAN IJIN TINGGAL, mungkin ini adalah ‘a pain in the ass’ (oppsss…sorry), bagi para imigran. Ijin tinggal yang habis, waktu tunggu dan masa proses yang berbulan2x adalah hal yang biasa. Tak sedikit imigran illegal yang nekat tinggal dan bekerja secara gelap di sini. Kalau sudah begini, mereka sangat rentan dengan upah yang tidak sesuai standar serta tidak adanya perlindungan asuransi kesehatan.

3. RASISME. Dalam pos sebelumnya tentang imigrasi di Norwegia nampak statistik dan isu rasisme yang muncul terhadap kaum pendatang di Norwegia. Setelah beberapa tahun berdiam di Oslo, secara umum saya merasa baik2x saja, tidak pernah mengalami perlakuan rasis yang terlalu parah (ummmm…. berarti pernah dunk?…. Iya sihhh… Jadi bahan postingan lain yah…🙂 )

4. HOMESICK alias rindu kampung halaman. Kalau untuk yang satu ini rasa rindu bisa beragam, mulai dari rindu makanan (seperti saat saya kangen makanan Indonesia), rindu bercakap2x dalam bahasa Indonesia (di sini seringkali saya harus mendengar dan berbicara dalam bahasa Norsk, berpkir dalam Bahasa Inggris dan merasa dalam hati dengan Bahasa Indonesia… sungguh merepotkan memang), juga rasa kangen pada keluarga dan kawan2x di tanah air.

5. GEGAR BUDAYA dan berbagai ‘penyesuaian2x’ yang harus dilakukan lainnya😀 (apa cobaaaa….yaaaaa..????). Banyak momen2x benturan budaya yang pernah saya alami, seperti persoalan tetangga yang heboh saat bercinta dan budaya hidup individualistis. Juga saat harus ‘berkenalan’ dengan tempat dimana saya tinggal, mulai dari tersesat berjam2x di tengah kota, hingga terkena denda ‘sadis’ dari petugas di trem.

Lessons-learned:
1. Menjadi pendatang di tempat baru itu tidak mudah. Perlu kesiapan mental dan fisik, khususnya menghadapi bulan2x dan tahun2x pertama yang menjadi masa peralihan dan adaptasi.

2. Hidup di LN tidak se’wah’ yang dibayangkan. Rumput negara lain memang terlihat selalu lebih hijau😀 … Gaji yang terlihat besar nyaris tak berarti dibandingkan pajak yang tinggi (di Norwegia bisa lebih dari 30%) dan biaya hidup yang LUAR BIASA mahal.

3. Pepatah ‘Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’ serta ‘When in Rome, do as the Romans do’ betul2x harus DIINGAT dan DITERAPKAN… Mempelajari bahasa lokal, berbaur dengan penduduk setempat, mengunjungi museum, pameran, pertunjukkan seni serta lokasi wisata baik yang tertulis di buku guide atau tidak adalah sejumlah cara untuk lebih ‘membaur’, ‘menyelami’ dan mempelajari budaya, orang dan kebiasaan setempat. Tidak jarang saya bertemu dengan imigran yang telah tinggal puluhan tahun tanpa bisa berbicara bahasa Norsk sedikitpun (karena merasa tidak butuh) atau tidak mencoba mempelajari negara baru tempat berdiam. Biasanya orang2x ini sering berkeluh-kesah dan menjelek2xan negara host (tuan rumah) mereka. Waduhhhh…. sungguh tidak sopan, sudah diterima bertamu kok malah protes dan tidak berupaya menjadi tamu yang baik

4. Jika rasa rindu tanah air melanda, biasanya saya bercakap2x via telepon dengan teman atau kerabat di Indonesia, berkumpul dengan kawan dari Indonesia di Oslo (yang bisa dihitung jari), membuka2x foto tentang makanan Indonesia kesukaan saya (dan membayangkan bahwa makanan itu ada di hadapan… haha…sungguh memelas… :D), mencoba memasak sendiri makanan yang dikangeni (setidak2xnya harus diupayakan agar rasa dan bentuk lumayan mirip atau mendekati mirip), membuka arsip foto2x lama dari Indonesia atau….. PASRAH.

5. Awalnya, saya sangat antusias dan bertekad mencari kawan se’klik’ dan sehati dari Indonesia…. yang sungguh tidak mudah. Akhirnya saya lebih realistis dan mulai membuka hati untuk BERTEMAN DENGAN SIAPA SAJA, DARI MANA SAJA tanpa dibatasi. Kini, lingkaran pertemanan saya dan hubby sungguh berwarna-warni dan lebih dinamis.

6. Untuk mengaktualisasikan diri, selain terus berupaya untuk mendapatkan pekerjaan idaman, cobalah melakukan hobi yang disukai seperti melukis, menulis, merajut, memasak…atau mempelajari hobi baru…  Psstttt…, buat saya blogging adalah salah satu media yang efektif untuk mengekspresikan diri lohhh…  (jadi….buat sesama rekan imigran lain: ayo kita nge-blog!😀 *kompordotcom*)

———————–

Disclaimer:
Ide postingan kali ini muncul setelah blogwalking ke tempat Jeung Alice dengan konteks serupa tapi tak sama. Thanks Alice!😀

45 thoughts on ““Saya bukan siapa-siapa…”

  1. erna

    Hallo Mba Feli, tulisannya inspiratif bingit, top markotop pokoke. abis baca tulisanmu jadi kayak “ketampol” sandal karet utk bangkit dari keterpurukan. Gak bisa ubah system ya kita ubah diri sendiri aja untuk menjadi lebih baik dan survive. say goodbye dag dag bye bye deh sama kesedihan yang berlarut larut. maturnuwun (eits… masih ingat bahasa Jawa kan mba Feli ?), ditunggu tulisan berikutnya.

    Reply
    1. Felicity Post author

      Makasih, saya senang karena bisa menginspirasi pembaca blog, berarti tulisan saya ada gunanya juga buat yang lain. Btw, masih dong, tetep inget bahasa Jawa…meski pasif…🙂

      All the best ya mbak!

      Reply
  2. bungalia

    hi,mbak…..kenalan dong.Aku tinggal di Denmark,baru 1 thn.Kendala bahasa, makanan dan cuaca bikin rindu kampung.Seru banget blog nya mbak.

    Reply
  3. Ria

    bener banget mbak…awal gw tinggal disini *masih di indonesia loh* ampun deh susahnya bukan main apalagi masalah MAKANAN!!! then i increase 10 kilogs karena makanannya! hahahaha…

    well…apapun kesusahan dan sesuatu di depan mata memang kudu di siapin so gak akan pernah nyesel deh at least we try harder🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s