“Kok kamu gosong sih?…”

Sejumlah pengalaman tak mengenakkan yang terkait dengan perbedaan fisik (baca: warna kulit) di sejumlah negara tempat berdiam sempat membuat saya ‘terjendut2x’ sebelum akhirnya bisa menerima semua dengan lapang dada. Proses penerimaan diri tadi saya anggap sebagai bagian dari pembelajaran dan pendewasaaan diri.

Puncaknya terjadi saat saya sempat menuduh warna kulit yang gelap ini sebagai ‘biang kerok’ penolakan menyakitkan sebelum mengunjungi London. Beberapa kejadian kecil di pos imigrasi bandara Stansted dan bandara di Oslo saat 2 petugas di luar sempat menstop dan mengajukan sejumlah pertanyaan membuat saya begitu sensitif … (karena waktu itu sedang PMS, semua jadi dramatis...)

Kala itu, di dalam BUS menuju Oslo saya menangis dengan diam2x dan ‘protes’ kepada Tuhan (ini sepertinya karena PMS juga deh…jadi rada sensitif) tentang warna kulit yang gelap yang kerap menjadi sumber ‘masalah’ ini. Kilas-balik sejumlah kejadian tak mengenakkan beberapa tahun sebelumnya saat studi di Den Haag pun muncul di kepala.

Di suatu pagi kala hendak pergi bersama kawan2x dari Afrika (sekitar 5-6 orang), bus yang kami tunggu2x MENOLAK untuk berhenti dan melewati kami begitu saja di halte meski dengan jelas si supir melihat kami dan bus terlihat kosong. Anehnya, bus berhenti sekitar 200 meter kemudian di pinggir jalan yang jelas2x bukan tempat pemberhentian bus, itupun karena ada orang tua yang turun. Kejadian yang sama terulang beberapa kali di waktu, hari, nomor bus dan rute serta supir yang sama.

Kejadian lain dialami saat bersama beberapa teman menjelajahi kota Amsterdam, entah bagaimana seorang perempuan lokal paruh baya dengan sepedanya mengomel tak karuan karena kami dianggap menghalangi jalannya. Padahal jelas2x itu adalah tanah lapang, bukan jalur sepeda (hellloooow madam!!!!…plis dehhh). Ia mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapah yang berujung dengan kalimat: “Dasar orang asing! Kalian cuma bawa masalah aja. Kalian nggak jauh beda dengan MONYET!!!”

Kami tak menghiraukan omongan tadi, tak ada gunanya meladeni orang ‘sakit’ seperti ini. Saya sempat menjawab dalam hati: ” Ya madam, kami mungkin monyet di mata kamu, tapi setidaknya kami adalah para ‘monyet’ yang berpendidikan dan lebih sopan daripada kamu yang merasa diri sebagai manusia!” *sambil ngasah golok :D*

Foto: “Uhuk…uhuk….ada yang memanggil saya?…”

Biasanya, kejadian2x tak mengenakkan semacam di atas tidak akan saya masukkan hati. Namun, alam bawah sadar ini rupanya mengingat semua detil tadi dan ‘meledak’ saat mencapai titik akumulasinya, DI DALAM BUS menuju Oslo beberapa tahun kemudian…

Sejumlah pertanyaan “Mengapa begini?…. Mengapa begitu?…Mengapa saya lahir di sana, tidak di sini… Mengapa kulit saya begini…tidak begitu…” tak habis2xnya muncul di kepala. Hingga pada akhirnya saya tersadar bahwa inilah bagian dari ‘skenario hidup’ yang sudah digariskan buat saya. Tuhan sudah mengatur spesifikasi saya sedemikian rupa sebelum proses ‘percetakan’ di kandungan bunda terjadi. THERE IS NOTHING I CAN DO about it….

Daripada ‘mengutuk’ perbedaan yang dimiliki, lebih baik menjadikannya sebagai sebuah ASSET yang mempunyai nilai jual dan kekhususan yang tidak banyak dimiliki yang lain. Yang harus saya lakukan adalah MENERIMA dan MENSYUKURI semuanya serta merubah perspektif ke arah yang positif (the power of positive thinking you know...:D): menjadi berbeda itu UNIK….

Yup, pada akhirnya saya bersyukur karena telah lahir dan besar di Indonesia, sebuah negeri penuh warna dengan segala dinamikanya.ย  Semua pengalaman dan latar belakang yang berbeda tadi justeru membuat kita lebih kaya pengalaman dan mempunyai kekhususan tersendiri. Dari proses ini saya belajar untuk selalu MENJADI DIRI SENDIRI… dimanapun dan kapanpun.

Sayangnya, saat kembali ke Indonesia komentar2x tentang penampilan fisik seringkali terdengar, mulai dari nada bercanda, iseng sampai yang menyakitkan hati. Yang terakhir ini tidak terlepas dari sejumlah stereotip yang melekat saat perempuan lokal berjalan bersama bule. Komentar menyakitkan seperti: ““Kok gelap banget sih mbak?…”..” atau “Nggak laku ya mbak di Indonesia…” saya dengar saat liburan di Indonesia tahun lalu. Belum lagi pandangan selera bule yang konon suka perempuan berkulit gelap dan berwajah pembantu… (plisss deh… pembantu jaman sekarang sudah ‘kinclong2x’, dan tidak ada gunanya merendahkan seseorang ‘hanya’ karena mereka bekerja sebagai pembantu atau berwajah pembantu… so what?…)

Foto: Salah satu aktivitas yang turut andil dalam menambah kegosongan saya๐Ÿ˜€

Usai mengupload foto di atas ke akun facebook saya, ‘dialog’ berikut pun terjadi.

Komentator 1: “Fel, lo item amat sih…” (SADISSSSSS….)

Me: “Haha…komentar yang nggak sopan… Setiap summer, balik dari liburan ato lapangan pasti gw gosong… Winter pasti lebih putih, summer gosong lagi… O ya, kalo di foto, tergantung pencahayaan juga๐Ÿ˜€ ”

Komentator 1: “Oooo gitu ya skrg musim item lg ya… ” (…arrghhhh…kok bawel banget siyyy…)

Me: “Yaelahhh.. itu kan foto taun 2008… Bentar lagi musim gosong…๐Ÿ˜€ *ngeles*

Komentator 2 : “Emang pernah putih๐Ÿ˜‰ Lokasinya asyik tuh…tp sayang, jauh banget dari Aceh…” (yaelahhh…ini lagi…:D)

Komentator 3: “… loh, bukannya semakin item, semakin eksotik?…” (iya juga…)

Me: “…Repot deh tiap gw balik ke Indonesia, pasti yang pertama kali dikomentarin “loe kok tambah gosong?...” Yaelah, gw aja nggak mikirin…”

………PANCI KALEEEE…GOSONG…..

Moral of the story:

1. Jangan menilai orang dari penampilan luarnya (ini mudah dikatakan, namun sulit dipraktekkan). Komentar seperti: “Kamu tambah gemuk yah…” atau “Kamu kok kurus banget kayak tiang listrik…” serta “Kok kamu tambah gosong sih?…” apalagi “Kamu kok tambah mirip monyet…” (halahhh… minta ditabok… :D) … mungkin terdengar biasa saja. Tapi, bagi yang dikomentari bisa jadi ini menyakitkan hati *pengalaman pribadi yeeee…*

2. Isu rasisme adalah hal yang sensitif. Pemerintah setempat biasanya sangat berhati2x dan berusaha menunjukkan wajah bersahabat terhadap para imigran (baca: being politically correct). Sebagai minoritas yang rawan menjadi korban rasisme dan perlakuan diskriminatif, ada baiknya mengetahui hak2x kita sebagai pendatang serta melek hukum.

3. Daripada menyalahkan dan ‘mengutuk’ keadaan, lebih baik melihatnya dari segi positif. Berpikir positif membuat kita mampu memaksimalkan potensi diri dengan menjadikan ‘kekurangan’ yang ada sebagai asset serta nilai tambah (deuuu…berasa jadi Dr. Phil...)

4. Jangan terprovokasi saat menghadapi orang2x ‘sakit’ yang merasa lebih baik karena memiliki warna kulit tertentu. Biasanya mereka adalah orang2x yang berpikiran sempit dan kurang bersentuhan dengan dunia luar (baca: kura2x dalam tempurung…ummmm….betul kan ya..kura2x?… bukan itik atau bebek?…*nggak yakin* pokoknya…di dalam tempurung deh... :D)

Foto: Harap maklum, takut gosong…๐Ÿ˜€

42 thoughts on ““Kok kamu gosong sih?…”

  1. Pingback: Ketika Sakit di Negeri Orang | My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: Repotnya Musim Dingin | My Life, My Search, My Journey

  3. Bety

    ๐Ÿ˜€ sy pernah denger cerita dari guru,ktnya pas dia lg d bis d sekitaran bandung,ada sklompok pmuda trtawa dan ngatain seorang bule monyet.pas tuh bule mau turun dr bis,dia bilang dlm bahasa sunda “punten monyet bade turun” (permisi monyet mau turun), sklompok pmuda itu pd kaget dikira tuh bule g ngrti yg d omongin.jd tenang mba fel,kjadian sprti itu pasti bisa trjadi sm siapa sj. Semangat ๐Ÿ™‚

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hai Bety,

      BTW, moga2x sudah rada sehat ya sekarang…๐Ÿ™‚

      Iya, sekarang sih saya nggak banyak mikir tentang ini…. soalnya orang di sini juga nggak pernah komentar2x tentang hal fisik… cuma, kalau di Indonesia…hmmm…. berasa balik ke jaman batu buat urusan mulut2x iseng dari orang tak dikenal begini…. Yah, memang mungkin kultur kali ya, yang batas privacy dan publik suka nggak jelas di negara kita, jadi banyak orang nggak tahu komentarnya itu sopan atau nggak sopan๐Ÿ™‚

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s