Sh*t Happens…

Kejadian buruk bisa menimpa siapa saja, kapan saja dan dimana saja…kadang tanpa alasan yang jelas (memang sedang sial atau apes) atau karena keteledoran. Berikut adalah pengalaman ‘shit happens’ selama travel yang saya rekam.

1. Ketinggalan pesawat karena ketiduran atau terlalu asik melakukan aktivitas lain
Maja, rekan dari Serbia ketinggalan pesawat yang akan membawanya menuju Oslo untuk mengikuti perkuliahan karena keasikan merokok saat menunggu pesawat. Sialnya, ia harus menunggu pesawat lain yang baru datang kesesokan hari. Usut punya usut, kejadian serupa telah dialami Maja untuk ketiga atau keempat kalinya! Weleh…weleh….

Lesson-learned: Perhatikan waktu. Print-out ticket sebelum travel itu penting sebagai pegangan (jika memakai e-ticket, nomor reservasi tidak boleh hilang). Mengingat NOMOR/KODE PESAWAT tidak kalah pentingnya (adik T pernah dua kali ketinggalan pesawat karena salah lihat nomor penerbangan)

2. Tidak mendengarkan pengumuman dengan seksama
Harga yang harus dibayar dari keteledoran ini bisa sangat mahal. Saya dan T nyaris jadi gelandangan di Kiel (Jerman) saat ketinggalan kapal menuju Oslo dengan hanya berbekal jaket di badan. Waktu itu, kami tidak mengkonfirmasi pengumuman yang kurang jelas tentang waktu keberangkatan kapal.

Lesson-learned: Jangan ragu mengkonfirmasi informasi yang kurang jelas. Resiko mis-informasi lebih besar di non-english speaking countries dan negara dengan perbedaan waktu dari negara asal.

Foto: Nasibbb…ketinggalan kapal… kali ini memang saya harus berenang….

3. Ketinggalan barang berharga karena lupa
Mantan bos dari Aussie pernah ketinggalan tas pinggangnya yang berisi dompet, kartu kredit, uang dan sejumlah dokumen penting di toilet pria bandara Soekarno-Hatta. Ia baru menyadari kehilangan saat berada di Aceh. Meski awalnya pesimis, tas yang hilang bisa diketemukan kembali berikut isinya (hmmm… kurang jelas apakah semua kembali utuh 100%…yang jelas surat2x penting masih selamat).

Lesson-learned: jangan teledor. Perhatikan barang2x berharga saat di toilet atau di hotel. Jangan lupa melakukan sweeping barang2x yang tercecer di kamar sebelum check-out dari hotel.

4. Tidak mengetahui standar ‘mahal-murah’ di tempat baru.
Perbedaan biaya hidup di tempat asal, kurs mata uang dan karakter seseorang mempengaruhi travel blunder yang satu ini. Bagi turis dari negara yang berbiaya hidup tinggi mungkin menganggap liburan di negara2x Asia secara umum murah dan sebaliknya.

Saat tiba di Oslo untuk pertama kalinya, saya tidak mengetahui standar ‘mahal-murah’ barang di Oslo. Di bandara, saat tertarik dengan sebuah jaket Marc O’Polo seharga 250 NOK (Rp. 379.000) tanpa ragu saya langsung menuju kasir. Dan….kejutan terjadi saat harga di mesin kassa menunjukkan 2500 NOK!!!…. ada satu angka ‘nol’ yang rupanya tidak terlihat oleh mata...(hmmmm…kok bisa begini ya...).

Meski harga tadi tidaklah murah jika dikurskan ke Rupiah, saya…dengan polosnya… tetap membayar karena menganggap harga tadi ‘wajar’ untuk barang2x di sini. Usut punya usut…. harga tadi memang termasuk standar untuk barang sekelas yang bersangkutan (harap maklum, saya dulu biasa belanja di pasar inpres yeee…). Tapiiii… tetaplah termasuk mahal menurut standar ‘orang kebanyakan yang tidak akan sering2x membeli barang sehari2x di atas 2000 NOK jika tidak mau gaji habis sebelum waktu gajian berikutnya datang. Kini jaket tadi menjadi pengingat keteledoran saya untuk lebih berhati2x saat berbelanja..

Lesson-learned: jangan ragu menghitung kembali harga dalam kurs asing ke dalam kurs yang familiar untuk mendapat ‘bayangan’ mahal-murah suatu barang…dan periksa dengan seksama harga barang yang tertulis di price tag!.

Foto: Suvenir yang lucu2x…harganya juga ‘lucu’…. (baca: bikin sesek nafas… ;D)

5. Tersesat di jalan, di negara asing berbahasa planet, di tengah malam buta
Hmmm… buat yang satu ini saya sudah kenyang… Pengalaman tersesat hampir tengah malam di London dan di Roma adalah contohnya.

Lesson-learned: persiapan yang baik adalah kunci supaya tidak tersesat… Berani bertanya (bahkan dengan bahasa tarzan sekalipun), peta yang jelas, feeling yang sensitif (penting untuk membedakan apakah informasi dari seseorang yang ditanya layak dipercaya atau tidak), telepon yang siap sedia, info tujuan yang jelas (nomor telepon, alamat lengkap, contact person)…adalah hal2x yang harus diingat.

6. Kecopetan saat liburan
Sayangnya beberapa orang yang kami kenal pernah mengalami kejadian tak mengenakkan ini. Rekan dari Nepal kehilangan dompetnya saat mengunjungi sebuah atraksi turis di Praha. Ternyata… lokasi itu memang dikenal sebagai sarang copet profesional! Untunglah rekan tadi bertindak cepat dengan membatalkan credit card dan debit card yang dimilikinya sebelum si copet menguras isi dompet.

Sementara rekan lain, pasangan dari Perancis kehilangan tas ransel berisi seluruh perlengkapan liburannya saat menaiki kereta dari Jakarta menuju Bogor beberapa tahun lalu. Rencana awal liburan 2 minggu pun dipersingkat menjadi 3 hari…UFFFF…. saya merasa tidak enak hati dengan kejadian ini… setidaknya ini mempengaruhi citra Indonesia di mata rekan yang bersangkutan dan orang2x lain yang mendengarkan kisah tadi (pastinya ini bukanlah happy ending dari sebuah liburan)

Lesson-learned: Berada di lokasi wisata yang indah sering membuat kita terlena dan menurunkan level kewaspadaan. Ada baiknya bertanya pada rekan, petugas hotel atau pemandu wisata lokal tentang daerah2x yang rawan atau aman untuk dikunjungi. Jangan lupa mencatat nomor emergency atau nomor polisi lokal untuk dihubungi saat dibutuhkan. Jangan bawa barang berharga ke tempat2x keramaian. Turis yang lugu dan pendatang yang terlihat linglung adalah sasaran empuk para copet.

7. Sakit dan gangguan kesehatan
Dalam liburan ke Indonesia tahun lalu, T menderita diare parah selama 4 hari karena makan… TAPE (yup,… singkong yang difermentasi ini sering terlalu sensitif bagi lambung banyak turis yang tidak biasa). Waktu liburan pun dihabiskan dengan T terbaring di tempat tidur sambil bolak-balik ke toilet…. sementara saya harus secara rutin mencek kondisi T, menyediakan makanan dan obat yang dibutuhkan. Untunglah kami tinggal di tempat yang sangat indah (hotel Tugu, Malang). Dekorasi interior hotel sedikit banyak menghibur kala rasa bosan melanda. Menjelajahi ruang demi ruang serta mengamati pernak-pernik antik yang dipamerkan di sana menjadi hiburan tersendiri.

Foto: Moga2x tidak sakit perut setelah makan ini…

Kerabat lain mengalami kejadian tak menyenangkan saat anak mereka yang berumur 2 tahun sakit (lagi2x diare…) saat berlibur di sebuah daerah cukup terpencil di Karibia. Sialnya, barang2x mereka baru tiba 5 hari kemudian karena kesalahan administrasi…. Mau tak mau sejumlah pakaian emergency harus dibeli dengan ukuran yang tidak sesuai (terlalu besar atau terlalu kecil). Fasilitas medis yang tidak memadai membuat mereka kuatir dengan kesehatan si anak dan nyaris mengakhiri liburan yang telah lama dinanti itu.

Lesson-learned: Jangan sembarangan mencicipi makanan lokal yang eksotik karena penasaran. Perhatikan kebersihan air yang diminum. Es batu adalah a big ‘NO’ saat travel ke lokasi dengan tingkat higienis rendah. Persiapkan obat2x P3K yang dibutuhkan seperti obat diare, anti-alergi, paracet, aspirin dll. Jika kondisi semakin buruk, jangan ragu pergi ke dokter yang dipercaya. Pastikan asuransi perjalanan akan mengcover biaya yang dibutuhkan saat sakit.

8. Tidak membawa dokumen dan surat ‘printilan’ lain yang terlihat sepele namun penting.
Selain paspor dan visa yang masih berlaku, di sejumlah lokasi terdapat persyaratan lain sebelum memasuki suatu negara seperti ‘Yellow Card’ dari WHO bukti telah menjalani vaksinasi, khususnya untuk yellow fever. Kartu kuning ini menjadi penting kala memasuki atau meninggalkan daerah endemi (lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Carte_Jaune).

Foto: Kartu kuning WHO

Kartu penting lain adalah SIM internasional (jika akan menyewa mobil di rental) dan fotokopi surat nikah (jika akan berkunjung ke daerah yang tidak membolehkan pasangan berbeda jenis kelamin tidur di satu kamar tanpa bukti hubungan yang sah). Seorang kawan terpaksa harus menyelinap secara diam2x (jadi mirip maling…) di tengah malam pindah ke kamar sang isteri. Tanpa surat yang dibutuhkan, pihak hotel tidak membolehkan mereka tidur satu kamar.

Foto: Sim internasional jadul

Lesson-learned: Jangan anggap remeh budaya setempat. Lebih baik melakukan sedikit riset sebelum mendatangi sebuah lokasi seperti cara berpakaian, kebiasaan di tempat umum, peraturan yang berlaku. Mendatangi tempat2x yang dianggap sakral misalnya tidak boleh dengan pakaian sembarangan (tank top, jins robek2x atau celana pendek misalnya bisa menjadi alasan untuk DITOLAK MASUK dengan sukses)

9. Berselisih paham dengan rekan perjalanan
Buat saya, semakin kecil anggota tim saat travel, maka akan semakin baik… karena tidak mudah mensinkronkan isi kepala, karakter dan ide tentang liburan yang berbeda.

Saat jalan bersama beberapa rekan kuliah di Dublin misalnya, saya masih ingin menjelajahi kota lebih lanjut hingga ke detilnya (I love details :D)… sedangkan rekan travel lain (5 orang dari sejumlah negara berbeda) menjadi tak sabaran dan ingin mengunjungi tempat2x lain.

Saat seorang rekan dari India ingin pergi ke ‘Hard Rock Cafe’ dan ingin membeli kaos kenang2xan di cafe tadi, kami semua harus menolak karena tidak punya banyak waktu tersisa… dan tak satupun dari kami –selain rekan tadi– yang menyukai musik rock.

Sebaliknya, ketika rekan2x lain ingin pergi ke pub dan minum bir, saya yang seumur2x belum pernah ke pub atau minum bir mau tak mau mengiyakan ajakan tadi… Di dalam pub, saat rekan2x memesan bir, saya dengan dodolnya memesan… SUSU COKLAT!

Lesson-learned: jangan pesan susu coklat di pub kalau tidak mau jadi bahan tertawaan…đŸ™‚

31 thoughts on “Sh*t Happens…

  1. Ria

    hahahahaha…
    weks liburan kok malah sakit!

    tapi gw juga agak demam sih mbak waktu traveling ke hongkong, gara2nya saltum! hihihihi

    Reply
    1. Felicity Post author

      Yah…namanya juga s*hit happens… Pastinya yang nggak diharapkan…..

      Musti cek cuaca lokasi tujuan sebelum berangkat supaya tahu pakaian yang harus dibawa…. *pengalaman pribadi yang pernah masuk angin karena saltum juga :)*

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s