Dilarang Sombong…

Di kawasan Skandinavia, ada sebuah karakter yang jamak ditemui… yakni sifat humble atau rendah hati yang kadang membuat saya salut. Bisa jadi setelah berbincang2x cukup lama, kita baru menyadari bahwa lawan bicara sejak tadi adalah orang penting (seperti dalam kisah yang ini). Beberapa kali saya berpapasan dengan politisi terkenal, menteri atau mantan menteri serta entertainer yang sering muncul di TV saat mereka sedang berjalan kaki di trotoar, berski, belanja di toko bunga, melihat2x buku serta makan di restoran. Tidak ada pengamanan wah seperti kebanyakan tokoh penting Indonesia yang dikelilingi banyak ajudan serta bodyguard sangar yang terkesan begitu ‘UNTOUCHABLE’.

Hal ini mungkin terkait dengan apa yang disebut dengan THE JANTE LAW (Danish and Norwegian: Janteloven; Swedish: Jantelagen; Finnish: Janten laki; Faroese: Jantulógin). Hukum tidak tertulis ini menggambarkan seperangkat perilaku yang telah ada selama berabad2x lamanya di Skandinavia. Aksel Sandemose seorang pengarang dari Norwegia/Denmark mengidentifikasikannya ke dalam seperangkat peraturan dalam novel A fugitive crosses his tracks (En flyktning krysser sitt spor, 1933,).

‘THE JANTE LAW’

Don’t think that you are special
Don’t think that you are of the same standing as us.
Don’t think that you are smarter than us.
Don’t fancy yourself as being better than us.
Don’t think that you know more than us.
Don’t think that you are more important than us.
Don’t think that you are good at anything.
Don’t laugh at us.
Don’t think that any one of us cares about you.
Don’t think that you can teach us anything.
A further rule recognised is:
Don’t think that there is anything we don’t know about you.

Terjemahan bebas hukum tak tertulis tadi kurang lebih: “DILARANG SOMBONG atau DILARANG MENONJOLKAN DIRI“.

Terus terang saya sendiri BINGUNG… apakah hukum ‘DILARANG SOMBONG’ ini merupakan sesuatu yang positif atau negatif. Aksel Sandemose sendiri menuliskan ‘Janteloven’ dalam konteks ironi atau olok2x atas cultural code yang berlaku di masyarakatnya. Lebih lanjut menurut Bang Wiki dikatakan bahwa ‘Janteloven’: “… digunakan sebagai istilah sosiologi untuk secara negatif menggambarkan perilaku terhadap individualitas dan klaim atas sebuah keberhasilan yang umum di Skandinavia. Ini merujuk pada mentalitas kota kecil yang dangkal, penuh iri dan dengki yang menolak mengakui upaya individual serta lebih menekankan semuanya pada kebersamaan (kolektif) sementara menghukum mereka yang menonjol dengan keberhasilan tertentu. Istilah ini mungkin juga dipakai oleh individu yang merasa bahwa mereka tidak diperbolehkan untuk mengakui pencapaiannya, atau hingga pada satu titik percaya bahwa orang lain jauh lebih penting.”


(Sumber: ‘Brown Cheese Please’, Jenny K. Blake, 2008)

Disadari atau tidak hal ini tercermin dalam sistem ekonomi dan manajemen ala Skandinavia yang egaliter. Selisih gaji antara direktur dan pegawai terendah misalnya tidaklah separah di Indonesia. Relasi antara atasan-bawahan pun lebih rileks dan tidak kaku (sepanjang menyangkut urusan kerja). Di sini besarnya jumlah pajak serta kekayaan masing2x orang bisa dicek lewat internet dengan mudah (saya pikir ada bagusnya juga buat pengawasan bersama, seorang tetangga dengan posisi biasa saja dan gaji kecil tapi mempunyai mobil2x mewah patut dicurigai, jangan2x ia korupsi atau menggelapkan pajak dan bisa dilaporkan).

Saat bertugas di Aceh, saya bertemu dengan Direktur NGO dari Norwegia yang dengan rela menjadi Supir bagi seorang staff menggantikan supir asli yang sedang bertugas di lokasi lain. Belum pernah saya bertemu orang sebesar sang direktur (yang juga mantan pimpinan sebuah grup perusahaan besar di negerinya) sekaligus sesederhana beliau.

Foto: Anak2x peserta pawai kendaraan hias

Budaya untuk bersikap humble (rendah hati) dan tidak menonjolkan diri ini terkadang membuat kita geleng2x kepala. Suatu saat ketika berkunjung ke rumah mertua, saya sangat terkejut kala mendapati piala bergengsi yang baru saja didapat ayah T atas kinerja perusahaannya tergeletak dengan manis di… LANTAI…depan pintu TOILET !!!!.

Kontan saja saya langsung tergelitik bertanya: “Kenapa piala bagus dan bergengsi itu kamu taruh di lantai?…Sayang banget… Kalau di Indonesia pasti sudah ditaruh di atas meja dengan manis…kalau perlu dimasukkan ke lemari kaca buat pajangan…” . Dan respon yang saya terima dari beliau hanya: “Oooo, begitu yah… OK… karena kamu yang bilang, saya taruh di atas meja deh…” sambil meletakkan piala di atas meja makan di… DAPUR… Well…welll… *speechless*😀

Saya pikir, repot juga jika pencapaian individu dinihilkan dan dianggap tidak layak karena ini perlu untuk memupuk rasa percaya diri, memberi sense of achievementsense of pride… dan sense lainnya (bukan sixth sense yeee… :D). Tak heran jika banyak yang menganggap ‘Janteloven’ adalah sebuah hal negatif. Mentalitas ini telah banyak mendapat kritikan namun masih banyak ditemui dan dipraktekkan.

*****

Di kampus, para profesor dan guru besar tak jarang datang dengan memakai angkutan umum atau menggunakan… SEPEDA. Tak ada rasa rikuh, risih, apalagi malu… mereka akan tersenyum saat disapa dan berpapasan di jalan. Dulu di Indonesia, ada seorang guru besar yang sering menggunakan KA untuk pergi ke dan dari kampus. Kontan saja perilaku beliau yang populis ini mengundang decak kagum. Kekaguman mungkin muncul karena begitu jarangnya ‘orang penting’ yang mau membaur dengan ‘rakyat jelata’

Foto: The Royal Family…

Lalu… APAKAH MASIH ADA ORANG SOMBONG???…. Jelas masih ada, namanya juga manusia… dalamnya hati susah diketahui bukan?… Satu-dua kali saya bertemu dengan manusia seperti ini… (baik lokal maupun, ehm kebanyakan… pendatang).

Oya, prof tempat saya bekerja memberi tahu bahwa pengalaman beliau berinteraksi dengan manusia dari beragam penjuru dunia membuatnya paham bahwa faktor BUDAYA atau LINGKUNGAN mungkin berpengaruh dengan TINGKAT KESOMBONGAN seseorang. Beliau menyebutkan nama sebuah NEGARA (censored…) dimana hampir semua orang dari negara itu selalu menyombongkan diri saat bertemu… Mulai dari:
a. Properti (saya punya rumah sekian…, mobil sekian…, pabrik sekian…tanah sekian ratus hektar dll)
b. Relasi atau kenalan (saya sodara dengan menteri ini, saya kenal bapak anu, kenal jendral ini…dll)
c. Pendidikan (saya dulu kuliah di universitas ini dan itu (nama kampus terkenal)…dengan prof XYZ dll)
d. Keluarga (saya dari klan keturunan raja ini, anak saya dokter dan menantu konglemerat itu…dll)
…dan seterusnya…

Hal tersebut di atas mungkin SOMBONG yang lain lagi…. alias tidak pada tempatnya.

Foto: Bunad, baju tradisional Norwegia, dikenakan di hari2x spesial. Corak dan detil Bunad yang dikenakan menunjukkan asal daerah (biasanya mengikuti daerah asal ibu). Biasanya dibuat oleh penjahit khusus dengan waktu cukup lama, detil aksesoris dari perak menambah keindahan Bunad. Harga sebuah baju dan perlengkapannya bisa puluhan ribu NOK (baca: mahal sekaleee… :D)

Lalu bagaimana dengan orang Indonesia???… Kalau ini jawabannya balik ke diri kita masing2x… Berada di era digital membuat budaya narsis tumbuh dengan subur… Saya langsung tercekat melihat foto2x Facebook berjudul: “Tas Gucci saya terbaru loh…” atau Sepatu Manolo Blahnik yang baru akyu beli.. Bagus kannn??? atau “Baru belanja, Lagi stress…”dengan foto di dalam toko mencoba sejumlah baju dengan tentengan tas belanjaan merek2x mahal.

Kalau sudah begini, saya menjadi bertanya2x dan mencoba menerka…apa kira2x maksud yang bersangkutan mengupload info dan foto2x di atas?… Sekedar sharing?… Pamer?…Mau menunjukkan status sosial tertentu?… ah, entahlah…. bukan urusan saya (gitu aja kok repotttt… :D).

WHO AM I TO JUDGE?… (sape gw geto lohhh…)

Eniwei, blog juga bisa jadi ajang narsis yak… hehe ini jadi bahan refleksi untuk lebih berhati2x….agar tidak terlalu narsis (note: dengan penekanan pada kata ‘terlalu’) …😀

Foto: Parade 17 Mei di depan kastil… ribuan orang berkumpul di jalan utama Oslo (Karl Johans Gate) pada hari spesial ini.

Pengalaman bertemu dengan manusia dengan beragam warna membuat saya sadar bahwa pepatah ‘tong kosong nyaring bunyinya’ adalah benar adanya. Karena itu saya menghargai kata2x bijak ‘bagaikan padi, semakin berisi semakin merunduk’… Yup… that’s the goal untuk menjadi orang yang lebih baik lagi…dengan semakin merunduk… aminnnn…

Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Jante_Law

39 thoughts on “Dilarang Sombong…

  1. Pingback: Pesta Kepiting | My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: Tentang Pekerjaan | My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s