Tetangga Juga Manusia

Yang namanya hidup bertetangga memang ada seninya. Perbedaan budaya, adat-kebiasaan dan karakter individual ikut berperan dalam membentuk atmosfir lingkungan tempat kita tinggal.

Saat tinggal di lingkungan apartemen di Oslo misalnya, kami dihadapkan dengan perilaku aneh bin ajaib tetangga yang terkadang membuat pusing tujuh keliling (lihat post: jadul yang satu ini). Karenanya, saat pindah rumah saya pun sudah menyiapkan hati terhadap segala kemungkinan di dunia pertetanggaan ini.

Foto: Lingkungan tetangga baru.

DAN…. benar saja, di suatu pagi memasuki minggu keempat, saya dan hubby dikejutkan oleh tumpukan sampah tepat di pintu masuk halaman rumah kami. Respon pertama saya kurang lebih:

“WHAT THE ….&%¤”%%¤XXX###%%%!!!!??==(&%XX!!!!!!… ” *censored*

Terjemahan: “WHOAAAAA…. Doh, pagi2x kok sudah membuat orang kesal siyyy…. mbok ya kira2x kalau membuang sampah itu ya jangan di pintu masuk halaman rumah orang… Sampah segede2x gajah begitu lohh…haiyyahhhh….PLISSSS dehhhhh…..” *sambil mengelus dada dan siap2x cari pentungan*

Foto: Ilustrasi tempat kejadian perkara, usai kejadian…😀

Sepanjang hari itu pandangan mata saya tak bisa lepas dari tumpukan sampah di sudut masuk halaman rumah kami. Ada sejumlah pilihan langkah yang dapat diambil:

1. Lihat dan tunggu alias wait and see, barangkali truk sampah akan datang dan mengangkut tumpukan yang tak sedap dipandang mata itu (baca: pendekatan tanpa konfrontasi yeeee…)

2. Jika poin no 1 tidak terjadi barulah berbicara dengan tetangga dengan 2 pilihan:

(a) secara baik2x

(b) sambil marah2x

3. Tidak mengambil tindakan apa2x, menganggap tidak ada yang terjadi dan tidak ada masalah.

Pilihan kami adalah: poin No 1, dengan beberapa alasan antara lain:

1. Sebagai pendatang baru sebaiknya kita mencoba mencari kawan, bukan mencari lawan…. (lah iyalahhh….)

2. Berpikir positif dan tidak berprasangka negatif tentang tetangga sebelum mengenal mereka lebih jauh.

3. TETANGGA JUGA MANUSIA, barangkali mereka menaruh sampah2x itu ‘tidak sengaja’ dan tidak menyadari kalau tindakan mereka bisa membuat tetangga lain resah bin gundah gulana–> ingat poin 2 di atas.

Untunglah beberapa jam kemudian, truk sampah datang dan mengangkut barang2x tak terpakai di pinggir pintu masuk halaman rumah kami.

Foto: Petugas pengangkut sampah yang akhirnya datang.

PHEWWWW…. Problem solved…. Ummmmm….. setidaknya untuk saat ini.

*sambil menghela nafas*

Semoga di kemudian hari tidak ada perilaku yang menyebalkan dari tetangga2x di sekitar.

Teriring doa dan harapan dari kami berdua.

😀

23 thoughts on “Tetangga Juga Manusia

  1. vita

    bayangin rumah mb feli ini kyk di kartun kesukaan anak saya Masha and the bear kartun anak anak dari Rusia (klo g salah). salju pohon apel aneka buah berry yg ada di halaman rumah. hheeemmmm .

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hihi…makasih mbak….saya ngebayangin rumah ini kayak di dongeng2x HC Andersen, rumah di atas bukit yang biasanya misterius gitu…😀 Kalau summer sih cantik, kalau winter, gelap dan dingin…nggggggg…..*garuk2x kepala*

      Reply
  2. madaff

    Mba Feliiii….waaa. udah seabad rasanya ga main di mari…hayyah, tetanggaan ma aku ajah, pasti lebih makan ati deh, soalnya udah niat mo numpang makan mlulu….Mba, fotonya ciaaamiiiikkkk….miss u…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s