Aksi Teror di Oslo Itu…

“Hello Feli! Are you still in Brazil? Sad day in Norway today…”  

Sebaris pesan SMS singkat  tadi masuk dari kawan dekat asal Pakistan yang bermukim di Oslo. Sejumlah pertanyaan pun langsung memenuhi kepala menebak2x kejadian apa yang mungkin dimaksud kawan tersebut. Apakah cuaca mendung tanpa matahari sejak seminggu terakhir? Apakah ada orang penting atau selebriti meninggal?…  Rasa penasaran membuat saya dan T yang saat itu sedang berada di Rio de Janeiro langsung mengecek berita di internet meski harus dengan ekstra sabar karena koneksi yang sangat amat lambat. Sejurus kemudian terdengar kosa kata yang tidak pernah meluncur dari mulut hubby  sebelumnya….

“HELVETE!!!…”  (keterangan: terjemahan bebas:  ‘kurang lebih” WHAT  THE HELL…” ) disertai mimik wajah terkejut, bingung dan tidak percaya…. yep….  BOM DAN PENEMBAKAN MASSAL DI OSLO.….  angka korban meninggal versi terakhir dari polisi adalah 76 orang dan 4-6 orang masih dinyatakan hilang.

Foto: Bangunan kantor Perdana Menteri tampak belakang, semua kaca di bangunan pusat pemerintahan ini pecah akibat ledakan

Sulit dipercaya jika aksi teror semacam ini bisa terjadi di kota kecil (berpenduduk sekitar 550 ribu jiwa) seperti Oslo yang menjadi tuan rumah perhelatan Nobel Perdamaian setiap tahunnya.

Rasa tidak percaya berubah menjadi rasa kuatir…  Jika aksi teror ini dilakukan oleh imigran atau ekstremis agama, maka yang kemungkinan besar akan terkena getahnya adalah kami, para imigran lain baik2x cinta damai ini….HOHOHO.… Bayangan wajah  petugas imigrasi yang jutek dan menakutkan dalam pemeriksaan paspor, stereotip di media, perubahan kebijakan terhadap pendatang  dan entah bagaimana reaksi masyarakat nantinya langsung berseliweran di kepala.

Foto: Jalan lokasi gedung yang dibom

Untunglah polisi segera menangkap pelaku utama, seorang warga etnis Norwegia ultra-nasionalis berambut pirang dan bermata biru.  Meski si pelaku juga sudah mengakui perbuatannya, tak urung sejumlah media internasionl ternama sudah –dengan tanpa bukti kuat– menghakimi dan menuduh ekstremis agama tertentu sebagai pelaku (mengelus dada…. ahhhh….capedeeee…..)

Foto: Pengumuman di depan pintu masuk utama kantor 

Hal pertama yang ingin saya lakukan saat kembali ke Oslo dua hari kemudian adalah mengecek kondisi kantor. Bagaimana tidak, ledakan bom terdengar dari jarak 7 km, sementara kantor saya hanya berjarak beberapa ratus meter dari pusat ledakan. Dan, benar saja…. mendekati bangunan gedung nampak sejumlah kaca2x bangunan yang pecah. Di depan pintu kantor terpasang pengumuman di secarik kertas putih:  “Bangunan ini sementara ditutup karena kerusakan parah. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ada… Salam, Pengawas gedung”

Dari informasi yang saya dapat, saat kejadian ada 3 kolega yang masih ada di kantor.  Gelombang panas pasca ledakan disertai bau menyengat masuk lewat jendela yang terbuka dan menghamburkan kertas2x dokumen. Pipa2x ventilasi yang besar di lantai atas kantor berjatuhan, sejumlah kaca pecah dan barang2x berjatuhan. Untunglah tidak ada korban jiwa di bangunan kami. Libur musim panas membuat sebagian besar staff mengambil jatah cuti mereka. Tidak terbayang jika ini terjadi di hari kerja biasa.  Lokasi kerja saya berbatasan dengan jendela kaca besar membuat pecahan kaca menjadi hal yang tidak diharapkan.

Foto: Jalan masuk yang saya lewati setiap hari saat berangkat dan pulang kerja. Pecahan kaca di atas  gang sudah dibersihkan dan ditutup papan

Foto: Sejumlah toko di sekitar kantor yang rusak

Usai melihat kondisi kantor, saya (bersama T dan bapak mertua) menuju lapangan di pusat kota untuk mengikuti aksi solidaritas berbekal rangkaian bunga sederhana hasil memetik di kebun…(sungguh peserta nggak modal…).

Foto: Lautan bunga tanda solidaritas dan kepedulian bagi para korban dan keluarga mereka

Tidak mudah melukiskan pengalaman hari itu. Kota  Oslo yang biasanya sunyi kini dipenuhi lautan manusia yang berjalan membawa beragam bunga, mulai dari mawar merah, mawar putih, mawar kuning, gladiol, dahlia, lily… dan termasuk bunga liar yang dibawa seorang perempuan mungil yang baik hati dan tidak sombong dari Indonesia yang tidak bermodal tadi  (uhukkk…uhukkk…. keselek biji kedondong…)

Foto: Lautan manusia dan bunga dalam aksi solidaritas

Tidak kurang dari 150.000 orang memenuhi jalan2x di sekitar pusat kota Oslo dalam aksi damai ini. Aksi yang sama berlangsung di kota2x lain yang diikuti sekitar 800.000 orang, nyaris seperempat penduduk Norwegia. Aksi turun ke jalan tersebut adalah yang terbesar setelah perang dunia II berakhir di tahun 1945 di negara kecil ini.

Kepedulian dan solidaritas yang ditunjukkan ini begitu menyentuh. Tragedi ini bukan hanya dirasakan oleh keluarga para korban, tetapi oleh semua penduduk tanpa batasan usia, jenis kelamin, status ekonomi , latar belakang dll.  Dalam pidato mereka, Perdana Menteri, Walikota Oslo dan keluarga kerajaan  menyatakan bahwa rakyat telah memilih untuk MELAWAN TEROR BUKAN DENGAN KETAKUTAN…. TETAPI DENGAN DAMAI DAN SOLIDARITAS;  MELAWAN KEBENCIAN BUKAN DENGAN AMARAH…. TETAPI DENGAN CINTA….

…dan pada hari itu…. cinta ada dimana-mana…

Semoga tidak ada lagi teror dan korban2x berjatuhan akibat kebencian, amarah, dendam atau paham serta ideologi yang menyesatkan… (baik dari sayap kanan, sayap kiri,  sayap sebelah kanan nggak niat atau sayap sebelah kiri nggak jelas, termasuk yang tanpa sayap yeee....)

…Peace…

Oslo, 26 Juli 2011 

19 thoughts on “Aksi Teror di Oslo Itu…

  1. Pingback: Tinggal di Rumah Tua | My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s