Tinggal di LN itu Enak???….Notttt…

norge-felice_edited-1

Terus terang saya terkadang capek meladeni pertanyaan teman2x yang bernada meminta seperti:
“Fel, kenalin gw cowok bule dunk….” atau “Cariin gw kerjaan di sana yaaaa…”

DUUHHHH….BINGUNG MAU MENJAWAB APA….

Mungkin imej tentang tinggal di LN dan menikah dengan cowok bule itu hanya seputar yang bagus2x dan enak2x saja, padahal…. di balik semua itu…banyak kisah2x perjuangan dan air mata. Tantangan yang dihadapi itu antara lain adalah:

1. Dokumen dan legalitas
Agar terdaftar sebagai pendatang legal, ada banyak syarat2x administratif yang harus dilengkapi. Selain menyiapkan surat2x sejak dari Indonesia, di negara baru kita harus siap2x mendatangi sejumlah instansi seperti kantor polisi, kantor pajak, kantor imigrasi, RS (untuk pemeriksaan kesehatan) dll. Biasanya, jika bahasa negara setempat adalah ‘bahasa planet’ maka tantangan menjadi lebih besar. Budaya birokrasi yang berbeda pun memaksa kita harus pintar menempatkan diri saat menghadapi instansi2x resmi tadi.

Sebagai pendatang, kita harus siap2x antri berjam-jam bersama imigran dari negara2x lain di instansi di atas dan harus sabar menunggu jawaban aplikasi ijin tinggal (yang bisa berbulan2x). Main belakang, jalan cepat, calo, potong kompas, sogokan dll bukanlah bagian dari sistem di negara tempat saya berdomisili saat ini, jika berani melakukan hal semacam ini maka kemungkinan besar justeru DIANGGAP ANEH dan menjadi bumerang karena petugas yang bersangkutan bisa2x akan melapor ke polisi.

2. Cuaca
Saat mendarat pertama kali di Amsterdam hampir 10 tahun lalu, langsung saya bisa merasakan bahwa suhu di Eropa TIDAK AKAN bersahabat dengan default setting saya sebagai orang Indonesia. Suhu musim dingin di Oslo rata2x -11 sampai -13 C, pernah juga mencapai -22 C seperti yang terjadi sekitar bulan Januari lalu. Di suhu ekstrim ini, bagian tubuh yang paling cepat bereaksi adalah hidung dan daun telinga yang langsung terasa sakit. Kalau sudah begini aktivitas luar ruangan pun terbatas. Di musim dingin, cahaya matahari adalah sesuatu yang langka dimana matahari terbit sekitar pukul 10 pagi dan terbenam lagi sekitar jam 2 siang…. terkadang kita tidak melihat cahaya matahari selama berminggu2x….  

3. Bahasa

Jika ingin bisa membaur dengan penduduk lokal, memahami situasi, mengerti budaya setempat maka mempelajari bahasa adalah kuncinya karena bahasa adalah jendela dan jembatan untuk memasuki dunia lain yang berbeda. Saya pernah terbengong2x saat bertemu sesama imigran dari Polandia, Amerika atau Sri Lanka misalnya yang sudah tinggal di Norwegia selama belasan bahkan puluhan tahun tanpa mengerti atau berusaha mengerti bahasa setempat… padahal, berita, radio, TV, pengumuman, informasi resmi dan sebagainya masih banyak memakai bahasa Norsk (Norwegian). Alasan mereka: TIDAK BUTUH…. Gubrakkkk….

Lebih lanjut mereka menjelaskan ketidakbutuhan itu, jika mau berkomunikasi? bisa pakai bahasa ibu toh kawan2x membaur juga sesama dari negara sendiri… Hmmmmm…saat mendengar penjelasan ini saya membayangkan hidup seperti di dalam sebuah gelembung balon yang terisolasi dari realitas dan masyarakat lokal. Hal ini sebenarnya disayangkan, banyak informasi penting dan menarik yang terlewatkan jika kita tidak mengerti bahasa lokal. Kesempatan tinggal di suatu tempat adalah waktu untuk mempelajari budaya serta adat kebiasaan unik yang berbeda. Bayangkan jika setelah tinggal puluhan tahun di suatu negara tanpa bisa menjawab pertanyaan standar seperti makanan tradisonal negara yang bersangkutan…

4. Pergaulan sosial
Sebagai mahluk sosial tentu saja manusia memiliki kebutuhan untuk berbicara, berkomunikasi, sharing, berdialog dengan sesamanya. Seandainya berbulan2x tidak memiliki teman, hanya tinggal seorang diri di kamar apartemen, tidak pede untuk keluar seorang diri dan lingkungan pergaulan hanya asrama–kampus–asrama atau kamar sewaan– tempat kerja– kamar sewaan, setiap hari… pasti dijamin akan mengalami depresi. Untunglah di jaman moderen ini ada teknologi network  sosial bernama Facebook, Twitter, Blog, Skype dan sebangsanya. Jangan sampai kita harus berbicara dengan tembok saking putus asanya tidak bisa menemukan kawan bicara…..hiiiyyyyy……

Tetapi, perlu diingat bahwa tidak ada gunanya memiliki 300 kawan di Facebook kalau TIDAK ADA SATUPUN yang bisa diajak ber JJS, kumpul2x, atau sekedar keliling kota sambil saling bertukar cerita. Di negara yang banyak sesama imigran Indonesia hal ini barangkali bukan persoalan besar….tetapi di negara kecil seperti Norwegia dimana jumlah pendatang Indonesia beberapa tahun lalu masih 400 orang dan 200-an tinggal tersebar di Oslo, hal ini bukan hal yang mudah. Saking putus asanya mencari kawan Indonesia, saya pernah beberapa kali ‘menuduh’ imigran dari Thailand, Vietnam atau Filipina di toko Asia dengan “ARE YOU INDONESIAN?…. ARE YOU INDONESIAN?”  sambil dalam hati berharap bahwa akhirnya akan ada yang menjawab “YES, I AM…. ” yang sayangnya tidak pernah terjadi…  haha…. desperatemode.com

5. Makanan
Ini adalah hal paling sulit yang dialami banyak imigran di perantauan. Di Norwegia tidak ada restoran Indonesia dan makan di restoran bukanlah solusi yang ramah kantong, apalagi bagi pelajar yang mengandalkan uang beasiswa. Warteg?… Wohooooo…. DREAM ON!!!…. Bahkan bagi native Norwegian, acara makan di luar tidak bisa sering dilakukan untuk menghemat pengeluaran. Satu2xnya solusi adalah memasak sendiri…memang tidak semua orang suka memasak dan lebih suka mencari praktisnya saja. Saat masih studi di Den haag dulu, saya dengan setia menunggu kiriman stok ikan teri medan yang yummy olahan ibunda yang bisa bertahan 3 bulan (hidup ikan teri medan!!! yayyyy…..)😀

6. Budaya sehari2x
Mulai dari bahasa tubuh di kendaraan umum, pilihan kata saat berkomunikasi dengan dosen, cara bertegur sapa dengan mertua atau tetangga sampai….mengetahui lokasi2x rawan kejahatan, mempelajari trik2x yang biasa digunakan para copet setempat pun penting untuk dipelajari jika mau survive.

Di Oslo, tidak sedikit kawan yang sedang berkunjung kecopetan karena lengah dan merasa Oslo sebagai kota aman…padahahl… hohoho…. (bocoran: waspadai daerah sekitar Oslo Central Station yaaaa….) Yang lebih membuat kita lengah adalah penampakan copet di sini yang seperti orang lokal kebanyakan….meski banyak dari mereka adalah pendatang dari negara khususnya Eropa Timur yang terkenal dengan kriminalitas terorganisirnya.

7. Pekerjaan
Nah…. ini adalah satu yang sering menjadi kendala utama para imigran. Di sini, mencari pekerjaan di bidang ilmu sosial bukanlah hal mudah, bahkan bagi penduduk lokal. Di kantor saya misalnya, beberapa bulan lalu satu posisi di divisi media dan komunikasi diperebutkan 100 -150 pelamar. Mungkin akan lebih mudah …sekali lagi….lebih mudah…. bukan berarti akan mudah yaaa…jika memiliki latar belakang engineering, memiliki pengalaman kerja dan bisa berbahasa norsk …

Tetapi sejak krisis ekonomi Eropa , sudah nampak peningkatan eksodus imigran dari negara seperti Portugal, Spanyol, Yunani, Italia dll… Jangan heran jika datang ke kafe2x atau hotel di Norwegia dan menjumpai pelayan atau staff berbahasa Swedia misalnya. Cerita dokter yang menjadi penjaga gedung atau pengacara menjadi supir taksi bukanlah hal aneh di sini… Uji Kompetensi dari luar Uni Eropa untuk profesi seperti dokter dan advokat biasanya lebih ketat karena standar ujian, sistem pendidikan dan praktek yang berbeda.

8. Diskriminasi
Ini adalah isu yang sangat amat sensitif. Meski secara umum perilaku masyarakat di sini adalah ramah, sopan dan terbuka… Serta kebijakan RESMI pemerintah yang adalah ANTI-DISKRIMINASI… tetapi jangan kaget jika dalam keseharian kita mendapatkan perilaku rasis dari individu2x yang…ummmm….bagaimana menyebutnya yaaa…. kurang sensitif, barangkali. Norwegia adalah negara yang cenderung homogen dan tidak se-multikultural seperti Amerika. Gelombang imigran pekerja pun baru pertama kali datang di akhir tahun 1970-an dari Pakistan. Dalam sebuah seri dokumentar tentang sejarah imigrasi Norwegia nampak sikap antipati penduduk lokal yang bingung dan kuatir saat berhadapan dengan pendatang. Bentuk politik integrasi dan imigrasi pun masih menjadi perdebatan seru di kancah politik hingga saat ini, apalagi setelah kejadian 22 Juli tahun lalu di Utoya.

KESIMPULAN, sebagai imigran itu harus:

1. SABAR
Tidak boleh mengeluh berkepanjangan dan menghadapi kesulitan dengan lapang dada. Percaya bahwa kita tidak pernah sendiri karena Tuhan menyertai setiap langkah kita.

2. BERPIKIR POSITIF
Yakin bahwa setelah kesulitan maka akan ada kemudahan…bahwa ujian kehidupan adalah tempaan agar kita semakin kuat. Hal penting lain adalah: pantang untuk berpikir picik, suka pamer, besar kepala, merasa paling baik atau paling benar sendiri…. plisss dehhhh…..Lagi pula hidup di LN bukan sesuatu untuk  dipamerkan…

3. TIDAK MUDAH MENYERAH
Percaya bahwa dimana ada kemauan di situ ada jalan

4. TAHAN BANTING dan MANDIRI
Tidak boleh cengeng apalagi tergantung pada orang lain. Di sini memiliki pembantu, supir atau baby sitter adalah sebuah kemewahan karena standar UMR yang tidak boleh seenaknya mempekerjakan mereka. Sikap manja, gengsi dan biasa diladeni harus dibuang jauh2x. Perilaku ala diva, drama queen dan lebay??? …dohhh…. ke laut aja deeeh…

5. KREATIF
Setiap kesulitan pasti ada penyelesaian dan jawaban. Mau meningkatkan kualitas diri dengan belajar hal baru, melakukan refleksi diri untuk perbaikan dan tetap berusaha

6. TINGGAL DI INDONESIA dengan segala carut-marutnya sebenarnya lebih enak dan nyaman…. kalau dipikir2x……😀  Satu hal yang pasti, sebagai imigran kita belajar menghargai sisi keseharian  Indonesia yang sebelumnya tidak kita pikirkan seperti lezatnya lontong sayur di abang2x yang lewat depan rumah, abang becak dan tukang ojek yang siap sedia saat kita malas oppsss…capek berjalan kaki, masakan padang yang mudah ditemukan, keberadaan mbak Inem yang dengan setia mengantar jemput anak, termasuk kawan2x bercengkerama dan semua tawa serta canda kala berkumpul dengan keluarga tercinta….

Lalu, kenapa saya masih juga beredar di sini? Jawabannya sederhana:  HOME IS WHERE MY HEART BELONGS… dannnn ….  karena my heart (ehm…) saat ini ada di sini….  maka saya juga ada di sini …. simpel… kannn?  hehe😀

Tabik

75 thoughts on “Tinggal di LN itu Enak???….Notttt…

  1. Rierie

    Hallo mbak feli yg lucu salam kenal..saya nge fans ma blog nya mbak feli hehe..makasih y mbak udh share sangat bermanfaat

    Reply
  2. Ardhi

    Halo mbak. saya Ardhi. saat ini sedang kuliah di Arkhangelsk, Russia. mbak, tahun depan saya akan lulus Jurusan studi Eropa: negara Artik (Master Degree). saya ingin sekali melanjutkan kairi saya ke Norwegia di organisasi-organisasi internasional di Norwegia. bagaimana ya mbak? apa yang harus saya persiapkan? terima kasih banyak.

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hai…. coba aja gugel…. kalau mau kerja di Norway visanya musti apply schengen visa. Saran saya, sejak sekarang rajin2x cari info lowongan…jangan hanya fokus ke norway, coba juga ke sweden, finland, denmark…. good luck yah!

      Reply
  3. astari_dinny

    Salam kenal!! ^_^ thanks banget udah mau share pengalamannya, Norway is my favorite country beside Indonesia actually😀
    anyway, ada program beasiswa S1 di sana ga ya, mba?

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hmmm….kalau buat S1 jarang karena rata2x masih dalam bahasa norsk…. kalau S2, S3 ada bisa Erasmus Mundus, Quota Programme kalau short course ada beasiswa Summer School UiO (6 minggu) coba digugel deh🙂

      Reply
  4. dropyourjaw

    Hi mbak, salam kenal. Bulan Agustus ini aku pindah ke Oslo buat kuliah di UiO. Jadi tahu ada banyak kecopetan di central oslo, kupikir tadinya aman-aman aja. Bagus banget blognya..🙂

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hai…. Salam kenal juga. Iya, banyak copet di sekitaran Central Station, Brugata (kawasan imigran), Hammersborgsgata (deket Brugata), Skippergata sama Karl Johan’s gata terutama yang ke arah deket Central Station (di depannya dan di samping stasiun malahan terkenal sebagai daerah junkies mangkal bahkan siang hari). Copetnya campur aduk asal negaranya, kebanyakan dari Romania dan Eropa Timur lain, termasuk dari AFrika, Timteng, Afganistan….susah sebenernya menebak tampang copet atau bukan di sini. Sudah kenal student di sini belum? kalau belum ada nanti bisa saya bantu kenalkan deh.

      Reply
      1. dropyourjaw

        Iya, soalnya waktu aku tanya-tanya ttg keamanan di Norway katanya aman & di artikel-artikel juga bilang gitu, tapi ternyata ada juga toh. Student dari mana mbak? kalau dari Indonesia aku udah tahu 4 orang, tapi kalau mbak mau ngenalin student dari Norway boleh, biar ga orang indo semua temennya🙂

        Reply
        1. Felicity Post author

          Hai, wah kalo sudah kenal 4 orang itu sudah lumayan…biasanya kan nanti nambah dari temen trus ke temennya temen dll…Di sini nggak banyak studentnya kok, di UiO palingan per tahun 4 orang. yang program master regular, yang lain program exchange atau visiting scholar juga ada tapi cuma sebentar2x aja.

          Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s