Kehidupan Asmara Di sini dan Di sana

Kehidupan asmara atau percintaan di Norwegia dianggap sebagai salah satu privacy yang hanya dibicarakan oleh orang yang sangat dipercaya. Topik asmara secara umum pun tidak pernah muncul saat kami duduk2x bersama dan ngobrol di jam makan siang atau break. Sesekali topik ini baru muncul ketika memberikan selamat terhadap seorang kolega yang baru saja bertunangan atau meresmikan hubungan. That’s all.….

Biasanya informasi seperti ini tanpa sengaja saya ketahui saat terjadi pembicaraan empat mata di luar urusan pekerjaan misalnya berita kalau si A hendak bercerai, si B baru punya pacar baru, si C baru saja putus dll.

Hasil mapping alias pemetaan kehidupan asmara di kantor (nggak-penting-banget.com…yeahh, I know :D) menunjukkan paling tidak ada sebelas (11) orang single yang terdiri dari 9 perempuan dan 2 laki2x.

Dilihat dari jumlah total staff di institusi kami yang 35 orang maka angka single di kantor bisa dibilang cukup tinggi yakni sekitar 30% (wedewwww...). Meski bukan urusan saya, hal ini menimbulkan tanda tanya: —–MENGAPA????—–

Kawan2x yang masih single di kantor tadi secara umum masih muda, ganteng, cantik, cerdas, mapan, sehat…dan ketika ada yang nekat bertanya (biasanya non-native): “Mengapa masih single?” mereka hanya menjawab singkat: “belum menemukan yang cocok”.

Di sini tekanan sosial bagi mereka yang belum menikah hampir tidak ada. Semua seakan memahami bahwa ini adalah hak asasi setiap orang yang tidak boleh diintervensi orang lain. Pertanyaan “Kapan menikah?” akan dianggap aneh dan berlebihan. Usia 30 tahun-an masih dianggap muda dan biasanya di usia 35-36 tahun barulah perkawinan menjadi satu hal yang dipikirkan.Tidak sedikit yang menganggap bahwa perkawinan bukan sesuatu yang penting dan hanyalah dibutuhkan karena sepucuk kertas untuk formalitas. Cinta menurut kelompok ini tidak mengenal batasan institusi atau legalitas yang duniawi sifatnya.

Mencari pasangan serasi sendiri bukan hal yang mudah dan kesesuaian atau compatibility adalah salah satu faktor penting. Karena secara umum penduduk Norwegia mencintai alam maka kriteria menyukai aktivitas di alam terbuka biasanya cukup menjadi salah satu tolok ukuran. Kalau kita berjalan di tempat publik di sini maka nyaris tidak ditemui orang Norwegia yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. Sejak kecil di taman kanak2x biasanya aktivitas outdoor sudah diperkenalkan. Beberapa kali seminggu anak2x di TK akan dibawa hiking ke puncak bukit kecil, ke taman, menikmati pemandangan di tepi fjord dll. Saat musim liburan puncak2x gunung di luar kota yang populer biasanya dipenuhi manusia segala usia yang ingin hiking atau mendaki.

Memikirkan hal ini tak urung membuat saya teringat sejumlah kawan yang masih lajang di Jakarta di usia mereka yang menurut banyak orang Indonesia tidak muda lagi. Semua kawan yang saya kenal tersebut memiliki kesamaan: berpendidikan tinggi (tamatan S2 dalam dan LN), memiliki karir yang bagus, mandiri secara finansial dan berkepribadian kuat…dan semua perempuan.

Kesimpulannya, kalau dilihat lebih lanjut lagi, kawan2x yang masih single di Norwegia dan di Indonesia, terlepas dari jenis kelaminnya memiliki kesamaan:
1. Pendidikan tinggi
2. Mandiri
3. Kepribadian kuat

Yang membedakan adalah persepsi tentang pernikahan atau menemukan pasangan. Bagi orang sini mungkin menikah dan berpasangan BUKAN suatu keharusan dan menjadi single adalah sebuah pilihan sadar tanpa tekanan… Sementara di Indonesia tekanan dari lingkungan keluarga dan sosial untuk berpasangan masih cukup besar yang tak jarang membuat yang bersangkutan capek ditanya ‘kapan menikah?’.

Faktor pendidikan tinggi di sini menjadi nilai tambah karena yang bersangkutan akan menjadi orang yang enak diajak berdiskusi, sementara di Indonesia pandangan patriarkal yang dominan masih sering muncul bahwa perempuan tidak boleh ‘lebih’ dari suami membuat perempuan berpendidikan tinggi dianggap sebagai ‘ancaman’ dan membuat laki2x mundur terlebih dahulu. Apakah memang demikian? Entahlah. Sepertinya prioritas dan pilihan individu serta setting sosial tempat kita berinteraksi juga memegang peranan yang tidak sedikit.

Buat saya lajang atau menikah adalah hak yang harus dihormati. Apapun statusnya saya selalu mendoakan agar kawan2x tersebut bahagia dan bisa menjadi dirinya sendiri…🙂

Tabik.

14 thoughts on “Kehidupan Asmara Di sini dan Di sana

  1. saysfirlyzbi

    hai kak~
    di Indo sendiri umur 19 tahun aja udah di tanya sama mama “Firly, kapan kamu mau nikah?” #DDDOOOORRRR -_- apa aku sendiri ya yang ngerasa begitu wkwkwk

    Reply
  2. Khulaphud Story

    wahhh kak feli sekarang menetap di Norway ya? tulisannya makin menambah info ttg Norway buat aku, makasih ya kak🙂
    oh iy kak, aku lg mau nyari beasiswa, untuk S2 sih, tp aku dr jurusan pendidikan khususntpya bgian IPS. peluang beasiswanya gmn kak? soalnya setau aku kebykan beasiswa sana diperlukan enginer.

    Reply
    1. Felicity Post author

      IPS nggak masalah….. coba di browsing deh jurusan sosial yang kuliahnya bahasa Inggris di universitas2x di sini….🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s