Terjebak Kabut

Dulu saya menganggap bahwa kabut adalah fenomena alam biasa yang tidak perlu ditakuti atau dikuatirkan. Tapi….setelah mengalami beberapa kejadian terkait dengan ‘kapas putih’ ini pandangan itu pun berubah.

1. Colombo-Nuwara Eliya, Sri Lanka, 2007
Nuwara Eliya yang terletak di bagian tengah Sri Lanka adalah daerah tujuan wisata yang mengingatkan saya dengan suasana di Lembang atau Puncak di Jawa Barat. Sempat terbersit ucapan supir bus yang pernah saya naiki saat menempuh perjalanan di rute Ciater-Jakarta beberapa tahun silam bahwa melewati kawasan pegunungan seperti ini di atas jam 5 sore sangatlah rawan karena jalan yang licin dan kabut yang muncul sewaktu2x bisa mengurangi jarak pandang. Dan….kini saya dan T duduk di mobil bersama Deeva (supir yang kami sewa bersama mobilnya) di jam….10 malam! Dan benar saja, tak lama setelah berkendara dengan jarak pandang yang semakin berkurang kami pun harus berhenti. Yang nampak di luar kaca jendela hanyalah:

…….Putih Total……..

Lampu mobil jarak jauh tidak kuat menembus tebalnya kabut. Jika diumpamakan, saat itu mobil kami seperti berada di dalam kotak berisi kapas putih disekelilingnya. Tak banyak yang bisa dilakukan selain menunggu sampai kabut berkurang atau sampai ada kendaraan lain lewat. Tapi apakah akan ada kendaraan lewat di tempat dan waktu seperti ini?… Sepuluh menit…lima belas menit… dua puluh menit….tiga puluh lima menit… tidak ada kendaraan yang lewat. Ada rasa ngeri membayangkan jika ada kendaraan yang tiba2x muncul tidak bisa melihat kami karena mengalami kendala serupa. Sampai akhirnya secercah sinar berwarna kuning dan kemerahan terlihat, sebuah truk besar pun datang. Dengan menggunakan insting, Deeva mengambil posisi bersiap2x mengikuti truk tepat di belakangnya penuh kehati2xan. Untunglah kami bisa tiba di hotel tujuan dengan selamat berkat lampu sorot truk yang kebetulan lewat tersebut. Phewww….

2. Jotunheimen-Bergen, Norway 2008

Foto: Dan kabut pun mulai turun di kejauhan…

Setahun kemudian setelah episode di Nuwara Eliya, kami mengalami kejadian serupa yang jika dibandingkan sebenarnya masih tidak ada apa2xnya (lihat post: Menembus Awan. Kabut yang menghalangi jalan hanya dijumpai di beberapa lokasi tertentu seperti jalan di antara dua bukit yang cukup rapat atau lembah. Jalan yang kami lewati di kawasan pegunungan di bagian barat Norwegia ini adalah jalan kecil yang harus ditutup saat musim dingin karena rawan longsor serta ketebalan salju yang bisa mencapai 3-4 meter. Kelokan yang ada tidak terlalu ekstrim sementara di kiri kanan jalan nampak suguhan pemandangan cantik gunung dan bukit yang masih tertutup es di beberapa bagian di akhir musim semi.

3. Rio De Janeiro-Paraty, Brazil 2010

Foto: Pemandangan cantik yang kami jumpai di tengah jalan

Kabut tidak selamanya menakutkan, ia juga bisa menimbulkan suasana mistis dan magis apalagi jika berpadu dengan keheningan alam dan suasana perairan atau pegunungan. Dalam perjalanan dengan mobil rental dari Rio de Janeiro menuju kota tua bernama Paraty di Brazil saat melewati jalan yang diapit oleh bukit dan lembah kami terhenyak melihat pemandangan yang terbentang di depan mata. Nampak perbukitan di kejauhan yang berbaris tertutup kabut, sementara batas air di bawahnya terlihat samar. BEAUTIFUL!

Foto: Susasana di salah satu desa nelayan yang diapit perbukitan

4. Manokwari, Papua 2011
Kali ini perjalanan dilakukan dalam rangka kunjungan kerja di lapangan bersama dua kolega dari Norwegia, staf lapangan lokal dan supir. Tidak ada yang istimewa selain kondisi jalan yang buruk. Di tengah perjalanan tercium bau karet terbakar yang semakin lama semakin kuat. Saat diperiksa barulah kami mengetahui bahwa rem untuk bagian kanan depan sudah nyaris ambrol karena tak kuat menahan turunan dan tikungan bertubi2x.

…..Mantabbbbhhhh…..

*tepok2x jidat*

Foto: Berhenti sementara in the middle of nowhere…

Kami menepi di sebuah jalan kecil di antara bukit dan hutan. Tidak ada sinyal HP di sana dan desa terdekat berada sekitar 5 km jauhnya. Sesekali nampak penduduk lokal lewat baik dengan kendaraan kap terbuka yang penuh sesak maupun berjalan kaki.

Foto: Rombongan penduduk lokal berjalan kaki membelah pegunungan. Tak lupa membawa golok panjang di tangan untuk perlindungan khususnya dari binatang liar

Dan, tak lama kemudian nampak serabut putih kabut bergerak turun di udara yang semakin lama semakin tebal…

Foto: Yang datang tak diundang…

Setelah membongkar ban bagian depan, diketahui bahwa onderdil yang rusak tidak bisa dipakai lagi. Kami membutuhkan spare part yang hanya tersedia di bengkel terdekat sekitar 1,5 jam berkendara. Akhirnya supir berinisiatif untuk menumpang kendaraan yang lewat menuju bengkel dan kembali beberapa jam kemudian. Sementara staf lokal yang lain harus berjalan sekitar 5 km untuk mendapat sinyal HP dan mengabarkan anggota tim yang lain tentang kondisi kami.

Setelah sekitar 5 jam tertahan untunglah masalah bisa diatasi dan perjalanan bisa dilanjutkan. Saya tak bisa membayangkan jika mengalami kejadian ini di malam hari, di tengah hutan dan nyaris tanpa komunikasi dengan dunia luar… *menghela nafas*

5. Livigno-Turino, Italia 2012
Sebelum berangkat ke Italia akhir bulan September lalu saya dan T berpikir bahwa tidak perlu menguatirkan cuaca karena suhu yang berkisar 24 C- 25 C di tempat tujuan buat ukuran Norwegia sudah dianggap ‘panas’. Rute perjalanan pun tidak akan melewati kawasan pegunungan, hanya pedesaan dan daerah pertanian. Dan….kami keliru.

Foto: Jalan menuju Livigno di Italia bagian utara

Improvisasi yang dilakukan membawa kami ke sebuah kota kecil di kawasan utara Italia bernama Livigno. Tanpa sepengetahuan kami, perjalanan meninggalkan tempat ini menuju Turino harus ditempuh dengan melewati kawasan jalan kecil yang diapit gunung2x tinggi, lembah yang dalam nan curam, kelokan tajam…. dan…. KABUT

Foto: Jurang yang mengapit di sisi kiri dan kanan jalan

Selain jurang nampak lebar menganga di tepi jalan dengan pembatas seadanya, pemandangan nampak dramatis dengan gumpalan2x putih awan di kejauhan dan kabut yang turun menutupi jalan… *berdoa komat-kamit*

Foto: Jalan yang tertutup kabut…Hmmm….well…well…


Tantangan yang ada semakin bertambah dengan kelokan2x jalan yang tidak terhitung jumlahnya dan seringkali berbelok hampir 180 derajat karena ekstrimnya. Untunglah alat navigasi GPS yang kami sengaja bawa dari rumah membantu memberikan gambaran medan yang dilalui. Seringkali, tajamnya tikungan membuat layar GPS menunjukkan gambar yang mirip benang kusut seperti ini….

Foto: Kelokan2x jalan yang terekam dalam layar GPS

juga ini Dan… di saat kami merasa tenang bahwa kelokan2x tajam sudah berakhir…. munculah gambar ini….

…..Oh Dear…..

Sepanjang jalan wajah T nampak fokus mengendarai mobil dan berkonsentrasi penuh. Sementara saya yang hanya duduk sambil sesekali mengambil foto dan melongok keluar jendela merasakan suasana tegang khususnya saat melewat kelokan2x tajam di tepi jurang yang menganga lebar dan jalanan berkabut. Susasana semakin mencekam ketika hujan rintik2x turun dan saat melewati sejumlah tugu peringatan tempat kecelakaan maut yang pernah merenggut nyawa. Untunglah 5 jam perjalanan yang membuat aliran adrenalin dalam tubuh melonjak drastis ini bisa kami lewati dengan selamat.

Ketika menceritakan rute dramatis yang dilewati ini, kawan T dari Italia berkata: ” Kalian nekat juga ya. Tahu nggak kalau di awal rute itu ada peringatan yang kurang lebih isinya: ‘Jalanan Berbahaya, Resiko Tangung Sendiri’...?

Mengetahui hal ini kami berdua hanya terbengong2x.
T bertanya: “Kamu lihat peringatan itu?”
Saya: “Nggak…Kamu sendiri gimana?”
T : “Nggak”
Berdua kami terhenyak dan geleng2x kepala….

…….Hmmm… sungguh MANUSIA-MANUSIA NEKAT tak tahu diri….🙂

Berdasarkan pengalaman, sekedar sharing:

1. Kabut biasanya muncul di daerah pegunungan yang diapit bukit tinggi dan lembah baik di pagi hari maupun menjelang malam hari dan ketika cuaca mendung atau hujan. Jangan lupa mencek prakiraan cuaca, kondisi jalan dan jarak tempuh sebelum menempuh perjalanan. Usahakan melewati bagian rute yang sulit di siang hari demi keamanan.

2. Saat berkendara kabut menjadi penanda jalanan yang bisa tiba2x licin. Karenanya harus ekstra hati2x khususnya di jalanan yang kondisinya kurang baik.

3. Membawa alat navigasi seperti GPS (Global Positioning System) sangatlah membantu untuk mengenal medan. Kita bisa mengantisipasi kelokan atau tikungan tajam yang akan dilewati.

4. Usahakan mencek dan mengupdate peta GPS yang akan digunakan sebelum berkendara di lokasi baru atau negara lain demi kepraktisan. Biasanya ada tambahan biaya untuk sewa GPS di rental mobil. Mengupload GPS di negara lain kadang lebih rumit karena kendala koneksi internet ataupun bahasa.

5. Biasanya saat melewati kelokan yang tajam dengan jarak pandang terbatas di kawasan pegunungan, kami memakai trik yang biasa dipakai para supir disejumlah daerah di Indonesia, yakni membunyikan klakson sebagai ‘warning’ buat pengendara yang datang dari arah berlawanan. It helps, indeed.

14 thoughts on “Terjebak Kabut

    1. Felicity Post author

      Itu di Livigno say,Italia utara. Yup…pelanginya indah banget…. tiga lapis pula sayangnya yang lain agak samar2x. Magical….

      Reply
    1. Felicity Post author

      Wah Mil, ngeri juga yak kalo GPS-nya telat ngapdet….. Di sini pernah kejadian waktu hujan dan rada foggy….di GPS tergambar kalo kita ada di tengah laut (amit2x…)…. padahal jalanan yang kita lalui memang paralel sama laut….lucu banget, suara dari GPS-nya bilang: “Anda berada di tengah laut….harap belok ke kanan 300 meter kembali ke jalan raya…” Ternyata nggak bisa seratus persen percaya GPS….

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s