Monthly Archives: September 2013

Libur???….Lagi????….

feli

Berapa lama sih jatah libur kamu di sana? Perasaan libur melulu deh….Jalan2x terus…

Hmmm….Ini adalah salah satu pertanyaan dari sejumlah kenalan di Indonesia yang sering membuat saya merasa tidak enak hati atau tidak tega menjawab.

Di Norwegia, hari libur (ferie) bisa dikelompokkan menjadi:
– Sommerferie (summer holiday), libur musim panas, biasanya 5 minggu antara Juli-Agustus
– Høstferie (autumn holiday), libur musim gugur, 1 minggu di awal bulan Oktober
– Juleferie (christmas holiday), libur Natal, 1 minggu hingga tahun baru–> semua staff
– Vinterferie (winter holiday), libur musim dingin, 1 minggu di bulan Februari atau Maret sebelum musim semi
– Pinse (libur hari Pentakosta yang biasanya jatuh hari Minggu diikuti libur nasional hari Senin), long weekend, semua staff
– Påskeferie (easter holiday), libur Paskah, 1 minggu

Tanggal merah di kalender tahun 2013 hanya ada 13 hari untuk hari2x ‘standar’ seperti Hari Konstitusi (setiap 17 Mei, mirip 17 Agustusan di Indonesia), Hari Buruh (1 Mei) dll.
Untuk staff yang sudah bekerja lebih dari satu tahun di suatu kantor berhak atas 5 minggu libur musim panas yang bisa diambil langsung 5 minggu berturut2x atau sepotong2x dibagi di antara autumn holiday, winter holiday atau easter holiday.

Jadi, jatah libur yang dimiliki adalah:
-5 minggu libur musim panas
-1 minggu libur antara natal dan tahun baru
– waktu overtime (avpassering), pengalaman saya di akhir tahun selalu ada sisa antara 3 -6 minggu untuk jatah libur ekstra

Konsep over time (avpassering) di Norwegia kalau dipikir2x lebih manusiawi dan berpihak pada pekerja. Waktu kerja di musim panas biasanya adalah 7 jam per hari (Senin-Jumat) dan di musim dingin adalah 7.45 menit. Jika kita bekerja lebih dari waktu yang diwajibkan maka akan ada akumulasi waktu over time tadi.

Sebagai contoh, jika saya memiliki waktu overtime yang totalnya adalah 150 jam maka saya berhak mengambil ekstra waktu itu sebagai hari libur (150 dibagi 7 jam atau 150 dibagi 7 jam 45 menit, tergantung kapan jatah overtime mau diambil). Pilihan lain biasanya manajemen kantor juga menawarkan pembayaran per jam untuk ekstra overtime tadi (dengan hitung2xan tersendiri). Bayaran untuk bekerja di hari libur atau weekend biasanya lebih tinggi dari bayaran di hari kerja biasa meskipun kita memiliki gaji tetap.

Kalau dipikir2x setidaknya dalam setahun saya memiliki jatah libur sekitar 8 minggu (2 bulan) di luar tanggal merah. Sementara obrolan dengan kawan2x yang bekerja di Indonesia biasanya jatah cuti satu tahun –dan itu pun sudah termasuk terkena potongan cuti bersama– hanyalah 15 hari!!! …Weleh…weleh… Saya jadi prihatin melihat kawan2x di tanah air yang sebenarnya ingin bisa travelling lebih lama namun harus hitung2xan dengan jatah cuti, ini pun plus resiko kerja tanpa dibayar atau dipecat jika melanggar tenggang waktu yang ditentukan.

Jangan heran di hari2x libur massal seperti summer holiday maka kantor2x di Norwegia akan sangat sepi selama 1,5 bulan. Sementara di hari2x libur seperti autumn holiday, winter holiday yang juga sekaligus libur anak sekolah biasanya pekerja yang memiliki anak usia sekolah akan ikut berlibur. Continue reading

Advertisements

Rasisme di Norwegia

feli_edited-1
Isu rasisme adalah persoalan yang super-sensitif di negara2x Eropa termasuk Norwegia. Sekilas tentang hal ini pernah dibahas di postingan jadul sebelumnya

Pengalaman saya sejak pertama kali menginjakkan kaki hingga menjadi penduduk tetap di negara ini secara umum memang baik2x saja, tidak ada persoalan yang berarti. Namun, kerikil2x kecil yang menganggu dan menimbulkan ‘kontroversi hati’ (haiyahhhh....) tetap saja ada khususnya terkait pengalaman tidak enak terkait dengan warna kulit dan penampakan sebagai non-lokal.

Yang menarik, pelaku2x rasis bukan hanya penduduk asli yang ditujukan terhadap pendatang. Pendatang (imigran) bisa juga sangat rasis terhadap sesama pendatang lainnya. Statistik kriminalitas menunjukkan bahwa jumlah imigran penghuni penjara di Norwegia meningkat tiga kali lipat antara tahun 2000-2012 (khususnya mereka yang berasal dari Polandia, Lithuania, Romania, Nigeria, Irak, Somalia). Tidak heran jika sesama imigran lain merasa skeptis jika harus berurusan dengan orang2x yang berasal dari negara2x tersebut.

Pencari suaka (asylum seekers) kebanyakan datang dari negara2x Afrika, Timur Tengah atau negara lain yang bergejolak (Somalia, Iran, Irak, Palestina, Afganistan dll). Tidak jarang hal ini disalahgunakan oleh pendatang2x yang berniat tidak baik. Berita terakhir menyebutkan bahwa 99,99% ‘pencari suaka’ dari Nigeria pernah ditolak di negara2x lain di Eropa dan mencoba ‘mencuri waktu’ untuk tinggal di Norwegia sementara proses permintaan suakanya diproses. Hal ini dilakukan pula oleh ‘pencari suaka’ dari Georgia. Mereka kebanyakan berakhir di jalan sebagai pelaku kriminal mulai dari penjual narkoba, copet, perampokan sampai kejahatan bersenjata. Karenanya kini untuk negara2x tertentu seperti Nigeria, India, Georgia, Irak proses cepat pemrosesan permintaan suaka dilakukan untuk menghindari penyalahgunaannya.

S ebagai penganut sistem welfare state (negara kesejahteraan) tidak sedikit manfaat yang dirasakan saat kita sudah masuk ke dalam sistem dan tercatat secara resmi sebagai pendatang seperti: gratis biaya ke dokter atau rumah sakit, tidak hanya konsultasi tapi juga biaya operasi dan obat2xan (ada sedikit bagian yang tetap harus dibayar pasien hingga batas tertentu yang tidak terlalu banyak). Hal lain adalah gratis biaya sekolah mulai dari level sekolah dasar hingga universitas, tunjangan sosial per bulan juga diberikan oleh negara saat seorang warga tidak bekerja dll. Uang untuk membayar fasilitas2x tadi adalah uang pajak dari warga negara yang bekerja yang persentasenya tidak sedikit. Sebagai gambaran, membayar pajak pendapatan setidaknya 36% dari gaji adalah hal yang sangat biasa di sini untuk pekerja kantoran.

Perdebatan dari perspektif cost-benefit analysis dari mereka yang menganut garis keras dan anti imigran menunjukkan bahwa imigran2x tadi lebih banyak memakan biaya negara daripada menyumbangkan pajak ke negara. Imigran yang datang dengan tingkat pendidikan rendah, tanpa skill dan pengalaman kerja, plus trauma dari wilayah konflik biasanya sulit mendapat kerja. Faktor kutur, adat atau agama juga berpengaruh dalam proses adaptasi di negara seperti Norwegia yang cenderung homogen ini.

Data resmi dari Lembaga Kesetaraan Gender dan Anti-Diskriminasi (Likestillings og Diskrimeneringsombudet) menunjukkan bahwa kasus diskriminasi yang didasarkan pada etnisitas (termasuk warna kulit, asal negara dan keturunan) menduduki peringkat ketiga yang dilaporkan setelah diskriminasi atas jenis kelamin dan ketidakmampuan fisik.

Di level pribadi, saya sendiri pernah mengalami perilaku rasis dari….. imigran asal Afrika (yuppp… sh*t happens). Di sini, imigran Asia kebanyakan berasal dari Vietnam (pengungsi saat perang Vietnam), Filipina (kebanyakan bekerja sebagai Au Pair, perawat di panti jompo, atau perawat di rumah sakit), Thailand (kebanyakan menikah dengan pria2x Norwegia yang mungkin ditemui via internet atau saat sang pria berlibur ke Asia yang –maaf– kadang berasal dari desa, tidak berpendidikan dan memiliki perbedaan usia cukup mencolok). Sementara imigran Pakistan biasanya adalah keturunan dari imigran pekerja yang datang ke Norwegia di gelombang imigrasi pertama sekitar akhir tahun 60-an atau awal tahun 70-an). Continue reading