Rasisme di Norwegia

feli_edited-1
Isu rasisme adalah persoalan yang super-sensitif di negara2x Eropa termasuk Norwegia. Sekilas tentang hal ini pernah dibahas di postingan jadul sebelumnya

Pengalaman saya sejak pertama kali menginjakkan kaki hingga menjadi penduduk tetap di negara ini secara umum memang baik2x saja, tidak ada persoalan yang berarti. Namun, kerikil2x kecil yang menganggu dan menimbulkan ‘kontroversi hati’ (haiyahhhh....) tetap saja ada khususnya terkait pengalaman tidak enak terkait dengan warna kulit dan penampakan sebagai non-lokal.

Yang menarik, pelaku2x rasis bukan hanya penduduk asli yang ditujukan terhadap pendatang. Pendatang (imigran) bisa juga sangat rasis terhadap sesama pendatang lainnya. Statistik kriminalitas menunjukkan bahwa jumlah imigran penghuni penjara di Norwegia meningkat tiga kali lipat antara tahun 2000-2012 (khususnya mereka yang berasal dari Polandia, Lithuania, Romania, Nigeria, Irak, Somalia). Tidak heran jika sesama imigran lain merasa skeptis jika harus berurusan dengan orang2x yang berasal dari negara2x tersebut.

Pencari suaka (asylum seekers) kebanyakan datang dari negara2x Afrika, Timur Tengah atau negara lain yang bergejolak (Somalia, Iran, Irak, Palestina, Afganistan dll). Tidak jarang hal ini disalahgunakan oleh pendatang2x yang berniat tidak baik. Berita terakhir menyebutkan bahwa 99,99% ‘pencari suaka’ dari Nigeria pernah ditolak di negara2x lain di Eropa dan mencoba ‘mencuri waktu’ untuk tinggal di Norwegia sementara proses permintaan suakanya diproses. Hal ini dilakukan pula oleh ‘pencari suaka’ dari Georgia. Mereka kebanyakan berakhir di jalan sebagai pelaku kriminal mulai dari penjual narkoba, copet, perampokan sampai kejahatan bersenjata. Karenanya kini untuk negara2x tertentu seperti Nigeria, India, Georgia, Irak proses cepat pemrosesan permintaan suaka dilakukan untuk menghindari penyalahgunaannya.

S ebagai penganut sistem welfare state (negara kesejahteraan) tidak sedikit manfaat yang dirasakan saat kita sudah masuk ke dalam sistem dan tercatat secara resmi sebagai pendatang seperti: gratis biaya ke dokter atau rumah sakit, tidak hanya konsultasi tapi juga biaya operasi dan obat2xan (ada sedikit bagian yang tetap harus dibayar pasien hingga batas tertentu yang tidak terlalu banyak). Hal lain adalah gratis biaya sekolah mulai dari level sekolah dasar hingga universitas, tunjangan sosial per bulan juga diberikan oleh negara saat seorang warga tidak bekerja dll. Uang untuk membayar fasilitas2x tadi adalah uang pajak dari warga negara yang bekerja yang persentasenya tidak sedikit. Sebagai gambaran, membayar pajak pendapatan setidaknya 36% dari gaji adalah hal yang sangat biasa di sini untuk pekerja kantoran.

Perdebatan dari perspektif cost-benefit analysis dari mereka yang menganut garis keras dan anti imigran menunjukkan bahwa imigran2x tadi lebih banyak memakan biaya negara daripada menyumbangkan pajak ke negara. Imigran yang datang dengan tingkat pendidikan rendah, tanpa skill dan pengalaman kerja, plus trauma dari wilayah konflik biasanya sulit mendapat kerja. Faktor kutur, adat atau agama juga berpengaruh dalam proses adaptasi di negara seperti Norwegia yang cenderung homogen ini.

Data resmi dari Lembaga Kesetaraan Gender dan Anti-Diskriminasi (Likestillings og Diskrimeneringsombudet) menunjukkan bahwa kasus diskriminasi yang didasarkan pada etnisitas (termasuk warna kulit, asal negara dan keturunan) menduduki peringkat ketiga yang dilaporkan setelah diskriminasi atas jenis kelamin dan ketidakmampuan fisik.

Di level pribadi, saya sendiri pernah mengalami perilaku rasis dari….. imigran asal Afrika (yuppp… sh*t happens). Di sini, imigran Asia kebanyakan berasal dari Vietnam (pengungsi saat perang Vietnam), Filipina (kebanyakan bekerja sebagai Au Pair, perawat di panti jompo, atau perawat di rumah sakit), Thailand (kebanyakan menikah dengan pria2x Norwegia yang mungkin ditemui via internet atau saat sang pria berlibur ke Asia yang –maaf– kadang berasal dari desa, tidak berpendidikan dan memiliki perbedaan usia cukup mencolok). Sementara imigran Pakistan biasanya adalah keturunan dari imigran pekerja yang datang ke Norwegia di gelombang imigrasi pertama sekitar akhir tahun 60-an atau awal tahun 70-an).

Karena penampakan orang Indonesia secara fisik mirip dengan orang Vietnam, Thailand, Filipina maka stereotip2x yang melekat terhadap mereka yang berasal dari negara2x tadi juga otomatis melekat ke orang Indonesia. Pandangan ke perempuan Asia seperti: mengandalkan hidup ke suami, tidak berpendidikan, lemah, gold-digger (matre), pasif, kebanyakan bekerja sebagai pelayan restoran, bar atau panti pijat melekat di kepala orang2x rasis. Image perempuan berwajah Asia yang memiliki pendidikan tinggi, memiliki pekerjaan, penghasilan bagus dan mandiri secara finansial, cerdas dan berwawasan baru muncul melalui interaksi2x pribadi setelah mengenal si perempuan yang bersangkutan secara lebih baik. Ungkapan DO NOT JUDGE A BOOK BY ITS COVER.… nampaknya lebih mudah dikatakan namun sulit diaplikasikan.

Suatu saat ketika melewati security check di bandara internasional Gardemoen, alarm berbunyi karena sepatu saya. Seorang petugas melakukan pemeriksaan tubuh (body search). Si petugas keturunan Afrika sialnya adalah seorang laki2x… ($@$%#ˆ*&&ˆ%$#$%ˆ&ˆ%$#%ˆ&*&ˆ%E!!!!!). Karena tidak ada pilihan lain dan untuk menghormati prosedur keamanan, saya pun pasrah saat si petugas menyentuh bagian tubuh termasuk di sejumlah daerah yang sensitif (selangkangan dan dada). Seandainya…seandainya saja…. si petugas menutup mulut, menyilakan saya pergi setelah pemeriksaan selesai maka mungkin (mungkin ya..) masalah tidak akan menjadi besar. Namun, si petugas tidak bersikap profesional dan besar mulut, sambil tersenyum meledek dia berkata: “Kamu seharusnya senang saya kasih ‘pijat’ gratis pula, berapa sih harga tarif pijat per jamnya? ….”

WHAT THE H*LL!!!!!!!

Reaksi saya waktu itu adalah: marah,merasa direndahkan dan diperlakukan berbeda karena penampakan fisik. Pandangan bahwa perempuan Asia kebanyakan bekerja di panti pijat sangatlah melecehkan. Kasus ini akhirnya kami laporkan ke Lembaga Kesetaraan Gender dan Anti-Diskriminasi.

Pengalaman yang menyebalkan lain dialami seorang kolega di kantor asal salah satu negara Afrika. Jeanne, memiliki gelar S3 dari salah satu universitas di Jerman, memiliki pekerjaan dan penghasilan yang bagus. Namun, penampilannya yang sederhana tanpa make-up, plus sang suami WN Jerman yang berpenampilan eksentrik (rambut panjang, jaket kulit dan sedikit alternatif) tidak jarang membuat mereka dikira sebagai pasangan pekerja seksual dari Nigeria dengan pelanggan atau gigolo-nya.

Suatu hari ketika Jeanne berkeliling kompleks perumahan dengan sang suami, seorang tetangga menelpon polisi. Tak lama kemudian, tanpa ba-bi-bu atau menjelaskan situasinya dua orang polisi datang, melakukan penggeledahan fisik terhadap keduanya dan memborgol mereka!!!!
(…*speechless*….)

Direktur kantor kami yang baik hati harus menelpon pimpinan kepolisian secara resmi dan meminta polisi membatalkan kasus tidak jelas ini. Polisi akhirnya menyerah setelah ada ancaman bahwa kasus ini akan dibeberkan ke media-masssa. …

KESIMPULAN:

Day to day racism atau rasisme dalam kehidupan sehari2x memang ada di sini, di berbagai level dan lapisan berbeda.

Sebagai pendatang kita harus menghormati hukum dan ketentuan yang berlaku. Termasuk di dalamnya, mengetahui hak dan kewajiban serta mekanisme pengaduan dan pelaporan ke instansi resmi jika mengalami hal yang tidak mengenakkan dan merugikan.

Pembiaraan atau impunity terhadap pelaku dan institusi untuk hal2x yang bisa dilaporkan tidak akan menimbulkan efek jera atau perbaikan terhadap individu dan sistem yang bermasalah.Jadi, berani memperjuangkan suara dan hak2x kita meskipun di negara asing adalah penting. Jika kita sendiri tidak mau memperjuangkan nasib, bagaimana kita berharap orang lain akan melakukannya buat kita?

Memiliki jaring pengaman sosial (social safety net) seperti teman2x atau kolega yang bisa membantu sewaktu2x saat kita mengalami krisis adalah hal penting. Tentu saja hubungan pertemanan tidak boleh hanya dilandaskan pada asas manfaat. Di saat seperti ini ungkapan ‘a friend in need, is a friend indeed’ pun menjadi terbukti🙂

Pelajaran paling penting yang saya dapat dari pengalaman tak enak di bandara di atas adalah:

-Saat melewati security check, jangan ragu meminta agar body search dilakukan oleh petugas dengan jenis kelamin yang sama jika ini membuat kita merasa lebih nyaman. Banyak yang merasa jengah jika pemeriksaan terhadap perempuan dilakukan oleh petugas laki2x dan sebaliknya. Jika si petugas sedang sibuk, lebih baik menunggu beberapa saat daripada capek hati dan merasa dilecehkan nantinya.

-Ingat baik2x baju yang kita kenakan, waktu kejadian, lokasi (di pintu mana, sudut mana), detil seragam yang petugas kenakan, berikut nama dan atribut si petugas lainnya, juga saksi2x jika ada. Ini untuk mempermudah prosedur pelaporan dan proses selanjutnya jika memang ada hal yang perlu ditindaklanjuti.

-Setelah beberapa saat (satu minggu hingga 30 hari) rekaman CCTV akan dihapus secara rutin sesuai prosedur jika tidak ada kejadian2x khusus. Jadi, jangan ragu untuk segera melapor supaya bukti rekaman CCTV bisa diamankan dan diminta tidak dihapus.

Tabik.

Referensi:
http://www.ldo.no/no/Tema/Statistikk-og-analyse/
http://www.antirasistisk-senter.no/index.php?cat=98689
http://www.nettavisen.no/nyheter/article3620783.ece
http://www.dagbladet.no/2013/04/15/nyheter/innvandring/fremskrittspartiet/regjeringen/velferdsstaten/26672389/

16 thoughts on “Rasisme di Norwegia

  1. Vidya Muarifatussa'diah

    Haiii mba feli, aku dah 5 bulan di Bergen slama ini sih ga pernah ngalamin apa2. Cuma pas awal2 baru nyampe Norway aku suka baper (kebawa perasaan) wkwkwk.. Jd kan aku pake krudung gitu, orang2 pd ngeliatin dari atas ke bawah emang ngapa si tenang aja kali gw ga bawa bom neh priksa neh priksa (dalem ati ngoceh sndiri).
    Kalaupun nanti ada yg rasis sama aku ya gapapa lah toh aku emang masih ga ngerti bahasa dia hahaha.. But wait nanti kalo aku udah ngerti waah siap2 mental fisik jiwa raga.
    Oiya by the way mba feli tinggal di kota mana?
    Kapan2 boleeh doong mampir, aku juga suka eksperimen masak2 kaya mba feli hahaha…
    Salam dari Bergeeen🙂

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hai, salam kenal ya…saya dulu di Oslo, sekarang pindah rada di luar tapi kantor tetap di pusat kota Oslo jadi kayak komuter Bogor-Jakarta. Ngga usah kuatir berlebihan, tapi kalau kita memang mengalami diskriminasi atau perlakuan kasar karena ras, warna kulit, agama dll (hate crime) jangan ragu buat melaporkan ke yang berwajib, ada lembaga anti diskrimnasi di sini juga namanya Likestillings- og diskrimineringsombudet (LDO) nanti mereka membantu kita sebagai pendamping. Linknya http://www.ldo.no

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s