Tantangan Mencari Kerja di Norwegia

felice1

Buat mereka yang baru pindah ke Norwegia pasti bisa merasakan sendiri bahwa mencari kerja sebagai imigran atau pendatang dari negara non Eropa atau non Skandinavia adalah sebuah tantangan tersendiri.

Bahasa
Tantangan pertama adalah bahasa (norsk atau norwegian) yang memakan waktu setidaknya 1-2 tahun semi-intensif untuk dipelajari sebelum bisa dengan pede aktif terlibat dalam percakapan atau diskusi dengan penduduk asli dengan lumayan lancar.

Istilah ‘bahasa adalah jendela dunia’ berdasarkan pengalaman saya adalah benar adanya. Karena sebagian besar berita, pengumuman, informasi di koran, TV, radio, sarana publik disampaikan dalam bahasa norsk maka menguasai setidaknya basic norsk akan sangat membantu supaya kita tidak tertinggal. Meski banyak orang yang bisa berbahasa Inggris di sini, tetapi biasanya informasi sehari2x seperti perubahan jadwal bus atau tram atau pengalihan rute tertulis dalam bahasa norsk.

Dulu, di awal2x masih belum mengusai norsk, saat saya terlibat percakapan atau diskusi dengan keluarga dan kawan2x hubby atau kolega di kantor mereka akan menghormati dengan memakai bahasa Inggris. Tapi….. setelah 15 menit atau saat diskusi mulai menghangat…. maka bahasa norsk kembali mengambil alih. Tentu saja buat mereka akan lebih natural buat menjelaskan sesuatu dalam bahasa ibunya. Jadi, ketimbang merasa asing atau menjadi outsider dalam satu kelompok penduduk lokal, lebih baik kitalah yang coba membaur dan mempelajari bahasa, budaya dan kebiasaan mereka. When in rome…do as the romans… alias dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, mungkin kurang lebih begitu.

Informasi
Knowledge is power…Pengetahuan di sini bukan hanya apa yang didapat dari bangku kuliah. Tetapi juga info sehari2x yang relevan dengan kebutuhan. Buat pencari kerja tantangan yang dihadapi adalah informasi tentang lowongan kerja itu sendiri. Logikanya: bagaimana bisa melamar kerja kalau kita sendiri tidak tahu apa posisi yang lowong, bagaimana bisa melamar dan kemana lamaran bisa diajukan? Nah, sialnya sebagian besar lowongan di website2x yang tersedia kebanyakan adalah dalam bahasa…. Norsk…. Surprise…. Not really

Khusus untuk perusahaan multi-nasional khususnya bidang oil dan engineering sudah banyak yang memakai bahasa Inggris sebagai bahasa resmi di kantor mereka, termasuk dalam penulisan info lowongan kerja.

Bersikap proaktif sangat dianjurkan. Rajin2x googling sektor industri atau perusahaan yang kita minati, memantau info lowongan kerja, mengirim email untuk bertanya sangat dianjurkan. Jangan hanya mengandalkan teman orang Indonesia yang dikenal karena si teman mungkin punya keterbatasan waktu atau informasi (ehm, menunjuk diri sendiri…. #korban yang sering ditanya2x)

Latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja
Ijasah yang didapat dari Negara asal belum tentu mendapat pengakuan di Norwegia khususnya untuk profesi seperti dokter dan pengacara. Sistem pendidikan kedokteran di negara2x luar EU masih banyak yang belum diakui.

Seorang dokter anak dengan pengalaman 10 tahun asal Ukraina yang saya kenal misalnya terpaksa menjadi pembersih gedung karena ijazah dokter dan pengalaman kerjanya tidak diakui pemerintah Norwegia, ditambah dengan kemampuan bahasa Inggris dan norsk yang bersangkutan juga masih pas2xan.

Kultur
Kultur atau budaya kerja di Indonesia dan di Norwegia jelas berbeda. Untuk sistem manajemen di kantor Norwegia (setidaknya di kantor tempat saya bekerja dan hasil tanya2x di tempat lain) dipengaruhi oleh kultur sosial-demokratis yang kuat dengan aspek equality atau kesetaraan yang kental. Batas antara atasan dan bawahan dalam pergaulan sehari2x pun tidak seperti di Indonesia yang masih sangat hirarkis. Istilah ‘gila hormat’ tidak ada dalam kamus para pemimpin di sini. Karenanya jangan heran jika pengawalan dan protokoler buat orang penting atau pejabat pun biasa2x saja, kecuali jika menyambut tamu kepala negara.

Seorang kawan dari Indonesia pernah menyatakan keterkejutannya ketika saat di bandara ada bapak setengah baya tanpa sungkan menawarkan bantuan membawa koper si kawan yang terlihat lumayan kerepotan. Setelah mengobrol beberapa saat baru ketahuan bahwa si bapak ternyata adalah duta besar Norwegia di salah satu negara Asia yang baru tiba di Oslo untuk kunjungan ke kantor pusatnya. Direktur di kantor pun yang juga salah satu public figure tanpa ragu ikut mengangkat boks2x berat saat kami pindah ke bangunan yang baru termasuk ikut bersih2x dan mem-vacuum cleaning gang2x di kantor. Melontarkan masukan, kritikan atau pandangan berbeda kepada atasan bukan hal yang dianggap tabu. Secara umum hal ini justeru dihargai karena sebagai staff kita dianggap ikut aktif berperan serta dalam diskusi atau memecahkan suatu masalah.

Meski amat sangat jarang, yang namanya ‘office politic’ atau ‘politik di kantor’ alias intrik tetap ada. Dan biasanya hal ini pun akan didiskusikan terbuka ketimbang membiarkan suatu masalah berlarut2x dan menciptakan iklim kerja yang tidak sehat. Saya mendapat kesan bahwa orang2x Norwegia yang secara pribadi saya kenal secara profesional selalu mencoba berpikiran positif terhadap suatu hal atau terhadap seseorang, kalaupun ada hal negatif dari orang bersangkutan mereka akan mengimbangi dengan hal2x positif di saat bersamaan.

Menilik ke belakang, ada beberapa hal yang bisa saya sarankan buat mereka yang niat bekerja di Norwegia.

1. Nekat itu perlu, tetapi harus nekat yang terkalkulasi dengan baik jangan asal nekat saja. Hidup di negara orang itu bukan hal yang mudah. Jangan hanya bermodal mengandalkan apalagi merepotkan orang lain.

2. Menjalin network dengan profesional di bidang yang kita inginkan itu sah2x saja untuk sekedar memperkenalkan diri, bertanya tentang pembukaan lowongan dll…dll… Yang perlu diingat, jangat hanya mengirim satu email ke satu orang, tapi kirimlah beberapa email ke orang2x berbeda atau kantor berbeda. Mengingat mereka adalah orang2x sibuk mungkin tidak semua email akan dibalas. Siap2x menerima penolakan juga harus diantisipasi.

3.Menjalin network dengan sesama orang Indonesia yang sudah lebih dulu tinggal di sini juga perlu. Meski si kawan tidak bisa membantu mendapat pekerjaan setidaknya ada info2x penting yang bisa dishare. Yang perlu diingat adalah meminta tolong dengan sopan. Tidak jarang saya mendapat permintaan tolong dengan nada mendesak, langsung main tembak tanpa basa-basi dan terkesan hanya mendekat jika orang yang bersangkutan ada maunya saja dan menghilang begitu jika tidak butuh lagi. Hadeuhhh…. Capek banget kalau bertemu tipe seperti ini.

4. Jangan mudah menyerah dan tetap terus berusaha. Di saat bersamaan berupaya mengasah pengetahuan dan keterampilan kita. Ikut kursus2x, belajar bahasa, seminar2x, konferensi yang terbuka untuk umum dll adalah juga bagian dari membangun networking di bidang yang kita minati.

5. Mengasah skill untuk teknik mengirimkan aplikasi, membuat CV, dan interview yang tidak selalu sama dengan di Indonesia. Di Norwegia misalnya mencantumkan foto diri, tanggal lahir, status sipil (menikah atau tidak) apalagi agama tidak diharuskan untuk menghindari diskriminasi berdasarkan etnisitas, agama, umur, jenis kelamin dll.

6. Siap bersaing itu perlu. Saat melamar untuk posisi saya saat ini misalnya proses seleksi hanya dilakukan melalui seleksi administrasi, interview intensif dengan 2 orang (sekitar 2,5 jam) tentang penguasaan subjek, disusul tahap berikutnya yakni interview dengan 4-5 orang interviewer (sekitar 2 jam) yang fokusnya lebih ke kemampuan kita menyelesaikan tugas2x sesuai job description dan dinamika dengan rekan sejawat. Dalam interview biasanya juga hadir perwakilan dari semacam komite anti diskriminasi (khususnya di institusi pemerintah) untuk menjamin bahwa proses seleksi dilakukan dengan adil tanpa diskriminasi apalagi KKN.

7. Manajemen harapan harus dikelola dengan baik. Jangan berharap terlalu tinggi bahwa kita bisa mendapat posisi sama seperti pekerjaan terakhir di Indonesia. Misalnya jika posisi terakhir di tanah air adalah kepala divisi, maka menjadi kepala divisi di kantor yang serupa di Norwegia adalah sebuah tantangan (bukan berarti mustahil ya). Status di tanah air sebagai anak pejabat, isteri selebriti dsb tidak akan banyak membantu karena yang dinilai saat melamar kerja adalah kualitas dan pribadi individu yang bersangkutan.

Di Norwegia dikenal istilah posisi kerja berdasarkan persentase dimana 100% adalah full-time job, sementara part time bisa mulai dari 20%, 50%, 80% dll berdasarkan kesepakatan antara staff dan pihak manajemen kantor. Jika lowongan yang tersedia adalah part-time, jangan lantas menolak. Bisa masuk ke dalam sistem suatu kantor adalah nilai tambah, semakin dikenal dan luas pergaulan kita maka peluang pun akan semakin terbuka. Syukur2x bisa langsung mendapat full-time dan posisi permanen (biasanya untuk yang sudah bekerja lebih dari 3 tahun, kalau sudah status permanen maka bisa dianggap lebih terlindungi saat terjadi pengurangan staff misalnya).

Untuk bidang sosial biasanya akan lebih sulit mencari perkerjaan di posisi yang kita inginkan karena harus bersaing dengan lulusan2x lokal. Untuk satu posisi di kantor saya sekarang di divisi komunikasi misalnya harus diperebutkan oleh 150-200 pelamar. Saya sendiri cukup beruntung karena hanya bersaing dengan sekitar 40-50 pelamar untuk posisi yang saat ini dipegang karena kebetulan masih tentang manajemen program di Indonesia (sangat country specific, dimana menjadi orang Indonesia adalah nilai tambah! :D).

Buat student, ada batasan jam per minggu si student boleh bekerja. Bayaran upah minimum sekitar 120 NOK per jam atau IDR 240.000 per jam (terkesan banyak, tapi jangan lupa bahwa biaya hidup juga tinggi di sini). Tidak sedikit pelajar bekerja di hotel, cafe atau restoran untuk bagian bersih2x. Kalau sudah begini yang namanya gengsi atau perilaku diva harus dibuang jauh2x. Apapun kerjanya yang penting halal dan tidak melanggar hukum serta bisa mengimbangi dengan tugas2x kuliah tetap harus disyukuri.

Sekian dulu sharing dari saya, semoga bermanfaat… 😀

Tabik.

Advertisements

63 thoughts on “Tantangan Mencari Kerja di Norwegia

  1. Hanif

    Wah keren ni blognya, jadi intinya kalau mau cari beasiswa/ kerja kita yg harus aktif y mbak,
    mbak pernah mikir ga klo seandainya hidup kerja sampai meninggal disana, ntar yg ngubur siapa ya?, kn disana kita warga asing, krena saya jg prnh pnya keingginan tinggal diluar negri
    sorry kalau pertanyaannya aga aneh

    Reply
    1. Felicity Post author

      Pertanyaan yang sama juga pernah saya tanyakan ke diri sendiri. Kalau memang ada keluarga (anak dan suami) di sini ya dikubur di sini, kalau tidak ada ya kalau bisa dikubur di Indonesia. Makanya perlu ada kontak dengan orang lain dan juga perlu lapor ke kedutaan supaya kalau ada apa2x, termasuk kalau meninggal ada yang setidaknya ada yang membantu. Saya pribadi ngga masalah mau dikubur dimana (Indonesia atau Norwegia) kalau bisa bukan di tempat yang ngga ada ikatan emosionalnya.

      Reply
  2. Candra

    hi mba, aku candra minat nih kerja dsna jd tukang cuci piring jg gpp’ tp gmn caranya y? apa mesti punya keahlian khusus & syarat2 khusus? tq

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hai, kalau jadi tukang cuci piring saja sepertinya nggak mudah karena kan yang diutamakan skilled worker, selain itu saingannya juga banyak imigran2x dari negara lain. Dari visanya juga sudah sulit, kalau mau jadi tukang cuci pinig dijamin visa bakalan ditolak deh. Kalau jadi student nyambi jadi tuang cuci piring itu mungkin lebih realistis.

      Reply
        1. Felicity Post author

          Salam kenal kembali, buat studi musti ada jaminan, jumlahnya ada di website imigrasi norwegia (UDI) atau di website kedutaan norwegia di Jakarta. Buat visa kerja musti ada kontrak kerja dulu.

          Reply
  3. Vidya Muarifatussa'diah

    Haii mba feli, aq Vidya skrg aq tinggal di Bergen sejak 25 feb 2015 jd aupair hehehe.. Sedih disini gaada temen Indonesia. Jd gaulnya ya cuma sm hostfam aq aja.

    Oiya mau nanya donk untuk jd guru di Barnehage, itu diwajibkan kuliah minimal s1 apa ga sih? Soalnya basic aq guru SD sbenernya, kuliah aq di jkt blm slsai dan aq tinggal..

    Mohon jawabannya yaaa :))

    Reply
    1. Felicity Post author

      Kayaknya di barnehage atau SFO nggak harus kuliah deh….. yang penting bisa sedikit norsk kalo ngga salah. Ada orang Indonesia yang guru di sekolah internasional di Bergen….Rajin2x aja ke toko asia di sana, kalau ketemu satu orang Indonesia biasanya bakalan ketemu yang lain. Lumayan banyak kok WNI di sana… 🙂

      Reply
  4. angga

    Hai … mbak Felly.. saya baru rencana berangkat ke oslo . oh ya saya akan bekerja di crewboat untuk kapal tanker oil disana . mau tanya kira2 berapa lama untuk paham bahasa NORSK ya..? ok. thanks before.

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hai. Buat basic minimal1 tahun, buat lancar ya minimal 2 tahun…. buat kita bahasa norsk agak ajaib 🙂

      Reply
  5. sherly

    hai,,hai mba felli..aku sherly mba baru nikah sm orang norway dan skrng tinggal di oslo..seneng bngt nih bs ketemu blog mba felli seperti mendapatkan tmn baru..disini aku gak pny tmn orang indonesia..aku pernah nanya dikedutaan minta no tlp orang indonesia yg tinggal dinorway tp gak diksh..hehehe..mba felli tinggal dimana?pengen donk ktm mba felli..aku sih blm kepikiran buat kerja aku msh beradaptasi and msh belajar bahasa norway..pengen ktm mba felli biar bs ngobrol bahasa indonesia..hahaa..see u mba..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s