Monthly Archives: January 2014

Musim Panen

feli14

Bulan2x terbaik mengunjungi Norwegia adalah antara bulan Juni-September, selain karena alasan suhu yang lebih bersahabat juga karena alasan pilihan aktivitas yang lebih beragam dan pemandangan yang lebih indah. Di tepi jalan, di halaman rumah, di lembah dan pegunungan akan nampak bunga2x cantik yang bermekaran beraneka rupa dan warna, buah2x lokal juga mudah ditemui dengan harga murah bahkan gratis (kalau dari kebun sendiri) 😀

Biasanya buah yang paling banyak ditemui produksi lokal adalah apel, plum, berbagai jenis berries (strawberry, blue berry, red berry dll). Berbagai jenis jamur juga banyak tumbuh di dalam hutan dan siap dipetik di akhir musim panas atau di musim gugur. Aktivitas memetik beragam berries liar dan jamur di hutan ini adalah ajang sosial rutin yang biasa dilakukan antara sesama teman hang out ataupun sesama anggota keluarga. Selain menciptakan keakraban, ada kepuasan berbeda memakan bahan makanan organik hasil panen sendiri.

Foto: Alat seperti ‘sisir’untuk memetik blue berry dan red berry

feli3 copy

Modal yang diperlukan untuk memetik berries dan jamur adalah kesabaran dan pengetahuan membaca medan. Biasanya buah berries liar suka tumbuh di antara jenis pohon tertentu yang agak terbuka dan terekspos cahaya matahari. Sebaliknya, jamur suka tumbuh di wilayah yang lembab dan gelap. Jika ada aliran air di tengah hutan yang gelap dan lembab, dijamin akan ditemukan banyak jamur. Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di postingan jadul ini

Foto: Hasil yang diperoleh dalam 30 menit 😀

feli1 copy 3

Setelah lebih dari setengah jam biasanya keluhan yang dirasakan adalah pegal2x di pinggang karena terlalu banyak merunduk. Tapi memetik berries tidak terlalu sulit, setelah 1 jam bagi seorang pemula biasanya sudah bisa memenuhi satu ketel penuh (volume sekitar 5-6 liter)

Foto: Anggota tim pemetik buah berry :bapak mertua, ibu mertua, hubby dan menantu yang baik hati dan tidak sombong (ehm :D)

feli5 Continue reading

Me + Him = It’s complicated :)

Yang namanya pasangan pasti ada perbedaan, mulai dari beda karakter dan sifat sebagai individu, beda kultur, beda kebiasaan, beda latar belakang dll. Untuk pasangan campuran (beda warga negara) perbedaan ini semakin mencolok dan sedikit banyak berpengaruh dalam keseharian. Hal ini menjadi biang kerok sumber beberapa kehebohan yang terjadi dalam keseharian.

ME: tomboy, anak rumahan, nggak suka diatur2x, berantakan, kalem, jawa banget aslinya.

feli-3_edited-1

HIM: suka aktivitas alam terbuka, aktif, disiplin dan tegas (kadang suka ngatur2x), gelisah jika tidak berolahraga outdoor 2-3 kali seminggu, orang norwegia banget 😀

feli-2

ME + HIM = IT’S COMPLICATED 😀

Pekerjaan Rumah Tangga
Meski dulu sesekali membantu di rumah ortu, sebelum menikah saya tidak diwajibkan mencuci baju sendiri, memasak, bersih2x dll. Waktu itu selalu ada orang lain yang melakukan entah asisten rumah tangga atau menyewa jasa laundry. Sementara T (hubby) memang dibesarkan dengan disiplin yang kuat untuk ikut bersih2x rumah secara rutin. Mencuci pakaian, mencuci piring dan mengepel rumah serta pekerjaan domestik lain adalah hal yang biasa buat laki2x di Norwegia.

Kehebohan terjadi saat saya mendapat tugas mencuci baju pertama kali setelah menikah. Kalau diamati sepertinya proses mencuci baju tidak terlalu sulit, ehm, menurut saya loh…. Hanya memasukan semua baju kotor ke mesin -> Masukan sabun ke tempatnya -> Buka kran air -> Tekan tombol ‘Start’ -> Beres.

Karenanya saya kaget ketika T berteriak memanggil saya dengan nada kesal:
“Feliiiiii…… What the he*l are you doing with our clothes?”…..
Dengan nada polos saya balik bertanya: “Memang kenapa? Sudah kering bukan?” *bangga bisa cuci baju sendiri*

T : “Nih, lihat baju2x wool saya semua mengkerut, jadi lebih kecil. Terus ada yang kena luntur pula. Ini karena kamu mencampur semua bahan begitu saja. Harusnya lihat dong petunjuk pencucian buat tiap2x baju, lihat bahannya apa, suhunya buat mencuci itu berapa, lihat juga warnanya, sabunnya juga musti disesuaikan,lihat jenis yang dibutuhkan dan lihat takaran. Jangan asal campur aduk begini…. Memangnya cucian kamu kira gado2x….”

Me: “Oooops. Sorry….Saya nggak tahu kalau nyuci baju itu harus dipisah2x gitu, kirain bisa dijadikan satu aja…Perasaan di Indonesia semua bahan baju sama…jadi dicampur aja deh ” *sambil garuk2x lantai dan menatap nanar ke sweater2x wool yang tiba2x jadi satu ukuran lebih kecil dan beberapa baju yang kena luntur*

Hubby menyambung: “Ya udah deh, saya yang nyuci baju aja kalau begini….mulai sekarang YOU ARE NOT AUTHORIZED to wash any wool in this family!

Me: Hmmmmm…Ok…..as you said…..Sorry (dengan wajah memelas….padahal….dalam hati : “Yesss…Yesssss…..nggak harus cuci baju…”.. *jingkrak2x* … hehe 😀 Continue reading