Me + Him = It’s complicated :)

Yang namanya pasangan pasti ada perbedaan, mulai dari beda karakter dan sifat sebagai individu, beda kultur, beda kebiasaan, beda latar belakang dll. Untuk pasangan campuran (beda warga negara) perbedaan ini semakin mencolok dan sedikit banyak berpengaruh dalam keseharian. Hal ini menjadi biang kerok sumber beberapa kehebohan yang terjadi dalam keseharian.

ME: tomboy, anak rumahan, nggak suka diatur2x, berantakan, kalem, jawa banget aslinya.

feli-3_edited-1

HIM: suka aktivitas alam terbuka, aktif, disiplin dan tegas (kadang suka ngatur2x), gelisah jika tidak berolahraga outdoor 2-3 kali seminggu, orang norwegia banget😀

feli-2

ME + HIM = IT’S COMPLICATED😀

Pekerjaan Rumah Tangga
Meski dulu sesekali membantu di rumah ortu, sebelum menikah saya tidak diwajibkan mencuci baju sendiri, memasak, bersih2x dll. Waktu itu selalu ada orang lain yang melakukan entah asisten rumah tangga atau menyewa jasa laundry. Sementara T (hubby) memang dibesarkan dengan disiplin yang kuat untuk ikut bersih2x rumah secara rutin. Mencuci pakaian, mencuci piring dan mengepel rumah serta pekerjaan domestik lain adalah hal yang biasa buat laki2x di Norwegia.

Kehebohan terjadi saat saya mendapat tugas mencuci baju pertama kali setelah menikah. Kalau diamati sepertinya proses mencuci baju tidak terlalu sulit, ehm, menurut saya loh…. Hanya memasukan semua baju kotor ke mesin -> Masukan sabun ke tempatnya -> Buka kran air -> Tekan tombol ‘Start’ -> Beres.

Karenanya saya kaget ketika T berteriak memanggil saya dengan nada kesal:
“Feliiiiii…… What the he*l are you doing with our clothes?”…..
Dengan nada polos saya balik bertanya: “Memang kenapa? Sudah kering bukan?” *bangga bisa cuci baju sendiri*

T : “Nih, lihat baju2x wool saya semua mengkerut, jadi lebih kecil. Terus ada yang kena luntur pula. Ini karena kamu mencampur semua bahan begitu saja. Harusnya lihat dong petunjuk pencucian buat tiap2x baju, lihat bahannya apa, suhunya buat mencuci itu berapa, lihat juga warnanya, sabunnya juga musti disesuaikan,lihat jenis yang dibutuhkan dan lihat takaran. Jangan asal campur aduk begini…. Memangnya cucian kamu kira gado2x….”

Me: “Oooops. Sorry….Saya nggak tahu kalau nyuci baju itu harus dipisah2x gitu, kirain bisa dijadikan satu aja…Perasaan di Indonesia semua bahan baju sama…jadi dicampur aja deh ” *sambil garuk2x lantai dan menatap nanar ke sweater2x wool yang tiba2x jadi satu ukuran lebih kecil dan beberapa baju yang kena luntur*

Hubby menyambung: “Ya udah deh, saya yang nyuci baju aja kalau begini….mulai sekarang YOU ARE NOT AUTHORIZED to wash any wool in this family!

Me: Hmmmmm…Ok…..as you said…..Sorry (dengan wajah memelas….padahal….dalam hati : “Yesss…Yesssss…..nggak harus cuci baju…”.. *jingkrak2x* … hehe 😀

Foto: Sweater yang tiba2x menjadi satu ukuran lebih kecil di bagian lengan dan pinggang…😦

feli-a_edited-1

Waktu bersantai
Di Indonesia dulu, yang namanya rileks atau bersantai bisa saja dengan duduk leyeh2x di depan rumah, ngobrol dengan keluarga, membaca buku atau majalah terbaru, menonton TV dll. Yang intinya adalah menikmati waktu sebaik2xnya. Tapi, ada sebuah ‘keanehan’ T yang saya tidak mengerti. Konsep ‘santai’ atau ‘taking a break’ buat T adalah istirahat dari aktivitas rutin seperti di kantor. Jadi, di rumah ‘santai’ yang dimaksud adalah: menyapu halaman, bersih2x, beres2x dan semacamnya. Duduk di depan TV atau komputer, tidur2xan santai di sofa bukanlah ‘bersantai’.

Suatu saat setelah tiba di rumah dari perjalanan dinas ke negara dengan perbedaan waktu 12 jam dengan Norwegia T meletakkan kopernya dan dengan enteng berkata: “Saya mau santai
dulu ya…” lalu menuju halaman rumah dan langsung mengoperasikan mesin pemotong rumput dan berkeliling halaman yang lumayan luas, membersihkan daun2x yang berguguran (yang asli, banyak banget…nggak habis2x) , memungut apel2x dan buah plum yang jatuh di halaman (kalau lagi musim panen bisa terkumpul lebih dari 5 ember apel yang baru berjatuhan, plus 2-3 ember buah plum…setiap hari), membuang ranting2x patah dll. Yang ada saya langsung takjub: Ckckck….ini manusia atau robot ya sebenarnya?

Diskusi yang ada di antara kami biasanya: T menganggap saya terlalu malas SANTAI dan saya menganggap T terlalu RAJIN, hehe….

Foto: Apel2x yang berjatuhan di halaman rumah, harus dipilah2x mana yang bagus mana yang kurang bagus dan harus dibuang. Memang awalnya mengasikan karena bisa makan apel dari kebun sendiri. Gratis…. Tapi….setelah memunguti apel2x tadi setiap hari maka anda akan langsung ‘kenyang’ sebelum mencicipi, percayalah😀

felice3

Foto: Hubby bersama keponakan yang berumur 4 tahun hiking ke bukit di belakang rumah. Karena sejak kecil dibiasakan dekat dengan alam, tidak heran kebanyakan orang di sini juga besar sebagai pecinta alam
felice2

Dulu, saat ada pertanyaan: “Mau kemana nanti pas wiken?” Jawaban otomatis saya antara: window shopping, ke toko buku atau ke cafe yang merupakan aktivitas menyenangkan mata dan hati (meski mungkin tidak menyenangkan buat kartu ATM di dompet). Sejak berpacaran dan menikah, jawaban atas pertanyaan serupa menjadi: “Mendaki gunung, ke pantai, ke hutan atau….bersih2x rumah….😀 ” Tinggal di Norwegia yang tidak memiliki mall2x sebesar Jakarta membuat saya sering pusing jika terlalu lama berada di shopping center yang besar dengan lalu-lalang orang dan musik yang kadang membuat sakit telinga (ini mungkin bawaan umur juga ya… hehe).

Financial Planning
Kadang saya membayangkan betapa enaknya jika tidak perlu bekerja dan tiap bulan menunggu suami menyerahkan gajinya untuk saya atur. Ternyata ini tidak pernah terjadi entah karena T tidak mempercayai sang isteri (yang memang sering lupa mengecek price tag saat belanja :D) atau saya sendiri yang tidak mau dilimpahi tanggung-jawab (haiyah).Rasanya lebih enak memiliki penghasilan sendiri karena ada kebebasan untuk mengatur, ehm, dan kebebasan untuk membeli barang yang ingin dibeli tanpa harus meminta suami atau diinterogasi setelahnya😀.

Saat single dulu, setelah gajian saya pasti sibuk membayangkan rencana travelling selanjutnya. Tidak berpikir jauh buat investasi, membeli properti, apalagi memikirkan pensiun. Sementara T sudah memikirkan ingin membeli rumah sendiri sejak masih di bangku sekolah. Salah satu kado yang diterimanya saat umur 14 tahun adalah sepucuk saham perusahaan dari sang nenek. Meski nilai saham tadi tidak seberapa, sejak dini T sudah diajarkan mengenai pentingnya bekerja keras, menghargai uang dan perlunya perencanaan keuangan yang baik untuk masa depan. Jaman masih umur 14 tahun dulu saya masih mengandalkan celengan dari tanah liat untuk ‘masa depan’, itu pun hanya bertahan satu tahun😀

T sering takjub melihat keteledoran saya menyimpang uang yang seenaknya saja. Buat saya uang adalah benda mati, alat….jadi tidak terlalu ambil pusing buat masalah pengaturan atau perencanaannya. Ini yang sering jadi bahan diskusi kami sebagai pasangan. Alhasil, sejak menikah saya mulai belajar mengenai yang namanya perencanaan keuangan, memiliki potongan otomatis tiap bulan ke rekening untung saving pribadi untuk persiapan pensiun dan ke akun bersama (untuk pengeluaran harian listrik dll, plus cicilan rumah) serta berpikir jauh ke depan.

feli1

Sejauh ini hubungan saya dan hubby baik2x saja sebagai pasangan🙂 Berdasarkan pengalaman, ketimbang menjadikan perbedaan sebagai jurang pemisah, lebih baik menjadikannya sebagai titik-tolak untuk saling memahami. Menyamakan dua gelombang yang berbeda itu memakan waktu, pasti ada friksi2x di awal suatu hubungan. Yang penting adalah kemauan untuk menjaga hubungan serta tumbuh bersama sebagai pasangan dan niat baik untuk saling mendukung dan memperbaiki diri.

Kalau sudah begini, warna kulit hanya menjadi ‘penampakan luar’ saja dan tidak ada bedanya dengan memiliki pasangan bule atau non-bule. At the end of the day…. .

NB: Menjawab pertanyaan: “Bagaimana rasanya menikah dengan bule?” jawaban saya simpel: “Sama saja dengan menikah dengan orang Indonesia”… Moga2x postingan ini menjawab rasa penasaran dan pertanyaan2x serupa ya…🙂

Salam.

40 thoughts on “Me + Him = It’s complicated :)

  1. ila

    saya menjalin hubungan dengan orang norwgia… tapi keyakinan kami berbeda… si dia ngotot mau nikah beda agama… tapi saya tidak mau… saya pusing harus bagaimana? ka ada saran nggak buat masalah aku?

    Reply
    1. Felicity Post author

      Semua balik ke kompromi… kalau sama2x ngotot ya nggak akan ketemu…harus ada yang mau ngalah dan berbesar hati…. Ini juga semacam tes buat cinta kalian loh (cieee….) kalau di awal2x sudah sulit berkompromi dan menyelesaikan persoalan bersama2x maka selanjutnya bakalan sulit juga…. Didiskusikan lagi sebagai dua orang dewasa menyelesaikan persoalan. Di sini ada yang namanya ‘civil marriage’ alias menikah hanya di catatan sipil saja….. alias nggak perlu bawa2x agama, bisa dicatatatkan di Indonesia dan diakui menurut hukum negara. Cuma, kalau di Indonesia kan keluarga juga ikut bersuara, agak sulit juga kalau nggak menikah menurut agama keluarga kita. Harus kasih pengertian dari dan ke kedua belah pihak.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s