Ribetnya Protokoler Pejabat… di Indonesia :)

felicia2

Protokoler: aturan atau panduan tertentu sebagai etika berdiplomasi

Beberapa kali pekerjaan memaksa ups…membuat saya harus mengikuti sejumlah acara dengan protokoler karena adanya keterlibatan pejabat resmi atau orang penting mulai dari setingkat gubernur, menteri atau kepala negara. Jika iseng2x diperhatikan, ada sejumlah hal menarik saat membandingkan protokoler acara yang dihadiri oleh pejabat di Indonesia dan di Norwegia.

Dalam salah satu acara yang dihadiri pejabat setingkat menteri di Norwegia misalnya tidak ada pengamanan berlebihan apalagi gerombolan body guard bertampang seram. Yang ada si menteri Norwegia akan didampingi 2-3 orang staff ahli termasuk sekretarisnya. Setelah si menteri selesai memberikan pidato pembukaan untuk suatu acara, biasanya akan disusul dengan sejumlah high-level meeting (jika ini adalah kunjungan bilateral atau multilateral dari negara lain). Sementara acara berlanjut, biasanya sejumlah staff menteri Norwegia bersangkutan akan mengikuti acara hingga tuntas dan memastikan si menteri tadi akan mendapatkan update terbaru acara.

Foto: Barisan pengawal saat keluarga kerajaan Norwegia (Prince Håkon, Mette Marit, Princess Inggrid Alexandra) datang berkunjung ke kantor kami di Oslo tahun lalu. Susana di luar (dan di dalam) terlihat adem ayem tanpa sesuatu yang istimewa berlebihan.

felicia1

Protokoler yang agak sedikit heboh barangkali saat ada kunjungan resmi dari anggota kerajaan atau kepala negara lain. Seheboh2xnya protokoler di sini pun tetap lebih sederhana dibandingkan dengan barisan pengawal dan protokoler pejabat di Indonesia. Tidak ada raungan mobil pengawal menderu2x non-stop sepanjang jalan, apalagi blokir-memblokir lalu-lintas (mungkin juga karena jarang macet di sini ya :D).

Saat keluarga putra mahkota Norwegia mengunjungi kantor kami misalnya, hanya ada satu-dua orang petugas berseragam mendampingi mereka. Bisa jadi juga ada pengawal berpakaian sipil membaur dengan wartawan dan pengunjung lain (who knows?).

Foto: Audiens di…. pantry kantor yang merangkap ruang makan bersama
felicia4

Bagaimana dengan protokoler di Indonesia?….

Sudah jadi rahasia umum, biasanya kalau ada pejabat lewat di jalan2x di Indonesia maka akan ada kemacetan (atau semakin menambah kemacetan). Barisan pembuka jalan untuk rombongan si orang penting sayangnya sering bertindak arogan, membentak2x pengendara supaya minggir, bahkan menghentikan kendaraan sampai rombongan si pejabat lewat. Meski sering tidak jelas apakah si orang penting tadi sedang mengejar waktu untuk rapat yang memang urgent…. atau sekedar menjenguk isteri muda… (ehm, kalau ini sih berdasarkan pengalaman tinggal tidak jauh dari rumah isteri muda salah satu (mungkin sudah mantan?) pejabat di Jakarta)

Foto: Kunjungan putra mahkota Norwegia (dan isteri) ke Jakarta. Meskipun protokoler lumayan ketat namun tidak berlebihan dan tetap ada ruang untuk beraudiens dengan pengunjung. Entah kenapa yang terlihat over-acting selalu pihak protokoler dari Indonesia ya?

felicia9

Pengalaman saya pertama kali berurusan dengan protokoler adalah ketika terpilih mewakili sekolah menghadiri upacara bendera yang dipimpin mantan presiden Soeharto. Yang saya tidak habis pikir, padahal status kami2x yang terpilih itu HANYA SEBAGAI PESERTA upacara saja…tapi… mengapa perlu latihan baris-berbaris selama BERBULAN-BULAN? Saya ingat harus berjemur di bawah terik matahari, berbaris apik bolak-balik keliling lapangan sekolah bahkan keliling kampung di luar sekolah, berlatih belok kanan, belok kiri, hormat dll oleh pelatih galak dari salah satu kesatuan tentara.

Pada akhirnya sebagai peserta upacara ya tugas kami hanya siap DIJEMUR selama berjam-jam…. Plus harus sudah siap dalam barisan 1 jam sebelum upacara dimulai. Saking ngerinya waktu itu karena mengikuti instruksi pelatih dan dikelilingi peserta upacara lain dari berbagai kesatuan polisi dan tentara kami2x bahkan nyaris tidak berani bergerak sama sekali, hanya berdiri mematung…. Meski ada satu-dua akhirnya bergerak juga… saat mereka berjatuhan karena PINGSAN

Foto: Bangku yang tadinya kosong sebelum pejabat tiba langsung penuh, kemudian langsung kosong lagi setelah si pejabat pidato dan pergi di tengah acara…..

felicia3

Keamanan pejabat mungkin menjadi salah satu alasan mengapa protokoler mereka sangat ketat di Indonesia, namun kesannya kadang menjadi berlebihan. Ketika menghadiri sebuah acara resmi yang dihadiri pejabat setingkat gubernur (di salah satu provinsi luar Jawa) misalnya, mulai dari masuk gerbang hotel, pintu hotel, pintu ruang acara sudah terlihat gerombolan puluhan (mungkin lebih? entahlah) petugas keamanan yang mengenakan seragam kesatuannya maupun yang berpakaian sipil berikut beragam pemeriksaan ini-itu.

Yang paling heboh tentunya di MENIT2x MENJELANG KEDATANGAN sang gubernur. Deretan kursi2x (sekitar 40-50 kursi) di salah satu sisi ruangan yang tadinya KOSONG MELOMPONG tiba2x dipenuhi bapak2x, ibu2x, mas2x, mbak2x berseragam pegawai PEMDA yang datang tergopoh2x sekitar 30 menit sebelum sang bos besar datang. Saat sang Gubernur tiba pun, semua berdiri dengan khusyuk, membungkukan badan dan hormat takjim. Protokoler biasanya dilanjutkan dengan pembacaan doa, menyanyikan lagu kebangsaan, pidato pembukaan (jika untuk membuka acara), plus pemukulan gong tanda suatu acara dibuka.

Foto: Protokoler paling heboh? Ya pastinya kalau ada pejabat setingkat kepala negara, apalagi di Indonesia🙂

felicia2

Protokoler tadi (membaca doa, menyanyikan lagu, memukul gong) ini buat sebagian besar kolega2x Norwegia yang kebetulan menghadiri acara bersama saya di Indonesia menganggapnya sebagai suatu hal yang aneh. Dan… pada akhirnya, saya menjadi korban ditanya2x:

Feli, ngapain sih kok mau seminar aja di Indonesia pake BACA DOA?…” atau

Kenapa kok pake nyanyi LAGU kebangsaan sebelum konferensi? kan ini bukan acara penerimaan medali olahraga?

Benda apa sih itu yang dipukul2x…. maksudnya apa?...”

BINGUNG KAN? Bagaimana saya harus menjelaskan doa, lagu dan gong ke orang2x dari negara yang protokolernya terbilang sederhana ini….. Karena terus terang saya pun bingung juga bagaimana menjelaskannya dengan logika yang masuk akal korelasi atau kaitan antara protokoler tadi dengan kesuksesan acara. Entahlah.

Yang lebih menarik lagi, usai si pejabat berpidato dan mohon diri, biasanya sedikit demi sedikit bangku yang tadinya dipenuhi oleh staff berseragam pun kembali kosong. Saya kadang bertanya2x, apakah diantara puluhan orang perwakilan kantor instansi resmi tadi ada yang betul2x mengikuti acara dengan tuntas? Apakah mereka mengerti bahasa asing (Inggris) yang digunakan? Apakah mereka mengerti isu dan substansi yang didiskusikan? Apakah mereka akan mengupdate sang pejabat yang terhormat hasil diskusi, seminar atau konferensi penting tadi? Apakah kehadiran mereka hanya untuk ajang ‘setor muka’ dan isi absensi saja karena diwajibkan?

Foto: Sambutan anak2x sekolah Norwegia dalam kunjungan resmi delegasi Indonesia dan Norwegia. Aksi teatrikal yang disajikan meski sederhana namun menyentuh dan tepat substansi.

felicia5

Di Norwegia, untuk acara2x resmi biasanya setelah pidato sambutan (yang sekaligus membuka acara) maka acara resmi dibuka. Pidato sambutan dari satu-dua perwakilan masing2x delegasi sudah cukup. Tidak perlu pidato bertele2x, sambutan dari pejabat A, pejabat B, pejabat C, pejabat D dll (apalagi acara menyanyi, membaca doa atau memukul gong….)

Foto: Ahok, salah satu sosok pejabat yang cerdas, berwawasan, memiliki visi-misi jelas dan down to earth. Kalau hanya membaca media saya akan menganggap ini adalah pencitraan saja…setelah bertemu beliau secara langsung baru saya percaya bahwa tidak selamanya yang ditulis media itu salah😀

felicia8

Kunjungan rombongan pejabat

Salah satu kritik pedas yang sering ditujukan kepada pejabat2x Indonesia biasanya terkait dengan perilaku mereka saat dalam kunjungan resmi. Selain banyak menuntut ini-itu tak jarang perilaku mereka memang memalukan sebagai sebagai orang yang (ingin) dianggap penting dan mengemban tugas negara. Dalam salah satu diskusi saat kunjungan resmi beberapa tahun lalu misalnya, tidak sedikit anggota delegasi yang tidak bisa berbahasa Inggris (yah, kok bisa dikirim ke ajang internasional kalau begini? Rombongan besar pula). Di saat delegasi tuan rumah sibuk menjelaskan substansi, yang ada beliau2x yang terhormat ini justeru sibuk mengoceh sendiri dan membuat kebisingan yang menganggu *hadehhh….ini saya nulis aja jadi pengen emosi lagi :D*

Dalam ajang the UN Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Conference di Durban, South Africa, tahun 2011 lalu misalnya tercatat 230 anggota delegasi Indonesia yang mewakili 17 kementrian dimana masing2x departemen mengirim 10-20 perwakilan di bawah level menteri atau wakil menteri. Usut punya usut, membengkaknya jumlah peserta karena adanya staf2x yang mendapat tugas khusus menyiapkan pidato, menyiapkan laporan, mengumpulkan bahan, termasuk menyiapkan logistik. Ckckck…

Foto: Mantan Menlu Norwegia dan mantan Dubes Indonesia untuk Norwegia dalam suatu acara di Oslo.

felicia7

Sebagai ilustrasi (tapi ini kisah nyata ya) seorang rekan diplomat Indonesia sangat terharu ketika ada bapak paruh baya membantunya mengangkat koper yang berat saat di bandara. Setelah ngobrol sekian lama, si bapak ternyata adalah seorang Duta Besar Norwegia di salah satu negara Asia! Tidak ada rasa sungkan, gila hormat apalagi protokoler berlebihan di sekitar orang penting tadi. Tidak ada ajudan yang menunduk2x, membawa koper, supir yang menanti dengan mobil jemputan, apalagi pengawal bertampang menyeramkan.

Tidak semua pejabat Indonesia bermental buruk, masih ada juga pejabat yang baik dan membuat saya mengangkat topi karena integritas, kualitas dan kesederhanaan beliau termasuk saat berkunjung ke LN. Salut. Tapi sayangnya pejabat model begini masih termasuk jenis yang langka….

Kalau boleh memilih, saya mengharapkan untuk bersentuhan dengan protokoler seminimal mungkin atau tidak sama sekali karena kehebohan dan keribetan2x tadi.

TABIK

Referensi:

http://www.thejakartapost.com/news/2011/12/18/is-huge-delegation-unfccc-necessary.html

29 thoughts on “Ribetnya Protokoler Pejabat… di Indonesia :)

  1. Mikael

    So what kalau kita mukul gong sebelum sebuah acara?

    Membaca doa sebelum seminar salah?

    Menyanyikan lagu kebangsaan sebelum konferensi salah??

    Just because they don’t do it doesn’t mean it’s wrong.

    protoler AS jauh lebih ribet drpd Indonesia. Kenapa? Krn ancaman keamanan terhadap pejabat2nya tinggi.

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hehe, tenang mas/mbak….jangan sewot dulu…. *tarik nafas ya*

      Nggak ada salahnya dengan mukul gong, berdoa, menyanyikan lagu kebangsaan dll…namanya juga lain kebiasaan dan lain tempat. Dalam postingan saya juga nggak menyalahkan, cuma membandingkan.

      Kalau protokoler jadi lebih ribet karena alasan keamanan sih bisa diterima, namun protokoler yang lebih ke seremonial juga cenderung berlebihan dan menghamburkan anggaran negara itu lain lagi persoalannya.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s