Monthly Archives: April 2014

Jet lag…oh… jet lag…

feli1

Meski tidak suka dan  masih tetap takut naik pesawat terbang , nasib membawa saya untuk sering bepergian dengan mode transportasi yang satu ini entah untuk travelling dalam rangka liburan atau  untuk urusan pekerjaan.

Ironisnya lagi, bagian paling menyenangkan dari pekerjaan saat ini justru pada saat melakukan monitoring project di lapangan (baca: di luar Norwegia, khususnya di Indonesia). Biasanya ini menjadi saat dimana kita bisa belajar dengan banyak dalam waktu singkat lewat diskusi2x, pertemuan2x, dialog2x, observasi langsung dll daripada hanya membaca dokumen laporan2x yang masuk di balik meja. Acara kunjungan lapangan tadi sekaligus menjadi kesempatan untuk mengenal pelosok2x tanah air lebih jauh. Mulai dari pedesaan di tepi hutan nagari di Sumatera Barat, taman nasional di pedalaman Kalimantan Tengah sampai wilayah hutan terpencil di pegunungan Papua. Perjalanan lain yang saya sukai adalah berkunjung ke project site di benua lain karena ini bisa menjadi alasan untuk…. jalan2x… haha…*nggak fokus*:D

Foto: Bersama para perempuan penambang emas tradisional di Sulawesi Tengah
felice

Dan….

Harus bertahan di tengah suhu -22 C dua hari kemudian…

feli

Konsekuensi dari tugas ke lapangan tadi adalah travelling dengan pesawat yang bisa memakan waktu minimal 21-24 jam. Sesuai tema postingan kali ini, status sebagai frequent traveller tidak membuat orang kebal dengan apa yang di sebut dengan JET LAG serta TRAVEL FATIGUE… yang asli…. nggak enak banget. Kalau kondisi tubuh sedang tidak fit, biasanya setelah perjalanan 2 minggu di lapangan keluar masuk hutan dan pedalaman di Indonesia disusul perjalanan jarak jauh kembali ke Oslo akibatnya secara fisik badan terasa capek, sakit kepala, mengantuk tapi tidak bisa tidur, lelah tapi tidak bisa beristirahat (bingung kan?), sensitif, emosional, uring2xan, kesabaran, daya ingat berkurang juga kecerdasan menurun *parah.com*  Dalam  kondisi beginipun, masih  harus bersyukur jika tidak terkena penyakit malaria, seperti yang dialami beberapa kawan.

Continue reading

Advertisements

Orang Miskin di Negara Kaya

feli6

Di Norwegia seringkali penampilan bisa menipu kita, apalagi pendatang yang belum banyak tahu situasi dan kebiasaan setempat. Beberapa kali saya melihat orang yang berpenampilan rapi ternyata sibuk mengais2x tong sampah mencari sisa2x botol bekas. Kali lain saat pagi2x berjalan di sekitar Central Station di Oslo saya dan hubby melihat seorang bapak berjas dan berdasi rapi lengkap dengan kopernya yang nampak seperti eksekutif kantor penting keluar dari sebuah tenda kecil di pinggir stasiun. Nampaknya ia baru saja bermalam di tenda kecil ala kadarnya itu. Saya sempat bertanya2x dalam hati, apa yang bapak itu lakukan? Apakah ia gelandangan? Apakah ia tidak mampu bayar sewa kamar hotel atau hostel?…Entahlah.

Menjelang musim panas biasanya polisi dan dewan kota sudah dipusingkan dengan urusan gelandangan, peminta2x dan pelaku kriminal musiman (menjamur saat musim panas, berkurang saat musim dingin). Melihat gelandangan di Oslo pun sering membuat saya terheran2x karena jika diperhatikan dengan seksama dari segi penampilan tak jarang mereka memakai jaket2x yang layak pakai, memiliki handphone, merokok (sementara harga rokok di sini lumayan mahal) dll.

Sebaliknya, tak jarang orang yang berpenampilan biasa2x saja dengan celana jeans dan tas punggung ke kantor bisa jadi adalah eksekutif sebuah perusahaan. Karena secara umum dress code kantor di sini cenderung fleksibel dan casual (kecuali sektor2x tertentu seperti perbankan, hukum dll yang memang harus rapi) maka banyak pekerja baru berpakaian resmi hanya kalau ada meeting2x atau bertemu klien penting saja. Banyak dari orang2x penting ini juga memakai transportasi publik seperti bus, tram, subway yang lebih praktis.

Jika melihat sekilas dari penampilan saja memang sulit mengetahui siapa orang yang sebenarnya miskin di negara kaya ini. Imej tentang Norwegia biasanya selalu yang bagus2x. Sebagai salah satu negara dengan GDP per kapita dan Global Peace Index tertinggi, negara dengan penduduk paling bahagia, negara dengan Human Development Index tertinggi, negara paling nyaman untuk ibu dan anak, negara dengan hasil Global Gender Inequality Index untuk kesetaraan gender terbaik, salah satu negara dengan tingkat korupsi terendah dari hasil Corruption Perception Index dll.

Fasilitas yang diberikan negara pun lumayan lebih baik dibandingkan negara2x lain pada umumnya di Eropa seperti pengobatan dan biaya rumah sakit gratis di institusi pemerintah, sekolah gratis hingga universitas, tunjangan sosial bagi yang tidak bekerja, tunjangan anak dan sebagainya, jatah cuti melahirkan untuk ibu dan ayah dengan gaji dibayar 100% hingga 59 minggu atau gaji dibayar 80% untuk 49 minggu. Intinya: rakyat Norwegia terbiasa dengan standar pelayanan yang baik dari negara maupun sektor swasta. Saat terjadi krisis Euro pun mata uang Norwegian Kroner (NOK) cenderung stabil dan kuat.

Batas garis kemiskinan
Jika memakai definisi miskin dari EU maka untuk tahun 2011 (data terakhir yang bisa ditemui) batas garis kemiskinan di Norwegia bagi orang yang tinggal sendiri tanpa tanggungan adalah pendapatan setahun sebesar 181.000 NOK (sekitar Rp. 341.000.000). Sementara jika memakai definisi dari OECD maka batas garis kemiskinan adalah pendapatan setahun sebesar 126.000 NOK (sekitar Rp. 237.500.000). Catatan: jangan kaget dulu dengan jumlah dalam rupiah di atas ya… 🙂 Continue reading