Orang Miskin di Negara Kaya

feli6

Di Norwegia seringkali penampilan bisa menipu kita, apalagi pendatang yang belum banyak tahu situasi dan kebiasaan setempat. Beberapa kali saya melihat orang yang berpenampilan rapi ternyata sibuk mengais2x tong sampah mencari sisa2x botol bekas. Kali lain saat pagi2x berjalan di sekitar Central Station di Oslo saya dan hubby melihat seorang bapak berjas dan berdasi rapi lengkap dengan kopernya yang nampak seperti eksekutif kantor penting keluar dari sebuah tenda kecil di pinggir stasiun. Nampaknya ia baru saja bermalam di tenda kecil ala kadarnya itu. Saya sempat bertanya2x dalam hati, apa yang bapak itu lakukan? Apakah ia gelandangan? Apakah ia tidak mampu bayar sewa kamar hotel atau hostel?…Entahlah.

Menjelang musim panas biasanya polisi dan dewan kota sudah dipusingkan dengan urusan gelandangan, peminta2x dan pelaku kriminal musiman (menjamur saat musim panas, berkurang saat musim dingin). Melihat gelandangan di Oslo pun sering membuat saya terheran2x karena jika diperhatikan dengan seksama dari segi penampilan tak jarang mereka memakai jaket2x yang layak pakai, memiliki handphone, merokok (sementara harga rokok di sini lumayan mahal) dll.

Sebaliknya, tak jarang orang yang berpenampilan biasa2x saja dengan celana jeans dan tas punggung ke kantor bisa jadi adalah eksekutif sebuah perusahaan. Karena secara umum dress code kantor di sini cenderung fleksibel dan casual (kecuali sektor2x tertentu seperti perbankan, hukum dll yang memang harus rapi) maka banyak pekerja baru berpakaian resmi hanya kalau ada meeting2x atau bertemu klien penting saja. Banyak dari orang2x penting ini juga memakai transportasi publik seperti bus, tram, subway yang lebih praktis.

Jika melihat sekilas dari penampilan saja memang sulit mengetahui siapa orang yang sebenarnya miskin di negara kaya ini. Imej tentang Norwegia biasanya selalu yang bagus2x. Sebagai salah satu negara dengan GDP per kapita dan Global Peace Index tertinggi, negara dengan penduduk paling bahagia, negara dengan Human Development Index tertinggi, negara paling nyaman untuk ibu dan anak, negara dengan hasil Global Gender Inequality Index untuk kesetaraan gender terbaik, salah satu negara dengan tingkat korupsi terendah dari hasil Corruption Perception Index dll.

Fasilitas yang diberikan negara pun lumayan lebih baik dibandingkan negara2x lain pada umumnya di Eropa seperti pengobatan dan biaya rumah sakit gratis di institusi pemerintah, sekolah gratis hingga universitas, tunjangan sosial bagi yang tidak bekerja, tunjangan anak dan sebagainya, jatah cuti melahirkan untuk ibu dan ayah dengan gaji dibayar 100% hingga 59 minggu atau gaji dibayar 80% untuk 49 minggu. Intinya: rakyat Norwegia terbiasa dengan standar pelayanan yang baik dari negara maupun sektor swasta. Saat terjadi krisis Euro pun mata uang Norwegian Kroner (NOK) cenderung stabil dan kuat.

Batas garis kemiskinan
Jika memakai definisi miskin dari EU maka untuk tahun 2011 (data terakhir yang bisa ditemui) batas garis kemiskinan di Norwegia bagi orang yang tinggal sendiri tanpa tanggungan adalah pendapatan setahun sebesar 181.000 NOK (sekitar Rp. 341.000.000). Sementara jika memakai definisi dari OECD maka batas garis kemiskinan adalah pendapatan setahun sebesar 126.000 NOK (sekitar Rp. 237.500.000). Catatan: jangan kaget dulu dengan jumlah dalam rupiah di atas ya…🙂

Mengikuti standar EU, sepuluh tahun yang lalu saja (tahun 2004) 54% orang miskin di Norwegia sudah memiliki setidaknya satu komputer, sementara 76% populasi memiliki komputer. Dan 42% orang miskin tadi memiliki mobil pribadi sementara 85% populasi memilikinya. Tidak heran jika kita kesulitan melihat siapa yang miskin atau tidak miskin dari segi penampilan saja di sini.

Sebagai perbandingan, pensiunan tunggal tanpa tanggungan di tahun 2011 dari sumber yang saya baca menerima sekitar 151.000 NOK per tahun. Sementara untuk pelajar penerima beasiswa dari pemerintah Norwegia (sekitar 9000 NOK per bulan (mungkin lebih?) memiliki ‘penghasilan’ sekitar 108.000 NOK setahun.

Di Norwegia tidak banyak yang masuk dalam kategori ‘working poor’ atau orang yang bekerja dengan penghasilan rendah karena ketatnya peraturan mengenai upah minimum. Tetapi kelompok ini tetap ada, khususnya mereka yang datang dan bekerja secara gelap tanpa surat2x resmi atau tanpa membayar pajak.

Lalu, siapa orang miskin di Norwegia?

Jawabannya bergantung dari definisi ‘miskin’ yang dipakai itu sendiri. Secara umum dari semua definisi tadi ada satu kriteria yang selalu ada: PENGHASILAN yang RENDAH atau TIDAK ADA penghasilan sama sekali.

Berdasarkan data resmi dari dinas sosial, kelompok2x yang termasuk dalam golongan miskin tadi kebanyakan didominasi oleh:

-Keluarga dengan anak yang masih kecil2x
-Single parent atau orang tua tunggal (ibu saja atau ayah saja)
-Keluarga dengan banyak anak (besar maupun kecil)
-Orang yang tinggal sendiri tanpa tanggungan
-Orang atau keluarga dengan latar belakang imigran
-Penerima bantuan sosial
-Penerima skema jaminan sosial pemerintah (termasuk di sini orang yang tidak bisa bekerja karena sakit berkepanjangan, penderita cacat yang tidak dapat bekerja karena kondisinya, hingga pengangguran yang kesulitan mencari pekerjaan karena beberapa alasan termasuk mereka yang mengalami kecanduan alkohol dan obat2xan)

Upah minimum
Untuk tahun 2013, sebagai contoh saja:
Pekerja di sektor jasa kebersihan (cleaning service) swasta berhak atas upah minimum per jam sebesar 161,17 NOK atau sekitar Rp. 306.000, dan 121,01 atau Rp.230.000 untuk pekerja di bawah umur 18 tahun. Untuk pekerjaan yang dilakukan antara jam 21.00 og 06.00 berhak atas tambahan upah minimal tambahan sebanyak 25 NOK/jam.

Di sektor konstruksi dan bangunan upah minimum dibagi berdasarkan kualifikasi:
– Bagi yang memiliki pendidikan relevan: 174,10 NOK/jam
– Bagi yang tidak memiliki pendidikan dan pengalaman relevan: 156,60 NOK/jam
– Bagi yang tidak memiliki pendidikan relevan tapi memiliki pengalaman relevan minimal 1 tahun: 163,20NOK/jam
– Bagi pekerja di bawah usia 18 tahun: 105,10 NOK/jam

Meski terlihat besar dibandingkan dengan upah di Indonesia, perlu diingat bahwa PAJAK dan BIAYA HIDUP di Norwegia juga sangat tinggi (untuk standar pekerja kantoran, pajak yang harus dibayar bisa lebih dari 35% per bulan).

Sebagai illustrasi, minuman ringan di botol Aqua ukuran kecil/sedang rata2x dijual dengan harga Rp. 50.000 – 60.000 per buah. Mencari makan siang di bawah harga 100 NOK atau Rp. 190.000 di Oslo juga tidaklah mudah. Harga buku novel atau buku kuliahan standar sekitar 250-300 NOK atau Rp 474.000 – 575.000 per buah. Harga tiket bioskop standar sebesar Rp. 208.000… Yup… terbayang kan mahalnya pengeluaran sehari2x di sini?

Pendatang baru
Bagi mereka yang baru pindah ke Norwegia, salah satu tantangan utama yang harus dihadapi adalah MENCARI PEKERJAAN. Namun, keterbatasan bahasa, minimnya network sosial apalagi pendidikan dan pengalaman kerja yang tidak relevan atau kurang dari negara asal membuat hal ini menjadi lebih menantang.

Saran saya buat mereka yang baru datang atau akan datang dan berencana menetap di sini untuk jangka waktu lumayan lama, siap2xlah menyisihkan waktu minimal 6 bulan sampai satu tahun pertama untuk belajar bahasa norsk (norwegian). Imigran yang berusia antara 16 hingga 55 tahun memiliki hak dan kewajiban mengikuti kursus bahasa norsk dan kelas tentang masyarakat dan pengetahuan sosial Norwegia sebanyak 600 jam secara GRATIS khususnya mereka yang memiliki ijin tinggal dan/atau berencana untuk menetap secara permanen.

Berdasarkan pengalaman, untuk bisa bercakap2x dan berdiskusi dengan aktif di dunia kerja dengan kosa kata standar dunia profesional tertentu (bukan hanya percakapan standar sehari2x), dibutuhkan setidaknya waktu 1,5- 2 tahun belajar bahasa norsk secara kontinyu baik di dalam maupun di luar kelas. Jangan mudah menyerah atau putus asa, ibarat bayi yang baru belajar maka semua dimulai sedikit demi sedikit dengan merangkak sebelum akhirnya bisa berdiri, berjalan dan akhirnya berlari🙂

Referensi:

https://www.nav.no/Om+NAV/For+kommunen/Nyttige+lenker/Fattigdom+og+levek%C3%A5r+i+Norge,+statistikk+og+analyse.303402.cms?kapittel=4
https://www.ssb.no/inntind
http://www.arbeidstilsynet.no/fakta.html?tid=90849
http://www.regjeringen.no/nb/dep/bld/tema/integrering/norskopplaring-og-introduksjonsprogram.html?id=670151
http://www.dagsavisen.no/nyemeninger/alle_meninger/cat1003/subcat1010/thread281168/
http://www.aftenposten.no/meninger/debatt/article2530605.ece#.Uz_LhBYi1UQ
http://www.fafo.no/pub/rapp/20212/20212.pdf

20 thoughts on “Orang Miskin di Negara Kaya

  1. cester

    halooo mba feli, baru baca blognya mba feli
    keren keren ya ceritanya.
    mo sharing sharing dgn mba feli,
    ada chat yg bs dibuat ngbrol ga mba ????
    thanks

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hai, trims ya buat apresiasinya. Btw, kalau mau ngobrol lewat email aja… Soalnya saya nggak bisa mantengin non-job related chat setiap saat🙂

      Reply
    1. Felicity Post author

      Yah, sepertinya begitu kalau diamati….Meskipun mengenal Tuhan juga bukan jaminan orang akan menjadi bahagia juga karena ini kan subjektif. Di Indonesia misalnya banyak yang mengaku mengenal Tuhan dan beragama tapi tetap merasa kurang dan ujung2xnya korupsi. Di sini tingkat korupsi rendah tapi orang cenderung materialistis (aneh juga kalau dipikir2x… biasanya kan kalau materialistis lantas banyak yang korupsi karena tidak puas dan selalu ingin lebih). Sepertinya perlu ada studi mengenai korelasi antara hal2x tersebut (level keagamaan, indeks korupsi, tingkat kesejahteraan suatu negara). Menarik.

      Reply
  2. Rofiq

    Apa kabar Mbak Feli, Lama tak bersua di blog.

    Miskin atau kaya semua tergantung dari pola hidup masing-masing indivdu. Meski sudah punya kendaraan tapi dia ingin membeli berlian dan belum bisa membelinya, bagi dia merasa misikin. Bener nggak komen saya?😀

    Reply
    1. Felicity Post author

      Halooo apa kabar? Kemana aja?🙂

      Bener…miskin-kaya itu relatif… Ngga semata2x dari materi aja….dan tergantung dari masing2x individu..

      Beberapa kali di sini saya ketemu orang yang kaya secara materi tapi merasa miskin hati, nggak punya temen, sendirian, nggak bahagia dll…. Di sisi lain banyak yang miskin secara materi tapi kaya hati, merasa bersyukur, bahagia, banyak temen dll… Ini jadi bahan pemikiran juga….🙂

      Koruptor itu nggak sedikit yang banyak uang tapi tetep aja korup…. ini karena mentalitasnya memang mentalitas gila harta…. susah sembuhnya mungkin kalo orang udah kena virus begini ya. Amit2x….

      Reply
  3. hunnihonning

    Heem bener bgt tuh..kadang suka mikir mereka ga punya duit tp bisa ngopi di narvesen dan merokok mungkin jg snuss, bayangkan snuss di sini mahal klu ga salah 80nok (kita tdk merokok atau snussing tp hasil tanya2 sm tmn2 yg merokok dan snuss)..dan para pengemis (kaum gipsy) itu msh muda2 hanya duduk di pojokan dan jalan2..
    Gw jg pernah liat perempuan gipsy nekat masuk ke tee huset dan menyodorkan gelas ke orang2 yg ada di dlm kafe itu, trus sekitar bln jan-feb kmrn marak bgt kaum gipsy masuk ke dlm T bane dan meminta2 entah dgn modus memberikan selebaran yg bertuliskan “saya punya anak dan lapar, tidak punya uang membeli susu, dsb” ,pemusik jalanan serta laki2 muda yg patah kaki. Tapi sejak bln maret kayanya sdh tidak beredar lg tuh orang2. Melihat kejadian itu, gw jd inget berasa di jakarta aja. Susah jg memang sdh mind set mrk maunya minta2. Huffff….

    Reply
    1. Felicity Post author

      Kayaknya mereka makin agresif deh. pernah gw liat bapak2x dikerubuti 5-6 orang hanya karena dia kasih uang ke satu orang. Gw kadang mau kasih uang karena kasihan, tapi trauma juga kalau mereka jadi agresif dan pura2x memelas gitu, jadi inget Jakarta.

      Reply
  4. hunnihonning

    ngomong2 soal botol bekas, kita sering bgt mungut botol2 itu di jln atau taman dkt rumah, tapi ga se ekstrim kaum gipsy yg smp mengais ngais di tong sampah paling byk kalau wiken di dini hari sepulang kita ngafe, dgn catatan ga keduluan sm kaum gipsy , LOL (beberapa dr mereka sampai mungutin sisa putung rokok yg ada di tong sampah dkt metro stasjon, Tragisk!!). Kita pny kantong plastik khusus utk ngumpulin botol2 bekas tsb dan tiap bln sekali kita tuker di butikk terdekat. lumayan lah daripada lo manyun..hehehe..
    sebenarnya kaum gipsy itu bisa KAYA loh dr mungutin botol2 tsb, hitung aja sehari dia bisa dpt 500 btl kecil atau standard berarti dia dpt nok 500, dikali 30hr dia bs ngantongin 15000nok dari hasil botol bekas saja, hahahaha…kalah deh gw yg cm dpt 60nok sebulan dr botol bekas sendiri dan hasil comotan di taman. LOL🙂

    Reply
    1. Felicity Post author

      Yup…gw baru baca artikel kemarin bahwa kaum gypsy dan pengemis di sini itu pendapatan per bulannya bisa lebih dari beberapa profesi kayak guru, perawat dll…. entah bener atau nggak….Kalo begini berarti sama dengan di Indonesia ya….

      Gw pernah liat satu pengemis nekat masuk ke café (bagian luarnya) trus pas mau keluar nekat ngembat sesuatu dari meja (entah rokok atau asbak rokok nggak ngerti deh). Setelah dipaksa buat mengembalikan sama satu pengunjung, dia langsung taro lagi ke meja. Kali lain ada yang nekat mengambil payung pelindung di bagian luar restoran yang besar dan berat sebenarnya. Reaksi gw antara kasihan, bingung, tapi sebel juga kalau mereka agresif apalagi berbuat kriminal. Apalagi ada banyak stereotip negatif tentang mereka…. susah juga kalo beberapa stereotip itu ternyata memang benar.

      Sekarang ada wacana mau melarang pengemis secara resmi…. padahal ini nggak menyelesaikan persoalan… Kuatirnya nanti kriminalitas malahan meningkat. Mungkin membangun negara asal pengemis itu salah satu solusi (di Romania misalnya), supaya ada lapangan kerja dan nggak perlu pergi jauh2x buat cari uang, tapi sayang yang ada malahan uang bantuannya dikorupsi.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s