Tinggal di Rumah Tua

felicia-g

Rumah yang kami tinggali saat ini awalnya dibangun pada tahun 1930 oleh seorang pejabat bank sentral Norwegia yang tinggal di Oslo sebagai summer house atau rumah peristirahatan (kabin). Model bangunannya berupa rumah kayu dengan ujung2x yang tersambung secara khusus (LAFTEHUS). Konstruksi bangunan dari balok2x kayu dengan stuktur fondasi yang jamak digunakan sejak jaman viking sampai pertengahan 1800-an di Norwegia.

Tipe rumah semacam ini di masa lalu tidak memakai paku dari logam dan hanya mengandalkan presisi di struktur bangunan, dindingnya memakai bongkahan kayu2x gelondongan yang disusun bertumpuk2x. Setelah dialihfungsikan sebagai rumah biasa di tahun 1950-an semua dinding rumah ditutup dengan papan kayu berikut ekstensi sejumlah ruangan.

Foto: Penampakan setelah dinding dibongkar…
IMG_0120

Foto: Foto udara yang diambil oleh tentara Jerman di awal PD II di bukit yang kini menjadi wilayah pemukiman. Kalau dilihat lebih detil, rumah kami terselip di antara rimbunan pepohonan dan salju di atas bukit.

feliciaa_edited-2

Selain bangunan utama yang tidak terlalu luas (100m2, cukup untuk keluarga kecil seperti kami :D), ada juga bangunan bengkel berbentuk rumah tersendiri, rumah kecil di halaman untuk hewan peliharaan, sumur tua beratap (di masa lalu ini adalah lokasi penduduk sekitar sekitar mengambil air), sumur tua lagi (yang sudah ditutup beton) dan diatasnya dibangun kandang burung merpati pos (sekarang sudah dibongkar), WC di luar rumah (sudah dibongkar), tempat penyimpanan kayu bakar, dan garasi di bawah bengkel.

Kalau dihitung2x, total luas rumah dan halamannya adalah sekitar 1900 m2 (karenanya menyapu halaman dan memotong rumput menjadi pekerjaan yang sebisa mungkin saya hindari :))

Foto: Lukisan cat air, perkiraan kami ini karya murid dari pemilik rumah terdahulu yang menjadi guru di tahun 1970-an

felice13a_edited-3

Pada Perang Dunia ke 2, rumah ini sempat diduduki oleh tentara Jerman. Posisinya yang di atas bukit ke arah perairan Oslo fjord dan sejumlah jalan utama membuatnya menjadi lokasi peristirahatan ideal sekaligus titik pemantauan yang strategis.

Hutan lindung yang langsung berbatasan dengan rumah dan wilayah sekitarnya menyimpan banyak cerita mulai dari bunker di bawah bukit yang dibuat sebagai tempat perlindungan dari serangan bom atom jaman perang dingin (sekarang dipakai sebagai gudang militer), kompleks bekas markas NATO (sebelum pindah ke Belgia) yang kini digunakan untuk lokasi pasukan khusus yang terkait dengan cyber war dan internet intellegence (wuiiiihhh…berasa di film2x spionase), kumpulan pelukis2x terkenal di masa lalu yang datang mencari inspirasi di sekitar daerah ini (termasuk Claude Monet), oven2x kapur tua peninggalan abad pertengahan, termasuk struktur bebatuan di bukit yang berusia jutaan tahun dan sempat menjadi lokasi tempat tinggal bangsa Viking!

Foto: Koin dari tahun 1952 yang ditemukan di salah satu sudut rumah

feli_edited-1Beberapa kali masyarakat sekitar tempat ini menemukan fosil2x kuno, coretan2x di batu bernilai historis dan semacamnya saat menggali di sekitar rumah karena daerah ini memang memiliki sejarah yang panjang hingga ratusan juta tahun yang lampau. Sebagian bebatuan di puncak bukit memiliki ciri khas struktur yang terbentuk dari magma letusan gunung api purba dan hanya ada di Afrika Timur serta kawasan Antartika.

Foto: Kalender jadul dari tahun 1970
felice-3a_edited-2

KEJUTAN MENARIK
Seperti bisa diduga, memiliki dan tinggal di rumah tua ada seni serta cerita dan suka-duka tersendiri. Bagian paling menarik buat kami adalah ketika menemukan kejutan2x saat berkeliling sudut2x rumah. Wall paper antik, pintu rahasia di balik lantai dapur lengkap dengan luncuran ke ruang bawah tanah, lukisan, corat-coret di kertas dan di tembok, warna cat jadul, uang koin lama, koran dan majalah bekas, kalender dan poster2x jadul adalah sebagian dari hal yang kami temukan saat membongkar tembok, lantai dan dinding rumah untuk renovasi.

Hal lain yang kami temukan adalah….ehm…. MAJALAH PORNO jadul dari tahun 1950-1970-an yang tersimpan rapi di rak terbawah di ruang bengkel (haha, ternyata…. oh ternyata.…:D )

Foto: Isi kolom mode di majalah perempuan tahun 1950-an
felice-8a_edited-3

f

Foto: Motif dinding model jadul, tersembunyi di bawah tangga ke ruang bawah tanah

felice

Foto: Publikasi Edisi Natal, 1947

felice-17_edited-2

‘WARISAN’ DARI PENGHUNI TERDAHULU
Salah satu peninggalan favorit yang ‘diwariskan’ kepada kami adalah sejumlah POHON BUAH dan BUNGA😀 Tanpa perlu bersusah payah, saat pindah di halaman rumah sudah berdiri sejumlah pohon seperti buah Apel, Ceri, Plum, Blueberry, Strawberry, Peony, Poppy, Krisan, Syringe, Hortensia, Rhubarb dll. Yang perlu kami lakukan adalah memotong sejumlah ranting (pruning) setiap musim semi khususnya untuk pohon2x apel agar bisa berbuah lagi (lihat postingan: ini dan ini )

Foto: Poster wisata Norwegia jadul yang ditemukan di langit2x bengkel.

norge-felice_edited-1

CERITA HOROR?
Entah mengapa, hal pertama yang terlintas di benak orang Indonesia saat mendengar kata RUMAH TUA pasti selalu yang berbau mistis dan horor. Mungkin bangsa kita terlalu banyak dicekoki dan ditakut2xi dengan kisah2x setan, dedemit, siluman, hantu sejak kecil, belum lagi tayangan TV yang banyak tidak mendidik tentang hal semacam ini.

Sementara, kesan tentang rumah tua di sini adalah  ‘JIWA’  yang dimiliki oleh rumah tersebut dengan beragam kisah, sejarah tentang peristiwa, keluarga dan individu2x yang pernah tinggal di sana. Ini juga yang menjadi alasan mengapa hubby menyukai rumah tua (saya aslinya lebih suka tinggal di apartemen di kota yang lebih praktis  *ngeles dari tugas menyapu halaman*)

Foto: Suasana di luar jendela ketika kabut datang…
feli-winter

Lantas, apakah saya berani tinggal sendirian di rumah?….. Jawabannya: Tentu TIDAK….karena saya masih orang Indonesia😀

Ada beberapa bagian rumah yang sebisa mungkin saya hindari seperti loteng yang gelap, dingin, berdebu dan gelap gulita, ruang bawah tanah yang memiliki beberapa ruang2x tersembuyi dan gelap di beberapa bagian, bengkel serta gudang yang terpisah dari bangunan utama.

Padahal selama ini belum pernah ada peristiwa2x aneh berbau mistis yang kami alami…. Suara2x yang tidak biasa sesekali terdengar bisa dari ranting pohon yang menyentuh atap rumah, dinding kayu yang berderit akibat pemuaian dan penyusutan karena perubahan temperatur, suara deru angin, hewan liar, gonggongan anjing tetangga dll.

Kesan horor biasanya muncul kala musim gugur dan musim dingin dimana hari menjadi lebih pendek, dengan gumpalan kabut yang menyelimuti rumah dan menutup pemandangan di luar, hawa dingin yang menyusup, langit yang kelabu dan gelap, suasana yang sunyi-senyap…plus lokasi rumah yang di atas bukit agak terpisah dari rumah2x lainnya, di sebelah hutan pula….ckckck.. sangat pas untuk setting film horror😀 (lihat: ini)

Tambahan lagi, di rumah kami tidak memiliki TV (by choice… well, at least hubby’s choice…) jadi satu2xnya hiburan di saat seperti ini adalah lewat internet, membaca buku atau melakukan hobi lain seperti melukis, kerajinan tangan, khusus hubby biasanya memilih beres2x dan bersih2x rumah (ini salah satu manfaat memiliki pasangan yang menganut konsep ‘bersantai’ sebagai ‘bekerja atau melakukan sesuatu’. Lihat: postingan yang ini :D).

Foto: Salah satu aktivitas ‘bersantai’ versi hubby: bekerja di rumah.
feli-1

Sejauh ini, kejadian paling aneh dialami setelah kami mampir melewati Pulau Utøya (lihat:postingan ini ) Sekitar jam 1 malam tiba2x saja alarm kebakaran berbunyi yang membangunkan orang seisi rumah (waktu itu ada ortu sedang datang dari Jakarta). Setelah dicek, tidak ada bau terbakar atau tanda2x kebakaran, kami pun kembali ke tempat tidur.

Namun, sekitar 10 menit kemudian, alarm kebakaran kembali berbunyi… kejadian yang sama berulang hingga 3-4 kali di malam yang sama sebelum akhirnya hubby memutuskan untuk mencopot perangkat alarm dari dinding ruang tengah.

Penjelasan versi orang Indonesia: jangan2x ada sejumlah jiwa yang tidak tenang dari insiden di pulau ini mengikuti kami hingga di rumah, memang saat singgah di tugu peringatan yang menghadap ke pulau kami berdoa khusyuk agar para korban bisa beristirahat dengan tenang. Kemungkinan lain, ‘penghuni’ rumah datang menyambut ortu yang sedang berkunjung🙂

Penjelasan versi orang Norwegia: Alarm kebakaran memang rusak dan perlu diperbaiki. That’s all!

…Beda banget kan cara berpikirnya….

Berdasarkan pengalaman saya, biasanya pikiran2x, interpretasi, imajinasi dan khayalan kita sendirilah yang membuat kita takut. Karenanya saat terpaksa sendiri di rumah, saya selalu mencoba untuk berpikir logis dan rasional jika mulai mendengar atau melihat hal2x aneh. It works!🙂

Foto: Hasil tangan peninggalan penghuni terdahulu, prajurit timah. Ditemukan di gudang bersama kerajinan2x lain. Suami pemilik rumah sebelum kami berasal dari Denmark dan wafat lebih dari 20 tahun yang lalu, namun semua barang peninggalan almarhum di gudang nampak rapi dan tampak seperti baru ditinggal kemarin.
felice-4_edited-2

HOME SWEET HOME
Bagaimanapun kondisinya saya bersyukur memiliki atap untuk berteduh dan berlindung. Sekarang seni yang harus dikuasai adalah membuat rumah se-homy- mungkin…khususnya kala dingin dan gelap mendominasi hari2x di musim gugur dan musim dingin.

Foto: Salah satu sudut di dapur, di luar jendela kadang nampak rusa liar, tupai, burung2x liar, turis yang berjalan2x di hutan dan rimbunan pepohonan🙂

felice1_edited-1

Sayangnya, tidak semua orang Indonesia yang saya kenal menghargai rumah dan bangunan tua. Pandangan dan kesan negatif seperti kesan horor, kuno, ketinggalan jaman dll masih melekat kuat. Ini juga merefleksikan tingkat apresiasi kita terhadap bangunan tua di tanah air. Ada rasa miris dan sedih melihat deretan bangunan2x tua di wilayah Kota Tua dan Pecinan Jakarta yang dibiarkan terlihat kumuh, kusam, kotor dan tak terawat. Padahal, bangunan2x semacam ini menyimpan banyak nilai seperti nilai historis, nilai edukasi, nilai budaya dan potensi wisata jika bisa dikelola dengan baik. Setiap melewati daerah ini, dalam hati saya berharap agar pemda bisa menaruh perhatian khusus untuk isu penyelamatan bangunan2x tua yang kerap dikesampingkan karena dianggap tidak penting. Yup, semoga saja….

Tabik.

30 thoughts on “Tinggal di Rumah Tua

  1. Auliya

    Aku lebih sependapat dengan selera suami mba felli…konsep rumah yang da di bayangan aku mirip punya mba felli…klasik,dengan 4 musim…
    Aku juga sependapat dengan mba felli,ga boleh gelap dan terkesan suram…
    Tapi,kalo pengen punya rumah kaya mba felli sepertinya saya harus men cari suami dengan model kaya suaminya mba felli,yang menganggap “beres2” itu “santai”…😀😀😀
    #model istri pecinta kebersihan tapi,pemalas dalam hal beres2…😀😀😀

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hehe…makanya saya nggak suka nonton film horror… daripada nanti kebayang macem2x🙂

      Reply
  2. Pingback: Jatuh Cinta Dengan… Ubin… :) | My Life, My Search, My Journey

  3. arinidm

    Kalo saya jujur lebih suka rumah baru daripada rumah tua Mbak soalnya saya penakuuut😳 Berhubung saya jg ga telaten bersih-bersih rumah, saya lbh suka rumah simpel tanpa perintilan lekuk-lekuk segala macam, kalo bisa jendela dikit aja di tempat-tempat tertentu yg emg bakal sering dibuka jendelanya, soalnya bersihin debunya itu yg bikin males Mbak hehehe. Oiya dulu waktu saya dan keluarga kakak jalan-jalan lintas provinsi via darat, kakak saya dan abang ipar berandai-andai pengen tinggal di rumah kayu di pedesaan. Semenjak saya ngalamin sendiri tinggal di rumah kayu di dusun pula, duh saya jauuuh lebih milih tinggal di rumah modern deh Mbak hehehehe. Kyknya rumah kayu lbh cocok di daerah beriklim subtropis ato sedang kali ya.

    Reply
    1. Felicity Post author

      Kalau saya mau jujur juga, sebenernya sama dengan dirimu loh pengennya tinggal di rumah moderen aja yang praktis, atau di apartemen tapi ada tamannya kecil. Berasa banget kalau maintenance rumah, apalagi rumah tua itu lebih rumit. Sudah bilang ke hubby juga kalau saya kalau nggak mau tinggal di museum, jadinya kita kompromi deh, rumah tua tapi kesannya harus tetap nyaman dan nggak berkesan seram atau gelap.

      Iya, rumah kayu cocoknya di negara dengan musim dingin mungkin ya, lebih awet soalnya. Kalau diperhatikan rumah kayu di sini bisa ratusan tahundan tetap kokoh, sementara di Indonesia sudah keropos dan banyak dimakan rayap..

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s