Tentang Mertua, Ipar dan Keponakan…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pertama kali bertemu mertua (dulu masih calon) adalah saat saya dan T (hubby) bertugas di Aceh tahun 2005 setelah tsunami. Mertua laki2x (waktu itu berumur 65 tahun) dan mertua perempuan (waktu itu berumur 61 tahun) menempuh perjalanan separuh bumi dari Oslo ke Aceh untuk menjenguk T sekaligus berlibur di Medan dan di Singapura (takjub dengan daya tahan fisik mereka).

Tentu saja ada rasa was2x dan kuatir diiringi banyak pertanyaan dalam benak saya mulai dari bagaimana nanti kami berkomunikasi dan berinteraksi, apakah mereka nanti termasuk calon mertua yang baik atau galak, bagaimana kesan mereka nanti tentang Indonesia (apalagi memiliki menantu dari Indonesia), bagaimana kesan mereka tentang saya dan keluarga, bagaimana nanti ini dan itu…dll…dll…. Heboh sendiri kalau diingat2x 

Dari T saya sempat mendapat ‘orientasi’ tentang latar belakang, karakter, sifat dan kebiasaan mereka supaya tidak kaget sebelum bertemu secara langsung pertama kali dulu.

Mertua laki2x, seorang insinyur teknik sipil, dulu kuliah di NTNU (seperti ITB di Indonesia) dan menjadi lulusan S1 terbaik se-Norwegia diantara semua bidang studi, mendapatkan beasiswa untuk lanjut studi di MIT (Massachusetts Institute of Technology di Amerika). Meski dari keluarga cukup berada dan memiliki posisi tinggi beliau sangat amat rendah hati dan tidak materialistis. Menginap di hotel mahal oke2x saja, menginap di desa pedalaman Guatemala dan dekat kandang sapi juga ayo saja. Untuk makanan beliau bisa dimana saja dan tidak pilih2x baik di restoran mahal maupun warung pinggir jalan. Kesimpulan: calon mertua laki2x kemungkinan besar tidak akan bermasalah.  …AMAN…..

Mertua perempuan, pernah menjadi kepala perawat di distrik tempat tinggal kami sekarang sebelum terlibat proyek riset nasional di salah satu lembaga pemerintah, memiliki gelar master di bidang public health (kesehatan publik), sangat peduli pada kebersihan, kerapihan, sanitasi dan semacamnya. Harus tinggal di hotel yang bersih, rapih, nyaman, untuk makan pun harus dipastikan bahwa lokasinya tidak di pinggir jalan, tidak berdebu, kinclong, bersih, baik staff pelayan dan dapur harus terlihat ‘meyakinkan’ dengan standar2x hygiene dan sanitasi tertentu. Kesimpulan: bakalan repot, tidak bebas, harus pilih2x tempat menginap dan tempat makan…. Yang paling parah: saya, ehm, sebagai calon menantu termasuk perempuan yang bertolak belakang dari gambaran tadi karena termasuk cuek dengan urusan penampilan dan tipikal perempuan low maintenance  yang  tidak cerewet untuk urusan bersih2x rumah. GAWAT….GAWATTT…. *panik*

Foto: Menantu yang berantakan, cuek, tidak bisa dandan🙂

felice13 copy

DAN…. SETELAH BERTEMU…
Ternyata kekuatiran saya tidak beralasan. Kedua orang yang saya temui sangat bersahaja, ramah, terbuka, murah senyum dan menyenangkan. PHEWWWW…..

Hari2x di sana kami habiskan bersama dengan keliling kawasan sekitar Banda Aceh, mengunjungi sejumlah kamp pengungsi dan children center yang di-support oleh lembaga tempat saya bekerja, mengunjungi kamp tempat T tinggal dll disusul perjalanan ke Medan dan ke Singapura. Lega rasanya karena semua berjalan lancar.

Setelah saya dan T menikah dan tinggal di Norwegia ternyata kesan tentang bapak dan ibu mertua tetap tidak berubah (tetap baik). Rumah mereka terletak di bawah bukit sekitar 5 menit dengan kendaraan dari tempat tinggal kami yang di atas bukit. Jika sedang hiking atau mencari udara segar di sekitar hutan otomatis mereka akan mampir ke rumah kami sekedar menumpang minum atau mengobrol santai. Saya dan hubby juga terkadang iseng mampir hanya untuk sekedar numpang nonton TV atau…sekedar numpang makan gratis….karena isi kulkas kebetulan sedang kosong *pasangan malas belanja :D*

felice-1

Saat butuh bantuan, tanpa diminta maka bapak dan ibu mertua akan dengan sigap menolong. Saat pindah rumah dulu mereka ikut membantu mengepel, membersihkan kamar mandi, mengelap tembok, packing, sampai bongkar2x kardus. Saat saya sakit dan hubby sedang dinas ke luar negeri mereka menawarkan agar saya tinggal sementara supaya ada yang menjaga dan menyiapkan makanan setiap hari, mencuci baju dan merawat dengan telaten *terharu*

Saat kesepian di awal2x tinggal di Norwegia, mereka selalu berupaya mendampingi dan memastikan bahwa saya baik2x saja. Buat saya, ibu mertua adalah teman shopping, teman belajar bahasa dan mengenal budaya setempat, teman diskusi dan bertanya hal2x tentang banyak hal, teman jalan ke teater dan melihat pameran, teman memasak dan membuat kue bareng, teman liburan, teman memetik berries dan jamur liar bareng, teman berkebun bareng dll…. Sementara bapak mertua adalah tempat dimintai tolong buat hal2x teknis saat sedang sendiri di rumah karena hubby sedang travel mulai dari mengganti bohlam lampu, berdiskusi dengan tukang kayu, membetulkan pipa air untuk menyiram kebun dll.

felicity25

BAGAIMANA DENGAN IPAR2x DAN KEPONAKAN2x?….

Interaksi dengan IPAR2x (adik2x suami dan pasangannya masing2x) juga menjadi salah satu kekuatiran saya dulu. Bagaimana jika mereka tidak suka dengan orang Indonesia? Bagaimana jika begini dan begitu…dll..dll…

Dalam keluarganya T adalah 3 bersaudara (semua laki2x) dan T sebagai anak tertua.

Adik no 1, insinyur, menikah dengan pengacara, keduanya adalah pasangan muda yang modern dan profesional sejati, untuk banyak hal konservatif. Kesimpulan: mungkin agak sedikit skeptis dengan ipar dari Indonesia? Untunglah kekuatiran ini tidak terbukti dan mereka sangat baik dan terbuka menerima saya.

Adik no 2, arsitek, menikah juga dengan arsitek, keduanya adalah pasangan yang cool, bergaya bohemian, berjiwa bebas, menyukai budaya dan seni dan hal2x etnik-eksotis, terbuka untuk hal2x baru. Kesimpulan: sepertinya mereka asik2x saja dan memandang ipar dari Indonesia sebagai sesuatu yang cool😀

Menarik sekali melihat perbandingan kedua pasangan ini yang terlihat dari interaksi anak2x mereka saat kami berkumpul bersama.

Foto: Hubby bersama dua keponakan menonton teater anak2x bersama

felice

Anak2x dari adik no 1 sangat ‘jinak’, rapi, terstruktur, tertib , sopan dengan gaya pakaian yang konvensional dan klasik dan lebih disiplin.

Anak2x dari adik no2 lebih ‘liar’, berisik, dan bebas dalam berekspresi, lebih peka terhadap orang lain dan hal2x yang sentimentil, lebih nyeni, eksentrik dan agak2x ‘drama queen’😀

Kalau dipikir2x aneh juga membandingkan keponakan2x tadi karena perilaku anak ternyata mencerminkan orang tua dan pola asuh mereka di rumah.

Untunglah sebagai keluarga besar dengan mertua, ipar, keponakan, tante2x, paman2x, sepupu2x kami semua baik2x saja. Acara ulang tahun, natal, liburan, atau sekedar lunch dan dinner bareng menjadi ajang kumpul2x rutin.

Tentu saja tidak semua hanya yang bagus2x saja, seperti keluarga lain keluarga besar hubby juga memiliki persoalannya sendiri yang untunglah sejauh ini masih bisa diatasi.

Hingga saat ini saya tidak pernah memiliki masalah , biasanya komplen baru datang jika ibu mertua terlalu rajin (aha, tuh kan…???? ternyata sifat rajin hubby memang genetis😀 )

Beberapa kali saat pulang ke rumah dari liburan semua baju2x kotor di rumah kami tiba2x sudah dicuci, lantai menjadi kinclong, rumah menjadi bersih dan lebih rapih dari biasanya. Kami langsung bisa menebak siapa ‘tertuduh utama’  aksi kebersihan ini😀. Saya sih , ehm, tidak keberatan (sungguh menantu tidak tahu diri … #plak# ), namun hubby merasa tidak nyaman dan protes.

PENGARUH BUDAYA?
Kalau dibandingkan, relasi orang tua-anak, mertua-menantu di Norwegia memang ada yang berbeda dengan di Indonesia. Faktor independensi berperan di sini karena anak2x sejak kecil sudah diajarkan untuk berdialog dalam menyelesaikan masalah, mandiri, berdisiplin serta bertanggung-jawab. Istilah ‘takut’ dan ‘patuh membabi-buta’ pada orang tua yang kental di Indonesia dan sejumlah negara Asia agak kendor di sini karena orang tua dianggap bukan sebagai sosok untuk ditakuti.

Sejak anak mencapai usia 18 tahun ia dianggap dewasa secara hukum dan bisa meminta tunjangan sosial dari pemerintah. Jadi, secara finansial tidak ada keterikatan emosional ortu yang harus mensupport anak2x setelah si anak dewasa. Sebaliknya, ada rasa gengsi di kalangan anak2x muda jika masih tinggal satu atap dengan ortu setelah mencapai usia 18 tahun. Tidak sedikit dari mereka rela bekerja di supermarket, restoran dll untuk menabung untuk keperluan pribadi seperti jalan2x keliling dunia misalnya tanpa mengemis dari orang tua.

Setelah ortu mencapai usia pensiun, tidak ada kewajiban anak mensupport atau memberi uang bulanan ke ortu karena pemerintahlah yang bertanggung-jawab untuk ini. Justeru ada rasa gengsi dari orang tua yang menerima uang dari anak2xnya karena bisa merasa menjadi benalu. Tidak jarang ada orang berumur 70, 80 bahkan 90-an memilih tinggal sendiri di rumah ketimbang ikut bersama anak2xnya karena tidak ingin merecoki rumah tangga si anak dan tak ingin merepotkan. Bahkan ortu yang tinggal bersama anak adalah sesuatu yang jarang di sini.

Tapi, bukan berarti tidak ada rasa hormat terhadap orang tua loh….. (don’t get me wrong). Mungkin bentuk relasinya saja yang lebih setara, terbuka dan transparan di Norwegia ketimbang di Indonesia.

Moral of the story:
-Sebelum bertemu keluarga pasangan untuk pertama kalinya kadang kita terlalu banyak kuatir yang seringkali tidak beralasan. Daripada pusing sendiri, lebih baik dibawa santai tapi serius saja.

Be yourself, kalau kita bisa membawa diri dengan baik, percaya diri dan bersikap positif pasti aura yang terpancar juga akan baik dan membuat kita lebih mudah disukai, bisa membaur dengan orang lain dari background apapun. Kecuali, jika memang ‘chemistry’ sejak awal kurang baik karena satu dan lain hal (ini lebih  rumit sepertinya …. males banget ketemu orang yang tidak berempati, self-centered, egois dan ‘chemistry-nya saja nggak nyambung ….mau dibawa kemana pun juga bakalan susah entah dalam hubungan pertemanan maupun kekerabatan…jauh2x deh).

-Dari manapun asalnya, hubungan menantu-mertua adalah hubungan antara manusia yang (buat saya) sama dan sederajat. Yang membedakan adalah faktor usia, latar belakang, kebiasaan, kepribadian. karakter dll. Jadi, merasa setara boleh tapi rasa hormat tetap perlu.

 Tabik.

28 thoughts on “Tentang Mertua, Ipar dan Keponakan…

  1. arinidm

    Suka banget baca tulisan yg ini Mbak, lagi-lagi selalu dpt wawasan baru dari tulisan Mbak Feli🙂 Salut dgn mertuanya Mbak, background pendidikannya bagus banget yaaa, ditambah dgn background pendidikan anak-anaknya jg bagus, dan background pendidikan menantu-menantunya jg bagus, jd salut ama keluarga Norway yg satu ini, hihi. Btw ada satu yg nggak dibahas Mbak, latar blkg Mas T kok kyknya nggak dibahas yaa, cuma sodara2nya aja, hehehe

    Reply
  2. ila

    saya suka skali baca blog mba… asik..lucu…dan memberikan inspirasi buatku yang sedang menjalin hubungan dengan cowok norwegia juga… semoga tetap langgeng ya mba…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s