Monthly Archives: July 2014

Tentang Selfie dan Mahluk Narsis :)

felice-11

‘Selfie’ adalah foto diri yang diambil sendiri, biasanya diambil dengan kamera digital yang dipegang dengan tangan si orang dalam foto atau dengan kamera di telepon. Akhir tahun 2013 lalu kata ini dinobatkan sebagai ‘word of the year’ oleh the Oxford English Dictionary. Sejauh ini masih ada perdebatan apakah Selfie itu bentuk dari narsisme atau sekedar ekspresi diri.

‘Narsis’ adalah kekaguman pada diri sendiri yang bersifat egoistis, istilah tersebut berasal dari mitologi Yunani dimana Narcissus jatuh cinta pada bayangannya sendiri di air. Ini adalah konsep psikoanalisis yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud. Meski bisa menjadi destruktif jika berlebihan dan terlalu ekstrim, psikologi populer menganggap bahwa narsisme yang sehat bisa membantu dalam proses penerimaan terhadap diri sendiri dan pencapaian sukses.

Nah, kalau urusan foto-memfoto dengan batasan kabur antara foto diri dan foto pemandangan, berdasarkan pengamatan saya….di antara rombongan turis berbagai negara. Siapakah yang paling heboh foto2x? …. Jawabannya: turis dari Asia, khususnya (dengan segala hormat terhadap orang dari negara ini atau yang ada hubungan dengan negara ini *sambil sungkem*) …. adalah…. turis Jepang 😀

Foto: Turis2x yang berebut untuk mengambil foto dan difoto 🙂

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jika berkunjung ke objek2x wisata langganan turis asing di Oslo seperti ‘Vigeland’s Park’ saat musim panas atau berkunjung ke fjord2x cantik di bagian barat Norwegia hal ini akan terlihat jelas. Suatu saat ketika sedang terdampar menikmati pemandangan di salah satu kota kecil di kaki bukit saya merasa senang menjadi satu2xnya orang Asia di sana. Teryata saya keliru….

Saat berbelok tiba2x terlihat rombongan turis Jepang baru turun dari bus, dan seperti lebah mereka langsung ‘menyerbu’ (entah apa yang diserbu) mengambil foto2x….kiri… kanan… atas… bawah… depan … belakang…. dari segara penjuru mata angin ckckckck….mulai dari mengambil foto pemandangan, foto diri dan kawan2x di rombongannya… sampai2x foto orang yang sedang mengambil foto orang lain pun juga difoto….HEBOH. Saking hebohnya saya sampai terbengong2x dan hanya bisa melongo beberapa saat….

Selain turis Jepang, penampakan dari turis2x asal China juga semakin banyak di kota2x seperti Oslo dan Stockholm…sampai2x T menyebut kata ‘the Asian Invasion’ berkali2x sambil mencolek2x pundak atau menarik2x tangan saya yang terkesan cuek.

Setiap melihat rombongan berwajah Asia hubby akan langsung heboh sendiri: “Feli…Feli… look! Your friends are there…. ‘the Asian Invasion’! ….” Saya biasanya hanya bilang kurang lebih: “Iyeee…..tahu saya….mereka orang Asia, terus kenapa memangnya?… Berisik kamu ah!” *sok cool*

Foto: Pasangan dari India mengambil foto dari berbagai sudut di atas kereta
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Continue reading

Mudik Nggak Niat……

felicitya

Saya beruntung memiliki pekerjaan yang memungkinkan untuk travelling ke tanah air setidaknya 3-4 kali setahun (yup bolak-balik mirip setrikaan dengan berbagai resikonya…) ke pelosok2x pedalaman Indonesia yang eksotik dengan pengalaman beragam mulai dari tinggal bersama penduduk desa dan berinteraksi dengan mereka, mendatangi lokasi perkebunan sawit (dengan diam2x :D… dan baru sadar setelah beberapa saat berkeliling bahwa di sana ternyata banyak ular kobra), bertemu dengan ibu2x pendulang emas yang tegar dan bersahaja, terjebak kabut di pedalaman Papua dan harus berjalan kaki 5 km untuk mendapat signal HP untuk meminta bantuan, dikejar2x orang utan di pedalaman Kalteng, sempat menjadi santapan lintah saat menyusuri hutan si pedalaman Sumatera dll.

Buat T (suami tercinta), merasakan bisa tinggal di desa dan di pedalaman adalah sesuatu yang unik. Karenanya atas seijin bos, saya berencana mengajak T untuk ikut ke lapangan saat saya melakukan kunjungan mendatang, yang setelahnya akan kami lanjutkan dengan acara liburan di lokasi lain. Tapi, saya lupa kalau ada beberapa hal yang mengganjal setiap kali mengajak T ke Indonesia.

Alasan2x yang membuat saya enggan pulang kampung bersama suami tadi adalah karena saya harus:

1. Siap2x jadi tukang foto

Pengalaman2x sebelumnya selalu menunjukkan bahwa setiap saya berjalan2x bersama T di tempat umum di Indonesia apalagi objek wisata yang lumayan populer…pasti ujung2xnya akan banyak orang (kebanyakan anak2x kecil dan remaja2x tanggung sampai kadang2x orang tua juga) yang ingin minta foto bersama T. Saya sih maklum saja, mungkin mereka2x tadi memang jarang bertemu bule dan ada rasa penasaran. Tapi permintaan2x tadi tak jarang menjadi ekstrim karena terus-menerus ada setiap kami melangkah beberapa meter dan kadang2x tidak sopan. Yang paling menyebalkan tanpa basa-basi mereka akan bilang…. “mbak…mbak….minggir dong!….kita mau foto sama om bule-nya…”   atau “mbak…ambilin foto dong, yang bagus ya!...…” sambil memberikan isyarat dengan tangan supaya saya menyingkir. Yaolohhhh…. *mengelus dada*

2. Siap2x jadi penterjemah dan guide

Buat saya, salah satu ‘cacat’ non bawaan dari T adalah ketidakmampuannya berbahasa Indonesia yang kadang membuat saya bete 🙂 Kebetean itu bertambah karena T sebetulnya jago berbicara 7 bahasa. Tapi…buat Bahasa Indonesia?…hohoho…. nyaris nol besar.  Sejauh ini T hanya hafal:

“Kopi satu tanpa gula” –> kalau sedang di kedai kopi.

“Terima kasih sekali” —> sambil tersenyum, menangkupkan kedua telapak tangan di dada dan membungkukan badan seperti hormat orang2x Jepang 🙂

“Itu tidak bagus!” —> biasanya diucapkan sambil mengangkat jari telunjuk ke arah depan dada dan digerakkan ke kiri dan ke kanan, kadang2x mulut sambil sedikit dimonyongkan dan sedikit variasi gelengan kepala atau suara berdecak: ” ckckckck…..”

Jus mangga tanpa gula” –> kalau sedang haus dan ingin minum jus

“Nggak kayak begituuu!…” –> diakhiri dengan nada sedikit tinggi di akhir kalimat dan terlontar kalau sedang protes atas sesuatu yang tidak sesuai keinginan

“Siap komandan!” –> yang diucapkan ke semua orang dari orang tua, tukang becak, tukang parkir sampai anak kecil 🙂

Jadi, buat urusan liburan ke Indonesia mau tidak mau saya bertanggung jawab mengurus teknis pelaksanaan dan printilan2x di lapangan yang memang hanya bisa dilakukan dalam Bahasa Indonesia seperti tawar-menawar harga (soalnya saya nggak jago nawar, dan suka nggak tegaan….jadi males duluan deh... 😀 )
Continue reading

Tentang Bumbu Dapur

felicity1

Sejak pindah dan menetap di Norwegia proses belajar memasak yang saya alami boleh dibilang nyaris dari nol besar. Dulu, selain tidak terbiasa memasak saya juga malas mengikuti resep2x masakan. Untunglah sejak kecil ibunda tercinta selalu mengajak saya untuk menemani saat berbelanja di pasar tradisional juga saat beliau memasak di dapur. Meski sekedar membantu membawa belanjaan atau menonton saat memasak dan menyiapkan makanan, setidaknya ada dasar2x pengetahuan di dapur yang saya tahu mulai dari cara menggoreng, menyiapkan dan memotong sayuran, mengulek, mengenal nama2x bumbu dapur, menanak nasi dll…meski…baru sebatas teori dan observasi saja.

Perjuangan untuk belajar memasak tadi bisa dibilang melalui beberapa fase yang dimulai dari:

1. MENGENAL NAMA BUMBU DAPUR DALAM BAHASA LOKAL
Salah satu tantangan di awal2x belajar memasak sebagai imigran adalah…. bumbu dapur yang ditulis dalam bahasa planet (baca: bahasa setempat). Tantangan lain adalah daftar terjemahan langsung untuk bumbu dapur dari bahasa tempat saya berdiam saat ini yakni Norsk (Norwegian) ke Bahasa Indonesia biasanya tidak tersedia. Kebanyakan daftar nama2x bumbu dapur yang saya jumpai di internet adalah yang dari Bahasa Indonesia-English dan sebaliknya atau Norsk-English dan sebaliknya. Jadi, proses penterjemahan harus dimulai dari mengetahui nama bumbu dalam Bahasa Indonesia–ke Bahasa Inggris–dan dari Bahasa Inggris–ke Bahasa Norwegia– serta sebaliknya. Memang terkesan rumit, tapi lama kelamaan kita akan terbiasa mengenal nama2x bumbu dapur tadi dalam bahasa lokal tadi karena tuntutan keadaan.

Foto: Cabai…di sini banyak tersedia dalam bentuk kering yang ternyata lebih awet, tapi untuk tekstur dan warna tetap beda dengan yang masih segar dan asli
feli9

Mengenal nama2x bumbu dan bahan masakan dalam bahasa setempat ini terutama diperlukan saat kita berbelanja. Di Norwegia 90% nama2x tadi di toko tertulis dalam bahasa lokal. Meski kadang bisa menebak2x dari penampakan atau nama yang agak2x mirip namun ini tidak selalu menjamin. Di Indonesia misalnya yang dimaksud lada (pepper) di pasar atau toko2x biasanya antara lada hitam atau lada putih. Ternyata bumbu yang memakai nama ‘pepper’ di sini tidak se-simpel yang saya ketahui sebelumnya. Ada ‘cayenne pepper’ yang biasa dipakai saat memasak Bacalao (sup ikan yang dikeringkan) atau Paella (mirip nasi goreng dengan beragam campuran), ‘spanish pepper’ (paprika), ‘jamaican pepper’ (biasanya ada embel2x ‘allehånde’), ‘nepalese pepper’ (dikenal juga sebagai ‘timur’ yang rasanya buat saya lebih mirip ‘gatal di lidah’ ketimbang rasa pedas atau panas), ‘sichuan pepper'(annispepper) dll. Jenis2x produk akhir lada tadi pun beragam mulai dari: lada utuh (helt krydder), lada tumbuk kasar (grov malt), atau lada tumbuk halus (helt malt).

Foto: Bagian dari stok bumbu dapur 🙂

feli6
Continue reading