Tentang Mencari Teman

berteman

Mencari teman buat imigran atau pendatang baru di suatu negara adalah sebuah tantangan tersendiri. Sebagai mahluk sosial tentu saja mau tidak mau keberadaan manusia lain di sekitar kita dibutuhkan entah sekedar untuk ngobrol, hang-out, bercanda, shopping, nonton dll.

Beruntunglah mereka yang pindah ke negara yang memiliki diaspora atau kumpulan masyarakat yang berasal dari negara yang sama. Buat warga Indonesia pindah ke negara2x populer buat WNI seperti Australia, Amerika, atau Belanda mungkin memiliki peluang lebih besar bertemu sesama WNI daripada yang pindah ke daerah2x ‘nun jauh di sana’ seperti Pantai Gading (Ivory Coast), Alaska, Antartika…dll. Di Norwegia sendiri jumlah total WNI masih sekitar 600-an orang, sementara Immigran asal Thailand dan Filipina sudah mencapai puluhan ribu orang…..  jauh banget kan?🙂

Suatu saat Nicole yang berasal dari Australia curhat:

Nicole: “Feli, saya nggak akan memperpanjang kontrak kerja nanti. Mending balik ke Australia aja atau kerja di Indonesia lagi”

Me: “Kenapa? Bukannya posisi kerja dan gaji kamu itu bagus banget di sini?”

Nicole: “Iya, secara finansial nggak ada masalah…. Tapi secara sosial…susah banget cari teman di sini….Kalaupun ada teman biasanya kita jarang ketemu. Ya kayak kamu ini yang mobile banget…Sementara saya juga sama, harus sering travelling karena pekerjaan…”

Mendengar jawaban Nicole perasaan saya campur aduk, antara sedih karena sudah menjadi teman yang sering menghilang dari peredaran di satu sisi juga paham kondisi Nicole.

Di awal2x pindah ke Oslo saya berpikir bahwa bertemu sesama WNI akan membuat saya bertambah teman. Ternyata pengalaman membuktikan bahwa kesamaan asal negara bukan jaminan bahwa kita akan langsung bisa berteman akrab. Perlu ada ‘chemistry’ yang bisa membuat kita merasa ‘klik’ dengan seseorang. Bayangkan situasi berikut ini:

1. Hobi beda
Si A hobi naik gunung X si B hobi shopping dan alergi dengan kegiatan alam terbuka

2. Minat beda
Si C tertarik isu sosial-politik terbaru X si D lebih tertarik masalah perawatan anak, diaper, susu bayi dll

3. Latar belakang pekerjaan atau pendidikan beda…banget
Si E seorang insinyur teknik astro-fisika (ini apa ya?…. bingung kan? saya juga😀 ) dan agak serius dan ‘nerdy’ X si F yang anak gaul, suka ke diskotik, selalu memperhatikan penampilan dan mengikuti trend terbaru

4. Pergaulan sosial beda dll
Si G yang dari keluarga berada, gaya hidup mahal dan high maintenance girl X si F yang simpel, dari keluarga sederhana, anak perpustakaan dan relijius

Meski ada istilah ‘OPPOSITE ATTRACTS’ alias orang yang berbeda dengan kita justeru akan lebih menarik karena kita jadi penasaran dan ada unsur saling melengkapi, dalam kenyataannya perbedaan yang terlalu besar bisa akan merepotkan. Ibarat si A mau jalan ke arah kanan sementara si B maunya ke arah kiri…. nggak bakal ketemu deh….

Ada orang2x tertentu yang sangat fleksibel dan bisa diajak bicara atau diskusi tentang apa saja, bergaul dengan siapa saja dan dari kalangan mana saja. Tapi…. saya yakin deh….ada hal2x tertentu dimana orang tersebut juga ingin teman2x yang dekat, sehati, sejiwa….yang bisa nyambung tanpa harus bersusah-payah atau mengeluarkan tenaga ekstra dengan berusaha beramah-tamah dan bersikap sopan alias jaim terus menerus.

Foto: Berteman itu ibarat menanam tanaman yang perlu dirawat, dijaga, dan dipupuk supaya tidak mati

felia-b

Setelah lumayan lama menetap di Norwegia, ada beberapa pelajaran yang saya petik tentang pertemanan:

1. Mencari teman juga perlu ‘mapping’ alias memetakan mana yang berpotensi menjadi teman dekat, agak dekat atau biasa saja. Jika sudah memetakan juga perlu dikelompokkan, mana yang asik buat curhat, buat shopping, buat nonton, buat travelling, buat naik gunung dll. Dalam kenyataannya, menemukan teman dengan paket ‘ALL IN ONE’ itu tidak mudah.

2. Asal negara yang sama bukan jaminan kita akan bisa langsung klik. Jadi perluas kesempatan bergaul dengan teman dari negara2x lain. Saat ini teman2x dekat saya yang asik dan sudah teruji waktu justeru berasal dari Pakistan, Italia, Norwegia, Brazil, plus satu-dua dari Indonesia.

3. Memakai feeling itu perlu. . Saat bersua seseorang untuk pertama kalinya pasti ada kesan2x tertentu dari orang tersebut. Biasanya kesan pertama akan sangat membekas dan menentukan apakah orang tersebut akan asik diajak berteman atau tidak.

4. Berpikiran terbuka (open-minded) senantiasa. Meski kesan pertama penting, namun tidak jarang juga menyesatkan. Ada orang yang awalnya kita anggap jutek dan menyebalkan ternyata kemudian di pertemuan selanjutnya orang tadi terbukti sangat asik diajak ngobrol tentang banyak hal. Ada juga yang di awalnya kita tidak suka pada seseorang karena nampak egois, self-centered dan agak2x drama queen misallnya….di pertemuan2x selanjutnya….ya tetap tidak suka juga, karena kesan pertama kita ternyata tidak salah😀

5. Teman itu perlu dirawat dan dijaga. Orang2x Norwegia yang saya amati sangat pandai menjaga ikatan pertemanan. Buat mereka teman2x dari masa kecil, jaman SD, SMP, SMA juga kuliah puluhan tahun yang lalu adalah sesuatu yang berharga. Sesekali mereka akan bertemu buat sekedar hanging out, ke konser, dinner, pesta ulang tahun dll. Konsistensi dan kesinambungan dalam berteman perlu dipertahankan sebisa mungkin. Tidak ada gunanya memiliki ratusan kawan di facebook tapi tidak ada satu-dua orang yang bisa kita ajak ngobrol langsung karena merasa jauh secara emosional misalnya.

Foto: Bersama Giulia, kawan sehati untuk kegiatan di alam terbuka, mengunjungi pameran dan ke museum😀

felia-c

Tabik

51 thoughts on “Tentang Mencari Teman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s