Monthly Archives: September 2015

Pesta Kepiting

felice9

Di kantor2x Norwegia biasanya ada acara gathering atau kumpul2x tahunan standar seperti SOMMER FEST (Summer Party) alias Pesta Musim panas yang diadakan sekitar akhir Juni atau setelah pertengahan Agustus (karena bulan Juli biasanya orang sudah libur sebulan penuh). Acara kumpul2x lain adalah JULEBORD (Christmas Dinner) diadakan menjelang natal di akhir November atau awal Desember yang sifatnya lebih formil berbeda dengan summer party yang lebih santai dan informal.

Beberapa kantor memiliki ‘kreativitas’ sendiri mengadakan acara kumpul2x selain dua acara ‘wajib’ di atas. Kantor saya misalnya memiliki acara rutin tahunan bernama KRABBE FEST (Crab Party) alias PESTA (MAKAN) KEPITING…

The party is on…. 🙂

Hmmm….Dekorasinya sederhana dan terkesan acak2xan…tapi kok cantik dan enak dilihat yah… *berpikir*
felice7

Buat standar Indonesia, orang Norwegia bisa dibilang sangat informal dan tidak terlalu peduli dengan gengsi, hiasan atau sesuatu yang bling-bling (seperti dalam postingan dilarang sombong ).

Untuk acara party dan kumpul2x seperti PESTA KEPITING di kantor saya ini misalnya meja ruang meeting dibuat berjajar panjang, dialasi dengan kertas coklat besar (biasa buat sampul buku anak2x sekolah di Indonesia 😀 ), alumunium foil (supaya mudah dibersihkan nantinya), hiasan daun dill, potongan jeruk nipis, mayones, hiasan daun pakis, potongan daun selada  yang semuanya ditaburkan acak di atas meja bersama kepiting2x dan udang2x rebus. That’s all…

Menu utama pesta kali ini tentu saja… KEPITING….

felice4

Continue reading

Tersesat di Hutan

feli4

Buat saya, tersesat di jalan itu bukan hal yang aneh dan cukup kenyang dengan pengalaman ini. Mulai saat tiba pertama kali di Oslo, saat mengikuti pelatihan di London juga ketika berlibur bareng teman kuliah di Roma. Namun, gara2x kegiatan tahunan berburu jamur yang biasanya dilakukan sekitar akhir Agustus-September minggu lalu acara tersesat saya kali ini agak beda, yakni TERSESAT DI HUTAN

Untungnya acara tersesat kali ini ditemani oleh mertua perempuan, Turid yang meski hampir berusia 70 tahun namun masih kuat naik gunung, ski 30 kilometer, berenang di laut dan hiking di alam terbuka bersama anak, cucu dan teman2xnya. Sebagai mertua dan menantu, kami sering jalan bersama entah buat shopping, melihat pameran, ke museum, menikmati pertunjukan seni budaya, lunch/dinner berdua di luar rumah, ski, membuat kue bersama dll. Karenanya sering berinteraksi dengan beliau saya sebetulnya tahu bahwa Turid memiliki orientasi ruang serta navigasi yang agak kurang baik alias sering tersesat….seperti…ehm…. saya….*sambil melengos*

Saat masuk ke hutan selain dengan ibu mertua, bapak mertua (yang usianya sudah di atas 70 tahun tapi masih sporty seperti sang isteri) juga T (hubby) biasanya ikut menemani. Entah mengapa kali ini kami berdua sok nekat karena berpikir bahwa hutan yang kami masuki tidak jauh dari basecamp (kabin, rumah peristirahatan yang terbuat dari kayu milik keluarga).

Awalnya saat memasuki hutan Turid menjadi pemandu mengajak saya menyusuri jalur lama yang biasa dilalui. Tak lama kemudian nampaklah hamparan yang kami cari, JAMUR KANTAREL yang jelas berwarna kekuningan.

Foto: Jamur kantarel, termasuk salah satu jamur populer di Norwegia yang lumayan mahal, harganya sekitar Rp 300 ribu/kg.
feli3

Mencari jamur kantarel ini susah-susah gampang dan gampang-gampang susah karena tumbuh di lokasi tertentu, di bawah pohon tertentu dengan pencahayaan dan kelembaban khusus. Jika sudah berpengalaman biasanya orang bisa tahu di mana jamur tersebut tumbuh dan hapal di luar kepala karena dari tahun ke tahun mereka akan tumbuh bergerombol di lokasi yang kurang lebih sama. Tidak sedikit pencari jamur yang menyembunyikan lokasi mereka menemukan jamur kantarel untuk mengurangi persaingan 🙂

Yang menjadi persoalan….meski Turid, ibu mertua lumayan sering memetik jamur kantarel beliau juga sering lupa dimana lokasi2x PASTI ditemukannya jamur sebelumnya serta hanya mengandalkan ILMU KIRA2x… Kira2x di dekat rawa ini, kira2x di dekat pohon besar sebelah sungai kecil tidak jauh dari jalur yang bercabang di turunan…nah loh….. BINGUNG KAN?. Tapi, karena sejauh ini acara memetik jamur kami selalu lancar saya tidak kuatir atau berpikir terlalu jauh tentang LOCAL WISDOM alias kearifan lokal versi ibu mertua ini 🙂

Mengandalkan teknologi modern sebetulnya sudah kami niatkan coba, yakni menyimpan koordinat di GPS tempat ditemukannya jamur kantarel dari musim sebelumnya… Sayangnya, setiap kami berburu jamur kami juga selalu lupa membawa GPS….dan internet di dalam hutan juga lemot alias sulit mendapat signal.

Foto: Gantungan pita…satu2xnya petunjuk jalan yang saya ingat dan hanya ada 2 buah saja…. *ngelap keringat*
feli5

Setelah memunguti jamur kantarel di lokasi pertama dan memasukkannya ke keranjang, kami lanjut berjalan ke arah kanan dan turun ke lembah.

“Feli, ayo kita haus ikuti jalur ini terus nanti setelah bercabang nggak jauh dari situ ada tempat jamur kantarel lagi…”, kata ibu mertua.

“Ok…” saya mengiyakan. Continue reading