Tersesat di Hutan

feli4

Buat saya, tersesat di jalan itu bukan hal yang aneh dan cukup kenyang dengan pengalaman ini. Mulai saat tiba pertama kali di Oslo, saat mengikuti pelatihan di London juga ketika berlibur bareng teman kuliah di Roma. Namun, gara2x kegiatan tahunan berburu jamur yang biasanya dilakukan sekitar akhir Agustus-September minggu lalu acara tersesat saya kali ini agak beda, yakni TERSESAT DI HUTAN

Untungnya acara tersesat kali ini ditemani oleh mertua perempuan, Turid yang meski hampir berusia 70 tahun namun masih kuat naik gunung, ski 30 kilometer, berenang di laut dan hiking di alam terbuka bersama anak, cucu dan teman2xnya. Sebagai mertua dan menantu, kami sering jalan bersama entah buat shopping, melihat pameran, ke museum, menikmati pertunjukan seni budaya, lunch/dinner berdua di luar rumah, ski, membuat kue bersama dll. Karenanya sering berinteraksi dengan beliau saya sebetulnya tahu bahwa Turid memiliki orientasi ruang serta navigasi yang agak kurang baik alias sering tersesat….seperti…ehm…. saya….*sambil melengos*

Saat masuk ke hutan selain dengan ibu mertua, bapak mertua (yang usianya sudah di atas 70 tahun tapi masih sporty seperti sang isteri) juga T (hubby) biasanya ikut menemani. Entah mengapa kali ini kami berdua sok nekat karena berpikir bahwa hutan yang kami masuki tidak jauh dari basecamp (kabin, rumah peristirahatan yang terbuat dari kayu milik keluarga).

Awalnya saat memasuki hutan Turid menjadi pemandu mengajak saya menyusuri jalur lama yang biasa dilalui. Tak lama kemudian nampaklah hamparan yang kami cari, JAMUR KANTAREL yang jelas berwarna kekuningan.

Foto: Jamur kantarel, termasuk salah satu jamur populer di Norwegia yang lumayan mahal, harganya sekitar Rp 300 ribu/kg.
feli3

Mencari jamur kantarel ini susah-susah gampang dan gampang-gampang susah karena tumbuh di lokasi tertentu, di bawah pohon tertentu dengan pencahayaan dan kelembaban khusus. Jika sudah berpengalaman biasanya orang bisa tahu di mana jamur tersebut tumbuh dan hapal di luar kepala karena dari tahun ke tahun mereka akan tumbuh bergerombol di lokasi yang kurang lebih sama. Tidak sedikit pencari jamur yang menyembunyikan lokasi mereka menemukan jamur kantarel untuk mengurangi persaingan🙂

Yang menjadi persoalan….meski Turid, ibu mertua lumayan sering memetik jamur kantarel beliau juga sering lupa dimana lokasi2x PASTI ditemukannya jamur sebelumnya serta hanya mengandalkan ILMU KIRA2x… Kira2x di dekat rawa ini, kira2x di dekat pohon besar sebelah sungai kecil tidak jauh dari jalur yang bercabang di turunan…nah loh….. BINGUNG KAN?. Tapi, karena sejauh ini acara memetik jamur kami selalu lancar saya tidak kuatir atau berpikir terlalu jauh tentang LOCAL WISDOM alias kearifan lokal versi ibu mertua ini :)

Mengandalkan teknologi modern sebetulnya sudah kami niatkan coba, yakni menyimpan koordinat di GPS tempat ditemukannya jamur kantarel dari musim sebelumnya… Sayangnya, setiap kami berburu jamur kami juga selalu lupa membawa GPS….dan internet di dalam hutan juga lemot alias sulit mendapat signal.

Foto: Gantungan pita…satu2xnya petunjuk jalan yang saya ingat dan hanya ada 2 buah saja…. *ngelap keringat*
feli5

Setelah memunguti jamur kantarel di lokasi pertama dan memasukkannya ke keranjang, kami lanjut berjalan ke arah kanan dan turun ke lembah.

“Feli, ayo kita haus ikuti jalur ini terus nanti setelah bercabang nggak jauh dari situ ada tempat jamur kantarel lagi…”, kata ibu mertua.

“Ok…” saya mengiyakan.

Kami pun lanjut berjalan mencari titik percabangan. Buat saya, jujur saja bahwa sekeliling kami semua terlihat sama, hanya pohon2x pinus, blueberry serta semak2x serta hamparan lumut dan runtuhan daun2x pinus yang mengering.

“Mana ya kok jalur ini nggak bercabang juga…hmmm, mungkin kita musti agak ke atas atau ke bawah ya???… Kamu lihat cabangnya nggak Fel?”, tanya ibu mertua lagi.

” Umm….nggak tuh, belum lihat cabangnya…mungkin kita musti jalan terus…” , jawab saya asal2xan karena nggak yakin.

Kurang lebih begitulah percakapan kami sepanjang perjalanan. Ibu mertua yang memimpin jalan dengan ilmu kira2xnya dan saya yang mengikuti dengan mencoba sesekali membantu… meski bantuan saya itu patut diragukan ketepatannya.

Foto: Ini jalan kok nggak jelas mana sih cabangnya???…
feli6

Kami lanjut berjalan, melewati aliran sungai kecil yang suaranya terdengar jernih, menanjak, menurun, sesekali jalur yang dilewati basah karena genangan air yang tertutup lumut serta semak2x membuatnya lembek saat diinjak. Setelah sekian lama masuk ke dalam hutan, akhirnya cabang yang dicari pun terlihat dan memang tidak jauh dari sana terlihat hamparan jamur kantarel.

Foto: Akhirnya, yang dicari pun terlihat😀
feli7

Selesai memenuhi keranjang dengan jamur kantarel, kami melanjutkan perjalanan ke titik berikutnya. Perlahan,butir2x gerimis mulai berjatuhan dan suhu pun terasa semakin dingin. Bagian sepatu yang kemasukan air membuat kaos kaki saya basah, hawa dingin pun semakin menggigit. Waktu saat itu menunjukkan pukul 3 sore, perlahan namun pasti mendung membuat langit semakin terlihat gelap.

Kami berjalan memutar, melewati rawa2x, turun ke bawah lembah, naik ke atas bukit…. sampai akhirnya tanpa sadar kami sudah kehilangan tanda2x alam yang sebelumnya masih dikenali. Tiba2x…. ibu mertua memekik kecil… “Fel, lihat itu!!! Itu ada kabin lain….. Kabin punya siapa???? Saya nggak tahu kalau ada kabin lain di sekitar wilayah hutan ini… Loh itu kok di kejauhan ada jalan kecil??? Kita ini ADA DIMANA????…”

Saya terkesiap melihat reaksi ibu mertua yang terlihat panik dan terkejut. Berbeda dengan reaksi normal orang tersesat yang bahagia bertemu peradaban, reaksi kami berdua rada mirip: KUATIR…. Kuatir siapa orang yang nekat mendirikan kabin di wilayah hutan pribadi milik keluarga? Apakah pelaku kriminal? Orang yang ingin bersembunyi di tengah hutan? Atau…jangan…jangan…. kami berdua sudah tersesat jauh hingga masuk ke wilayah hutan milik orang lain????…. Jika memang benar tersesat maka kami sudah tersesat lumayan jauh…

Foto: Kabin misterius
feli9

“Kita musti putar balik…” ibu mertua berkata dengan suara sedikit gemetar, mungkin karena kedinginan, rambut dan jaketnya terlihat basah karena air hujan….”Tapi putar balik kemana???… Kita harus telepon T supaya dia bisa berteriak dari kabin dan kita ikuti asal suaranya”

Dengan patuh, saya menghubungi T lewat telepon. Untung baterai HP di-charge penuh tadi malam, nampak sinyal bergaris satu di HP. “T, kayaknya kita tersesat nih, kita nggak tahu seberapa jauh dari kabin, coba deh kamu teriak…nanti kita akan ikuti asal suara kamu….” saya tutup telepon dengan harapan bisa mendengar suara T yang saat itu ada di kabin, mudah2xan tidak terlalu jauh dari lokasi kami.

HALOOOOOO!!!!!…..” suara T terdengar lamat2x…. tapi diikuti oleh “haloooo…..halloooo…..halloooooo....” alias echo atau gema suara.

Oppss…. kami lupa memperhitungkan posisi kabin keluarga yang ada di atas bukit dan diapit lembah serta bukit2xlainya membuat suara hubby menjadi bergema dan sulit diperkirakan arah asalnya.

“Asal suaranya sepertinya dari arah kiri atas, ayo kita ke sana!” kata ibu mertua sambil menunjuk arah hamparan padang yang terbuka dan pohon2x tinggi di bukit di belakangnya.

Kami lanjut berjalan menuju arah padang terbuka itu, melewati jalur yang tidak mudah dilalui karena penuh timbunan ranting2x pohon besar dan kecil yang ditebang serta lubang memanjang di tanah bekas jalur traktor yang dipenuhi air sedalam hamper setengah meter. Hujan pun semakin deras dan celana saya yang tadi lumayan kering kini sudah sebagian basah karena rembesan air hujan.

Namun, setelah tiba di bukit belakang hamparan padang terbuka Nampak pohon2x tinggi yang rapat menutup jalan kami. Ini adalah jalur yang sangat asing dan tidak Nampak satupun tanda2x alam yang familiar di mata.

Wah, ini nggak bener….kita nggak pernah ke sini….saya betul2x bingung…. semua terlihat sangat asing…”, kata ibu mertua.

“Saya telpon T lagi ya supaya dia teriak lagi…”, sambil mengeluarkan HP dari saku jaket saya melihat bahwa baterai sudah tinggal separuhnya. Upaya membuka Google Maps yang gagal karena koneksi internet terlalu lambat sebelumnya memakan cukup banyak bateri.

Halllooooo….hallooooo…..hallooooo…..hallloooo……”, tak lama suara T terdengar dari kejauhan berikut gemanya. Ada sedikit kekuatiran karena suara tadi terdengar semakin lamat2x dari arah yang berlawanan dari sebelumnya….

“Loh…kok malahan dari arah berlawanan….Ayo kita putar balik!”, kata ibu mertua

“Bagaimana kalau kita balik ke arah kabin asing yang kita lihat tadi dan lanjut ke arah jalan setapak di kejauhan di bawahnya, mungkin akan memudahkan orang menemukan kita?”, saran saya.

“Iya, ide yang bagus….tapi dimana kabin tadi???? juga jalan tadi???….. kita sudah lumayan jauh….”, ibu mertua berkata lirih.

Sekitar 2 jam selanjutnya kami sepertinya hanya BERPUTAR2x, naik, turun, keluar-masuk rimbunan pepohonan. Saya juga sudah bolak-balik meminta T berteriak dari kejauhan…kali ini suara T sudah hampir menghilang, sinyal HP juga dan baterai telepon sudah sepertiganya.

…WE ARE OFFICIALLY LOST……. pikir saya dalam hati dan mulai mempersiapkan skenario terburuk:

1. Jika harus bermalam di hutan, hawa dingin dan basah karena hujan akan jadi tantangan terbesar. Buat makanan masih ada sebatang coklat, buah berries yang tumbuh liar dan air di aliran sungai kecil yang mengalir di sekitar kami.
2. Menelpon tim SAR untuk minta pertolongan, namun biasanya tim baru dikirim setelah kita hilang di hutan lebih dari 6 jam…. kami baru ada di hutan sekitar 3,5 jam saja…apakah harus menunggu beberapa jam lagi saat gelap sementara kabut mulai turun, suhu semakin dingin dan hujan semakin deras????
3. Mengandalkan hubby buat menolong kami sementara baterai HP semakin berkurang dan sinyal internet sangat lambat.

Saat mencoba menghubungi T untuk mungkin ke-dua puluh kalinya HP T tiba2x selalu sibuk dan tak dapat dihubungi… Ini membuat saya dan ibu mertua menggerutu dan kesal karena T seperti tidak menyadari ke-kritisan kondisi kami.

Belakangan saya tahu bahwa T menelpon adiknya yang techno-freak buat memakai aplikasi ‘find my iphone’ dengan memakai nomor saya dan ibu mertua. Tapi, apa gunanya jika kami sendiri tidak tahu harus menuju kemana?

Setelah lama berjalan, nampak sebuah rawa2x besar. Ibu mertua berteriak: “ Lihat Feli rawa itu sepertinya familiar….Kita harus jalan memutar ke sebelah kiri!” Saya merasa sudah pasrah dan tidak terlalu berharap kami akan segera menemukan jalan pulang secepatnya. Yang ada hanya rasa kesal karena kurangnya persiapan memasuki hutan dan menganggap remeh resiko tersesat. Lebih kesal lagi karena semua ilmu2x canggih tentang survival, bertahan hidup di alam bebas yang saya baca di mailing list grup pencinta alam, grup pendaki gunung serta acara2x adventure yang dilihat di National Geographic dan sejenisnya seperti hilang semua tanpa bekas, dalam kenyataannya tips2x dan trik2x buat navigasi dan menemukan arah tadi tidak ada yang saya ingat sama sekali….selain mencari sumber makanan dan air.

Setelah jalan memutar, saya melihat pita yang tergantung di salah satu ranting pohon…. Loh….bukannya ini TANDA PENGINGAT JALAN YANG KITA LIHAT sebelumnya !!!! Berarti kami kembali ke arah yang benar…dengan TANPA SENGAJA …😀
Kami lanjut berjalan menyusuri jalur tadi, tak lama sinyal HP kembali muncul dengan kuat. Saya menelpon T yang berjanji akan turun menemui kami di jalur yang sama di arah berlawanan.

Sekitar 30 menit kemudian nampak seseorang berjalan di kejauhan, yep, tak salah lagi …itu adalah T… yang terlihat sedikit basah karena tampias air hujan di wajahnya. Ia kemudian menghampiri kami dan mengambil alih keranjang2x berisi jamur dari tangan kami.

Setelah kami tiba di kabin keluarga saya dan ibu mertua segera mengganti celana panjang, kaos kaki dan jaket yang basah juga melepas sepatu yang kuyup dan menaruhnya di dekat perapian. Sambil menyeruput segelas teh hangat yang disiapkan oleh T di meja saya bertanya:
“Kamu tadi kuatir nggak?”
“Nggak…Soalnya Mama sudah langganan tersesat…kamu juga…jadi NGGAK KAGET lagi…”, jawab T enteng. “Kamu sendiri juga nggak kuatir kan?…malahan diam2x senang soalnya bisa ada bahan buat ditulis di blog…hayoooo, ngaku aja…” T bukannya bersimpati tapi malahan meledek.
“Ummm…iya sih…saya berharap dijemput helikopter SAR…kan keren tuh, pengalaman yang jarang dialami…”, timpal saya.
“Helikopter SAR??? Really???? Itu mah kalau ada korban yang sakit atau luka serius… Kalian kelihatannya masih bisa jalan… cuma basah sama kedinginan saja, paling nanti kalau ada tim SAR dijemputnya sama ANJING PELACAK…itu juga setelah kalian tersesat berjam2x sampai malam hari…”, T melanjutkan kata2x ‘penghiburan’-nya. Hehe🙂

Kalau mau jujur, bayangan harus bermalam di hutan dengan hawa dingin, gelap dan basah2xan membuat saya jiper…ditambah gonggongan anjing pelacak yang sepertinya bukan sesuatu yang nyaman.

Tak lama kemudian, di kejauhan kami melihat kabut tebal turun di hutan tempat saya dan ibu mertua tersasar selama beberapa jam. Dalam hati saya bersyukur kami sudah aman berada di dalam kabin keluarga dengan minuman hangat dan pakaian kering.

Saya jadi teringat beberapa saat sebelum tersesat, dalam perjalanan menuju kabin base camp ibu mertua tiba2x meminta hubby menghentikan mobil di jalan yang kami lewati karena melihat hamparan jamur kantarel. Usai memetik jamur2x kantarel beliau menandai batang pohon dengan tanda X dengan sayatan pisau.
“ Dengan tanda X di pohon, tahun depan kita jadi tahu dimana bisa menemukan tempat ini lagi. Bagaimana???? Kelihatan kan Fel tandanya????” tanya ibu mertua ke saya dengan nada yakin sambil melihat ke arah saya yang hanya berdiri di kejauhan.
“Ummm….nggak kelihatan tuh Turid…. Tahun depan mungkin tandanya sudah hilang juga…”, jawab saya dengan jujur.
“Masak sih?….pasti kelihatan lah…” , kata ibu mertua masih dengan nada yakin.

Yah…baiklah….Sepertinya saya harus SIAP2X TERSESAT LAGI di musim panen jamur kantarel tahun depan… 🙂

feli8

TABIK

20 thoughts on “Tersesat di Hutan

  1. Jenny

    Cantik sekali kantarelnyaaa … aku belum pernah ketemu yg tumbuhnya sampe menghampar gitu. Bisa ngerasain ga enaknya tersesat sambil kehujanan. Wong waktu itu aku camping+fishing sama suami tapi kemudian hujan deras dan di mana2 jadi becek hutannya, udah ga betah aja. Pingin cepet2 balik rumah, mandi ganti baju kering dan minum coklat panas. Suami sih tenang2 aja. Katanya “So what klo hujan? Wong juga cuma air kan?!”🙂
    Welehhhh …

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hai….iya, paling seneng ketemu kantarel yang menghampar…. ngga sia2x rasanya perjuangan mencarinya… Sama nih, T juga pernah lagi di atas puncak gunung ada awan hitam, hujan mulai turun dan berkabut dan gw rada panik dikit dia malahan nyantai sambil bilang: “…Yah itu kan cuma air… yang penting kita ngga basah dan ngga kedinginan.” Untung sudah persiapan jas hujan dan baju hangat. Ortu gw juga sempet heran kenapa orang sini nyantai aja sama hujan…padahal di Indonesia hujan baru turun sebentar orang sudah panik dan lari ke sana ke sini🙂

      Reply
  2. arinidm

    Mbak saya kayaknya nggak punya jiwa petualang deh, soalnya saya itu paliiing takut tersesat. Misalnya mau nuju ke daerah A trus suami pengen nyoba rute lain tapi rupanya nggak nyampe-nyampe, wah kalo udah gitu kadang jadi suka deg-deg-an, rasanya jd nggak nyaman aja, apalagi kalo jalan tersebut tiba-tiba sepi atau gada lampu jalan yang hidup pas malam hari, pasti jd khawatir rengek-rengek minta segera balik arah, walaupun ujung-ujungnya nyampe juga sih, hehehe. Padahal suami mah lempeng aja, malah dia seneng jadi tau daerah baru.

    Reply
    1. Felicity Post author

      Saya aslinya suka bertualang tapi nggak berani sendirian, hihi…. Takut home alone di rumah, takut gelap dll. Kalau sedang monitoring project di lapangan dan menginap di desa yang jarak ke toiletnya beberapa puluh meter di luar rumah dan tanpa listrik saya minta bantuan staf lokal buat menemani dengan senter…Kalau T (suami) dinas luar saya akan mengungsi di rumah mertua…🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s