Monthly Archives: October 2015

Foto Keluarga: Sebuah Perjuangan :)

felice2

Memasuki rumah2x keluarga di Indonesia bukan hal yang aneh jika kita melihat foto2x anggota keluarga baik sendiri atau bersama2x dalam ukuran besar yang dibingkai pigura atau dalam bentuk kanvas seperti lukisan. Momen2x yang direkam dalam foto2x tadi biasanya acara2x resmi atau penting buat keluarga tersebut seperti wisuda, pernikahan, lamaran dsb. Karenanya objek dalam foto tadi kebanyakan orang2x yang sedang tersenyum menghadap kamera dengan balutan baju tradisional, baju wisuda, batik atau baju seragam khusus.

Ada juga foto keluarga yang lebih alternatif seperti di alam terbuka atau di studio dengan berbagai gaya plus properti khusus buat sesi foto bersama. Buat saya, foto2x tadi seakan bisa merekam kehangatan dan keakraban keluarga, rona2x emosi yang terpancar di wajah mereka membuat kita seakan bisa ikut bisa merasakan apa yang dirasakan saat foto diambil. Nah, keluarga besar T (suami) belum pernah sekalipun memiliki foto keluarga dimana para anak, menantu, cucu lengkap semua ada di dalamnya. Sayangnya selain orang dewasa dalam keluarga T memiliki tingkat kenarsisan yang rendah, mengumpulkan 5-6 anak kecil itu bukanlah hal yang mudah.

Kesempatan datang sebulan lalu ketika kami bersama menghadiri upacara pemberian nama (navnedag) dari adik T yang baru memiliki seorang putri di kantor catatan sipil Oslo. Yang kalau dibandingkan mungkin mirip dengan upacara pembaptisan dalam gereja. Dalam acara yang formal ini kebanyakan orang tua dan anggota keluarga datang dengan baju resmi atau bunad (pakaian tradisional Norwegia). Sebuah momen yang pas untuk mengambil foto keluarga besar bukan? 🙂

Foto: Upacara pemberian nama anak di kantor catatan sipil Oslo
felice1

Continue reading

Ketika Sakit di Negeri Orang

feli2


Sakit itu nggak enak loh…. bener…
🙂 Apalagi jika kita sakit saat sedang merantau seorang diri di negeri orang, jauh dari teman dan keluarga di Indonesia seperti yang saya alami saat masih kuliah di dulu (di Belanda)…rasanya seperti menjadi orang paling merana sedunia deh, hehe… *lebay*

‘Untunglah’ (tetep harus bersyukur…) untuk edisi sakit kali ini di Norwegia yang mengharuskan saya cuti 2 minggu dari pekerjaan saya tidak sendirian karena ada suami yang bisa disuruh2x dimintai tolong buat melakukan ini-itu dan mengambil alih tugas2x yang sebelumnya dilakukan di rumah.

Jika dibandingkan, ada beberapa perbedaan terhadap orang sakit di Norwegia dan di Indonesia antara lain:

1. Bebas dari pertanyaan : “Kamu sakit apa?”
Menanyakan dan membahas penyakit seseorang di Indonesia mungkin merupakan topik percakapan yang dianggap biasa. Sementara, di Norwegia ini termasuk PRIVACY tingkat tinggi yang harus dihargai karena tidak semua orang merasa nyaman membicarakan kondisi kesehatannya.

Secara psikologis, pandangan seseorang tentang penyakitnya sendiri pun berbeda2x. Di Indonesia misalnya, mungkin ada yang memandang ini sebagai aib yang harus ditutupi, ada yang memandang sebagai bagian dari persoalan sehari2x, ada yang memandang sebagai ujian dari Tuhan, ada yang memandang sebagai karma, kutukan atau balasan bahkan ada yang memandang penyakit sebagai kiriman dari musuh atau orang yang tidak suka padanya lewat ilmu hitam dll. Intinya, penyakit bisa dilihat sudut pandang yang bervariasi mulai dari yang positif, netral sampai negatif dan gelapppp…pekatttt…sangatttt……. haiyahhh….

Bagaimana di Norwegia?
Pandangan tentang penyakit di sini lebih sering dilihat dari aspek ilmiah dan logis dan wacana diskusi tentang penyebab penyakit banyak dihubungkan dengan faktor genetis (keturunan), lifetyle (gaya hidup) maupun diet (makanan). Jangan coba2x bicara tentang santet atau klenik di sini…karena dijamin 1000% akan mendapat respon negatif dan lawan bicara tadi akan menganggap kita tidak rasional dan aneh.

Kemungkinan besar, alasan orang Norwegia enggan membicarakan penyakit secara terbuka karena memang orang di sini cenderung tertutup dan tidak biasa membicarakan tentang situasi dirinya kepada orang lain karena berbagai alasan apalagi jika si penanya (jika ada yang nekat bertanya) adalah orang yang tidak terlalu dekat. Hak untuk menolak membicarakan penyakit juga dijamin di tempat kerja. Jika merasa tidak nyaman menjawab pertanyaan “Kamu sakit apa?” dari kolega bahkan atasan kita bisa menolak menjawab dengan sopan dan bilang: “Sorry, saya nggak mau membicarakan penyakit saya”.

Surat keterangan cuti dari dokter atau rumah sakit pun dibuat beberapa rangkap (buat dokter/rumah sakit, buat pasien, buat kantor (pemberi kerja), buat lembaga jaminan sosial jika ingin mendapat tunjangan). Dari salinan surat keterangan cuti tadi hanya salinan untuk pasien dan dokter/rumah sakit saja yang kolom ‘Jenis Penyakit’ dalam formulir diisi jelas. Sementara kolom ini dikosongkan dalam salinan ke pihak pemberi kerja dan lembaga eksternal.

Buat saya, bebas dari kewajiban moral menjawab pertanyaan “Kamu sakit apa?” adalah sebuah kelegaan tersendiri. Karena biasanya jika sedang di tanah air atau bertemu rekan setanah air di perantauan, satu jawaban yang diberikan akan disambung dengan tambahan pertanyaan2x lain yang membuat saya merasa menjadi objek penyelidikan entah karena memang yang bersangkutan bersimpati atau sekedar kepo atau ingin tahu. Yah, mungkin karena faktor kebiasaan juga dimana menanyakan penyakit dalam kultur Indonesia barangkali dianggap sebagai bentuk perhatian (sama dengan menanyakan keturunan, status perjombloan, mengomentari berat badan yang tambah naik atau tambah kurus, mengomentari warna kulit yang semakin putih atau makin gosong dll). Continue reading

Culture Shock di Tempat Kerja

felice1

Meski sudah tinggal dan bekerja cukup lama di Norwegia saya masih menghadapi CULTURE SHOCK atau kejutan2x budaya dalam keseharian yang muncul tanpa terduga.

SAAT MELAMAR KERJA
Jika diperhatikan, di Indonesia, standar informasi yang tertulis di CV (Daftar Riwayat Hidup) adalah:

Nama Lengkap,Tempat Tanggal Lahir, Jenis Kelamin, Agama, Status Perkawinan, Jumlah Anak, Alamat Rumah, No Telepon, Pas Foto

kadang ada tambahan

Tinggi dan Berat badan, Nama Isteri/Suami, Golongan Darah, Suku

…padahal kalau dipikir2x beberapa item dari informasi yang diberikan di atas sebetulnya tidak terlalu jelas apa relevansi dan kegunaannya dan patut dipertanyakan mengapa harus tertulis di CV. Namun, karena sudah menjadi praktek dan kebiasaan biasanya kita ikut2xan menggunakan pakem yang berlaku. Informasi2x di atas juga rentan menjadi sumber diskriminasi misalnya pelamar dengan agama atau suku tertentu yang mungkin diistimewakan atau mungkin malah dianak-tirikan.

Di Norwegia dan sejumlah negara Eropa, beberapa informasi di atas justru dilarang dan dianggap TABU untuk ditanyakan oleh pemberi kerja dari calon pelamar khususnya info tentang AGAMA dan FOTO DIRI. Di negara yang sangat amat menghargai PRIVASI individu ini, menanyakan AGAMA adalah sesuatu yang sangat BIG NO saat ada interview kerja. Kita bisa menolak untuk menjawab atau bahkan protes tentang hal ini ke pihak manajemen yang lebih tinggi.

Informasi lain yang dapat kita tolak untuk berikan saat interview antara lain: STATUS PERKAWINAN dan TAHUN KELAHIRAN. Hal ini untuk menghindari diskriminasi berdasarkan agama atau keyakinan, usia dan penampilan. Foto diri tidak boleh ditampilkan karena dari foto akan terlihat jelas usia, etnis, warna kulit, cantik/ganteng atau tidaknya seseorang yang akan membuat pelamar rentan mengalami perlakuan tidak adil karena hal ini.

Sementara informasi tentang golongan darah dianggap tidak relevan (lahhh… ini kan buat melamar kerja….bukan mau menyumbang darah?!!!), tinggi dan berat badan (buat apa informasi ini? kalau kita ternyata terlalu tinggi kenapa dan kalau terlalu pendek juga kenapa? apa pentingnya? apakah menyangkut ukuran pintu masuk kantor yang dikuatirkan terlalu tinggi atau pendek?), nama isteri/suami (hmmmm, ingat…ingat….ini buat melamar kerja loh …..bukan menulis surat wasiat atau polis asuransi jiwa), jumlah anak (yeah, so what?).

Memang ada beberapa pekerjaan yang menuntut kriteria fisik khusus seperti tinggi badan buat pilot pesawat tempur (yang ukuran kokpitnya memang tertentu) atau pekerja sosial yang diutamakan dari etnis A atau B misalnya untuk menangani pengungsi yang juga berasal dari etnis atau daerah yang sama dimana diharapkan kesamaan latar belakang ini akan dapat memudahkan komunikasi dan memiliki sensitifitas kultural yang lebih baik dll. Biasanya syarat2x khusus ini akan diinformasikan dengan jelas berikut alasannya dan latar belakang mengapa ini diminta.

Setelah pasti kita diterima bekerja dan tanda tangan kontrak barulah informasi lebih detil diminta seperti nama isteri/suami, nama orang yang dapat dihubungi saat ada emergency berikut hp dan emailnya, golongan darah dsb untuk disimpan di data base jika sewaktu2x dibutuhkan.

Saat interview pun bukan hal yang aneh jika ada perwakilan dari Labor Union atau serikat pekerja yang netral buat menjamin bahwa diskriminasi tidak terjadi. Awalnya saya sempat bengong menyadari ada perwakilan serikat pekerja saat interview dan sempat berpikir memangnya penting gitu ya?... kemudian rasa tadi berubah menjadi bengong (teteppp…) bercampur takjub dan terharu mendengar alasan mengapa yang bersangkutan ada di sana. Nampaknya orang2x di sini memang serius untuk memastikan tidak ada diskriminasi bahkan buat seorang imigran seperti saya yang notabene pendatang. Saya ini apa atuh…

feli13

PERCAKAPAN DARI HATI KE HATI
Salah satu aktivitas rutin tahunan yang umum dilakukan di kantor2x Norwegia adalah MEDARBEIDESAMTALE yang terjemahan bebasnya kurang lebih percakapan (empat mata) antara ATASAN dan BAWAHAN. Continue reading