Culture Shock di Tempat Kerja

felice1

Meski sudah tinggal dan bekerja cukup lama di Norwegia saya masih menghadapi CULTURE SHOCK atau kejutan2x budaya dalam keseharian yang muncul tanpa terduga.

SAAT MELAMAR KERJA
Jika diperhatikan, di Indonesia, standar informasi yang tertulis di CV (Daftar Riwayat Hidup) adalah:

Nama Lengkap,Tempat Tanggal Lahir, Jenis Kelamin, Agama, Status Perkawinan, Jumlah Anak, Alamat Rumah, No Telepon, Pas Foto

kadang ada tambahan

Tinggi dan Berat badan, Nama Isteri/Suami, Golongan Darah, Suku

…padahal kalau dipikir2x beberapa item dari informasi yang diberikan di atas sebetulnya tidak terlalu jelas apa relevansi dan kegunaannya dan patut dipertanyakan mengapa harus tertulis di CV. Namun, karena sudah menjadi praktek dan kebiasaan biasanya kita ikut2xan menggunakan pakem yang berlaku. Informasi2x di atas juga rentan menjadi sumber diskriminasi misalnya pelamar dengan agama atau suku tertentu yang mungkin diistimewakan atau mungkin malah dianak-tirikan.

Di Norwegia dan sejumlah negara Eropa, beberapa informasi di atas justru dilarang dan dianggap TABU untuk ditanyakan oleh pemberi kerja dari calon pelamar khususnya info tentang AGAMA dan FOTO DIRI. Di negara yang sangat amat menghargai PRIVASI individu ini, menanyakan AGAMA adalah sesuatu yang sangat BIG NO saat ada interview kerja. Kita bisa menolak untuk menjawab atau bahkan protes tentang hal ini ke pihak manajemen yang lebih tinggi.

Informasi lain yang dapat kita tolak untuk berikan saat interview antara lain: STATUS PERKAWINAN dan TAHUN KELAHIRAN. Hal ini untuk menghindari diskriminasi berdasarkan agama atau keyakinan, usia dan penampilan. Foto diri tidak boleh ditampilkan karena dari foto akan terlihat jelas usia, etnis, warna kulit, cantik/ganteng atau tidaknya seseorang yang akan membuat pelamar rentan mengalami perlakuan tidak adil karena hal ini.

Sementara informasi tentang golongan darah dianggap tidak relevan (lahhh… ini kan buat melamar kerja….bukan mau menyumbang darah?!!!), tinggi dan berat badan (buat apa informasi ini? kalau kita ternyata terlalu tinggi kenapa dan kalau terlalu pendek juga kenapa? apa pentingnya? apakah menyangkut ukuran pintu masuk kantor yang dikuatirkan terlalu tinggi atau pendek?), nama isteri/suami (hmmmm, ingat…ingat….ini buat melamar kerja loh …..bukan menulis surat wasiat atau polis asuransi jiwa), jumlah anak (yeah, so what?).

Memang ada beberapa pekerjaan yang menuntut kriteria fisik khusus seperti tinggi badan buat pilot pesawat tempur (yang ukuran kokpitnya memang tertentu) atau pekerja sosial yang diutamakan dari etnis A atau B misalnya untuk menangani pengungsi yang juga berasal dari etnis atau daerah yang sama dimana diharapkan kesamaan latar belakang ini akan dapat memudahkan komunikasi dan memiliki sensitifitas kultural yang lebih baik dll. Biasanya syarat2x khusus ini akan diinformasikan dengan jelas berikut alasannya dan latar belakang mengapa ini diminta.

Setelah pasti kita diterima bekerja dan tanda tangan kontrak barulah informasi lebih detil diminta seperti nama isteri/suami, nama orang yang dapat dihubungi saat ada emergency berikut hp dan emailnya, golongan darah dsb untuk disimpan di data base jika sewaktu2x dibutuhkan.

Saat interview pun bukan hal yang aneh jika ada perwakilan dari Labor Union atau serikat pekerja yang netral buat menjamin bahwa diskriminasi tidak terjadi. Awalnya saya sempat bengong menyadari ada perwakilan serikat pekerja saat interview dan sempat berpikir memangnya penting gitu ya?... kemudian rasa tadi berubah menjadi bengong (teteppp…) bercampur takjub dan terharu mendengar alasan mengapa yang bersangkutan ada di sana. Nampaknya orang2x di sini memang serius untuk memastikan tidak ada diskriminasi bahkan buat seorang imigran seperti saya yang notabene pendatang. Saya ini apa atuh…

feli13

PERCAKAPAN DARI HATI KE HATI
Salah satu aktivitas rutin tahunan yang umum dilakukan di kantor2x Norwegia adalah MEDARBEIDESAMTALE yang terjemahan bebasnya kurang lebih percakapan (empat mata) antara ATASAN dan BAWAHAN.

Percakapan antara atasan dan bawahan ini dilakukan setidaknya setahun sekali yang berlangsung sekitar 1-2 jam. Lokasi percakapan bisa dilakukan di luar kantor (di taman, di cafe dll...asik kan😀 ….) atau di ruang khusus yang menjamin privacy. Kesepakatan tidak tertulis mengharuskan bahwa apa yang ada di percakapan ini bersifat rahasia. Atasan tidak boleh membocorkan isi percakapan ke orang lain, sementara bawahan juga demikian.

Isi dari percakapan ini kurang lebih ada beberapa poin seperti:
-Apa yang dirasakan si pekerja (bawahan) tentang beban kerjanya? Apakah ada keluhan, kesulitan, hambatan? Apa yang bisa dilakukan bersama agar kesulitan tadi bisa diatasi?
-Apakah ada harapan2x yang belum tercapai? Mengapa? Bagaimana solusi terbaik dalam mencapai harapan tadi?
-Bagaimana refleksi pekerja tentang rekan kerja, tentang atasan, tentang kantor? Apakah ada hal2x yang mengganjal? Bagaimana solusi bersama?
-Poin2x bersama apa saja yang akan difollow-up dari percakapan tersebut?

Tahun ini PERCAKAPAN ATASAN-BAWAHAN saya dijadwalkan hari ini dan bos meminta saya mengisi skema percakapan berisi pertanyaan2x yang harus diisi berisi antara lain: apa yang kita anggap sebagai TUGAS, apa yang kita anggap sebagai TARGET dan bagaimana statusnya (memuaskan atau tidak).

Pertanyaan2x dalam skema tersebut menurut saya SANGAT AMAT ANEH karena pekerja atau kita sendiri yang diminta mengisi apa saja yang kita anggap sebagai TUGAS atau Job desk kita (lah, kan harusnya sudah ada di Terms of Reference saat kita dipekerjakan???). Pertanyaan : “Apa saja HASIL YANG DIHARAPKAN?” (bukankah seharusnya ATASAN menentukan TARGET dari kita, BUKAN KITA SENDIRI?). Ibaratnya kita mendapat pertanyaan: “Ayo tentukan sendiri apa yang jadi tugas kamu dan apa yang dituntut kantor dari kamu!”

Hal ini sempat saya protes ke atasan kurang lebih:

Me: “Kenapa saya harus isi skema yang aneh dan tidak masuk akal ini sendiri. Saya bisa mengarang bebas dan ‘jualan kecap’ dong?”

Boss: “Karena kamu harus bisa mengukur sendiri apa sebetulnya yang jadi tugas utama kamu,hasil yang diharapkan dari kamu dan apa yang kamu rasakan sejauh ini tentang tugas2x kamu sendiri…”

(Hmmmmmm….sebuah penjelasan yang masuk akal….)

Me: “I see…. kayaknya saya mengalami culture shock deh. Di Indonesia itu pekerja tinggal mengikuti apa isi deksripsi pekerjaan dia yang dibuat atasan dan memenuhi target yang ditetapkan, bukan menulis sendiri deskripsi kerja dan target kayak di sini”

Boss: “Iya, di sini memang beda, peran atasan adalah membantu supaya bawahannya bisa melakukan refleksi diri dan menemukan kompromi buat hasil yang terbaik bersama2x supaya masing2x pihak bisa puas. Skema ini dibuat supaya jelas apa saja poin2x penting buat difollow-up buat direview di percakapan kita seperti ini selanjutnya. Kalau kamu kesulitan mengisi skema ini ayo kita isi bersama2x….”

Mendengar jawaban si Boss saya jadi tersentuh…. begitu seriusnya ternyata pihak kantor memastikan kepuasan pekerjanya…. dan betapa baiknya sang boss membantu anak buah yang sedang mengalami culture shock ini 😀

Poin selanjutnya yang kami diskusikan adalah tingkat kepuasan saya tetang lingkungan kerja, hubungan dengan kolega, harapan pribadi yang belum tercapai di tempat kerja dan pendapat serta masukan tentang leadership alias kepemimpinan si boss…

(coba bayangkan….mimpi apa saya sampai diijinkan bahkan diminta mengeluarkan unek2x….termasuk mengomentari kinerja dan style memimpin atasan….Seriously?….Ah, dunia kerja di negara ini memang sungguh aneh dan tak masuk akal...)

Di Indonesia, sebagai pekerja atau bawahan mungkin saya kita terbiasa DIDIKTE, DIPERINTAH, DIARAHKAN dan DIKONDISIKAN tidak boleh memprotes atasan. Di Norwegia, justeru pekerja diminta buat bias BEREFLEKSI, MEMBERI MASUKAN, MEMPERTANYAKAN jika ada hal2x atau kebijakan2x yang dianggap tidak adil, tidak sesuai dengan keinginan pekerja dan dianggap merugikan. Kalau dipikir2x mungkin sistem manajemen dan kepemimpinan yang egaliter membuat orang2x di Norwegia khususnya para atasan jauh lebih dewasa menghadapi kritik dan masukan ketimbang para bos di tanah air yang dianggap nyaris setengah dewa.

Nah, ’aneh’ kan?

PECAT-MEMECAT
Keanehan dan keajaiban atau anomali lain dalam dunia pekerjaan di sini yang saya jumpai terkait dengan urusan pecat -memecat.

HAK2x PEKERJA di Norwegia memang terlalu sangat dilindungi dan HUKUM PERBURUHAN dijunjung tinggi oleh para pihak. Menyadari bahwa mencari tenaga kerja berkualitas itu tidak mudah (mungkin karena jumlah penduduk yang sedikit? Entahlah) maka PEKERJA di sini dianggap sebagai ASET yang harus dijaga dan dijamin kesejahteraan serta kepuasannya dalam bekerja.

Selain jatah libur yang melimpah, jatah cuti, upah minimum, peluang mengembangkan diri pekerja juga dilindungi dari kemungkinan dipecat dengan semena2x. Pengusaha atau kantor yang melanggar aturan akan menerima sanksi sangat berat dari pihak berwenang.

Sayangnya hal semacam ini juga dapat menjadi PISAU BERMATA DUA yang merugikan pihak pengusaha atau pemberi kerja. Karena begitu kuatnya perlindungan terhadap pekerja maka MEMECAT seseorang yang dianggap tidak bekerja maksimal menjadi SANGAT AMAT SULIT, apalagi jika orang tersebut berstatus pekerja tetap.

Dalam hal seperti ini saya kadang nggak habis pikir….mengapa justeru si pekerja atau orang yang salah yang justeru berada di atas angin???? Dunia sudah terbolak-balik sepertinya…

Di Norwegia, seorang pekerja dengan kontrak2x pendek yang sudah bekerja berturut2x selama 4 tahun WAJIB diangkat menjadi PEKERJA TETAP apapun keadaan perusahaannya. MEMECAT seseorang adalah hal yang tidak mudah dilakukan meski sudah jelas bahwa si yang bersangkutan tidak memenuhi target pekerjaan, sering bolos kerja, tidak produktif dsb.

Perusahaan T pernah kesulitan saat mereka mendapat direktur baru yang setelah 1 tahun bekerja ternyata diketahui tidak memuaskan kinerjanya, memiliki hubungan kerja buruk dengan bawahan dan menimbulkans suasana kantor yang tidak kondusif. Setelah melalui proses alot dan diskusi2x panjang antar staf, diskusi dengan pihak dewan pengawas dan pemegang saham akhirnya disepakati untuk ‘MENGIJINKAN’ si direktur buat ‘MENGUNDURKAN DIRI’ .

Aslinya, yang sesungguhnya terjadi adalah si direktur di atas menolak mengundurkan diri (alias ndablek…) meski dia sangat tidak populer dan tidak diinginkan lagi. Dia baru mau keluar dengan catatan statusnya adalah ‘MENGUNDURKAN DIRI’ , dengan kompensasi 9 bulan gaji (meski yang bersangkutan baru bekerja setahun) dan pihak perusahaan harus memberikan REFERENSI yang baik tentang dirinya jika di kemudian hari ada yang bertanya mengenai kinerja yang bersangkutan. Sungguh orang yang betul2x tidak tahu diri *menghela nafas*

Bukan hal yang aneh jika seorang PEKERJA BIASA yang bekerja di bawah 4 tahun yang diberhentikan (rata2x dengan hormat, baru dianggap tidak hormat kalau sudah melibatkan kasus kriminal) akan mendapat kompensasi MINIMAL 3 bulan gaji. Kompensasi ini dianggap untuk menutup pengeluaran selama proses yang bersangkutan mencari pekerjaan baru.

Tidak jarang pekerja tadi mendapat pekerjaan baru sebelum 3 bulan, jadi yang bersangkutan mendapat 2 gaji, satu dari kantor lama dan dari kantor baru. Ini juga biasanya berlaku buat pekerja yang diberhentikan karena dianggap tidak memenuhi target dan tidak produktif. Meski sudah jelas2x si pekerja yang salah namun pihak perusahaan sangat berhati2x dan tidak mau terlihat semena2x. Repot juga….

Tentu saja ada pihak2x yang melanggar ketentuan perburuhan di Norwegia, tapi ini sebagian kecil saja. Ada mekanisme pengaduan khusus yang sungguh ditegakkan lewat beberapa jalur jika kita mengalami diskriminasi baik mekanisme internal, lewat serikat buruh atau Labor Union (jika kita jadi anggota) atau lewat lembaga ombudsman khusus buat anti diskriminasi.

Harapan saya, semoga Indonesia bisa menjadi negara yang sungguh2x melihat pekerja sebagai aset perusahaan dan bukan hanya sekedar ‘sapi perah’ atau ‘kuda pekerja’ untuk mengejar target semata, karena PEKERJA juga MANUSIA (bukan sapi atau kuda ya….) karenanya perlu diperlakukan secara layak dan manusiawi. Ah, semoga saja.

 

****

26 thoughts on “Culture Shock di Tempat Kerja

  1. denie

    Hi feli, salam kenal ya,,blog nya bagus deh saya suka baca2. Buat saya single lady sih kadang ngerasa gimana gitu kalo harus nulis STATUS di CV, apalagi PT teresebut gak nanggung Jamsostek or BPJS teyuss buat apa??Banyak yg gak make sense aja gt sih menurut aku tentang penulisan CV ala Indonesia.

    Reply
    1. Felicity Post author

      Hai, salam kenal juga yah. Makasih buat apresiasinya. Yup, kalau dipikir2x penulisan CV di Indonesia memang banyak pertanyaan yang nggak nyambung, kadang mikir juga pertanyaannya buat apa sebetulnya🙂

      Reply
  2. Nina

    Culture shock juga ketika mendapati bahwa sah2 aja buat bilang ‘vi ses i moro’ ngga peduli lagi meeting sepenting apa karena emang udah waktunya pulang buat jemput anak. Makanya ngga heran meeting sebisa mungkin dialokasikan antara jam 9:00 dan 15:00😀

    Juga tentang flesibilitas yg super fleksibel. Bisa kerja dari rumah, dapat jatah cuti ngurus anak sakit sampe 10 hari/tahun, bahkan lebih kalau anak kita memang berkebutuhan khusus.

    Oiya, tentang privasi di kantor jg agak kebablasan. Company ngga bisa semena2 cek komputer/email kita tanpa ijin. Kalau sampai kejadian pun, kita berhak didampingi pengacara. Padahal di negri tercinta biasa itu tiba2 IT ngintipin email yg masuk ke inbox lewat server atau bahkan pernah dengar ada yg sampai ngeremote komputer tanpa nanya dulu.

    Tentang pecat memecat, bisnis minyak yg lagi lesu akhir2 ini memfasilitasi company buat ‘buang’ orang2 yang ngga disuka dengan alasan krisis; walopun memang kadang beneran krisis sih kondisinya. Sudah banyak teman2 (termasuk yg dari Indonesia) yg kontrak kerjanya ngga diperpanjang. Bahkan yg permanen employee juga sudah banyak yg kehilangan pekerjaan. Sedihnya, Stavanger terlalu kecil dan roda perekonomiannya terlalu terkait dengan minyak. Harga rumah sudah jatuh sekitar 20-an% dibanding ketika oil boom 2013. Ini culture shock jg, in a way. Kaget kok bisa ya segalanya runtuh karena harga minyak jeblok.. Sekian tahun tinggal di Norway, baru 1-2 tahun belakangan ini saya ngerasa harga2 baju, sepatu dsb sering murah di Stavanger. Dulu2 sale di Stavanger ngga pernah nabok, selalu cuman geli2. Beda banget dibanding Oslo, Bergen atau Trondheim. Ajaibnya lagi, udah disale 70% pun masih sepi2 aja, orang2 ga pada heboh. Semua pada berhemat. 2016 bakal jadi tahun terberat, katanyaaa..

    Sorry ini komen udah kayak essay, hehehe..

    Salam hangat dari Stavanger!😉

    Reply
    1. Felicity Post author

      Wah…. makasih buat komennya mbak., menarik banget infonya, langsung dari Stavanger pula🙂

      Serius? Musim diskon di Stavanger? Hehe…jadi pengen ke sana lagi… masih pengen belanja diskon…eh salah, masih mau ke Trolltunga sama Kjerrag (baru sempet ke preikestolen aja)..sambil belanja diskon …tetep🙂

      Di Oslo dsk harga makanan malah naik, harga apartemen dan rumah juga kayaknya naik (meski ngga seheboh sebelumnmya).

      Wah, harga rumah turun 20% ckckck…. drastis juga ya ternyata dampak turunnya harga minyak ke perekonomian di Stavanger yang notabene kota minyak di sini.

      Buat meeting culture itu bener banget, sudah kepikir buat bikin postingan khusus tentang ini🙂

      Salam hangat kembali!🙂

      Reply
      1. Nina

        Diskon heboh sekitar januari, januarsalg. Ditambah beberapa toko bangkrut kali ya. Minggu ini crazy days, tapi nampaknya mirip2 seluruh Norway. Pulang kerja sempat nge-mall sebentar tadi. Lumayan diskonnya, banyak kupon2 ‘bebas pilih’ 1 item full price buat jadi 50% dari sebagian besar toko. Lumayan banget karena bahkan Apotek1 aja ngasi kupon 50%. Kalau suka barang2 rumah tangga juga lumayan diskonnya, bisa 60%. Mexx banyak yang diobral dari 600-800an kroner per pcs jadi 100kr saja. Mangga dua juga lewat kalo udah gini, hehehe…

        Harga makanan naik sepertinya lebih karena nilai NOK yang anjlok dibanding USD dan Euro. Walaupun ini ngga menjawab kenapa harga timun sekarang semurah2nya 19,5kr sebatang. Padahal timun ini produksi lokal. Salah satu sentra ‘perkebunan’nya di sebelah Sola Airport, Stavanger. Apalagi harga listrik, yg mungkin adalah komponen terbesar biaya produksi, juga engga naik.

        Kalau dipikir2 agak engga logis ya, kok bisa suku bunga turun tapi harga rumah naik. Ini kan mendukung spekulan buat punya lebih dari 1 rumah, tinggal ngelock fixed interest rate sama bank dan ngitung penghasilan sewa. Buat yang tinggal di Stavanger (atau Kristiansand) sih ini membantu banget..🙂

        Reply
        1. Felicity Post author

          Weleh…weleh….diskonnya heboh banget di Stavanger…sampe ngalahin Mangga Dua🙂 Buat properti harga tetap naik saat suku bunga turun karena banyak yang beli buat investasi makanya sekarang ada wacana buat menaikkan pajak untuk rumah kedua dan kesekian. Bagusnya sih buat anak2x muda yang baru masuk pasar properti jadi kebantu kalau mau beli rumah atau apartemen pertama kali. Kalau lihat harga properti di sini dan dirupiahkan itu gila banget, kayaknya di Jakarta terutama di pusat kota dsk harganya juga mulai nggak kalah bersaing mahalnya.

          Reply
  3. sandra

    Aaaah..andaikan di indonesia juga kaya gitu…
    Malah ditempat kerja trakhir, pernah nge-recruit pegawai, syarat utamanya cantik n body ideal, job desk nya cuma untuk keliling minta tanda tangan user, sama nemenin para user hangout. Yang ironisnya lagi gajinya lebih gede dari karyawan lama / yg strata pendidikannya lebih tinggi…serasa ga dihargai aja.

    btw salam kenal ya mba Feli…☺

    Reply
    1. Felicity Post author

      Salam kenal juga🙂 Wah, syaratnya fisik banget yah, musti cantik dan body ideal. Di sini kerjaan yang mengandalkan cantik dan body kayaknya buat fotomodel aja😀 (meski banyak foto model yang smart juga).

      Lihat deh pramugari dan pramugara di maskapai2x penerbangan Eropa kayak KLM, Lufthansa,SAS, Norwegian banyak dari mereka yang buat standar Indonesia sudah berumur dan secara fisik mungkin biasa saja atau tidak terlalu menarik. Tapi, karena mereka dianggap mampu dan qualified ya jadinya masih tetap dipakai. Kayaknya tabu banget memakai alasan fisik buat merekrut seseorang.

      Ngga jarang resepsionis2x kantor dan sekretaris2x direktur juga perempuan yang sudah berumur (biasanya justeru mereka yang kaya pengalaman), kalau kebetulan mereka cantik dan menarik itu adalah bonus.

      Reply
  4. mila

    kalau status perkawinan dan jumlah anak waktu melamar kerja tujuannya utk ngitung2 beban jaminan kesehatan dan itung2an biaya pajak yg mst ditanggung perusahaan, nanti fungsinya utk nentuin gajinya.. klo di aku sih gitu hehee…
    tp ya klo aku pribadi sebagai jomblo kesel juga sih klo harus menghadapi pertanyaan status gitu hahahahaaa

    Reply
    1. Felicity Post author

      Berarti diterima atau nggaknya seseorang dalam pekerjaan juga dilihat dari berapa jumlah biaya yang harus dikeluarkan perusahaan ya. Bisa dimengerti juga sih, kan perusahaan itu profit oriented (alias ngga mau rugi). Asal ngga jadi sumber diskriminasi aja dimana orang yang sudah berkeluarga jadi susah cari kerjaan karena kalah bersaing dengan yang singel2x.

      Mungkin juga karena konteks di Indonesia beda dengan di Norway ya Mil dimana biaya kesehatan individu di sini ditanggung negara (berobat gratis, sekolah gratis dll) jadi ngga ada hubungan dengan status pasangan dan jumlah anak.

      Yup, yang nanya2x status apalagi karena kepo memang ngga sopan! I feel you. Di sini nanya tentang pasangan dan anak saat interview kerja itu hal yang privat dan sensitif. Kalaupun kita kasih tahu biasanya hanya yang umum2x aja.

      Reply
  5. Cipu

    Feli sharing yang menarik. Kalo gua mah hampir tiap hari sesi 4 mata sama bos secara kami berdua klop banget kalo ngomongin pekerjaan hahahaha.

    Semoga bisa nyusul ke sana yah buat sekolah Amiiiin

    Reply
    1. Felicity Post author

      Trims Cipu, akhirnya kamu nongol juga di dunia perbloggingan…haha… padahal gw juga jarang nongol😀

      Asik banget sih bisa tiap hari ada sesi 4 mata sama bos. Andai saja waktu gw di Indonesia punya bos kayak gitu… Aminnnn….gw sumpahin supaya kamu bisa sekolah di sini yah…ayo diseriusin Cipu…. seneng banget kalo ada dirimu di daerah Skandinavia dsk🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s