Foto Keluarga: Sebuah Perjuangan :)

felice2

Memasuki rumah2x keluarga di Indonesia bukan hal yang aneh jika kita melihat foto2x anggota keluarga baik sendiri atau bersama2x dalam ukuran besar yang dibingkai pigura atau dalam bentuk kanvas seperti lukisan. Momen2x yang direkam dalam foto2x tadi biasanya acara2x resmi atau penting buat keluarga tersebut seperti wisuda, pernikahan, lamaran dsb. Karenanya objek dalam foto tadi kebanyakan orang2x yang sedang tersenyum menghadap kamera dengan balutan baju tradisional, baju wisuda, batik atau baju seragam khusus.

Ada juga foto keluarga yang lebih alternatif seperti di alam terbuka atau di studio dengan berbagai gaya plus properti khusus buat sesi foto bersama. Buat saya, foto2x tadi seakan bisa merekam kehangatan dan keakraban keluarga, rona2x emosi yang terpancar di wajah mereka membuat kita seakan bisa ikut bisa merasakan apa yang dirasakan saat foto diambil. Nah, keluarga besar T (suami) belum pernah sekalipun memiliki foto keluarga dimana para anak, menantu, cucu lengkap semua ada di dalamnya. Sayangnya selain orang dewasa dalam keluarga T memiliki tingkat kenarsisan yang rendah, mengumpulkan 5-6 anak kecil itu bukanlah hal yang mudah.

Kesempatan datang sebulan lalu ketika kami bersama menghadiri upacara pemberian nama (navnedag) dari adik T yang baru memiliki seorang putri di kantor catatan sipil Oslo. Yang kalau dibandingkan mungkin mirip dengan upacara pembaptisan dalam gereja. Dalam acara yang formal ini kebanyakan orang tua dan anggota keluarga datang dengan baju resmi atau bunad (pakaian tradisional Norwegia). Sebuah momen yang pas untuk mengambil foto keluarga besar bukan?🙂

Foto: Upacara pemberian nama anak di kantor catatan sipil Oslo
felice1

Upacara yang dihadiri sekitar 300 tamu dan 70-an anak kecil dari yang masih berumur beberapa minggu hingga lumayan besar membuat kepala pusing karena suara tangisan, jeritan dan rengekan anak2x yang silih-berganti non-stop. Hiburan alunan musik klasik yang cantik sesekali menghibur sebelum sesaat kemudian terinterupsi oleh tangisan bayi lagi. Untunglah acara tersebut hanya berlangsung sekitar 1 jam saja yang saya pikir cukup praktis dan efisien meski makna spiritualnya tidak terlalu dalam.

Usai acara, peserta pun bubar dan perjuangan mengabadikan foto keluarga pun dimulai

Mengumpulkan cucu2x untuk berfoto bersama itu tidak mudah. Anders (5 tahun) dan Lars (5,5 tahun) dua biang kerok cucu yang paling aktif ini sangat sulit untuk duduk manis lebih dari 5 menit dan lebih asik meloncat2x, berkejar2xan dan bermain di segala sudut..

felice10

Oya, lokasi acara ini adalah tempat yang digunakan untuk upacara penerimaan hadiah Nobel Perdamaian di City Hall Oslo yang luas dan cantik dengan lukisan2x besar di dinding2xnya. Tidak heran ini menjadi lokasi favorit anak2x untuk berlari berkejar2xan dan bermain kesana kemari.

felice12

Sementara itu Oleana (2 tahun) dan sepupunya Emma (2 tahun) yang mirip saudara kembar terlihat lebih jinak mudah diatur dan tidak keberatan difoto asalkan tidak jauh dari orang tua mereka.

felice3

William (2,5 tahun) memilih menempel terus dengan sang nenek dan lebih tertarik mengamati lukisan2x di dinding ketimbang difoto.

felice9

Di saat bersamaan, Anders dan Lars masih heboh saling bercanda di salah satu sudut…

felice11

Dengan berbagai upaya mulai dari bujukan sampai ancaman akan ditinggal pergi, akhirnya Lars dan Anders mau juga difoto. Tapi…sekarang justru Emma yang masih belum siap difoto dan lebih suka loncat2x di lantai yang menghalangi mereka yang sedang berpose. Sejauh ini, foto dibawah adalah hasil terbaik…😀

felice4

…sementara Emily (7 tahun), kakak dari Emma mogok difoto dan bersembunyi di balik salah satu pilar

felice8

Haha…PUSIINGGG EUYYYY… melihat tingkah polah mereka😀

Setelah sekian lama berupaya mengumpulkan para monster cilik anak2x tadi dalam satu frame dan gagal, kami pun MENYERAH…. dan memilih buat pulang ke rumah adik T untuk acara makan bersama.

Dalam perjalanan keluar, nampak keluarga2x yang sedang mengabadikan momen tersebut dengan tenang dan damai tanpa kerusuhan berarti. Sungguh sebuah keluarga yang sangat beruntung…🙂

felice14

Di luar, seperti dilepas dari kerangkeng, Lars, Anders, Emma, Emily, Oleana, William langsung berhamburan.

felice16

Demi memuaskan rasa ingin bermain anak2x tadi, kami berjalan2x sebentar di kawasan pelabuhan yang letaknya pas di depan City Hall. Dan, ajaibnya, di sesi2x seperti ini justru banyak momen2x cantik yang bisa diabadikan dengan candid camera (diambil dengan diam2x)

Foto: Bapak mertua dengan sang cucu di tepi air mancur…
felice17

Foto: Emma dan Oleana yang mendiskusikan remahan roti siapa yang bakal paling disukai burung (padahal burungnya entah dimana…😀 )
felice18

Yah….Sepertinya, anak2x dimanapun akan tetap anak2x…

Foto: William, memilih untuk duduk di bawah meja daripada duduk di bangku. Perhatikan kuku si boncel yang berwarna merah dari pewarna kuku sang mama🙂

felice19

JADIIIII….., bisa dipahami mengapa hingga saat ini kami belum memiliki foto keluarga besar secara utuh. Mungkin jika anak2x tadi sudah besar dan lebih jinak mudah diatur barulah foto keluarga bisa dibuat. Lupakanlah ide membuat foto keluarga dengan seragam, apalagi dengan styling dan properti khusus di studio…sebelum semua itu dilakukan persoalan utama yang harus dipecahkan adalah mengumpulkan semuanya baik yang besar maupun kecil dalam satu frame di lokasi, tempat, waktu, momen dan detik  yang sama😀

Untuk saat ini, satu2xnya foto keluarga yang ada di rumah adalah foto keluarga sahabat T yang dibuat saat sang anak dibaptis tahun lalu yang kami pasang di kulkas agar bisa setiap saat dilihat sekaligus menghibur diri.

Yah, setidaknya sebelum ada foto keluarga sendiri, foto keluarga orang pun bisa dipakai untuk sementara, paling nggak kami kan juga ada di foto itu, hehe…

felice24

 

 

****

27 thoughts on “Foto Keluarga: Sebuah Perjuangan :)

    1. Felicity Post author

      Iya Mil, itu namanya ‘bunad’ baju tradisional khas sini. Buat anak2x biasanya make versi simple, kalau bunad aslinya itu lebih berat bahannya dan pernak-perniknya lebih mahal (dari perak asli).

      Gw pernah lihat anak yang lehernya dikasih tali kayak anjing …ckckck….. ngga tega gw lihat anaknya…..mungkin memang praktis buat ortunya…tapi tetep aja…aneh lihatnya mungkin karena ngga biasa yah

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s