Category Archives: blogging

Olá Brazil!

Teman, yang punya blog mau pamit dulu…. 🙂

Mulai besok hingga dua minggu ke depan saya tidak akan mengupdate blog atau melakukan blogwalking karena akan mengadakan perjalanan lumayan jauh.

Sampai malam ini packing belum selesai, penginapan baru saja dipesan, lokasi wisata yang akan dituju masih samar2x, tadi siang baru saja mendapat suntikan vaksin hepatitis A, passport dan visa baru dijemput besok pagi di kedubes… (sungguh last minutes preparation… sangat tidak layak untuk dicontoh sodara2x...)

Moga2x bisa kembali dengan banyak cerita dari sana.

Salam manis selalu…

Update: Pagi ini baru saja mendengar kabar di radio bahwa ada letusan baru di Iceland… bakalan kacau lagi jadwal penerbangan… dohh…not now please…. . Moga2x tidak terjebak in the middle of nowhere…. Ummmm….tapi… kalo terjebak di Brazil sihhhh…. ummm…ummm…. 😀

Advertisements

No Spam, Please…

Entah bagaimana, inbox email saya menerima banyak sekali email spam (sampah nggak penting) yang 99% berbau scam (ada unsur penipuan). Setiap hari tak kurang dari 5 email semacam ini masuk ke kolom ‘spam’ …tak jarang satu dua terselip di antara ‘inbox’ email biasa.

Kalau tidak salah ingat, email semacam ini mulai marak di awal tahun 2000-an. Kantor tempat saya bekerja yang bergerak di bidang kemanusiaan mendapat satu-dua email di mailing list yang bernada ‘memelas’ mohon bantuan dengan prolog kisah yang sangat BOMBASTIS dan DRAMATIS seperti kurang lebih: Continue reading

Kembali Ke Blog! :D

Setelah sempat was2x dan kuatir atas godaan si trojan iseng, selama beberapa hari terakhir saya sibuk mengecek kesehatan blog, yang teryata masih baik2x saja (phewwww…. tarik nafas dulu...)

Kondisi page rank Google: bagus; Kondisi link ke blog: baik2x saja (tidak ada hidden link); Statistik blog: biasa saja, tidak ada perubahan mencurigakan. Pengunjung juga masih banyak yang masuk melalui mesin pencari Google.

Terus terang untuk urusan blogging, saya masih newbie (pendatang baru) yang memulai semua dari NOL besar, harus terjendut-jendut dahulu dan jatuh bangun (dangdut kaleee…)

Saya belajar bahwa modal menjadi blogger itu tidak hanya menulis, tetapi juga pengetahuan akan teknis perbloggingan. Blogging bukanlah sesuatu yang taken for granted (diterima apa adanya), karena sama seperti dunia nyata yang tidak hitam-putih, blogging juga demikian (jadi ngerasa sok tua deh…).

(Terjemahan: mau bilang aja kalo jadi blogger itu jangan naif (kayak saya huhuhu), karena pasti ada pihak2x dan tangan2x jahil yang iseng menganggu ‘keamanan dan ketentraman’ blog)

Belajar dari pengalaman kali ini, saya lebih serius memikirkan kesehatan dan keamanan blog (harus rajin2x check-up, bersih2x dan back-up,neh, moga2x akan selalu dihindarkan dari segala hambatan dan gangguan, aminnn)

Dan sekarang….kembali ke bloggg!!!… 😀

END OF POST


Serangan Trojan di Blogspot

Sebelumnya saya minta maaf jika belum memposting tulisan baru atau membalas sapaan, komentar dan kunjungan rekan2x.

Buat rekan2x blogger, khususnya pengguna Blogspot, saya hanya ingin menginformasikan ‘serangan’ trojan terhadap blogspot. Pada Malam minggu lalu, sekitar jam 11 malam, tiba2x saja Norman anti virus membaca trojan di semua blog (format blogspot) yang ada di Url Favorites dalam komputer saya, termasuk blog ini.

Setelah bolak-balik menanyakan mbah Google, laporan ‘serangan’ ini dialami banyak blogger lain di berbagai negara dalam waktu bersamaan. Untuk saat ini ada beberapa spekulasi, entah serangan ditujukan di server Blogspot, terkait dengan software interaktif blogspot, atau kemungkinan lain.

Untuk sementara waktu, menunggu info lebih lanjut, saya hanya akan ‘cooling down’. Moga2x masalah ini bisa teratasi segera. Terima kasih 😀

NB: Berdasarkan info yang saya baca, masalah serangan trojan ini mungkin terkait dengan browser Internet Explorer. Agar lebih aman, saya menggunakan Opera browser untuk browsing blog, seperti saat ini.

Nama trojan ini adalah: JS/Cardst.A

Duhhh, iseng banget sehhh… yang menyebarkan trojan…yang pasti saat ini si oknum pasti sudah disumpahi oleh banyak blogger supaya makan tak enak dan tidur tak nyenyak…dimanapun ia berada

Info tambahan: buat rekan2x blogger, saat meng-approve komentar, sebaiknya mencek ulang link url yang dicantumkan. Meski komentar terlihat ‘normal’ kadang link yang dipakai adalah link spam yang tidak jelas. Jadi… waspadalah. Salam 😀

END OF POST

The Blog Must Go On

Meskipun sebenarnya tidak sempat, kali ini saya nekat menulis postingan di blog karena tidak tega melihat blog yang terlantar sekian lama. Walau bagaimanapun, the blog must go on… Ini adalah salah satu blogosophy saya, hehe maksa bangettt… 😀

Selama hampir dua minggu terakhir saya mulai bekerja di sebuah pusat kajian yang ada di bawah University of Oslo. Total seluruh staff kantor berjumlah sekitar 80 orang dari berbagai negara (kebanyakan dari Norwegia). Selain program penelitian, ada pula program kegiatan yang bersifat regional. Saya terlibat dalam tim yang bertanggungjawab untuk laporan penelitian tentang isu sosial di Indonesia yang bekerja sama dengan ahli dari beberapa negara.

Budaya kerja baru
Banyak hal2x menarik yang terkait dengan budaya kerja di Norwegia yang berbeda dengan di Indonesia. Sejak tahap interview misalnya, selain diwawancarai oleh Program Manager, Human Resources Manager, Head of Unit, ada juga perwakilan dari Labor Union (Serikat Pekerja) untuk memastikan bahwa setiap pelamar mendapat perlakuan yang sama (equal treatment) tanpa diskriminasi berdasarkan gender, warna kulit, latar belakang dsb. Selain itu, perwakilan pekerja ini juga sebagai observer (pengamat) agar proses rekruitmen dan interview berlangsung sesuai prosedur. Dari proses ini saya sudah merasa di’wong’kan (dianggap sebagai manusia *terharu*) meski status pada waktu itu masih sebagai pencari kerja dan belum resmi diterima namun perlindungan terhadap hak2x pekerja sudah terasa.

Karena merupakan bagian dari universitas yang dibiayai negara, staff di lembaga ini pun tunduk di bawah hukum yang mengatur tentang pegawai negeri, yang alhasil memiliki birokrasi lumayan panjang. Kalau dibandingkan, masyarakat Indonesia secara umum memang lebih ramah dan terbuka terhadap orang baru, di sini pun demikian, namun tidak semua. Umumnya mereka yang memiliki pengalaman internasional jauh lebih terbuka dari mereka yang berasal dari kota terpencil atau besar di lingkungan masyarakat yang cenderung homogen. Sifat individualis dan independen pun terasa lebih kental di sini. Saat waktu makan siang misalnya, setiap orang memiliki waktu rutin untuk menuju ruang makan bersama tanpa dikomando atau menunggu ajakan kawan lain.

Makan siang yang merepotkan
Terus terang, sebagai anak baru saya masih agak sungkan naik ke lantai atas (ruang makan) sendiri dan menantikan ajakan untuk makan bareng. Kalau sudah begini, saya pun kangen dengan suasana di Indonesia yang ’heboh’ saat makan siang. Ajakan seperti: ”Ke warung Padang yuk!” atau ”Makan Soto Ayam yuk!” atau ”Beli bubur ayam Yuk! dll. Segala sarana dan prasarana pun digunakan untuk makan siang mulai dari jalan kaki, naik angkot, naik mobil teman, hingga titip pada office boy yang kebetulan mengendarai motor lewat warung makan favorit (hiks…hiks… jadi kangen masakan yang tersebut di atas plus Siomay Bandung, Bakwan Malang, Batagor, Es Cendol, Buntil, Botok, Pempek, Pepes Tahu…. nyam…nyam)

Di sini, sejak bangun pagi selain menyiapkan sarapan saya harus menyiapkan bekal makan siang di lunch box. Rekan lokal (baca: orang Norwegia) memiliki ’properti’ masing2x di kulkas kantor seperti keju, roti, salami, ham dll yang tinggal di gunakan seperlunya saat makan siang. Sedangkan saya?…. Berhubung masih belum bisa menyesuaikan diri dengan roti dan roti lagi… harus memasak sejak malam sebelumnya seperti nasi goreng, mie goreng atau lasagna untuk makan siang keesokan harinya. Repot yah… Lalu harus bagaimana?… *garuk2x kepala*…sulit sekali untuk mengubah ‘default setting’ perut yang terbiasa dengan makanan negeri sendiri.

Alhasil, beberapa kali saya memilih untuk tetap makan di dalam ruang kerja yang memang terpisah dari ruang kerja rekan lainnya, terkadang hanya dengan memakan pisang karena tidak sempat memasak, sampai professor yang menjadi kolega ’memergoki’ tumpukan kulit pisang di tempat sampah dalam ruangan kemarin dan bertanya sambil bercanda (terjemahan bebas): ”Heran, siapa yah yang makan pisang banyak banget?…Apa ada gajah nyasar ke sini?… Saya: ”Hehe, kayaknya saya deh yang jadi gajahnya….”


Pffffh…Lega rasanya bisa mengeluarkan unek2x yang ada …dan mengurangi rasa bersalah dari tuduhan penelantaran dan perlakuan semena-mena terhadap blog… 🙂

Catatan: Postingan ini dibuat di luar jam kantor, tepatnya saat waktu istirahat makan siang, editing dan tambahan foto dilakukan pada malam hari, juga di luar jam kerja kantor (siap2x membela diri hehe :D)

Blogger Nggak Gaul

Meskipun salah satu ‘visi dan misi’ pembuatan blog ini pada awalnya adalah sebagai ruang sosial (lihat: Mengapa Saya Membuat Blog Ini?) namun setelah sekitar 5 bulan eksis harus diakui bahwa saya mungkin masih agak asosial sebagai seorang blogger 🙂

Pada awal2x memiliki blog, dengan semangat 45 kegiatan blogwalking adalah sebuah aktivitas yang menarik. Bagai anak kecil yang mendapatkan sebuah mainan baru, berkenalan dengan sesama blogger, saling bertukar link (terlepas apakah tema blog-nya sejalan atau tidak),membaca dan belajar dari blogger yang sudah berpengalaman, memoles wajah blog agar cantik, berburu widget gratis (yang ternyata banyak disusupi spam) serta hal2x lain yang jamak dilakukan oleh seorang pendatang baru dalam dunia blogging pun telah dijalani.

Masa2x nyaris (…masih ‘nyaris’ loh, catet :D) menjadi seorang blog addict stadium III pun sudah terlewati, haha 😀 (lihat ciri2xnya di post: Bahaya 'Blog Addict'). Perlahan namun pasti, ‘the honeymoon period’ alias masa bulan madu dengan blog akhirnya berakhir dan sebuah fase baru yang berbeda pun dimulai.

Seiring berjalannya waktu, banyak hal2x menarik untuk diselami dan dikaji lebih jauh seperti persoalan etika dan hukum yang terkait dengan dunia perbloggingan. Plus munculnya kesadaran bahwa memiliki blog adalah sebuah privillege –karena tidak semua orang memiliki akses untuk nge-blog– sekaligus sebuah tanggung jawab moral yang harus diemban untuk lebih berhati2x dalam aktivitas blogging.

Setelah memasuki ranah publik, maka tulisan kita akan menjadi konsumsi publik yang memiliki latar belakang berbeda serta interpretasi dan apresiasi yang berbeda pula. Kini, sebagai analogi, saya melihat blog seperti sebuah taman bunga yang harus dijaga, rajin dipupuk, dijenguk, disiram dan dirawat dengan sepenuh hati (maklum, bakat jadi tukang kebon :D)

Memiliki sebuah (NPB)’Non-Profit Blog’, membuat saya merasa lebih relaks dalam mengekspresikan diri di ruang ini tanpa merasa harus memiliki traffic tinggi. Mungkin itu pulalah yang menyebabkan semangat untuk berkenalan dengan sesama blogger lain mulai menurun. Jika dibandingkan dengan blog2x lain yang ‘rame’ dengan komentar atau kunjungan para tamu, maka blog ini adalah sebuah blog yang cukup terisolir (hmmmm iya nggak yah *berpikir*)

Konon, sebuah blog adalah cerminan pribadi si pemiliknya. Berhubung pemilik blog ini rada2x pemalu (kadang malu2xin juga sehhh :D), introvert dan kuper… maka saat terjun ke dunia blog… jadilah ia sebagai seorang blogger yang nggak gaul (lalu…lalu…pegemana dong?…susah juga kalo dari sononya begini :D)

Yah biarlah.
Blogger yang nggak gaul…
It’s me 🙂

Menjadi Blogger yang Jujur

Bagi saya, blogging -selain menjadi katarsis ide dan curahan hati – sekaligus juga menjadi ‘penyaluran’ atas hobi yang lain yakni fotografi amatir. Jika memang ada momen, tempat, situasi yang pas maka dalam sehari saya bisa mengabadikan ratusan foto lebih sejak memiliki kamera digital beberapa tahun lalu. Alhasil, kini ribuan foto pun menumpuk di hard disk komputer. Pertanyaan selanjutnya adalah: “Mau dikemanakan foto2x tadi?…”

Blog adalah jawaban dan tempat yang saya anggap paling pas untuk sharing sekaligus bertutur tentang kisah di balik foto2x yang ada. Asas manfaat yang saya gunakan si sini: sekali menulis blog,… dua-tiga hobi pun tersalurkan (menulis, fotografi dan…mengagumi karya sendiri, haha sungguh manusia yang narsis… kidding :D. Hobi yang lain adalah: menggambar alias corat-coret)

Awalnya, karena masih pemula -bagai anak kecil yang masih naif- semua foto diupload begitu saja tanpa proses editing, penambahan keterangan, embel2x dan semacamnya. Kini ukuran foto yang sekitar 600-700 kb telah di-resize menjadi sekitar 50-80 kb. Kekuatiran sempat muncul dengan masalah karya cipta. Pertanyaan seperti: “Bagaimana jika foto2x hasil karya tadi tadi dikopi dan diklaim oleh orang lain tanpa sepengetahuan saya?”

Hmmm…, ini adalah resiko yang harus siap untuk dihadapi saat menempatkan gambar dan tulisan di domain publik seperti internet. Secara pribadi, sebagai seorang fotografer, saya tidak merasa memiliki foto2x tadi. Toh saya ‘hanya’ mengabadikan saja, sementara objek foto adalah hak milik dan karya abadi Sang Pencipta. Di sini ruang diskusi dan dialog dengan diri sendiri tentang persoalan ‘karya cipta’ pun dimulai.

Saya memberikan apresiasi bagi mereka yang meminta ijin terlebih dahulu sebelum memposting tulisan dari blog ini di tempat lain. Namun kejadian tulisan yang tiba2x muncul di ‘rumah’ lain tanpa sepengetahuan saya pernah beberapa kali terjadi jauh saat masih aktif menulis artikel opini di media cetak tanah air.

Mencantumkan asal dan sumber tulisan, informasi, kutipan atau gambar (jika memang ada dari sumber lain) dengan alasan menghargai karya orang lain adalah hal terpenting yang selalu saya ingat saat mulai menulis. Sangat tidak etis jika memakai hasil cipta orang lain begitu saja sebagai tempelan tanpa keterangan apapun. Ini adalah bagian dari ‘blogging ethics’ alias etika dunia perbloggingan yang harus dijunjung tinggi (deuuuuu, mulai deh… sisa2x kuliah hukumnya keluar… :D)

Lalu bagaimana dengan penghargaan atas karya saya sendiri?…

Yup, sekarang saya pun mulai menghargai hasil karya sendiri dengan mencantumkan ‘jejak’ yang bisa dicantumkan. Meski proses posting satu tulisan menjadi lebih lambat untuk proses editing foto. Setidaknya saya berharap semangat menghargai karya cipta orang lain dan diri sendiri ini bisa menular ke para blogger lain.

Idealnya, prinsip penghargaan ini juga dipakai dalam bidang2x kehidupan lain. Daripada terus berkoar2x, protes dan mengeluh tentang situasi bangsa yang carut marut dengan skandal korupsi,kebohongan publik, pembajakan karya cipta dan semacamnya; lebih baik kita belajar untuk bersikap jujur …dimulai dari diri sendiri …