Category Archives: kenangan masa lalu

Kisah tentang WC dan Cuci Rambut

WC atau toilet adalah tempat yang betul2x dibutuhkan bagi hajat banyak orang. Tidak percaya? Bayangkan jika saat sedang bertualang di alam bebas –mendaki gunung misalnya–dan tiba2x si ‘panggilan alam’ alias BAB alias Buang Air Besar datang akibat bumbu makanan yang terlalu pedas saat makan siang sebelumnya. Kalau sudah begini, saya kangen dengan toilet di rumah yang nyaman, hangat dan ‘beradab’.

Foto: Toilet di salah satu pulau kecil di Papua. Harus super hati2x saat meniti balok pohon menuju TKP.

Sejauh ini, berdasarkan pengalaman pribadi saya menggolongkan WC dalam 3 kategori:

1. WC modern
Biasa ditemui di kota2x besar dan wilayah pemukiman yang sudah mengadaptasi gaya hidup modern. Lengkap dengan toilet duduk maupun jongkok, dengan flush maupun gayung 🙂

2. WC ‘alamiah’
Adalah WC yang ingin bersifat ke-alam2xan (haha….bahasanya maksa bener yeee…). Bahasa kerennya adalah bio-toilet, bio degradable toilet, toilet ramah lingkungan dan semacamnya. Di kabin2x orang Norwegia yang ada di gunung misalnya, meski terkesan modern dengan toilet duduk, biasanya juga TANPA AIR sodara2x…. Biasanya ada cukup jarak antara WC dengan bangunan utama kabin agar berbagai jenis bau dari toilet tidak mencemari udara. Proses pembusukan dipercepat dengan siraman BUBUK KAPUR berwarna putih bersama taburan SERBUK KAYU.

Foto: Toilet publik ‘in the middle of nowhere’

Continue reading

Advertisements

Iklan-iklan Jadul

Saya suka sekali mengamati iklan2x jadul (jaman dulu). Dari iklan2x jadul tadi banyak hal yang menarik untuk diketahui seperti saat pisang (yup, buah pisang dari negara2x tropis) masuk untuk pertama kalinya di kawasan Skandinavia, saat HP mulai dipasarkan secara komersial, saat pemerintah setempat heboh menghadapi wabah penyakit TBC, saat sepeda roda dua mulai dipasarkan dll.

Foto: Iklan buah pisang import dari Jamaica

Continue reading

Godaan Cinta: "Kalau Kamu Mau…"

Bagi yang pernah merasakan jatuh cinta, pasti pernah pula mengalami godaan cinta, baik sebagai pihak penggoda atau yang digoda. Saat menjalani LDR (long distance relationship alias hubungan jarak jauh) Lund/Oslo- Sri Lanka banyak sekali godaan yang saya hadapi.

Batticaloa, Oktober 2006

Diawali dari obrolan ringan antara Dheva, Kirun, Anis (rekan lokal dari Colombo) Matteo (kolega asal Italia) dan saya di beranda rumah sewaan Matteo yang cukup besar menghadap danau. Sebagai perempuan satu2xnya, tidak tahan asap rokok dan tidak minum bir seperti yang lain, saya mencoba menjaga jarak dan sesekali menjauh untuk menghirup udara segar. Setelah rekan lokal kembali ke kamar, tinggalah saya dan Matteo berdua.

Suara bedebam-bedebum meriam terdengar di kejauhan diikuti getaran kaca2x jendela. Percakapan berlangsung berjam2x dimulai dari masalah pekerjaan, hingga masuk ke topik pasangan masing2x. Status Matteo, -berdasarkan pengakuannya- sedang kosong alias available. Sang pacar memilih untuk memutuskan hubungan saat Matteo memilih berkarir di negeri antah-berantah, mengakhiri profesinya sebagai pengacara muda. Saya sendiri berterus terang sudah memiliki pasangan dan tidak berniat mencari yang lain.

Foto: Pasangan muda-mudi yang sedang berdua di balik payung. Pemandangan yang banyak ditemui di kawasa pantai Galle, Sri Lanka bagian selatan. Ada apa di balik payung?…. Gelapppp ahhh…

Continue reading

Jangan Takut untuk Bermimpi

Catatan: Postingan berikut adalah sharing pengalaman pribadi. Semoga bermanfaat 🙂

 

Stockholm-Swedia, Juni 2006

HERE I COME…

…ini adalah… sebuah pijakan penuh makna dalam hidup saya… …

Matahari bersinar dengan terik siang itu di kota Stockholm. Nampak hilir mudik kendaraan di kejauhan, orang berlalu-lalang dengan baju musim panas, sesekali nampak anak kecil berlari atau bermain di taman. Sementara jejeran bangku2x kafe di pinggir jalan dipenuhi mereka yang sedang menikmati sajian sambil bercengkerama dan memanjakan diri menikmati kehangatan sinar matahari. Hmmm,… suasana musim panas yang begitu khas Skandinavia.

Usai memarkir kendaraan bersama T, saya pun menjejakkan kaki melangkah menuju pusat kota dimulai dengan sebuah pijakan… Satu langkah kaki kecil bagi orang lain, namun ini adalah sebuah pijakan penuh makna dan bersejarah dalam hidup saya. Sebuah peristiwa yang sudah dinanti2xkan selama lebih dari 20 tahun lamanya…


This is my full circle…

Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, di suatu hari di tahun 1984 saat duduk di kelas 3 SD saya mendapat bingkisan kecil dari Bude yang berprofesi sebagai pemandu wisata. Bagi orang lain, pemberian itu mungkin tidak berarti, namun bagi saya hal itu sangat amat berarti dan telah mempengaruhi jalan hidup selanjutnya yakni:… sebuah buku berjudul ‘STOCKHOLM’, kenang2xan dari seorang turis yang pernah dipandu beliau.

Buku panduan wisata dengan sampul hardcover, foto2x full colour, dalam bahasa Inggris yang saya tak mengerti pada saat itu adalah buku termewah dan terbagus pertama yang pernah saya sentuh langsung. Yah… maklumlah, keadaan ekonomi orang tua yang terbatas membuat acara membeli buku di toko buku seperti Gramedia sebagai sebuah kemewahan. Tak jarang, di akhir pekan atau saat libur panjang, bersama kakak dan seorang sahabat, saya menghabiskan waktu berjam2x di toko buku untuk ‘numpang’ membaca. Berada di sekeliling buku2x yang bagus beraneka warna dan berisi beragam cerita dan pengetahuan adalah sebuah kebahagiaan tersendiri kala itu.

Saat membaca buku berjudul ‘Stockholm’ tadi, saya merasa sangat takjub dan tak henti2xnya berkomentar mengagumi gambar yang ada di dalamnya. Masih teringat dalam benak ini gambar deretan kapal bersandar di pelabuhan, suasana musim panas dengan bunga warna-warni, gambar rumah kayu di atas gunung, gambar salju dan suasana natal serta gambar sepasang anak kecil yang sedang duduk di tepi pelabuhan memandang laut di kejauhan yang menjadi favorit.

Saya hanya bisa berangan2x sedang berada di tempat2x yang ketika itu dilihat di buku tadi sambil bermimpi bahwa suatu saat saya akan menginjakkan kaki di sana. Dari buku itu, sebuah jendela telah terbuka… sebuah mimpi dan sebuah perjalanan baru pun dimulai…

Isi buku tadi terpatri begitu mendalam… dan tanpa rasa bosan saya baca terus dan terus… lagi… dan lagi… Setiap lembaran di dalamnya bagaikan sumber semangat dan inspirasi untuk meraih impian.

Dimulai dari satu buku, buku2x lain pun menjadi santapan. Entah mengapa, sejak kecil selalu ada rasa haus untuk membaca… apa saja. Mulai dari berita headline di surat kabar, hingga iklan baris yang tidak penting, mulai dari cerita di majalah anak hingga pengumuman pemenang sayembara yang tidak jelas, termasuk riwayat hidup tokoh2x besar seperti Margarer Thatcher, Jenderal Douglas Mac Arthur, Bung Hatta, Bung Karno dll. Dari merekalah saya mendapatkan inspirasi untuk menjadi orang yang bermanfaat dan membuat hidup bermakna, sekaligus belajar tentang semangat tidak mudah menyerah dan pantang putus asa. Hingga suatu hari, di majalah ‘Intisari’, dari sebuah kisah tentang Dr. Andi Hakim Nasution, saya mengetahui bahwa ada yang namanya ‘Beasiswa ke Luar Negeri’, bagi mereka yang berprestasi.

Semangat untuk bisa mendapat beasiswa dan bersekolah di luar negeri pun menjadi cita2x yang terus membara di dada. Saat kelas 3 SD, jika ditanya orang: “Apa cita2xmu nanti kelak jika dewasa?”, saya sering bingung menjawab karena jawaban yang ada memang tidak konvensional, saya hanya bisa bilang: “Ingin melanjutkan S2 ke luar negeri…” Tak jarang, ini sering menjadi olok2x beberapa kawan dan bahkan anggota keluarga yang menganggap saya seorang ambisius dan pemimpi.

Setiap menemukan pengumuman atau berita tentang beasiswa yang ada di koran atau majalah, saya pasti langsung menggunting dan menempelnya di dinding kamar tidur. Entah beasiswa ke Jepang, Russia, Belanda, Amerika, Perancis, Australia dll. Semua itu adalah penyemangat dan ‘obat tambah darah’ untuk cita2x bersekolah di luar negeri. Berdasarkan persyaratan2x umum yang saya temukan di pengumuman2x tadi, saya pun ‘merancang’ dan merencanakan CV yang sebaik2xnya mulai dari nilai IPK yang bagus, pengalaman organisasi, prestasi akademis, publikasi, pengalaman kerja yang relevan, kemampuan berbahasa Inggris dll

Dan setelah sekian lama bermimpi, saya pun berhasil mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di Eropa tahun 2003 lalu. Meski bagi mereka yang berasal dari golongan yang mampu ekonomis hal ini mungkin dianggap biasa saja, namun bagi saya yang berasal dari keluarga sederhana hal ini adalah sebuah pencapaian tersendiri. Tak pernah terbayangkan bahwa dengan segala keterbatasan yang ada…impian yang terpendam sekian lama itu akan tercapai…

Stockholm, Juni 2006…
Sebuah buku tentang kota ini telah membuka mata saya dan menunjukkan ‘dunia’ di luar sana.

Here I am…
Saya datang…
Setelah lebih dari dua puluh tahun lamanya bermimpi…


This is my full circle

Lesson-learned:
Do your best…
and God will do the rest… 🙂

Titip Beli Kulkas

Batticaloa, Desember 2006

Pada libur natal dan jatah cuti selama dua minggu, saya berkesempatan mengunjungi T di Oslo. Bagi mereka yang berada di daerah konflik aktif dengan dentuman suara meriam dan letusan senapan tiap hari, meninggalkan kota selama beberapa hari adalah sebuah ‘anugrah’ tersendiri. Satu minggu sebelum keberangkatan, urusan visa, tiket pesawat, transport antar jemput dari Batticaloa-Colombo dan dari Colombo-airport pp sudah beres.

…Dheepa… jarang tersenyum, jarang bicara, … selalu terlihat serius… …

Untuk transport, saya hanya diperbolehkan meninggalkan duty station (tempat penugasan) jika menggunakan mobil dinas yang memenuhi persyaratan keamanan. Karenanya, dalam perjalanan Batticaloa-Colombo yang memakan waktu 9 jam lamanya saya selalu berharap agar mendapat supir kantor yang asyik diajak ngobrol untuk mengusir rasa bosan.

Sialnya, kala itu saya justru mendapatkan supir dari Colombo yang seingat saya rada menyebalkan dan jutek (duh, mateng deh di jalan…). Dheepa (bukan nama sebenarnya), jarang tersenyum, jarang bicara, selalu terlihat serius dengan brewok tipisnya. Kadang terlintas dalam benak ini dugaan jangan2x ia adalah ‘double agent’ (hehe, kebanyakan nonton film James Bond dan serial La Femme Nikita)


Namun, tak ada angin dan tak ada hujan (mmm… ada gerimis sedikit), Dheepa berubah 180 derajat menjadi luar biasa ramahnya. Sepanjang jalan, ia banyak tersenyum, dan bercerita tentang keluarga, gosip terakhir rekan di post lain, alam Sri Lanka dll. Dan yang lebih mengejutkan ia pun mentraktir saya makan siang di sebuah restoran dan mampir ke rumah keluarganya sejenak untuk segelas teh (tumbennn…)

Barulah, usai kunjungan singkat tidak resmi untuk minum teh itu semua terkuak. Dalam perjalanan ke Bandara percakapan berikut terjadi (terjemahan bebas):

Dheepa Yang Ada Maunya (DYAM):” Madame, boleh nggak saya minta tolong?…”
Saya Yang Bingung Dan Penasaran (SYBDP):” Minta tolong apa?…”
DYAM: “Saya kasih tahu setelah Madame janji mau nolong…”
SYBDP: “Tergantung minta tolong apa, kalo saya janji tapi nggak bisa gimana?…”
(dalam hati: yaelah, emangnya saya anak kecil…)

DYAM: “Saya mau nitip Madame beli sesuatu sepulangnya dari Oslo dan balik ke Colombo”
SYBDP: “Boleh, nitip beli apa? Souvenir dari Oslo?… *nebak2x*”
DYAM :” Bukan Madame, saya nitip… mmmm, nitip beli KULKAS… di toko ‘Tax Free’ yang murah di Bandara Colombo”

(:GUBRAKKK!!!…, KULKAS???… nggak salah denger neh?… Belum pernah ada kejadian orang nitip beli KULKAS, ada juga nitip beli gula sekilo, terigu atau cabe merah seperempat ons)

SYBDP: ” KULKAS?… Nnggg…, maksudnya refrigerator itu kan?… Tempat buat makanan dan minuman supaya dingin?… *pertanyaan dodol banget*
DYAM: “Iya madame… *kalem*”
SYBDP: ” Kalo misalnya saya beli neh, trus pake uang siapa?… Gimana pembayarannya?… Gimana bawanya?… KULKAS kan besar *pertanyaan nggak jelas*
DYAM: “Nanti Madame pake uang madame dulu, saya bisa juga pake uang saya tapi nanti tolong tombokin ya. Nanti saya cicil tiap bulan ke madame. Pas Madame ke luar bandara, saya tunggu di luar… Gimana?… Bisa kan???…” *dengan nada antara berharap dan sedikit maksa*

SYBDP (dalam hati): “Ini bener2x minta tolong apa mo ngerjain yak?… Udah tahu koper yang saya bawa berukuran extra large, plus hand luggage. Duh, ogah banget deh membayangkan keribetan yang akan terjadi. Belum lagi pembayaran yang tidak jelas, lokasi dan komunikasi yang sulit antara Batticaloa dan Colombo… Bagaimana kalau saat keluar bandara, Dheepa tidak ada dan saya harus repot menggotong2x KULKAS itu ke hotel?… Terlintas adegan saya sedang sibuk check-in di hotel dengan koper besar dan KULKAS disertai pelototan petugas resepsionis dan pengunjung hotel

SYBDP: “Trus mau nitip berapa KULKAS?”… *pertanyaan iseng*
DYAM: ” Satu saja Madame…Itu sudah cukup” *nada yakin*
(SYBDP: “Phewww… Untung cuma satu, bukan lima” )

DYAM:” O ya, Madame. Kalau bisa, saya titip beli TV juga merk ‘Sony’, dengan layar ukuran sedang. Bagaimana?… Bisa kan?… ” *wajah garangnya mulai keluar sedikit*
SYBDP: “Maaf banget Dheepa. Buat saya permintaan kamu itu betul2x di luar kesanggupan. Saya nggak mungkin bawa koper besar, gotong2x Kulkas dan TV plus hand-luggage seorang diri, kamu tahu sendiri saya ‘under-weight’ (baca: kurus kering, cungkring) begini…” * nada hiperbolik*

(hening sesaat)

DYAM (berusaha meyakinkan):” Tapi Madame, permintaan saya nggak merepotkan kok. Nggak usah kuatir. Madame bisa minta tolong orang buat mengantar” *nada suara sedikit tinggi*
SYBDP: “Iya, minta tolong orang bisa, tapi tetap saja merepotkan Dheepa. Bagaimana kalau kamu datang terlambat, atau tidak ada orang yang dimintai tolong, atau terjadi situasi darurat?…” *mulai kesal karena merasa dipaksa*
(dalam hati): “Duh, nggak mungkin banget deh…selain repot, bawaan sendiri sudah banyak, saya nggak yakin dengan janji2x dirimu… Ini orang minta tolong tapi kok rada maksa gitu seh???…”

Dan Dheepa pun kembali ke alam mmmm..sifat aslinya…: jutek dan tidak ramah…

Foto: Jalan menuju Colombo

Tanah Longsor…


Gerimis dan kabut…


Daerah Rawan


Banjir…


Tak lama kemudian…

KRINNGGGGGG…. Hp saya berbunyi. Telepon dari supir lain, Sanjay (bukan nama sebenarnya) di Batticaloa.

Saya: “This is Felicity speaking…”
Sanjay:” Madame, apa madame masih di jalan?… ” *dengan nada suara seperti terburu2x*
Saya: “Yup, ada apa?… Apa ada situasi emergency?…” *penasaran dan kuatir*
Sanjay: “Nggak Madame. Semua seperti biasa. Mmmm, saya telpon cuma buat titip beli barang di Bandara…”
Saya:” Barang apa?…KULKAS?…” *sok yakin*
Sanjay: ” Bukan Madame, saya titip beli seperangkat STEREO SET saja. Kalau bisa dengan TV juga”

TUINGGGG….WINGGGG…WINGGGGG…

(*cari2x ikon pentungan*)…

(dalam hati: “Ada apa dengan saya hari ini? Mengapa ketiban permintaan aneh2x?…”

Saya (tanpa pikir panjang): ” Waduh, maaf banget… Saya nggak bisa janji apa2x. Bawaan saya sendiri sudah berat banget. Maaf ya”

(WELEH…WELEH…EMANG DIKIRA ANE KULI PANGGUL YAK???…NITIP BARANG KOK NGGAK KIRA2x…)

*menghela nafas dan berdoa mohon diberi kesabaran*

LESSONS-LEARNED:
Kalau mau pergi2x, apalagi ke luar negeri lebih baik dilakukan dengan diam2x untuk menghindari permintaan aneh2x yang tidak diharapkan dan tidak sopan. Kecuali jika:
1. Siap untuk direpotkan
2. Stok kesabaran dan mood masih dalam kondisi baik
3. Permintaan yang ada betul2x mendesak dan tidak bisa ditolak (misalnya: kondisi emergency)
4. Tidak tega untuk menolak. Mmmm, sebenarnya… jika mereka tega untuk meminta yang aneh2x, kita pun berhak untuk menolak dengan tega, khususnya permintaan yang dilakukan dengan tidak sopan, dengan paksaan (baik secara halus atau tidak halus), intimidasi atau manipulasi.

Setelah kejadian di atas ingin rasanya saya pasang pengumuman: TIDAK TERIMA TITIPAN KULKAS, TV, STEREO SET, MESIN CUCI, DAN SEJENISNYA… SILAKAN BELI DAN ANGKUT SENDIRI BARANG2x YANG ANDA INGINKAN !!!…

Saya Takut Naik Pesawat Terbang…

Biarpun lumayan sering naik pesawat (jarak pendek, jauh atau sangat jauh), pernah hidup dan bekerja di daerah konflik, bertemu kelompok separatis, dinterogasi dan dibentak2x aparat, nyaris menjadi korban bom bunuh diri, dan pengalaman menguras adrenalin lainnya…. ada satu hal yang paling saya takutkan (ehm, lebih dari menyalakan kompor gas), yakni: NAIK PESAWAT TERBANG!!!…. Jrengggg…

…saya selalu was2x , tiap pesawat mulai take off

Entah mengapa saya selalu was2x tiap pesawat mulai take-off, apalagi jika mengalami turbulensi yang cukup hebat selama beberapa saat. Lebih ngeri lagi jika terbang di musim2x rawan seperti musim hujan atau cuaca mendung dan musim kecelakaan pesawat.

Pengumunan dalam pesawat yang paling saya takuti adalah: “Para penumpang sekalian. Dikarenakan kita sedang terbang dalam keadaan cuaca yang kurang baik… Tolong kencangkan sabuk pengaman anda…bla…bla“, diikuti goncangan silih berganti.

Dalam satu penerbangan (seorang diri) dengan penerbangan yang tiba2x dialihkan ke maskapai lain karena masalah teknis, via rute yang mbulet (berputar2x): Jakarta-Bangkok-Frankfurt-Oslo-Kopenhagen, menuju Lund, Swedia beberapa tahun lalu, saya mendapat tempat duduk tepat di bagian ekor pesawat. Goncangan terasa dua kali lebih kuat (mungkin hanya perasaan saja…). Bisa diduga, bagi saya perjalanan kala itu adalah sebuah siksaan batin nyaris tanpa akhir (jika saja tidak untuk bertemu sang pujaan hati… nggak akan saya bela2xin deh mengarungi separuh bumi dalam sehari..niat benerrr euyyyy…)

Sementara, ketika akan mendarat di bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh beberapa tahun lalu, pesawat yang ditumpangi terhempas angin, naik dan turun dengan tiba2x beberapa kali. Suasana di dalam pesawat sudah panik, bacaan dan doa2x terlontar dari mulut penumpang lain yang membuat jantung berdebar lebih cepat dari biasanya… (mengerikan…)

HMMMMMM……

Rasa kuatir berlipat ganda jika terbang di wilayah Indonesia dengan maskapai lokal, dimusim kecelakaan pesawat (duh, kok kecelakaan ada musimnya???…). Dari pengalaman terbang dengan berbagai maskapai tadi (mulai yang punya nama besar, hingga yang berstatus meragukan) saya tahu bahwa tinggal masalah waktu saja berita pesawat mengalami masalah ini dan itu akan muncul di media.

Suatu saat pesawat yang saya tumpangi memiliki tempat duduk yang sudah bolong2x mirip kursi bus patas di Jakarta, saat pramugari/pramugara ‘berjualan’ di pesawat, tinggal ditambah pedagang asongan maka situasi akan mirip KRL Jakarta-Depok atau Metromini. Kali lain kabel2x di sisi bagian dalam dekat lantai terlihat keluar berseliweran, sementara penumpang yang masih asyik dengan HP-nya terkesan dibiarkan oleh awak kabin meski pesawat sudah mulai take-off… *speechless*

Menaiki maskapai asing juga tidak sepenuhnya memberi jaminan kenyamanan dan keselamatan. Pesawat KLM yang sering saya tumpangi (karena paling ekonomis) misalnya… dunno why…entah mengapa kadang saya merasa bahwa pramugara/pramugari di atas pesawat tidak memberi layanan maksimal: senyum yang kadang terpaksa, keramahan yang langka (mungkin karena saya hanya penumpang di kelas ekonomi yah), makanan yang itu2x saja, pesawat yang kadang terkesan kumuh (maaf… ini hanya pengalaman pribadi, jangan digeneralisir…)

Saat terbang dengan sejumlah maskapai seperti Singapore Airlines, SAS, Lufthansa dll pelayanan yang diberikan memang lebih baik. Tapi… tetap saja jantung berdebar lebih kencang ketika pesawat sedang take off, bergoncang di tengah penerbangan atau menjelang landing (memang dasar penakut…)

LALU?…

Biasanya, ada beberapa aktivitas yang saya lakukan untuk mengalihkan rasa takut terbang ini, yakni:

1. Mengobrol dengan tetangga tempat duduk. Untuk yang satu ini memang tergantung nasib. Jika beruntung, ada kawan seperjalanan yang asyik diajak ngobrol. Saat bepergian seorang diri, saya berharap agar bisa mendapat tetangga duduk yang supel…syukur2x cowok guanteng yang baik hati dan tidak sombong (namanya juga berharap, pasti yang bagus2x lah… :D).

Untung…T belum mengerti Bahasa Indonesia,…saya bisa menulis apa saja di blog pribadi ini, huehehe :D… *tertawa jahat seperti di film2x*

2. Membaca majalah dengan topik ringan yang tak perlu mengerutkan dahi saat dibaca. Melihat warna-warni dan tampilan majalah yang menarik sudah cukup menyegarkan mata dan hati.

3. Mendengarkan musik di headset atau menonton film. Karena termasuk sensitif dengan bunyi2xan yang tidak jelas, saya memilih untuk mendengarkan alunan musik di headset sepanjang jalan, termasuk saat tidur. Musik klasik adalah salah satu favorit di masa2x tidak menyenangkan ini.

4. Pasrah dan dalam hati menyebut semua doa2x yang saya ingat (kalau bisa, doa semua agama saya sebut deh …)

Karena rasa takut terbang ini, saya membatalkan ajakan seorang profesor untuk kunjungan kerja di beberapa daerah di Indonesia bulan Desember mendatang. Sebuah kesempatan yang menarik… sayang beliau tidak tahu bahwa alasan utama saya menolak adalah alasan yang mungkin sepele namun menganggu buat saya: I AM AFRAID OF FLYING…..

(mohon maaf kalau posting kali ini menjadi ajang curhat)


Dohhh, mengapa perjalanan antar waktu atau antar dimensi seperti di film Star Trek belum tercipta?… seandainya untuk menuju ke satu tempat nggak usah repot2x antri check-in, angkat-turun bagasi, sport jantung saat turbulensi…. Kenapa sih kok saya penakut buat yang satu ini?…