Category Archives: story from conflict zone

Godaan Cinta: "Kalau Kamu Mau…"

Bagi yang pernah merasakan jatuh cinta, pasti pernah pula mengalami godaan cinta, baik sebagai pihak penggoda atau yang digoda. Saat menjalani LDR (long distance relationship alias hubungan jarak jauh) Lund/Oslo- Sri Lanka banyak sekali godaan yang saya hadapi.

Batticaloa, Oktober 2006

Diawali dari obrolan ringan antara Dheva, Kirun, Anis (rekan lokal dari Colombo) Matteo (kolega asal Italia) dan saya di beranda rumah sewaan Matteo yang cukup besar menghadap danau. Sebagai perempuan satu2xnya, tidak tahan asap rokok dan tidak minum bir seperti yang lain, saya mencoba menjaga jarak dan sesekali menjauh untuk menghirup udara segar. Setelah rekan lokal kembali ke kamar, tinggalah saya dan Matteo berdua.

Suara bedebam-bedebum meriam terdengar di kejauhan diikuti getaran kaca2x jendela. Percakapan berlangsung berjam2x dimulai dari masalah pekerjaan, hingga masuk ke topik pasangan masing2x. Status Matteo, -berdasarkan pengakuannya- sedang kosong alias available. Sang pacar memilih untuk memutuskan hubungan saat Matteo memilih berkarir di negeri antah-berantah, mengakhiri profesinya sebagai pengacara muda. Saya sendiri berterus terang sudah memiliki pasangan dan tidak berniat mencari yang lain.

Foto: Pasangan muda-mudi yang sedang berdua di balik payung. Pemandangan yang banyak ditemui di kawasa pantai Galle, Sri Lanka bagian selatan. Ada apa di balik payung?…. Gelapppp ahhh…

Continue reading

Advertisements

Titip Beli Kulkas

Batticaloa, Desember 2006

Pada libur natal dan jatah cuti selama dua minggu, saya berkesempatan mengunjungi T di Oslo. Bagi mereka yang berada di daerah konflik aktif dengan dentuman suara meriam dan letusan senapan tiap hari, meninggalkan kota selama beberapa hari adalah sebuah ‘anugrah’ tersendiri. Satu minggu sebelum keberangkatan, urusan visa, tiket pesawat, transport antar jemput dari Batticaloa-Colombo dan dari Colombo-airport pp sudah beres.

…Dheepa… jarang tersenyum, jarang bicara, … selalu terlihat serius… …

Untuk transport, saya hanya diperbolehkan meninggalkan duty station (tempat penugasan) jika menggunakan mobil dinas yang memenuhi persyaratan keamanan. Karenanya, dalam perjalanan Batticaloa-Colombo yang memakan waktu 9 jam lamanya saya selalu berharap agar mendapat supir kantor yang asyik diajak ngobrol untuk mengusir rasa bosan.

Sialnya, kala itu saya justru mendapatkan supir dari Colombo yang seingat saya rada menyebalkan dan jutek (duh, mateng deh di jalan…). Dheepa (bukan nama sebenarnya), jarang tersenyum, jarang bicara, selalu terlihat serius dengan brewok tipisnya. Kadang terlintas dalam benak ini dugaan jangan2x ia adalah ‘double agent’ (hehe, kebanyakan nonton film James Bond dan serial La Femme Nikita)


Namun, tak ada angin dan tak ada hujan (mmm… ada gerimis sedikit), Dheepa berubah 180 derajat menjadi luar biasa ramahnya. Sepanjang jalan, ia banyak tersenyum, dan bercerita tentang keluarga, gosip terakhir rekan di post lain, alam Sri Lanka dll. Dan yang lebih mengejutkan ia pun mentraktir saya makan siang di sebuah restoran dan mampir ke rumah keluarganya sejenak untuk segelas teh (tumbennn…)

Barulah, usai kunjungan singkat tidak resmi untuk minum teh itu semua terkuak. Dalam perjalanan ke Bandara percakapan berikut terjadi (terjemahan bebas):

Dheepa Yang Ada Maunya (DYAM):” Madame, boleh nggak saya minta tolong?…”
Saya Yang Bingung Dan Penasaran (SYBDP):” Minta tolong apa?…”
DYAM: “Saya kasih tahu setelah Madame janji mau nolong…”
SYBDP: “Tergantung minta tolong apa, kalo saya janji tapi nggak bisa gimana?…”
(dalam hati: yaelah, emangnya saya anak kecil…)

DYAM: “Saya mau nitip Madame beli sesuatu sepulangnya dari Oslo dan balik ke Colombo”
SYBDP: “Boleh, nitip beli apa? Souvenir dari Oslo?… *nebak2x*”
DYAM :” Bukan Madame, saya nitip… mmmm, nitip beli KULKAS… di toko ‘Tax Free’ yang murah di Bandara Colombo”

(:GUBRAKKK!!!…, KULKAS???… nggak salah denger neh?… Belum pernah ada kejadian orang nitip beli KULKAS, ada juga nitip beli gula sekilo, terigu atau cabe merah seperempat ons)

SYBDP: ” KULKAS?… Nnggg…, maksudnya refrigerator itu kan?… Tempat buat makanan dan minuman supaya dingin?… *pertanyaan dodol banget*
DYAM: “Iya madame… *kalem*”
SYBDP: ” Kalo misalnya saya beli neh, trus pake uang siapa?… Gimana pembayarannya?… Gimana bawanya?… KULKAS kan besar *pertanyaan nggak jelas*
DYAM: “Nanti Madame pake uang madame dulu, saya bisa juga pake uang saya tapi nanti tolong tombokin ya. Nanti saya cicil tiap bulan ke madame. Pas Madame ke luar bandara, saya tunggu di luar… Gimana?… Bisa kan???…” *dengan nada antara berharap dan sedikit maksa*

SYBDP (dalam hati): “Ini bener2x minta tolong apa mo ngerjain yak?… Udah tahu koper yang saya bawa berukuran extra large, plus hand luggage. Duh, ogah banget deh membayangkan keribetan yang akan terjadi. Belum lagi pembayaran yang tidak jelas, lokasi dan komunikasi yang sulit antara Batticaloa dan Colombo… Bagaimana kalau saat keluar bandara, Dheepa tidak ada dan saya harus repot menggotong2x KULKAS itu ke hotel?… Terlintas adegan saya sedang sibuk check-in di hotel dengan koper besar dan KULKAS disertai pelototan petugas resepsionis dan pengunjung hotel

SYBDP: “Trus mau nitip berapa KULKAS?”… *pertanyaan iseng*
DYAM: ” Satu saja Madame…Itu sudah cukup” *nada yakin*
(SYBDP: “Phewww… Untung cuma satu, bukan lima” )

DYAM:” O ya, Madame. Kalau bisa, saya titip beli TV juga merk ‘Sony’, dengan layar ukuran sedang. Bagaimana?… Bisa kan?… ” *wajah garangnya mulai keluar sedikit*
SYBDP: “Maaf banget Dheepa. Buat saya permintaan kamu itu betul2x di luar kesanggupan. Saya nggak mungkin bawa koper besar, gotong2x Kulkas dan TV plus hand-luggage seorang diri, kamu tahu sendiri saya ‘under-weight’ (baca: kurus kering, cungkring) begini…” * nada hiperbolik*

(hening sesaat)

DYAM (berusaha meyakinkan):” Tapi Madame, permintaan saya nggak merepotkan kok. Nggak usah kuatir. Madame bisa minta tolong orang buat mengantar” *nada suara sedikit tinggi*
SYBDP: “Iya, minta tolong orang bisa, tapi tetap saja merepotkan Dheepa. Bagaimana kalau kamu datang terlambat, atau tidak ada orang yang dimintai tolong, atau terjadi situasi darurat?…” *mulai kesal karena merasa dipaksa*
(dalam hati): “Duh, nggak mungkin banget deh…selain repot, bawaan sendiri sudah banyak, saya nggak yakin dengan janji2x dirimu… Ini orang minta tolong tapi kok rada maksa gitu seh???…”

Dan Dheepa pun kembali ke alam mmmm..sifat aslinya…: jutek dan tidak ramah…

Foto: Jalan menuju Colombo

Tanah Longsor…


Gerimis dan kabut…


Daerah Rawan


Banjir…


Tak lama kemudian…

KRINNGGGGGG…. Hp saya berbunyi. Telepon dari supir lain, Sanjay (bukan nama sebenarnya) di Batticaloa.

Saya: “This is Felicity speaking…”
Sanjay:” Madame, apa madame masih di jalan?… ” *dengan nada suara seperti terburu2x*
Saya: “Yup, ada apa?… Apa ada situasi emergency?…” *penasaran dan kuatir*
Sanjay: “Nggak Madame. Semua seperti biasa. Mmmm, saya telpon cuma buat titip beli barang di Bandara…”
Saya:” Barang apa?…KULKAS?…” *sok yakin*
Sanjay: ” Bukan Madame, saya titip beli seperangkat STEREO SET saja. Kalau bisa dengan TV juga”

TUINGGGG….WINGGGG…WINGGGGG…

(*cari2x ikon pentungan*)…

(dalam hati: “Ada apa dengan saya hari ini? Mengapa ketiban permintaan aneh2x?…”

Saya (tanpa pikir panjang): ” Waduh, maaf banget… Saya nggak bisa janji apa2x. Bawaan saya sendiri sudah berat banget. Maaf ya”

(WELEH…WELEH…EMANG DIKIRA ANE KULI PANGGUL YAK???…NITIP BARANG KOK NGGAK KIRA2x…)

*menghela nafas dan berdoa mohon diberi kesabaran*

LESSONS-LEARNED:
Kalau mau pergi2x, apalagi ke luar negeri lebih baik dilakukan dengan diam2x untuk menghindari permintaan aneh2x yang tidak diharapkan dan tidak sopan. Kecuali jika:
1. Siap untuk direpotkan
2. Stok kesabaran dan mood masih dalam kondisi baik
3. Permintaan yang ada betul2x mendesak dan tidak bisa ditolak (misalnya: kondisi emergency)
4. Tidak tega untuk menolak. Mmmm, sebenarnya… jika mereka tega untuk meminta yang aneh2x, kita pun berhak untuk menolak dengan tega, khususnya permintaan yang dilakukan dengan tidak sopan, dengan paksaan (baik secara halus atau tidak halus), intimidasi atau manipulasi.

Setelah kejadian di atas ingin rasanya saya pasang pengumuman: TIDAK TERIMA TITIPAN KULKAS, TV, STEREO SET, MESIN CUCI, DAN SEJENISNYA… SILAKAN BELI DAN ANGKUT SENDIRI BARANG2x YANG ANDA INGINKAN !!!…

Nehe…Nehe…

Bagi yang pernah melihat film2x India mungkin ingat adegan saat seorang tuan tanah atau tukang pukul jahat (emangnya ada tukang pukul baek2x?… *pertanyaan nggak penting*…) menggoda gadis desa cantik yang sedang berjalan dan menarik2x tangan korbannya, si gadis pun berteriak: “NEHIIII… NEHIIII…!!!” (terjemahan: Tidakkk…. Tidakkk…!!!)

…Tak disangka kata pertama dalam bahasa lokal ini sangat manjur. Saat supir taksi menawarkan tumpangan …

Nah, adegan inilah yang membantu saya menebak arti kata ‘NEHE’ dalam bahasa Sinhala yang beberapa kali tertangkap kuping saat pertama kali mendarat di Bandara Sirimavo Bandaranaike-Colombo. Tak disangka, kata pertama dalam bahasa lokal ini sangat manjur. Saat supir taksi menawarkan tumpangan sambil menarik2x tangan, saya hanya berkata: “NEHE…NEHE…”. Saat supir bajaj setengah memaksa untuk memilih bajaj-nya, saya hanya bilang: “NEHE…NEHE…” Mmmmm, kalau ada cowok guanteng mengajak berkenalan?…Jawabannya pasti bukan Nehe…Nehe lagi dong, tapi HEHE…HEHE…kidding! ๐Ÿ˜€


Selain mengatakan “Nehe… Nehe…”, sesuai kebiasaan di Indonesia, bahasa tubuh yang dipakai saat berkata tidak, pasti GELENG2x KEPALA (lah iyalahhh… masa sambil jingkrak2x?…). Ternyata… bahasa tubuh tersebut memiliki arti berbeda di Sri Lanka.

Oktober, 2006

Malam pertama di Colombo, saya tinggal di sebuah rumah keluarga yang ditinggali pasangan suami-istri dari etnis Sinhala, bersama anak, cucu, menantu dan dua orang pembantunya. Saya tidak mengerti pertimbangan pihak kantor mencarikan kamar di tempat ini. Seperti layaknya basa-basi orang Indonesia, isteri sang empunya rumah, seorang perempuan paruh baya yang modis, ramah (atau diramah2xkan?, entahlah…) mengajukan beberapa pertanyaan dalam Bahasa Inggris, seperti di bawah ini:

Si Ibu: ” Kamu datang sendiri ke sini yah?”
Saya :”Iya, memang kenapa, Bu?…”
Si Ibu : (GELENG2x KEPALA…)
“Wah berani sekali… Umur kamu berapa?…”
Saya : ” Bla…bla…tahun”
Saat saya menjawab, si ibu lagi2x GELENG2x KEPALA…
Si Ibu: “Masa?…kamu terlihat jauh lebih muda. Dulu kuliah dimana?”
Saya: ” Di bla…bla…, jurusan bla…bla…”
(Sambil bicara saya mengamati respon Si Ibu yang terus GELENG2x KEPALA)

DUHHH, BU…PLISS DEHHH… JANGAN GELENG2x KEPALA MULU. SAYA AJA PEGEL NGELIATNYA… *suara jeritan hati :D*

Si Ibu: “Wah bagus sekali. Kamu kerja dengan organisasi apa?…Pernah kerja dimana?…”
Saya : “Saya pernah kerja di bla…bla… Sekarang gabung dengan bla..bla…”
Si Ibu: (GELENG2x KEPALA). Teutepppp…
Saya (dalam hati): “Ini Si Ibu napa yak? Apa tongkrongan saya terlihat seperti anak kemarin sore, nggak dipercaya?…Dianggap bohong?… Kok geleng2x kepala mulu, sehhhh…”

(akhirnya karena tidak tidak tahan lagi memendam rasa penasaran, saya pun nekat bertanya)

Saya: “Maap ya Bu, jangan tersinggung. Saya cuma mau nanya. Kenapa Ibu selalu geleng2x kepala setiap kali saya bicara dan menjawab pertanyaan?… Apa Ibu tidak percaya semua kata2x saya?”
Si Ibu (agak terkejut dan TIDAK LAGI GELENG2x KEPALA)
“Wah, NEHE… NEHE… Maaf, saya tidak bermaksud apa2x. Kalau di sini orang geleng2x kepala artinya mengiyakan omongan lawan bicara atau menyimak tanda setuju. Bukan sebaliknya…”
Saya: “Ealahhhh… begitu, yak…ternyata. Terima kasih atas penjelasannya, Bu…” *tetep jaim* (dalam hati mentung2xin diri sendiri menyadari kedodolan yang baru saja terjadi)

Dan sejak peristiwa ini, setiap lawan bicara saya geleng2x kepala di tengah ucapan atau pembicaraan saya, ucapan si Ibu tadi selalu terngiang2x, bahwa si lawan bicara sedang mengiyakan, bukan sebaliknya… ๐Ÿ˜€

Di Sini Ada Hantu?… (Bagian 1)

Pengalaman bekerja di daerah pasca bencana dan konflik membuat saya harus mendatangi lokasi yang penuh cerita ‘berdarah-darah’. Kisah penculikan, penyiksaan, pembunuhan sadis, kesedihan, kehilangan dan semacamnya menjadi bagian dari cerita sehari-hari. Kalau sudah begini, saya hanya mohon pada Yang Di Atas, agar diberi kekuatan dan ketegaran hati…

…hotel kecil yang saya tempati dikelilingi oleh rawa2x di bagian belakang, sementara pohon2x besar…

SIAPA YANG MENANGIS?
Saat bertugas di daerah Timur Sri Lanka, di tempat tinggal kedua usai harus mengungsi (lihat post: Mengungsi lagi- Sepenggal cerita dari Sri Lanka- part 6, hotel kecil yang saya tempati dikelilingi oleh rawa2x di bagian belakang, lapangan terbuka di bagian depan dan samping kiri, sementara pohon2x besar dan rimbun berada di sisi kanan (lihat foto di atas)


Tak jarang saya menjadi satu2xnya tamu di bangunan hotel bertingkat tiga tersebut. Sementara bapak tua penjaga pintu bertugas (yang lebih sering tertidur) di palang masuk, berjarak puluhan meter dari kamar saya di lantai 2. Otomatis, saya terisolasi dari dunia luar. Daerah tempat hotel berdiri diterjang ombak tsunami hingga lantai satu dan banyak mayat2x ditemukan di dalam hotel atau di rawa2x belakang hotel, tepat di bawah jendela kamar saya.

Awalnya, mengetahui resiko yang akan dihadapi, saya hanya bisa menguatkan diri dan menjauhkan pikiran dari hal2x negatif (…the power of positive thinking, you know...). Saat gelap mulai merayap… siksaan batin pun dimulai… Tidak ada TV, tidak ada radio, tidak ada teman untuk diajak bicara (hubungan telepon sering diputus mulai dari satu minggu hingga berbulan2x saat operasi militer dilakukan pasukan pemerintah), tidak ada tetangga kamar untuk diajak kongkow2x…

Memasuki jam 12 malam, suara hening bercampur gonggongan anjing, kadang lolongan panjang seperti di cerita2X horor dan suara daun2x kering terinjak binatang lewat menciptakan kesan tersendiri. Saya hanya berharap agar tidak melihat atau bertemu yang aneh2x (amit2x jangan sampe kejadian…)

Hingga satu malam…
Sekitar jam 2 malam, diawali dengan suara lolongan anjing di kejauhan. Sayup2x telinga saya menangkap suara tangisan…datang dari arah rawa2x di belakang kamar… Seperti biasa, saya hanya menutup muka dan telinga dengan bantal, mencoba menghindari yang tidak2x… (baca: self denial technique… hasil ciptaan sendiri *ngaco*))

Foto: Rawa2x di belakang hotel. Dinding lantai dua dalam foto adalah bagian dari kamar saya.

Namun, hingga sekitar 30 menit lebih suara tangisan masih terdengar… Seperti suara anak kecil (laki2x) menangis…. Yang terdengar kian jelas. Saya pun hanya bisa berbicara pada diri sendiri: ” Dear God, napa seh saya yang penakut gini musti ngalamin yang aneh2x… Biasa aja dong…” Sambil berharap dan ‘menghibur diri’: “Yah, ini kan bukan Indonesia, ‘mereka yang tak terlihat’ pasti nggak ngerti bahasa saya dan membatalkan niat buat iseng karena ‘hambatan komunikasi’ bahasa“… Hingga: “Tapi…, kalo ‘mereka’ bisa cas-cis-cus Bahasa Inggris gimana?…WAAKKKKKSSSS… GAWATTTSSS……”

Suara tangisan kembali terdengar. Saya hanya mencoba tidur, yang memang sesekali tertidur, lalu terbangun, dan tertidur lagi… Tangisan itu berlangsung (berdasarkan perkiraan), antara jam 1 hingga jam 3 pagi. Malam2x berikutnya kejadian sama berulang beberapa kali… Kadang suaranya mirip suara perempuan… Seperti biasa, saya hanya berdoa mohon kekuatan dan perlindungan, sambil tetap (memaksa diri) tertidur. Sebagai tambahan: dalam kamar saya ada 2 tempat tidur, satu selalu kosong namun… saya merasa seperti ada ‘sesuatu’ di sana.

Yah sudahlah… asal tidak macam2x atau menganggu saja… Beruntung masa tinggal saya di tempat ini segera berakhir (dengan paksa)…(lihat post: Mengungsi Lagi- Sepenggal Cerita Dari Sri Lanka part 6
Berlanjut ke:Di sini ada hantu? – part 2

 

Di Sini Ada Hantu?… (Bagian 2)

Lanjutan dari: Di Sini Ada Hantu?… (Bagian 1)

Keterangan Foto: Berdiskusi dengan pengungsi yang menengok lahan di desa setelah 5 tahun ditelantarkan. Saya menjadi satu2x perempuan di antara para lelaki (baru nyadar belakangan…, hehe :D)

CELANA JEANS TERSAYANG HARUS DIBUANG
Saat berkunjung ke salah satu desa di pedalaman Aceh, saya dan ketua tim (sebut saja Steven dari Australia) mendatangi lokasi yang sejak 5 tahun tidak pernah didatangi manusia. Penduduk mengungsi ke tempat lain mencari perlindungan. Alhasil, bangunan musholla yang rubuh, jembatan yang hancur, rumah2x yang ditelantarkan, bangunan yang dibakar saat konflik berdiri dikelilingi rimbunan pohon dan ilalang yang tinggi.

Dari penduduk desa tetangga, kami mendengar banyak cerita mengenaskan dan sulit dipercaya yang terjadi… (*censored*). Di salah satu bagian desa, saya dan Steven ingin melihat bangunan yang terbakar. Untuk menuju lokasi, kami harus melewati sebuah jalan setapak, di antara rimbunnya pohon dan semak belukar seperti terlihat dalam foto di atas

Beberapa penduduk lokal yang kami temui, termasuk supir menolak untuk ikut mendatangi lokasi, entah mengapa. Hanya saya, Steven dan seorang penunjuk jalan yang pergi. Rimbunan ilalang menutupi jalan yang kami lalui. Setelah beberapa ratus meter, kami tiba di lokasi, melakukan observasi dan kembali ke mobil. Dari cerita penduduk, saat konflik sedang panas2xnya, banyak mayat ditemukan di lokasi yang kami lewati dalam kondisi tidak utuh. SEEERRRRRR…Saya langsung merinding saat membayangkan kejadian yang pernah ada. Ilalang dan pepohonan menjadi saksi bisu duka dan kepedihan di sana. Suara tangisan dan teriakan sebelum ajal menjemput para korban yang malang seakan ‘direkam’ oleh alam.

Tidak ada kejadian aneh di hari2x selanjutnya. Namun tiba2x saja saya mengalami alergi hebat yang tak pernah dialami seperti biduran, merah dan gatal di kaki. Awalnya saya tidak ambil pusing. Lama kelamaan, setelah obat anti alergi dan sabun anti-septik tidak mempan, saya mulai berpikir, mengapa alergi selalu muncul setiap kali saya mengenakan celana jeans yang sama yang saya kenakan saat mendatangi lokasi di desa terpencil tadi. Meski celana sudah dicuci dan diseterika berulang-ulang selama beberapa kali. Hal ini berlangsung hingga beberapa bulan… (lama betul yah)

Atas saran seorang rekan lokal yang memiliki ‘pengetahuan’ tentang hal2x semacam ini, saya harus membuang celana jeans tadi sebagai ‘tumbal’ untuk ‘buang sial’ (duh kok bisa seh, kenapa harus celana?…).

Dalam bahasa paranormal mungkin bisa dibilang kalau daerah ini ‘tidak bersih’. Berat rasanya, karena ini adalah celana kesayangan, yang pas di badan dan nyaman dipakai. Namun, karena tidak tahan lagi dengan alergi aneh yang ‘hinggap’ di celana jeans itu, saya pun merelakannya. Yah, celana kesayangan pun harus berakhir tragis di tong sampah (selamat tinggal celana jeans-ku tersayang…) Dan alergi aneh tadi pun tidak pernah muncul lagi.

DI SINI ADA HANTU?
Nah, selama berada di Norwegia…saya pikir akan terbebas dari hal2x dan hil2x aneh2x seperti pengalaman sebelumnya. TAPIIIIII…. saya keliru…………..

Kejadian terakhir adalah hari Selasa dua hari yang lalu. Saat musim dingin seperti sekarang, matahari mulai terbenam jam 4 sore. Jam 17.30, saya masih di ruang kantor seorang diri. Pemandangan di luar jendela nampak gelap gulita karena lampu ruangan lain dimatikan, sepi, tanda tak banyak pekerja lain yang masih berada di sana.

Foto: Ruang tempat saya ‘kerja rodi’ setiap hari…


Tiba2x saja… saya mencium bau aneh…yang entah terbawa hembusan angin dari mana.
Hidung pun mencoba mengenali bau tak biasa ini.

Bau kopi (“Aha, paling2x ada yang bikin kopi pake coffee-maker di ujung gang” pikir saya). Tapi…. kok baunya aneh… bau kopi disusul bau gosong seperti terbakar dan… BAU BANGKAI!!!…

Saya mencoba memastikan penciuman tadi dan hasilnya memang positif, bau kopi, gosong dan bau bangkai!… WHAAAAAA…. Tidak ada orang lain di ruangan kiri-kanan saya… Tidak ada langkah2x kaki terdengar di sekitar… Hanya langkah2x kaki orang mondar-mandir berjalan (mungkin) di lantai atas… Tapi, jam2x segini, lantai atas juga biasanya kosong… lalu langkah kaki siapa dong?…. HUHUHU… ๐Ÿ˜ฆ

Saya pun teringat bahwa sejak seharian itu bulu kuduk saya merinding tanpa sebab yang jelas. Karena bau aneh tercium semakin kuat dan tidak mau mengalami yang aneh2x, saya segera mengambil syal, jaket, tas dan KABURRRRRR….

Esoknya, saya bertanya pada bos (orang Norwegia yang tahu banyak tentang Indonesia). Saat itu, ia kebetulan mampir ke ruangan untuk ngobrol2x. Dalam terjemahan bebas:

Saya: “Mmmmm, mo nanya neh…di sini pernah ada kejadian aneh2x nggak?”
Boss: “Aneh2x gimana maksud kamu?” (dengan muka heran)
Saya: “Ya, aneh2x…itu loh…kejadian yang melibatkan sesuatu ‘yang tak kelihatan’
Boss: “(mulai ngeh)Ooooo, itu maksudnya… Kayaknya nggak deh. Emang napa?” *dengan wajah penasaran*
Saya: “Kemaren ada kejadian yang saya nggak ngerti, tiba2x aja kok kecium bau kopi, gosong dan bau bangkai di sini…”
Boss: “Wah, ada2x aja… Saya sih nggak pernah mikirin begituan. Tapi dulu pak X… (keterangan: pak X ini, seorang politikus, yang juga mantan dosen saya di FHUI) dia pernah nanyain hal yang sama juga loh…”
Saya: “O ya?” *penasaran*
Boss: “Iya, dia nanya: DI SINI ADA HANTU? gitu deh…”
Saya: “Napa dia nanya begitu yak?…” *tambah penasaran*
Boss: “Nggak tau tuh. Waktu itu dia datang berkunjung ke sini. Tiba2x aja nanya begituan”…
Saya :(berpikir dalam hati)”Wah, jangan2x Pak X bisa ‘melihat’ juga ato beliau juga penakut kayak saya?“…*melongo*

Foto: pemandangan luar, lewat jam 5 sore biasanya sudah gelap gulita.

Bangunan kantor saya berada di seberang bangunan universitas berumur ratusan tahun. Saat Perang Dunia II, beberapa bagian kota juga hancur karena ledakan bom.

Untung sebentar lagi lokasi kantor akan pindah ke tempat baru.
(PHEWWWW, slamet… slamet…)

Meski harus tetap berpikir positif dan rasional, kadang tetap ada hal2x atau peristiwa yang tak bisa dijelaskan dengan nalar terjadi dalam hidup sehari2x. Masih banyak kejadian aneh yang saya alami, namun karena keterbatasan tempat akan dimuat dalam postingan berbeda (tetaplah berpikir positif! *sambil komat-kamit :D*)

Orang Jepang dari Hongkong

Ada satu hal yang sering ditanyakan buat saya setiap kali berada di tempat baru. “Kamu berasal dari mana?” . “Coba tebak…”, biasanya itu jawaban saya sambil senyum2x penuh keyakinan kalau jawaban yang diberikan bakalan salah. Dan…memang kebanyakan salah…

Saat berada di kawasan Eropa, orang mengira saya adalah orang:
1. Filipina
2. Thailand
3. Vietnam
4. Lain2x mulai dari Spanyol sampe Peru (nggak nyambung banget yak)

Nah, posting kali ini adalah tentang pengalaman selama di Sri Lanka,kejadian yang sama selalu berulang… dan hasil tebakan mereka adalah:
1. Orang Jepang
2. Orang Jepang
3. Orang Jepang

Yaolohhh…masak saya yang gosong dan bermata belok begini dibilang orang Jepang?… Jepang dari Hongkong?… (*ngomong dengan diri sendiri*). Percakapan sebagai berikut pernah terjadi (dalam terjemahan sebebas-bebasnya :D):

Bersama anak2x sekolah saat kunjungan lapangan



Orang yang tanya-tanya (OYTT): “Mbak…mbak…aslinya dari mana sih?”
Saya : “Ayo tebakkkk….” *sambil senyum2x sendiri*…(gila dong!…)
OYTT : “Pasti dari JEPANG!” *dengan nada yakin*
Saya : ” JEPANG?…Emang saya kayak orang JEPANG?…” *penasaran*
OYTT : ” Iya!” *mengangguk masih dengan muka yakin*
Saya : ” Nggak kok, saya bukan orang JEPANG!”
OYTT : ” Kalo gitu orang CINA dong!” *dengan nada yakin*
Saya (dalam hati):…”Yaelahhh, nih orang, udah salah pake yakin lagi
Saya : ” Bukan, saya orang INDONESIA”
OYTT : ” INDONESIA?… Mmmmm, oh, MALAYSIA?…”
Saya : ” Bukan MALAYSIA tapi INDONESIA kita tetanggaan
OYTT : ” Ohhh, THAILAND…”
Saya (dalam hati) : “Duh, napa seh, orang kok nggak tau Indonesia?…”
Saya : “Bukan THAILAND, tapi INDONESIA!”
OYTT : “Oyaya, saya tahu… MALAYSIA…MALAYSIA…” *sambil manggut2x*
Saya : “Bukannnn…bukan MALAYSIA, tapi INDONESIA… INDONESIA”
OYTT : ” Ahhh, saya tahu, kamu mau ngerjain saya yah… Kamu pasti orang JEPANG!”
Saya (dalam hati): PRETTTTTT!!!!!!….#ยค&/&ยค”!!ยค&//XXZZZ”#ยค…. (bener2x jaka sembung kagak nyambung…)

Keterangan: percakapan serupa sering terjadi bila bertemu penduduk lokal. Ketidaktahuan ini mungkin disebabkan arus informasi yang tidak lancar, wajah orang Indonesia yang tidak familiar, sedikitnya orang Indonesia di Sri Lanka (selama di Batticaloa belum pernah bertemu satupun orang Indonesia dan menurut info, belum pernah ada orang Indonesia ‘berkeliaran’ di sana).

Sementara, LSM dan proyek2x bantuan dari Jepang banyak bertaburan di Sri Lanka, sampai2x ada satu hotel khusus di ibu kota yang penghuninya 90% adalah orang Jepang yang tinggal berbulan2x atau sekedar kunjungan singkat, dari anak muda ABG hingga orang dewasa.

JRENGGGGG….. believe it or not
Awalnya, saya sempat heran saat mendatangi warnet yang dipenuhi anak muda berbahasa Jepang (mirip di Bali), lalu bertemu tamu2x dari Jepang di lobi hotel, melihat orang Jepang menenteng2x seterikaan, sikat dan laundry menuju lift; melihat mereka bercengkerama di restoran, di pusat perbelanjaan, di jalanan…

OMAIGOTTTT….mereka ada di mana-mana…. Tak jarang saya menemui gadis2x muda berpakaian ketat nan seksi, make-up tebal dan tidak mengesankan sedang berada di sebuah negara yang sedang dikoyak perang saudara. Staff lokal saya mengatakan kalau tidak sedikit dari mereka yang menjadi perempuan panggilan sebagai sumber penghasilan, entah benar atau tidaknya saya tidak tahu pasti. Jangan2x ini hanya kebetulan saja karena saya sedang menginap di daerah ‘hotel Jepang’ ini…

Karena keterbatasan kontak dengan orang Indonesia, wajarlah jika bentuk fisik orang dari negara kita tidak dikenal… Saya sempat berpikir, jangan2x mereka mengira semua orang berwajah Asia (selain dari India) adalah orang Jepang… Saya tidak mau melakukan generalisasi, ada juga orang Sri Lanka yang berpendidikan dan mengetahui Indonesia. Namun, bagi masyarakat awam di pedesaan,Indonesia, Malaysia dan Jepang, hampir tidak ada bedanya…

SAYA BUKAN ORANG JEPANNGGGGG!!!!………….

Jaket 15 Kilo?…

Saat sedang iseng2x melihat foto2x lama, mata saya tertuju pada sebuah foto diri yang terlihat aneh dalam sebuah jaket saat masih berada di Sri Lanka (lihat foto di atas). Setelah Suatu Pagi di Hari Minggu (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-7), episode pengalaman selama di daerah panas ini seperti timbul-tenggelam.

Jaket di atas adalah jaket anti peluru yang wajib dikenakan semua staff PBB (bukan Pajak Bumi dan Bangunan, atau Pecinta Buah-Buahan loh :D…) saat bekerja di daerah konflik aktif seperti duty station saya di Batticaloa yang adalah wilayah pemberontak macan Tamil. Di tempat ini, penduduk mayoritas adalah etnis Tamil yang beragama Hindu, sebagian kecil memeluk agama Islam dan Kristen.

Mengikuti prosedur keselamatan adalah wajib hukumnya bagi para staff. Jika terjadi kecelakaan atau hal2x tak diinginkan, pihak asuransi tidak akan mengganti jika kesalahan memang ada di pihak staff yang tak mengikuti aturan.

Sesuai judul posting di atas. Kali ini saya ingin membahas tentang jaket anti peluru tadi yang beratnya sungguh amit2x, meski tidak pernah ditimbang secara khusus, buat saya berat jaket itu mencapai antara 10-15 kilogram! (perkiraan kasar dan subjektif).

JADI….Bayangkan… *ayoooo…, bayangkan dengan khidmat :D*

Jika berat badan saya hanya 42,5 kg (pengen gemuk tapi nggak bisa2x, help), dan harus memakai jaket 1/3 berat badan, sementara di lapangan harus lincah bergerak dan gesit dalam bertindak, apalagi jika ada kondisi darurat… Sangat amat sukar sekali bagi orang2x seperti saya yang kecil, mungil (untung tidak tengil, hehe) buat beraktivitas…

SUDAH DICOBA?….

Saya sudah mencoba mengenakan jaket ini beberapa kali, namun tetap merasa keberatan (literally speaking). Kesulitan ini dirasakan juga oleh rekan lokal yang laki2x. Alhasil, kami pun kadang nekat pergi tanpa langsung memakai jaket dengan pintar2x membaca situasi. Yang jelas tindakan ini memang beresiko tinggi dan tidak layak dicontoh. Setiap kali ke lapangan dan ke desa untuk tugas monitoring bantuan, jaket dan helm anti peluru tetap kami bawa di mobil dalam jangkauan tangan bersama handset radio. Jika sewaktu2x terjebak dalam kontak senjata, kami tinggal memakai jaket, menghubungi radio room, dan berdoa mohon keselamatan (what else?…).

KOK BERAT SEKALEEE?…

Karena penasaran dengan berat ini, saya pernah iseng2x membongkar isi jaket yang ternyata terdiri dari dua lempengan plat baja (bagian depan dan belakang) dengan tebal yang rrruar… biasa (mengingatkan saya pada lempeng bagian bawah seterika besi jadoel). Pantas saja…

SUDAH PROTES?…

Pernah juga saya ‘protes’ dengan isu berat jaket ini pada Security Officer asal Russia yang baik hati dan tidak sombong (and kinda cool, ehm), tapi dia hanya bilang “Kamu harus pakai! T.I.T.I.K. Jangan berjudi dengan nasib!” Sempat terpikir dalam hati “gimana kalo Russian roulette?”* …kidding ๐Ÿ˜€

Yaya, my 15 kg bulletproof vest…
It’s not a fashion at all.