Hidup di Negara Mahal

felia

Gara2x membaca artikel di salah satu surat kabar Norwegia tentang seorang anak muda berumur 25 tahun yang bisa membeli apartemen sendiri dengan disiplin menabung 10.000 NOK per bulan saya terinspirasi menulis postingan ini.

Untuk biaya hidup, Norwegia dikenal sebagai negara dengan salah satu negara dengan biaya hidup tertinggi di dunia, khususnya untuk turis atau expat.

Komponen pengeluaran rutin per bulan untuk satu orang, single, tanpa anak dan tanpa isteri/suami di Oslo kelas STANDAR (bukan mewah atau berlebihan) kurang lebih:

Catatan: 1 NOK +/ 1700 IDR

1.Akomodasi
Rata2x biaya sewa satu kamar kos (share kamar mandi dan dapur dengan penghuni lain) paling murah adalah sekitar 4000 NOK, kamar se’murah’ ini pun jarang dan susah didapat karena langsung laris dan bersaing dengan sesama calon penyewa lain.

Untuk sewa apartemen satu kamar tidur (kamar mandi dan dapur privat) ukuran 30 M2 paling murah sekitar 11.000 NOK, sedangkan apartemen 2 kamar ukuran 45M2 (kamar mandi dan dapur privat) rata2x adalah 14.000 NOK. Continue reading

Repotnya Musim Dingin

feli14
Winter atau musim dingin tidak selamanya indah dan cantik seperti gambar2x yang kita lihat di kartu pos, kalender atau foto2x link destinasi wisata. Ada hal2x lain saat musim dingin (selain suhu yang dingin pastinya…) yang sebetulnya merepotkan, menganggu dan menyebalkan tapi jarang diekspos.

1. Jalanan becek, kotor dan licin
Perubahan suhu yang naik turun saat musim dingin mempengaruhi juga kondisi jalanan. Jika cuaca menghangat atau turun hujan maka salju akan mencair dan jalanan menjadi lautan ES SERUT yang bercampur debu serta kotoran seperti ini:

feli4

Apabila kemudian suhu turun dan menjadi dingin kembali maka lapisan air tadi akan membeku dan menjadi seperti lapisan…. ES BATU!!!…. seperti ini: Continue reading

Percaya Nggak Percaya

felice

Saya aslinya penakut, nggak berani sendirian di rumah kalau sudah gelap, apalagi pergi ke loteng atau ruang bawah tanah saat tidak ada orang lain. Tapi, entah kenapa justeru orang penakut seperti saya ini malah beberapa kali mengalami peristiwa ‘percaya nggak percaya’ alias sesuatu yang berbau2x mistis atau supranatural. Hadehhh…. Why me?

Peristiwa paling gres dialami ketika tugas lapangan ke Indonesia bulan Januari 2015 lalu. Di salah satu hotel terbaru di kota Palu entah kenapa kamar di atas saya sejak jam 2 pagi sampai sarapan pagi terdengar suara ‘rusuh’ seperti meja atau kursi atau kaki tempat tidur digeser2x atau dibanting ke lantai berkali2x non-stop. Awalnya saya pikir wajar jika ada suara perabot digeser, mungkin oleh tamu, tapi kok ini non-stop ya? Beberapa hari kemudian di salah satu hotel besar di Palangkaraya saya terbangun sekitar jam 2 pagi (entah kenapa selalu kejadian anehnya sekitar jam 2 atau 3 pagi) karena TV yang tiba2x menyala sendiri dan perasaan ada ‘sesuatu’ yang naik ke tempat tidur sebelah saya (terasa dari gerakan kasur dan suara seprei yang bergesek dengan selimut). Biasanya saat mengalami hal2x semacam ini saya malahan tidak merasa takut, karena sudah terlalu capek atau mengantuk yang ada justeru saya tertidur meski tidak selalu berhasil karena suasana gaduh seperti di hotel tadi.

Kalau dilihat ke belakang, peristiwa2x aneh seperti ini sudah dialami ketika saya masih SD (sekitar usia 7-8 tahun). Suatu saat ketika jam makan siang saya melihat ayah pulang ke rumah yang memang jaraknya hanya sekitar 20 menit dari kantornya. Namun entah mengapa ‘ayah’ pergi kembali meninggalkan rumah setelah sekitar 10 menit. Waktu itu ada juga ibu yang sedang memasak sekaligus mencuci di belakang rumah sebagai saksi. Saya bahkan sempat salim (mencium tangan), mengoceh dan bertanya mengapa ‘ayah’ berjalan pincang dan terburu2x pergi serta tidak sempat makan siang. Sore hari ketika ayah pulang kantor barulah terjadi kehebohan karena ternyata ayah saya yang asli seharian itu berada di kantornya! Lalu siapa dong ‘ayah’yang datang ke rumah kami? Entahlah, hal ini masih menjadi misteri hingga hari ini.

Masih di sekitar waktu yang berdekatan, suatu malam sekitar jam 19.30 saya, bersama kakak dan 2 teman lain yang sebaya membeli jajanan. Tak ada angin atau pun hujan, di semak2x dan rimbunan pepohonan depan rumah seorang kawan yang agak terpencil kami semua melihat bola lampu atau cahaya aneh yang terbang dengan cepat di antara rimbunan pepohonan. Awalnya kami pikir itu adalah lampu senter, tapi kok pergerakannya cepat sekali? Kami juga sempat berpikir itu adalah kunang2x, tapi mengapa terang dan besar seperti bola api? Suasana kampung kami tahun 1980-an memang agak sepi, selain dekat kuburan juga masih dikelilingi rimbunan pohon kecapi, rambutan, sirsak, bambu dll. Respon kami waktu itu sih biasa2x saja, tidak lari terbirit2x atau menjerit ketakutan. Pak penjual jajanan mungkin yang sedikit heboh, dengan tergesa2x ia memindahkan gerobaknya ke posisi lain yang lebih terang. Jika diingat2x, adegan melihat bola lampu aneh saat jajan malam2x ini mirip seperti adegan di film2x horor Indonesia loh…hiyyyy….

Katanya, di keluarga kami (dari pihak ayah) memiliki kemampuan terkait hal2x yang agak2x berbau supernatural. Believe it or not. Jaman masih belum ada HP atau telepon dulu misalnya, setiap kali saya teringat bude (kakak dari pihak ayah), pasti keesokan harinya atau tidak lama kemudian sang bude akan datang ke rumah. Kadang saya iseng2x mencoba telepati ini dengan sengaja memikirkan bude, dan memang beliau datang ke rumah kami tidak lama kemudian. Aneh.

Pernah juga saat saya sedang gundah gulana dan merasa teraniaya (hehe, lebay.com deh) oleh seseorang saya mencoba mengirim telepati kepada ayah. Sebetulnya saat melakukan ini saya hanya sekedar iseng2x saja. Yang saya bayangkan waktu itu adalah ‘mengirimkan’ perasaan saya kepada ayah (cukup dengan dibayangkan saja dalam hati). Mau tahu apa yang terjadi keesokan harinya? Ayah berkata bahwa jam 4 subuh ia merasa ada suara perempuan dari luar rumah memanggil2xnya, dia mengira itu adalah saya….alhasil sejak jam 4 subuh sampai pagi hari ayah saya duduk di luar rumah karena penasaran. Saat ayah saya menceritakan hal tersebut saya tidak bilang apa2x tentang telepati iseng2x tadi karena enggan diinterogasi lebih jauh.

Selain hal2x di atas, hal aneh yang saya lami juga terkait dengan mimpi. Pernah dengar DEJA VU? Yep, beberapa kali saya merasakan bahwa peristiwa yang saya alami pernah dialami sebelumnya, di dalam mimpi yang sama persis.

Peristiwa paling aneh dialami ketika saya tahu bahwa adik tercinta akan meninggal dunia sekitar 40 hari sebelumnya saat yang bersangkutan masih sehat walafiat (lewat mimpi). Entah bagaimana banyak keanehan2x dialami kami berdua di hari2x tersebut mulai dari suara2x di luar rumah sampai ayam2x peliharaan yang tiba2x mati semua bersamaan. Repotnya, saya tidak tahu mana mimpi yang akan jadi kenyataan mana yang tidak, jadi saat mengalami mimpi buruk, saya berharap dan berdoa itu tidak akan jadi kenyataan.

Penglihatan2x yang aneh2x tadi masih berlanjut sampai sekarang, termasuk saat saya tinggal di negara orang. Meski awalnya saya mencoba menutupi hal ini, lama kelamaan hubby ngeh juga. Suatu ketika saat menghadiri pemakaman salah seorang kerabat hubby yang meninggal dunia, saya iseng2x bilang “Kok kayaknya saya melihat Tante Lisa (almarhumah yang dimakamkan) ditemani laki2x berkepala plontos ya…” Dengan muka bengong hubby langsung melihat ke arah saya dan bilang: “Itu mungkin paman Jon, suami tante Lisa, dia berkepala plontos, kok kamu tahu? Memang pernah lihat fotonya?”. Yang jelas saya tidak tahu seperti apa suami beliau yang meninggal puluhan tahun yang lalu termasuk melihat fotonya. Hmmm….

Bagaimana rasanya mengalami hal2x aneh semacam itu?
Yang jelas menganggu, BANGET. Kadang ada rasa kuatir dianggap aneh, delusional (amit2x…) dan mengada-ngada. Saya hanya berdoa supaya tidak dilihatkan sesuatu yang aneh2x atau menyeramkan. Tidak berpikir terlalu jauh mungkin solusi terbaik saat mengalami hal2x tidak masuk akal atau sulit dicerna.

Yah, sudahlah #pasrah.

NB: Maaf ya, buat postingan yang nggak jelas ini. Moga2x saya nggak dianggap aneh :)

Ternyata postingan sebelumnya yang temanya mirip2x juga ada…

Di sini ada hantu? part 1
Di sini ada hantu? part 2

Tentang Pekerjaan

Karena ada beberapa pembaca yang pernah bertanya tentang pekerjaan pemilik blog, maka baiklah saya akan bercerita tentang pekerjaan yang digeluti di negara kulkas (karena dinginnya) ini.

Saya bekerja di sebuah lembaga internasional yang menyalurkan bantuan dana pembangunan luar negeri pemerintah negara tempat saya berdomisili. Saat ini lembaga kami memiliki 100 project yang disupport dari sekitar 15 negara di kawasan Asia-Oceania, Afrika dan Latin America. Karenanya tidak heran jika kami mendapat kesempatan (justru harus) untuk berjalan2x alias melakukan field visit ke lapangan memantau lokasi 2x project tadi. Meski menyalurkan dana pemerintah, lembaga tempat saya bekerja juga berfungsi sebagai watchdog (pengawas) yang mengkritisi kebijakan pemerintah jika dianggap tidak sesuai.

felia

Tanggung jawab yang saya emban sebagai koordinator program untuk Indonesia adalah mulai dari tahapan mapping atau identifikasi awal, actor analysis, situasional analysis, institutional analysis, project preparation, project implementation sampai project monitoring dan evaluasi, tambahan lain adalah mengawal isu gender mainstreaming (mulai dari perencanaan sampai implementasi dan follow-up di lembaga dan project2x tadi) dan riset (tugas favorit! tapi sering tidak ada waktu). Karena pekerjaan inilah, saya tahu urusan dapur dan intrik2x sejumlah organisasi besar dan kecil di tanah air (ehm…ini sih off the record deh… pokoknya seru2x sedap…) sambil sesekali bersentuhan dengan birokrat2x dan pejabat di di kedua negara plus realita lapangan lewat dialog2x dengan penduduk lokal yang dijumpai saat kunjungan langsung ke lokasi tadi.

Berhubung pekerjaan2x sebelumnya dengan sejumlah organisasi lokal dan internasional yang saya lakukan juga bergelut dengan program management cycle maka perjuangan mendapatkan posisi sekarang ummmm…menurut saya loh… relatif mudah meski menurut sejumlah sesama pelamar yang lain proses seleksi dan interview-nya susah…yah mungkin kebetulan saja kualifikasi saya matching dengan yang dicari. Saat itu saya hanya bersaing dengan sekitar 50 pelamar saja dan melewati beberapa proses tes serta interview di Oslo. Sementara posisi2x untuk program lain (buat yang bisa berbahasa spanyol atau perancis atau portugis) di divisi Afrika serta Latin America bisa direbutkan oleh 200-300-an pelamar lebih dengan beragam latar belakang mulai dari fresh graduate hingga S3.

Foto: Di pedalaman Sulawesi dengan para perempuan penambang tradisional…
felia3

Proses melamar kerja
Di Norwegia, peluang untuk mendapatkan pekerjaan bagi jurusan seperti engineering atau computer science relatif lebih mudah dibandingkan jurusan ilmu2x sosial. Biasanya posisi2x menarik untuk jurusan ilmu sosial menuntut pengalaman kerja sekian tahun. Pengalaman kerja di lapangan (baca: negara luar Norwegia) akan sangat dihargai. Karenanya tidak heran jika para fresh graduate jurusan sosial khususnya harus menunggu sekian lama sebelum mendapat pekerjaan yang diinginkan di Norwegia. Tidak sedikit mereka mengawali karirnya sebagai relawan, intern atau staf lepas di organisasi2x di luar Norwegia yang meski tidak dibayar atau dibayar ala kadarnya tetapi akan membuat CV mereka memiliki nilai tambah terkait dengan pengalaman kerja.

Biasanya dalam sesi interview selain calon atasan, calon pimpinan juga ada perwakilan dari semacam labor union (serikat kerja) di kantor untuk memastikan agar proses seleksi berlangsung transparan tanpa unsur KKN, diskriminasi atau unsur2x ketidakadilan lain. O ya, di sini saat mengajukan lamaran juga tidak diwajibkan (tidak boleh malah) mengajukan informasi seperti usia, jenis kelamin, agama juga foto. Ini untuk mencegah diskriminasi berdasarkan hal2x di atas tadi. Umumnya kandidat yang terpilih untuk seleksi interview adalah yang memiliki pengalaman relevan dengan job desk yang akan dikerjakan.

Foto: Pertemuan dengan warga desa di Papua…. :)
feli-4

Continue reading

Tentang Mencari Teman

berteman

Mencari teman buat imigran atau pendatang baru di suatu negara adalah sebuah tantangan tersendiri. Sebagai mahluk sosial tentu saja mau tidak mau keberadaan manusia lain di sekitar kita dibutuhkan entah sekedar untuk ngobrol, hang-out, bercanda, shopping, nonton dll.

Beruntunglah mereka yang pindah ke negara yang memiliki diaspora atau kumpulan masyarakat yang berasal dari negara yang sama. Buat warga Indonesia pindah ke negara2x populer buat WNI seperti Australia, Amerika, atau Belanda mungkin memiliki peluang lebih besar bertemu sesama WNI daripada yang pindah ke daerah2x ‘nun jauh di sana’ seperti Pantai Gading (Ivory Coast), Alaska, Antartika…dll. Di Norwegia sendiri jumlah total WNI masih sekitar 600-an orang, sementara Immigran asal Thailand dan Filipina sudah mencapai puluhan ribu orang…..  jauh banget kan? :)

Suatu saat Nicole yang berasal dari Australia curhat:

Nicole: “Feli, saya nggak akan memperpanjang kontrak kerja nanti. Mending balik ke Australia aja atau kerja di Indonesia lagi”

Me: “Kenapa? Bukannya posisi kerja dan gaji kamu itu bagus banget di sini?”

Nicole: “Iya, secara finansial nggak ada masalah…. Tapi secara sosial…susah banget cari teman di sini….Kalaupun ada teman biasanya kita jarang ketemu. Ya kayak kamu ini yang mobile banget…Sementara saya juga sama, harus sering travelling karena pekerjaan…”

Mendengar jawaban Nicole perasaan saya campur aduk, antara sedih karena sudah menjadi teman yang sering menghilang dari peredaran di satu sisi juga paham kondisi Nicole.

Di awal2x pindah ke Oslo saya berpikir bahwa bertemu sesama WNI akan membuat saya bertambah teman. Ternyata pengalaman membuktikan bahwa kesamaan asal negara bukan jaminan bahwa kita akan langsung bisa berteman akrab. Perlu ada ‘chemistry’ yang bisa membuat kita merasa ‘klik’ dengan seseorang. Bayangkan situasi berikut ini:

1. Hobi beda
Si A hobi naik gunung X si B hobi shopping dan alergi dengan kegiatan alam terbuka

2. Minat beda
Si C tertarik isu sosial-politik terbaru X si D lebih tertarik masalah perawatan anak, diaper, susu bayi dll

3. Latar belakang pekerjaan atau pendidikan beda…banget
Si E seorang insinyur teknik astro-fisika (ini apa ya?…. bingung kan? saya juga :D ) dan agak serius dan ‘nerdy’ X si F yang anak gaul, suka ke diskotik, selalu memperhatikan penampilan dan mengikuti trend terbaru

4. Pergaulan sosial beda dll
Si G yang dari keluarga berada, gaya hidup mahal dan high maintenance girl X si F yang simpel, dari keluarga sederhana, anak perpustakaan dan relijius

Meski ada istilah ‘OPPOSITE ATTRACTS’ alias orang yang berbeda dengan kita justeru akan lebih menarik karena kita jadi penasaran dan ada unsur saling melengkapi, dalam kenyataannya perbedaan yang terlalu besar bisa akan merepotkan. Ibarat si A mau jalan ke arah kanan sementara si B maunya ke arah kiri…. nggak bakal ketemu deh…. Continue reading

Tentang Selfie dan Mahluk Narsis :)

felice-11

‘Selfie’ adalah foto diri yang diambil sendiri, biasanya diambil dengan kamera digital yang dipegang dengan tangan si orang dalam foto atau dengan kamera di telepon. Akhir tahun 2013 lalu kata ini dinobatkan sebagai ‘word of the year’ oleh the Oxford English Dictionary. Sejauh ini masih ada perdebatan apakah Selfie itu bentuk dari narsisme atau sekedar ekspresi diri.

‘Narsis’ adalah kekaguman pada diri sendiri yang bersifat egoistis, istilah tersebut berasal dari mitologi Yunani dimana Narcissus jatuh cinta pada bayangannya sendiri di air. Ini adalah konsep psikoanalisis yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud. Meski bisa menjadi destruktif jika berlebihan dan terlalu ekstrim, psikologi populer menganggap bahwa narsisme yang sehat bisa membantu dalam proses penerimaan terhadap diri sendiri dan pencapaian sukses.

Nah, kalau urusan foto-memfoto dengan batasan kabur antara foto diri dan foto pemandangan, berdasarkan pengamatan saya….di antara rombongan turis berbagai negara. Siapakah yang paling heboh foto2x? …. Jawabannya: turis dari Asia, khususnya (dengan segala hormat terhadap orang dari negara ini atau yang ada hubungan dengan negara ini *sambil sungkem*) …. adalah…. turis Jepang :D

Foto: Turis2x yang berebut untuk mengambil foto dan difoto :)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jika berkunjung ke objek2x wisata langganan turis asing di Oslo seperti ‘Vigeland’s Park’ saat musim panas atau berkunjung ke fjord2x cantik di bagian barat Norwegia hal ini akan terlihat jelas. Suatu saat ketika sedang terdampar menikmati pemandangan di salah satu kota kecil di kaki bukit saya merasa senang menjadi satu2xnya orang Asia di sana. Teryata saya keliru….

Saat berbelok tiba2x terlihat rombongan turis Jepang baru turun dari bus, dan seperti lebah mereka langsung ‘menyerbu’ (entah apa yang diserbu) mengambil foto2x….kiri… kanan… atas… bawah… depan … belakang…. dari segara penjuru mata angin ckckckck….mulai dari mengambil foto pemandangan, foto diri dan kawan2x di rombongannya… sampai2x foto orang yang sedang mengambil foto orang lain pun juga difoto….HEBOH. Saking hebohnya saya sampai terbengong2x dan hanya bisa melongo beberapa saat….

Selain turis Jepang, penampakan dari turis2x asal China juga semakin banyak di kota2x seperti Oslo dan Stockholm…sampai2x T menyebut kata ‘the Asian Invasion’ berkali2x sambil mencolek2x pundak atau menarik2x tangan saya yang terkesan cuek.

Setiap melihat rombongan berwajah Asia hubby akan langsung heboh sendiri: “Feli…Feli… look! Your friends are there…. ‘the Asian Invasion’! ….” Saya biasanya hanya bilang kurang lebih: “Iyeee…..tahu saya….mereka orang Asia, terus kenapa memangnya?… Berisik kamu ah!” *sok cool*

Foto: Pasangan dari India mengambil foto dari berbagai sudut di atas kereta
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Continue reading

Mudik Nggak Niat……

felicitya

Saya beruntung memiliki pekerjaan yang memungkinkan untuk travelling ke tanah air setidaknya 3-4 kali setahun (yup bolak-balik mirip setrikaan dengan berbagai resikonya…) ke pelosok2x pedalaman Indonesia yang eksotik dengan pengalaman beragam mulai dari tinggal bersama penduduk desa dan berinteraksi dengan mereka, mendatangi lokasi perkebunan sawit (dengan diam2x :D… dan baru sadar setelah beberapa saat berkeliling bahwa di sana ternyata banyak ular kobra), bertemu dengan ibu2x pendulang emas yang tegar dan bersahaja, terjebak kabut di pedalaman Papua dan harus berjalan kaki 5 km untuk mendapat signal HP untuk meminta bantuan, dikejar2x orang utan di pedalaman Kalteng, sempat menjadi santapan lintah saat menyusuri hutan si pedalaman Sumatera dll.

Buat T (suami tercinta), merasakan bisa tinggal di desa dan di pedalaman adalah sesuatu yang unik. Karenanya atas seijin bos, saya berencana mengajak T untuk ikut ke lapangan saat saya melakukan kunjungan mendatang, yang setelahnya akan kami lanjutkan dengan acara liburan di lokasi lain. Tapi, saya lupa kalau ada beberapa hal yang mengganjal setiap kali mengajak T ke Indonesia.

Alasan2x yang membuat saya enggan pulang kampung bersama suami tadi adalah karena saya harus:

1. Siap2x jadi tukang foto

Pengalaman2x sebelumnya selalu menunjukkan bahwa setiap saya berjalan2x bersama T di tempat umum di Indonesia apalagi objek wisata yang lumayan populer…pasti ujung2xnya akan banyak orang (kebanyakan anak2x kecil dan remaja2x tanggung sampai kadang2x orang tua juga) yang ingin minta foto bersama T. Saya sih maklum saja, mungkin mereka2x tadi memang jarang bertemu bule dan ada rasa penasaran. Tapi permintaan2x tadi tak jarang menjadi ekstrim karena terus-menerus ada setiap kami melangkah beberapa meter dan kadang2x tidak sopan. Yang paling menyebalkan tanpa basa-basi mereka akan bilang…. “mbak…mbak….minggir dong!….kita mau foto sama om bule-nya…”   atau “mbak…ambilin foto dong, yang bagus ya!...…” sambil memberikan isyarat dengan tangan supaya saya menyingkir. Yaolohhhh…. *mengelus dada*

2. Siap2x jadi penterjemah dan guide

Buat saya, salah satu ‘cacat’ non bawaan dari T adalah ketidakmampuannya berbahasa Indonesia yang kadang membuat saya bete :) Kebetean itu bertambah karena T sebetulnya jago berbahasa Perancis, Spanyol, Portugis, sedikit Italia plus tentunya Bahasa Inggris dan Norwegia.  Tapi…buat Bahasa Indonesia?…hohoho…. nyaris nol besar.  Sejauh ini T hanya hafal:

“Kopi satu tanpa gula” –> kalau sedang di kedai kopi.

“Terima kasih sekali” —> sambil tersenyum, menangkupkan kedua telapak tangan di dada dan membungkukan badan seperti hormat orang2x Jepang :)

“Itu tidak bagus!” —> biasanya diucapkan sambil mengangkat jari telunjuk ke arah depan dada dan digerakkan ke kiri dan ke kanan, kadang2x mulut sambil sedikit dimonyongkan dan sedikit variasi gelengan kepala atau suara berdecak: ” ckckckck…..”

Jus mangga tanpa gula” –> kalau sedang haus dan ingin minum jus

“Nggak kayak begituuu!…” –> diakhiri dengan nada sedikit tinggi di akhir kalimat dan terlontar kalau sedang protes atas sesuatu yang tidak sesuai keinginan

“Siap komandan!” –> yang diucapkan ke semua orang dari orang tua, tukang becak, tukang parkir sampai anak kecil :)

Jadi, buat urusan liburan ke Indonesia mau tidak mau saya bertanggung jawab mengurus teknis pelaksanaan dan printilan2x di lapangan yang memang hanya bisa dilakukan dalam Bahasa Indonesia seperti tawar-menawar harga (soalnya saya nggak jago nawar, dan suka nggak tegaan….jadi males duluan deh... :D )
Continue reading