Monthly Archives: December 2008

Titip Beli Kulkas

Batticaloa, Desember 2006

Pada libur natal dan jatah cuti selama dua minggu, saya berkesempatan mengunjungi T di Oslo. Bagi mereka yang berada di daerah konflik aktif dengan dentuman suara meriam dan letusan senapan tiap hari, meninggalkan kota selama beberapa hari adalah sebuah ‘anugrah’ tersendiri. Satu minggu sebelum keberangkatan, urusan visa, tiket pesawat, transport antar jemput dari Batticaloa-Colombo dan dari Colombo-airport pp sudah beres.

…Dheepa… jarang tersenyum, jarang bicara, … selalu terlihat serius… …

Untuk transport, saya hanya diperbolehkan meninggalkan duty station (tempat penugasan) jika menggunakan mobil dinas yang memenuhi persyaratan keamanan. Karenanya, dalam perjalanan Batticaloa-Colombo yang memakan waktu 9 jam lamanya saya selalu berharap agar mendapat supir kantor yang asyik diajak ngobrol untuk mengusir rasa bosan.

Sialnya, kala itu saya justru mendapatkan supir dari Colombo yang seingat saya rada menyebalkan dan jutek (duh, mateng deh di jalan…). Dheepa (bukan nama sebenarnya), jarang tersenyum, jarang bicara, selalu terlihat serius dengan brewok tipisnya. Kadang terlintas dalam benak ini dugaan jangan2x ia adalah ‘double agent’ (hehe, kebanyakan nonton film James Bond dan serial La Femme Nikita)


Namun, tak ada angin dan tak ada hujan (mmm… ada gerimis sedikit), Dheepa berubah 180 derajat menjadi luar biasa ramahnya. Sepanjang jalan, ia banyak tersenyum, dan bercerita tentang keluarga, gosip terakhir rekan di post lain, alam Sri Lanka dll. Dan yang lebih mengejutkan ia pun mentraktir saya makan siang di sebuah restoran dan mampir ke rumah keluarganya sejenak untuk segelas teh (tumbennn…)

Barulah, usai kunjungan singkat tidak resmi untuk minum teh itu semua terkuak. Dalam perjalanan ke Bandara percakapan berikut terjadi (terjemahan bebas):

Dheepa Yang Ada Maunya (DYAM):” Madame, boleh nggak saya minta tolong?…”
Saya Yang Bingung Dan Penasaran (SYBDP):” Minta tolong apa?…”
DYAM: “Saya kasih tahu setelah Madame janji mau nolong…”
SYBDP: “Tergantung minta tolong apa, kalo saya janji tapi nggak bisa gimana?…”
(dalam hati: yaelah, emangnya saya anak kecil…)

DYAM: “Saya mau nitip Madame beli sesuatu sepulangnya dari Oslo dan balik ke Colombo”
SYBDP: “Boleh, nitip beli apa? Souvenir dari Oslo?… *nebak2x*”
DYAM :” Bukan Madame, saya nitip… mmmm, nitip beli KULKAS… di toko ‘Tax Free’ yang murah di Bandara Colombo”

(:GUBRAKKK!!!…, KULKAS???… nggak salah denger neh?… Belum pernah ada kejadian orang nitip beli KULKAS, ada juga nitip beli gula sekilo, terigu atau cabe merah seperempat ons)

SYBDP: ” KULKAS?… Nnggg…, maksudnya refrigerator itu kan?… Tempat buat makanan dan minuman supaya dingin?… *pertanyaan dodol banget*
DYAM: “Iya madame… *kalem*”
SYBDP: ” Kalo misalnya saya beli neh, trus pake uang siapa?… Gimana pembayarannya?… Gimana bawanya?… KULKAS kan besar *pertanyaan nggak jelas*
DYAM: “Nanti Madame pake uang madame dulu, saya bisa juga pake uang saya tapi nanti tolong tombokin ya. Nanti saya cicil tiap bulan ke madame. Pas Madame ke luar bandara, saya tunggu di luar… Gimana?… Bisa kan???…” *dengan nada antara berharap dan sedikit maksa*

SYBDP (dalam hati): “Ini bener2x minta tolong apa mo ngerjain yak?… Udah tahu koper yang saya bawa berukuran extra large, plus hand luggage. Duh, ogah banget deh membayangkan keribetan yang akan terjadi. Belum lagi pembayaran yang tidak jelas, lokasi dan komunikasi yang sulit antara Batticaloa dan Colombo… Bagaimana kalau saat keluar bandara, Dheepa tidak ada dan saya harus repot menggotong2x KULKAS itu ke hotel?… Terlintas adegan saya sedang sibuk check-in di hotel dengan koper besar dan KULKAS disertai pelototan petugas resepsionis dan pengunjung hotel

SYBDP: “Trus mau nitip berapa KULKAS?”… *pertanyaan iseng*
DYAM: ” Satu saja Madame…Itu sudah cukup” *nada yakin*
(SYBDP: “Phewww… Untung cuma satu, bukan lima” )

DYAM:” O ya, Madame. Kalau bisa, saya titip beli TV juga merk ‘Sony’, dengan layar ukuran sedang. Bagaimana?… Bisa kan?… ” *wajah garangnya mulai keluar sedikit*
SYBDP: “Maaf banget Dheepa. Buat saya permintaan kamu itu betul2x di luar kesanggupan. Saya nggak mungkin bawa koper besar, gotong2x Kulkas dan TV plus hand-luggage seorang diri, kamu tahu sendiri saya ‘under-weight’ (baca: kurus kering, cungkring) begini…” * nada hiperbolik*

(hening sesaat)

DYAM (berusaha meyakinkan):” Tapi Madame, permintaan saya nggak merepotkan kok. Nggak usah kuatir. Madame bisa minta tolong orang buat mengantar” *nada suara sedikit tinggi*
SYBDP: “Iya, minta tolong orang bisa, tapi tetap saja merepotkan Dheepa. Bagaimana kalau kamu datang terlambat, atau tidak ada orang yang dimintai tolong, atau terjadi situasi darurat?…” *mulai kesal karena merasa dipaksa*
(dalam hati): “Duh, nggak mungkin banget deh…selain repot, bawaan sendiri sudah banyak, saya nggak yakin dengan janji2x dirimu… Ini orang minta tolong tapi kok rada maksa gitu seh???…”

Dan Dheepa pun kembali ke alam mmmm..sifat aslinya…: jutek dan tidak ramah…

Foto: Jalan menuju Colombo

Tanah Longsor…


Gerimis dan kabut…


Daerah Rawan


Banjir…


Tak lama kemudian…

KRINNGGGGGG…. Hp saya berbunyi. Telepon dari supir lain, Sanjay (bukan nama sebenarnya) di Batticaloa.

Saya: “This is Felicity speaking…”
Sanjay:” Madame, apa madame masih di jalan?… ” *dengan nada suara seperti terburu2x*
Saya: “Yup, ada apa?… Apa ada situasi emergency?…” *penasaran dan kuatir*
Sanjay: “Nggak Madame. Semua seperti biasa. Mmmm, saya telpon cuma buat titip beli barang di Bandara…”
Saya:” Barang apa?…KULKAS?…” *sok yakin*
Sanjay: ” Bukan Madame, saya titip beli seperangkat STEREO SET saja. Kalau bisa dengan TV juga”

TUINGGGG….WINGGGG…WINGGGGG…

(*cari2x ikon pentungan*)…

(dalam hati: “Ada apa dengan saya hari ini? Mengapa ketiban permintaan aneh2x?…”

Saya (tanpa pikir panjang): ” Waduh, maaf banget… Saya nggak bisa janji apa2x. Bawaan saya sendiri sudah berat banget. Maaf ya”

(WELEH…WELEH…EMANG DIKIRA ANE KULI PANGGUL YAK???…NITIP BARANG KOK NGGAK KIRA2x…)

*menghela nafas dan berdoa mohon diberi kesabaran*

LESSONS-LEARNED:
Kalau mau pergi2x, apalagi ke luar negeri lebih baik dilakukan dengan diam2x untuk menghindari permintaan aneh2x yang tidak diharapkan dan tidak sopan. Kecuali jika:
1. Siap untuk direpotkan
2. Stok kesabaran dan mood masih dalam kondisi baik
3. Permintaan yang ada betul2x mendesak dan tidak bisa ditolak (misalnya: kondisi emergency)
4. Tidak tega untuk menolak. Mmmm, sebenarnya… jika mereka tega untuk meminta yang aneh2x, kita pun berhak untuk menolak dengan tega, khususnya permintaan yang dilakukan dengan tidak sopan, dengan paksaan (baik secara halus atau tidak halus), intimidasi atau manipulasi.

Setelah kejadian di atas ingin rasanya saya pasang pengumuman: TIDAK TERIMA TITIPAN KULKAS, TV, STEREO SET, MESIN CUCI, DAN SEJENISNYA… SILAKAN BELI DAN ANGKUT SENDIRI BARANG2x YANG ANDA INGINKAN !!!…

Sakitnya Ditolak

Sesuai ‘perintah’ dari pimpinan, saya diminta mengikuti pelatihan yang akan diadakan di London pada bulan Januari 2009 mendatang. Semua biaya transport, akomodasi dan lainnya akan ditanggung pihak kantor.

…proses melamar visa… ini tergolong biasa saja … semua terlihat normal …

Meski sebenarnya tidak pernah berniat mendatangi UK (United Kingdom), kesempatan mengikuti pelatihan ini tentu tak ingin disia2xkan. Dan, mulailah ritual tetek- bengek pengurusan visa seperti biasanya.

Diawali dengan proses pendaftaran online yang mewajibkan applicant mengisi data2x pribadi mulai dari data kedua orang tua, data pribadi, penghasilan, pekerjaan dll yang jika ditotal ‘hanya’ tujuh halaman saja. Disusul membuat janji dengan pihak Kedubes UK di Oslo, menyiapkan foto dan kopi dokumen2x seperti passport, slip gaji, dokumen bank, undangan dari penyelenggara dll. Buat saya, proses melamar visa ini tergolong biasa saja, tidak rumit atau njelimet (selain pengisian data2x dan dokumen yang harus disiapkan), tidak ada wawancara berarti seperti cerita2x ‘horror’ para pelamar visa di Kedubes Inggris atau Amerika di Indonesia. Semua terlihat normal.


Minggu lalu saya harus mendatangi kedubes, membayar uang aplikasi sebesar 740 NOK, menyerahkan sidik jari, fotokopi dokumen dan formulir isian. Janji mendatangi kedubes pun dibuat online, saya pilih jam 9.15, janji paling awal (kedubes buka jam 9 pagi). Pada hari yang ditentukan, sudah ada 5 orang lain di antrian saat tiba di depan pintu jam 9 kurang. Bagi saya, mengantri di luar pintu, di tengah dinginnya udara musim dingin di Norwegia adalah sebuah siksaan tersendiri.

Saat pintu dibuka, seorang petugas security perempuan memeriksa pengunjung satu persatu. Selain pemeriksaan tubuh dengan detektor metal dan pemeriksaan tas, semua dokumen yang dibutuhkan harus disiapkan dan ditunjukkan ke petugas security lainnya.

Tak dinyana, pemeriksaan satu orang bisa memakan waktu lebih dari 5 menit. Belum lagi jika pengunjung yang diperiksa lupa membawa dokumen, foto atau uang untuk pembayaran dan harus mengobrak-abrik isi tas untuk menemukan yang dicari.

Setelah semua urusan selesai petugas menyampaikan info bahwa akan ada sms menyatakan apakah aplikasi kita diterima atau ditolak.

Seminggu kemudian, tepatnya hari ini, SMS ‘cinta’ dari pihak kedubes UK di Oslo pun datang menyatakan bahwa permohonan visa saya dengan sukses D-I-T-O-L-A-K…

Perasaan saya?… Biasa saja, tak ada beban karena memang tidak berniat mengunjungi UK (kalau ke Scotlandia mungkin masih ada keinginan, sementara ke Irlandia sudah pernah beberapa tahun lalu).

Namun, sesaat kemudian, ada rasa kesal atas penolakan ini yang lebih menjurus kepada pertanyaan: WHY???…

Beberapa dugaan pun berseliweran di kepala, mungkin slip gaji saya yang baru beberapa bulan masih belum dianggap layak (ya jelaslah, wong pendatang baru menetap dan baru mendapat pekerjaan di sini), mungkin saya dicurigai akan kabur ke UK, menetap dan bekerja di sana secara illegal (ngapain juga lage…), yang paling menyeramkan… mungkinkah saya dianggap sebagai teroris potensial?… (wah, boro2x, naik pesawat saja saya sudah deg2xan)…

Mungkinkah karena passport saya yang dikeluarkan oleh kantor imigrasi Banda Aceh yang notabene daerah pasca-konflik? (yah itukan karena sistem online yang baru, kebetulan waktu perpanjangan passpot memang sedang ada di Aceh)… Atau karena saya pernah bekerja di daerah konflik Sri Lanka?… (yaelah, itu juga sama UN)… Atau karena saya berasal dari Indonesia?… Entahlah… Saya tak mau meng’generalisasi. Yang jelas saya yakin, masih banyak WNI lain yang aplikasi visa ke UK-nya disetujui.

Mungkin saya sedang apes. Tak selamanya kita mendapat yang diinginkan, bukan begitu?…

Dyuhhh, napa seh, saya yang notabene adalah WNI baek2x, cinta damai, rendah hati, tidak sombong, punya NPWP (hehe, nggak ngaruh yak), punya niat baek, mau ikut pelatihan, cuma 5 hari aja nggak boleh masuk ke negara ente?…

Pengalaman ditolak pasti sedikit banyak menimbulkan luka di hati (soundtrack: lagu ‘Hati Yang Luka’ *jaka sembung kagak nyambung* …). Penolakan ini juga membuat track record aplikasi visa saya buruk, apapun alasannya…

Duh, sakitnya ditolak dan dianggap tidak layak…

*cari2x kue natal sisa dan coklat buat dimakan untuk menghibur diri*

Natal di Norwegia: Jadi Tukang Kue

“…Pusat perbelanjaan diserbu para pemburu
hadiah natal …”

Seperti halnya di Indonesia, menjelang hari Natal, berbagai kesibukan dan ‘kerusuhan’ pun melanda penduduk di Norwegia. Mulai dari ranah privat di tingkat rumah tangga hingga ranah publik (deuh, bahasanya… tolong dehhh…). Pusat perbelanjaan yang dipenuhi para pemburu hadiah natal, jalan2x utama yang dihiasi lampu warna-warni, pohon2x natal raksasa dan pernak-perniknya hingga berbagai konser musik serta acara hiburan bernuansa natal

Dan… sebagai bentuk nyata kepedulian dan bakti pada mertua *wink-wink*, saya pun ikut membantu persiapan hari istimewa tersebut, yakni: memakan… ooppss… membuat kue2x natal :D. Mengikuti tradisi, jumlah kue natal yang kami akan buat berjumlah 7 macam. Agenda awal adalah membuat ‘Adventkake’ dan ‘Berlinkranser’.

Kue Advent (Adventkake) mirip seperti bolu berisi aneka kacang (walnut, almond, kacang mede plus kurma… yup kurma. Pembuatannya sederhana dan tidak rumit, secara garis besar: kacang2xan dicampur kuning telur yang direbus (dan dihancurkan), plus kuning telur mentah, gula dan sedikit terigu. Adonan diletakkan di dalam cetakan, dimasukkan oven selama sekitar 2 jam dan voila!… kue siap disajikan.

Foto: Adonan kue ‘Berlinkranser’ sebelum dan sesudah di oven

Pembuatan kue ‘Berlinkranser’ sedikit rumit. Bahan2x seperti terigu, telur, mentega, baking powder, gula yang dicampur kemudian dibentuk, diolesi putih telur dan ditaburi gula. Untunglah saya biasa membantu ibunda di Jakarta saat mempersiapkan natal, mental pun sudah teruji untuk bertahan menghadapi berbagai ‘cobaan’ dan rintangan yang ada :D.

Kami sempat kesulitan menggunakan cetakan kue. Adonan yang terlalu dingin membuat kue sulit dicetak dan membutuhkan tenaga ekstra, hanya untuk sebuah kue. Berdasarkan pengalaman, saya berinisiatif mengaplikasikan teknik yang biasa dipakai ibunda di Jakarta untuk tahap akhir, yakni menggunakan kuas kue untuk mengolesi putih telur dan menaburi gula kemudian secara keseluruhan. Sebelumnya, T’s mom tidak menggunalan kuas, tetapi memasukkan adonan ke dalam putih telur satu persatu dengan tangan dan gundukan gula yang membuat adonan menjadi gepeng2x.

Foto: Berlinkranser

T‘s mom berkali2x memuji hasil akhir adonan yang saya bentuk (terjemahan bebas): “Wow, belum pernah saya melihat adonan kue serapi ini!” (Saya (dalam hati): Masak sehhh?… Bisa ajah… Ikke jadi nggak enak *blushing*…).

“It is so perfect!…Kamu pinter banget sih bikin kuenya… Ckckck…” Lagi2x pujian meluncur dari mulut T’s mom yang sedang memegang loyang berisi kue yang akan dimasukkan ke dalam oven. Saya hanya tersenyum, menikmati pujian (narsissss…:D). Saat T’s mom sibuk memuji dan melihat ke arah saya, ia tidak memperhatikan posisi loyang yang menyenggol tepi oven. Tiba2x saja… GUBRAKKKKK!!!!….. loyang dan kue2x malang di dalamnya pun jatuh berhamburan ke lantai dapur.

Dengan panik T’s mom menyesali kejadian itu. Saya berusaha menenangkan agar beliau tidak terlalu merasa bersalah. “Don’t worry. It’s not a big deal…”, sambil memungut dan membentuk adonan mentah kue yang kembali gepeng2x dan berantakan. Dalam hati saya berpikir, mungkin memang pamali (pantang) menyebut kue sempurna (kue gitu lohhh…) 😀

Foto: Halaman rumah yang tertutup salju… Brrrrr…

Acara membuat kue ini menghabiskan waktu sehari penuh untuk dua macam kue. Di luar jendela, salju yang putih dan cahaya matahari nampak begitu indah. Sayang, tak lama kemudian kabut mulai turun, membuat suhu semakin dingin mencapai -15 derajat Celcius!!!. MUANTABBBBB…

*BRRRRRRR….*

Source: ‘Expert’ Catalogue, December 2008 (picture no. 1)

Teknik Gendong Bayi Meneketehe

Keterangan: Nama teknik gendong bayi ‘Meneketehe’ adalah nama asal2xan. Dilarang membaca terlalu serius, mempercayai atau meyakini bahwa nama tersebut adalah benar adanya. Penulis tidak bertanggung-jawab atas salah interpretasi, miskomunikasi ataupun kesesatan informasi yang mungkin terjadi setelah membaca postingan berikut ini 😀

Saat sedang merapikan tumpukan majalah lama, tanpa sengaja mata ini tertuju pada sebuah iklan di majalah ‘KK’ (salah satu majalah perempuan terbesar di Norwegia, mungkin mirip ‘Kartini’ atau ‘Femina’ di Indonesia). Iklan sederhana itu menampilkan gambar ibu2x yang sedang menggendong bayinya (lihat foto).

…Di atas trem… saya ‘memergoki’ seorang ibu sedang menggendong bayinya … dengan cara yang unik …

Gambar tadi mengingatkan pada kejadian beberapa bulan lalu saat berada di atas trem di tengah kota Oslo. Saya ‘memergoki’ seorang ibu sedang menggendong bayinya dengan kain, dengan cara yang unik (baca: aneh)…yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Dari pengamatan singkat, saya membayangkan bahwa kain yang digunakan pastilah lumayan panjang dan sedikit rumit untuk bisa menghasilkan sebuah teknik gendongan bayi yang nyaman.


Saya teringat kebiasaan para ibu baik di perkotaan atau pedesaan pulau Jawa yang pernah dilihat. Mereka menggendong bayi dengan sehelai kain jarik (umumnya bermotif batik) yang disampirkan di dada sebelah kiri atau kanan atau pun di punggung. Sementara teknik gendong bayi ‘aneh’ ini, menggunakan kain yang cukup panjang (lebih panjang dari kain jarik ala Jawa), tidak terlalu lebar, dengan warna polos dan posisi simetris di bagian tengah dada depan atau punggung.

Kain polos ini selanjutnya di-uwel2x (keterangan: huruf ‘e’ pepet, diucapkan seperti pada kata: kendi, beli, seni, sedih, ikan teri dll; terjemahan ngawur: dililitkan, digulung, atau diacak2x… got it?) sedemikian rupa untuk menghasilkan gendongan yang mengesankan keseimbangan.

Sekilas teknik gendong mengingatkan pada film ‘Oshin’ serta ibu2x di pedesaan Tibet dan Mongolia yang pernah saya tonton di Discovery Channel. Saya menebak2x bahwa si ibu pastilah imigran dari salah satu negara Eropa atau penduduk asli yang meng-import teknik gendong ini saat berkunjung ke daerah eksotik di pegunungan Himalaya nun jauh di sana.

TERNYATA SAYA KELIRU…

Dan…T menjelaskan bahwa cara gendong dengan teknik ini terinspirasi dari teknik yang dipakai oleh ibu2x di Afrika, selanjutnya dipopulerkan oleh perusahaan yang memproduksinya secara massal sejak beberapa tahun terakhir. Saya hanya bisa melongo dan manggut2x mendengar penjelasan ini. Ia juga merasa heran atas keheranan saya. Lha jelas heran toh, wong ini kan negara sampeyan…… Meneketehe??? (baca: (bagai) mana (a) ku tahu???… Terjemahan: gimana gw bisa tau???… Pliss dehhh… ).

Harga kain jarik ala Norwegia ini ‘hanya’ 549 NOK (sekitar Rp. 940.000.-)… Ada yang berminat?… (jika ‘ya’, silahkan menghubungi penjual kain jarik yang bersangkutan di lokasi terdekat. Contact person-nya?… Meneketehe… Saya kan hanya blogger, bukan distributor…) 😀

Moral of the story: Jadi seorang ibu itu tidak mudah. Harus bisa menemukan teknik gendong yang pas, tidak njelimet, praktis, fungsional, tidak bikin pegel2x pundak, tidak jadi pusat perhatian karena teknik yang aneh dan pastinya harus tetap gaya dong…. Hidup Ibu2x!!! Yeahhh… 😀

Catatan: Foto2x diambil dari majalah ‘KK’ Edisi No.16/April/2007

Hujan Batu di Negeri Orang

Life is full of choices. Once you choose, you have to life the consequences…

Kalimat di atas selalu saya ingat saat memutuskan untuk pindah meninggalkan tanah air tercinta dan melewati hari2x selanjutnya di tempat baru. Tidak mudah memulai semua dari awal. Meski pernah tinggal di salah satu negara Eropa saat melanjutkan studi beberapa tahun lalu, tinggal di Oslo tetap memberikan ‘efek kejut’ tersendiri (lihat post: Gegar Budaya)

Ibarat seorang bayi yang belajar berjalan. Sedikit demi sedikit saya mencoba untuk bisa merangkak, menegakkan badan, berjalan tertatih2x, hingga akhirnya mampu berjalan di atas kaki sendiri.

“…Kisah yang ada pun penuh warna,mulai dari roman cinta… kejadian lucu… hingga kisah tragis
…”

Saat mengikuti kelas intensif bahasa Norwegia, banyak pendatang lainnya dengan beragam latar belakang menjalani perjuangan yang sama. Kisah yang ada pun penuh warna, mulai dari roman cinta penuh bunga, kejadian lucu, unik dan penuh tawa hingga kisah tragis yang memilukan hati.


Dari beberapa level kursus intensif bahasa yang saya lewati, kebanyakan, peserta adalah perempuan, berusia antara 20-45 tahun. Mayoritas telah tinggal antara 1 bulan hingga 3 tahun karena mengikuti pasangan yang berasal dari Norwegia. Latar belakang profesi dan pendidikan kami pun beragam mulai dari au pair, personal assistant, akuntan, pengacara, wartawan, dokter umum, dokter hewan, arsitek hingga pemain opera profesional. Ada pula satu-dua yang tidak mengecap bangku kuliah atau bekerja di negara asalnya.

Foto: Rekan2x ‘senasib-seperjuangan’ sebagai pendatang, diambil di kelas kursus bahasa Norwegia. Selain sang guru, Berit yang native speaker, selebihnya kami berasal dari negara seperti Jerman, Ethiopia, Inggris, Ukraina, Malaysia, Brazil, Filipina, Hungaria, Islandia, China, Latvia dan Indonesia.

Kendala pertama yang dihadapi para pendatang (baca: imigran) adalah: mencari pekerjaan. Dengan kualifikasi yang tidak kalah jika dibandingkan penduduk asli, kemampuan berbahasa Norsk bisa menjadi penentu diterima atau tidaknya seorang kandidat. Selain itu, konon (saya hanya mendengar dari obrolan atau kisah sesama imigran lainnya dan belum pernah mengalami sendiri), nama belakang pun berpengaruh. Gabriela (bukan nama sebenarnya), seorang perempuan paruh baya asal Filipina bahkan menyarankan saya untuk ganti nama dan memakai embel2x nama pasangan agar terkesan kebarat2xan demi melancarkan urusan pekerjaan (weleh2x…, padahal ganti nama tidak sama dengan ganti baju, yah. Kalau orang Jawa bahkan harus ada acara slametan dengan bubur merah-putih…)

Hmmm, aneh juga jika mempunyai nama kebarat2xan tapi wajah wong ndeso seperti saya. Kata Si Mbah Putri, ini yang namanya tidak matching. Hehe, maaf Mbah…becanda kok 😀

Foto: Imigran dari Thailand dalam acara ‘Gay Pride Parade-2008’ di Oslo

Beberapa rekan imigran yang berprofesi sebagai dokter mengalami kendala untuk menggunakan ijazah mereka, Valentina (43 tahun) asal Ukraina misalnya. Setelah 3 tahun tinggal di Oslo, ia harus menerima kenyataan pahit bekerja menjadi petugas kebersihan gedung karena ijazah pendidikan dokter (pediatric) yang ia miliki tidak diakui oleh pemerintah Norwegia. Sementara, Natalia (30 tahun) asal Serbia harus bersekolah lagi selama sekitar 2 tahun untuk memperoleh sertifikasi ijazah apoteker-nya.

Kesulitan ini tidak hanya dialami imigran asal Asia, Afrika atau Eropa Timur saja, karena sesama imigran asal negara Eropa Barat yang termasuk dalam Uni Eropa pun mengalami kendala yang kurang lebih serupa dalam derajat lebih ringan. Julia (31 tahun), rekan asal Italia yang awalnya berprofesi sebagai Interior Designer, harus banting stir menjadi guru bantu di Taman Kanak2x. Hal yang sama terjadi pada Anne (24 tahun) rekan asal Jerman.

Tentu saja, tidak sedikit yang beruntung mendapat pekerjaan yang baik. Khususnya mereka yang belajar di jurusan strategis di sejumlah universitas di Norwegia. Saat belum lulus, tak jarang perusahaan sudah meminta agar mereka mau bekerja dengan perusahaan yang bersangkutan.

And me?… What about me?… Meski harus berjalan tertatih-tatih, saya sedikit beruntung karena bisa menemukan pekerjaan di bidang yang saya minati (penelitian). Upaya menjalin kontak dengan berbagai pihak potensial sebelum pindah pun sudah jauh2x hari dilakukan. Membangun relasi, networking dan social circle adalah pekerjaan rumah yang nyaris tanpa akhir di tempat baru. Untunglah latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja saya di bidang ilmu sosial masih bisa digunakan. Tidak mudah memang, namun itulah konsekuensi atas pilihan yang telah diambil. Lagi pula, hidup adalah perjuangan. Bukan begitu?…

Jika pembaca kebetulan menggunakan jasa taksi di Oslo, bukan mustahil supir taksi (mayoritas adalah imigran asal Pakistan) yang ditumpangi memiliki profesi sebagai dokter atau pengacara di negara asalnya. Mabel, rekan kursus asal Filipina yang menjadi personal assistant (perawat untuk pasangan manula) misalnya, ternyata memiliki dua gelar Bachelor dan satu master di bidang Teknik Kimia dan Pedagogi.

*menghela nafas*

Jadi, pepatah bahwa: ‘Hujan Batu di Negeri Sendiri lebih baik dari Hujan Emas di Negeri Orang’… mungkin bisa dipertanyakan. Karena tidak selamanya hujan emas terjadi di negeri orang. Bisa jadi, jauh2x ke negeri orang justru mengalami banyak hujan batu silih berganti… (tawuran kaleee…*siap2x pake helm sebelum kena timpuk* :D)

C’est la vie.
Inilah kehidupan.
yaya