Monthly Archives: July 2008

Mohon Maaf

Mohon maaf, berhubung yang punya blog sedang liburan dan adanya keterbatasan koneksi internet, komentar yang ada baru akan direspon setelah kembali ke Oslo minggu depan. Salam 🙂

Advertisements

My Sailing Experience Day-1: Stavern – Nevlunghavn

Seperti direncanakan sebelumnya, acara sailing musim panas tahun ini akan menempuh rute ke arah selatan Norwegia yakni sepanjang Stavern, Kragerø , Lyngør, dan (mungkin) hingga Kristiansand dalam enam hari. Daerah pantai selatan ini membentuk zona transisi antara daerah hutan yang luas di Swedia, daerah pantai yang kaya dengan cahaya matahari dan daerah pegunungan serta ‘fjord’ (bagian dari laut yang masuk ke daratan) di sebelah barat.

Sebelumnya kami telah mempersiapkan beberapa hal seperti pakaian hangat, makanan dan lain2x. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, saya harus memastikan bahwa berbagai bumbu dapur dan sejenisnya tersedia. Alhasil, persediaan bumbu2x mulai dari cumin, corriander, jahe, kunyit, lengkuas, daun salam, sesame oil, kecap, oyster sauce sampai ulekan pun ada (hehe :D)

Hari pertama, saya dan T harus mengendarai mobil terlebih dahulu hingga Stavern, sekitar 3 jam perjalanan dari kota Oslo ke arah selatan untuk ’menjemput’ kapal yang sebelumnya dipakai ayah T dan seorang kerabat berlayar dari Sandvika, sedikit di luar Oslo hingga Stavern sejak seminggu sebelumnya.

Foto: Pasar terbuka di pusat kota

Stavern

Berlokasi di sebelah selatan Larvik, Stavern adalah kota yang paling hidup dibandingkan kota2x lain di sepanjang Brunnales Peninsula yang menjadi daerah tujuan wisatawan lokal saat musim panas. Jalanan dipenuhi dengan deretan kafe, dan galeri seni . Saat berkeliling hari ini, kebetulan sedang hari pasar. Di pusat kota, nampak kios2x dadakan yang menjual beraneka barang mulai dari piringan musik tua, barang2x antik, buku2x tua dan pernak-pernik lainnya. Usai makan siang dan melihat2x sebentar, saya dan T kembali ke kapal, sementara ayah T dan kerabat tadi kembali ke Oslo.

Kapal layar yang kami pakai, ’Pernille’ adalah sebuah kapal tua berukuran medium 29feet, dilengkapi 1 motor berkekuatan 10 horse power, panjang sekitar 10 meter, buatan Swedia tahun 1987 dengan dua layar dengan ketinggian 11 meter, memiliki dapur kecil, VHF radio, GPS, kemudi auto pilot, pendingin , ruang duduk, dua ruang tidur dan toilet di bagian dalam. Meski sudah berumur 21 tahun, kapal ini termasuk tahan uji dan telah dipakai berlayar hingga ke Swedia dan Denmark menempuh berbagai cuaca, mulai dari cerah, berangin, berawan, hingga badai:)

Foto: Barang2x antik di ‘hari pasar’ Stavern

Pelabuhan Stavern, Fredriksvern Verft telah ada sejak pertengahan abad ke-18 . Lokasi yang kini dipenuhi oleh blok2x perumahan sebelumnya pernah menjadi bagian dari benteng pertahanan. Saat keluar dari pelabuhan, nampak beberapa bangunan unik yang menjadi tempat berkumpulnya komunitas seniman dan artis.

Foto: Suasana di Pelabuhan Stavern

Sebelum meninggalkan Stavern, tak lupa kami mengisi kembali persediaan air bersih untuk toilet dan dapur di kran2x air yang tersedia di sepanjang pelabuhan. Tak lupa mengisi bahan bakar untuk kapal di gas station yang ada di pinggir pelabuhan . T harus membayar 388 NOK (1 NOK (Norwegian Kronor) sekitar Rp.1800.-) untuk 30 liter diesel (full tank kapal: 40 L).

Foto: Pom bensin dan diesel untuk kapal

Satu setengah jam setelah meninggalkan Stavern, kami memakai satu layar, namun sayang tidak cukup banyak angin, terpaksa motor pun tetap dipakai dengan kecepatan sekitar 4,7 knot. Meski ketinggian ombak hanya sekitar 0,5-1 meter saja, namun hempasannya terasa cukup kuat. Maklum saja, rute yang kami lalui berada di laut terbuka yang terhubung dengan perairan Denmark dan berada cukup jauh di luar Oslo Fjord (perairan tertutup).

Foto: Pemandangan di luar pelabuhan

Nevlunghavn

Tiba di Nevlunghavn sekitar jam 6 sore, sayang sekali pelabuhan kecil ini penuh sesak oleh kapal2x besar dan kecil. Setelah mencoba mencari tempat bersandar tanpa hasil, kami pun melepas jangkar agak keluar dari pelabuhan. Nampak sejumlah kapal lain yang tidak mendapat tempat juga ‘parkir’ di luar pelabuhan.
Beragam aktivitas pun nampak di sekitar kami. Mulai dari kapal2x motor kecil yang simpang-siur, orang yang sibuk paddling, mandi matahari di pantai, berenang, duduk2x melihat matahari terbenam hingga yang hanya melihat2x dan mengamati keadaan sekitar (seperti saya :D)

Foto: ‘Pintu’ keluar-masuk Nevlunghavn

Suasana matahari terbenam di Nevlunghavn begitu indah dan mempesona. Tenang dan damai, siluet warna langit yang biru bersaput warna lila dan merah muda nampak terpancar di perairan. Sekilas, pemandangan ini mengingatkan saya pada lukisan karya John Miller –salah satu pelukis favorit selain Claude Monet–yang dikenal dengan ikon ’serendipity’-nya.

Foto: Senja di pelabuhan

Kota2x pelabuhan di Norwegia pada musim panas umumnya mempunyai acara khusus untuk menarik minat pengunjung seperti pertunjukan kabaret, teater lokal, festival musik, pameran seni dan sejenisnya. Dari arah pelabuhan tak jauh dari tempat kapal melepas jangkar, terdengar suara alunan musik country yang membawakan lagu2x seperti karya Kenny Rogers. Sayang kami tak bisa mendapat ’tempat parkir’ di dalam pelabuhan dan harus puas menikmati musik dari kejauhan saja. Suara musik baru berakhir pada jam 12 malam.

Foto: Rumah dari kayu timber putih, ciri khas rumah2x di sepanjang pantai selatan Norwegia

Berdasarkan pengamatan, anak2x di Norwegia sudah diperkenalkan untuk bermain di air (danau atau laut) sejak mereka balita. Bukan hal yang aneh jika melihat anak berumur 8-10 tahun seorang diri atau berdua menaiki perahu motor kecil tanpa rasa takut, terkadang orang tua mereka mengikuti dari belakang. Namun seringkali saya tidak melihat ada orang tua yang mengawasi dengan ketat. Yang pasti, jaket pelampung memang selalu terpasang untuk anak2x meski hanya berjalan2x di sekitar kapal atau pelabuhan.

Foto: Bermain di air

Kadang saya membayangkan situasi anak2x Indonesia, khususnya yang ada di kota besar seperti Jakarta. Akses ke alam bebas mungkin tak selalu mudah. Memasuki kolam renang, harus bayar. Mau masuk ke pantai yang layak, harus beli tiket masuk. Mau hiburan yang sedikit berbeda seperti Dunia Fantasi pun harus merogoh kocek yang tak sedikit. Mau ke taman kota, kebun raya, taman bunga harus bisa keluar modal untuk ongkos angkutan bagi yang tak punya kendaraan pribadi, belum lagi macet dan stress di jalan. Tak heran, mall2x pun kian menjamur dan menjadi sarana ’hiburan’ yang praktis dan murah apalagi sejak ruang publik yang tersedia untuk bermain kian terbatas berganti semen dan beton…

Dan malam pun semakin larut. Hanya terdengar suara deburan ombak yang memecah kapal, ’krenyat-krenyut’ suara badan kapal yang sebagian terbuat dari kayu mengapung di atas air, suara balon pelampung di sisi kapal kala ombak datang, suara mesin pendingin yang sesekali sibuk bekerja. Satu-dua kali juga terdengar suara mesin kapal motor di kejauhan, dan…suara apa lagi yah ini…serangga? Kok di laut…. Jangkrik?…Apa ada binatang bernama jangkrik di sini? Kok suaranya nyaris tak terdengar? Nyamuk barangkali?… Oooo, …ternyata ini suara baterai laptop saya yang tinggal setengah penuh. Waktunya untuk tidur, sebelum memulai perjalanan lagi esok hari. Selamat malam…

Navlunghavn, South Coast, 00.27 AM

Berlanjut ke: My Sailing Experience, Day 2: Nevlunghavn-Kragerø

Nyaris Terlantar di Negeri Orang

Awal Maret 2008 lalu, saya dan T berkesempatan untuk mengunjungi Kiel di Jerman dengan kapal pesiar yang berangkat dari pelabuhan Oslo. Kegiatan ini adalah acara jalan2x tahunan seluruh staff dan keluarga di perusahaan tempat T bekerja. Entah mengapa kali ini kapal pesiar menjadi pilihan dan…meski judul resmi acara ini adalah liburan, di sela2x waktu perjalanan masih saja ada beberapa rapat yang membahas tentang pekerjaan.

Kapal yang kami tumpangi bernama ‘Color Magic’ salah satu dari beberapa kapal lain yang dimiliki oleh grup perusahaan jasa angkutan ferry dan kapal pesiar ‘Color Line’ yang memiliki 3500 orang staff. Kapal2x lain yang mereka miliki antara lain ‘Color Viking’, ‘Color Fantasy’, ‘Christian IV’, ‘Peter Wesssel’, ‘Prinsesse Ragnhild’ dan lainnya yang menangani rute dalam Norwegia maupun perjalanan ke Denmark, Jerman dan Swedia.


Kami berangkat dari pelabuhan Oslo hari Sabtu pagi dan tiba di pelabuhan Kiel, Jerman pada jam 11 siang (sedikit terlambat) keesokan harinya. Ada satu hal yang tidak saya mengerti dan membuat enggan ikut perjalanan ini, yakni: waktu perjalanan yang 15 jam lamanya ternyata jauh lebih lama dari waktu kapal bersandar yang hanya 2 jam di pelabuhan Kiel. Jadi ‘what’s the point?’ gitu lohhh…Jauh2x menempuh perjalanan tetapi tidak ada banyak waktu untuk menikmati kota tujuan.

Mungkin paket seperti ini adalah strategi pihak perusahaan agar pengunjung menghabiskan uang mereka di berbagai kegiatan di dalam kapal. Meski untuk menggunakan sejumlah fasilitas resmi digratiskan, namun untuk makan-minum tambahan tetap harus membayar extra. Godaan untuk shopping di atas kapal pun besar karena rasa bosan yang mungkin muncul. Pilihan aktivitas lain mungkin keliling2x kapal (yang lebih dari 12 lantai), jalan2x di atas dek atau menikmati pemandangan.

Pertama kali memasuki kapal, saya yang sebelumnya tidak pernah naik kapal pesiar langsung terkesima. Para penumpang yang ribuan jumlahnya disambut oleh staff yang ramah serta ‘live music’ yang memainkan irama samba. Sempat juga terbersit pikiran yang menganalogikan kapal ini seperti sebuah mall terapung. Betapa tidak, jejeran butik2x terkenal, toko, restoran, cafe dan sejenisnya memenuhi hall utama. Di lantai lain pertunjukan teater berlangsung setiap malam, lantai diskotik dan jazz club juga berdentam-dentam hingga jam dua pagi. Beberapa fasilitas lain juga memanjakan penumpang. Makanan dan minuman yang disajikan di restoran resmi yang termasuk dalam harga tiket (untuk sarapan, makan siang dan makan malam) pun sangat lezat dan menggugah selera.

Dalam perjalanan, sempat juga terasa goncangan yang terkadang terasa tidak nyaman. Seorang rekan yang pernah berlayar dengan kapal yang sama menyatakan bahwa lantai 12 ke atas sempat ditutup untuk umum ketika badai besar terjadi dalam perjalanan dua bulan sebelumnya.

Setibanya di Kiel-Jerman, saya mendengar pengumuman lewat radio (dalam bahasa Norwegia, Jerman dan Inggris yang tidak terlalu jelas) bahwa kapal akan bersandar untuk beberapa jam. Semua penumpang yang akan kembali ke Oslo pada hari yang sama harus sudah ada di atas kapal kembali pukul 14.15 siang. Entah bagaimana, kami tidak mengecek lagi untuk memastikan waktu keberangkatan, dan ini adalah sebuah kesalahan besar.

Waktu dua jam tidak menyisakan banyak pilihan. Saya dan T hanya berjalan keliling pusat kota Kiel, melihat2x bangunan tua, taman kota, dan museum seni. Kota yang kecil ini tidak beda dengan kota2x di belahan Eropa Barat lainnya (menurut saya loh). Bangunan tua, gereja yang berumur ratusan tahun, deretan apartemen, centrum yang dipenuhi toko beraneka macam dan rupa, ruang publik terbuka untuk anak, taman nan hijau yang asri di tengah kota. Yang sedikit berbeda mungkin jejeran klub malam, tari telanjang dan ‘adult show’ yang seperti diekspos berjejer di sepanjang jalan menuju pelabuhan utama.

Di museum seni Kiel, nampak koleksi lukisan karya pelukis dari Jerman, Norwegia dan Russia. Ada juga eksibisi patung2x mitologi Yunani dan pameran seni instalasi yang unik. Sayang, waktu yang terbatas tidak memberikan kesempatan untuk mendalami isi pameran lebih lanjut. Semua terkesan terburu2x dan tergesa2x, bahkan untuk mengambil foto2x. 😦

Jam 12.30 siang: memperhitungkan perjalanan kembali yang sekitar 30 menit jalan kaki, plus waktu makan siang telah tiba, kami memutuskan untuk mencari tempat makan yang tak jauh dari pelabuhan.

Jam 13.00 siang: Tak jauh dari pelabuhan, T mengusulkan untuk mencari tempat makan di daerah Centrum, kami berkeliling tanpa hasil karena T yang ‘picky’ (suka pilih2x) tidak menemukan tempat yang sreg untuk makan (plissss dehhhh…., padahal perut ini sudah berteriak dan bernyanyi2x)

Jam 13.15 siang: Setelah berkeliling tanpa hasil, kami pun memutuskan kembali ke pelabuhan. Kapal masih nampak bersandar. Orang2x terlihat bergegas menuju kapal. Saya dan T merasa lega, setidaknya lokasi yang tidak terlalu jauh ini (hanya lima menit jalan) membuat kami bisa memantau keberadaan kapal setiap saat, memastikan bahwa kapal tidak akan pergi tanpa kami berdua.

Di sebuah restoran Italia, saya memesan Spaghetti ukuran besar (laper bangettt…, suerrr!!!…). T memesan…. (hmmmmm, apa yah, waduhhh…lupa *garuk2x kepala* Saya tidak sempat memperhatikan situasi sekitar, termasuk T. Sorry, dear :D)

Jam 14.10 siang: Kenyang, Spaghetti yang disajikan sangat lezat dan lebih dari cukup untuk mengganjal perut. Setelah urusan ‘administrasi’ antara T dan pihak kasir selesai, kami berniat untuk menuju kapal. Tapiii, lohhhh kokkkk, ada asap hitam membumbung dari kapal, disusul bunyi peluit yang membahana…What’s upppp???…

Karena kuatir dan sedikit panik, kami pun bergegas meninggalkan restoran, sambil berlari ke arah pintu masuk kapal di sebuah anjungan. Melewati jembatan, menaiki tangga, turun tangga, melewati hall panjang…dan…sepi…Tak ada lagi orang berlalu-lalang, semua nampak lenggang, juga di counter depan untuk check-in. Kosong.

Menyadari yang sedang terjadi, T menarik tangan saya untuk melompati rantai pembatas dan berlari ke arah lorong menuju pintu masuk kapal. Di tengah lorong, seorang pria setengah baya berseragam seperti staff kapal mencoba menghentikan: ” Brother… brother… it is useless, the ship is leaving now. You have to come back!!!…”

Antara nekat dan ingin memastikan sendiri serta sedikit berharap, kami terus berlari hingga di ujung lorong dan melihat kapal sedikit demi sedikit meninggalkan pelabuhan. Saya hanya bisa menjerit dalam hati: ” Waiiiittttt!!!!… Waiiiitttttt….for meeeee….!!!!” Ingin rasanya terjun ke air dan berenang ke arah kapal yang belum terlalu jauh itu.

Terlintas kemungkinan menumpang kapal kecil hingga ke arah kapal dan memanjat naik. Teringat juga tas, koper dan segala isinya yang masih ada di atas kapal. Kami nyaris tak memiliki apapun…

Setelah tertegun beberapa saat, dengan lunglai, saya dan T berjalan kembali ke arah counter check-in. Masih sepi. Nampak pria paruh baya yang mencoba memperingati kami berdiri di salah satu sudut. Ia berkata sesuatu pada T, yang tidak terlalu saya dengar dengan jelas. Nyaris tak ada yang bisa dilakukan, tak ada counter informasi dan sejenisnya yang masih buka.

Di balik kaca dan gorden di salah satu ruangan, saya melihat sekelebat bayangan manusia. Aha! Ini kesempatan penting, karena ruang itu adalah kantor resmi perusahaan kapal yang seharusnya kami tumpangi untuk kembali. Di pintu yang nyaris tertutup, T menyelinap masuk, diikuti saya yang masih ragu2x.

Setelah menjelaskan apa yang terjadi, T mencoba bernegosiasi. Akhirnya kami bisa mendapatkan tiket kembali gratis untuk waktu yang sama keesokan harinya, dengan kapal ‘saudara’ yang masih di bawah naungan perusahaan itu. Staff yang baik hati juga menawarkan untuk menghubungi kapal, menelpon bos T untuk mengurus barang2x kami dan menginformasikan situasi yang terjadi. Sebelum pergi, staff perempuan dari Jerman yang lancar berbahasa Norwegia mengingatkan agar kami tidak lagi terlambat. Ternyata, kapal pergi meninggalkan pelabuhan pukul 14.15, dan semua penumpang yang lama harus sudah kembali ke kapal jam 13.15.

Dengan sedikit lega, saya dan T menuju pintu keluar tanpa arah yang jelas. Tak jauh dari bibir pantai, nampak beberapa orang sedang memancing ikan. Saya mengusulkan untuk duduk sesaat, beristirahat, mencoba mencerna dan menganalisa situasi serta menyusun rencana dan strategi ke depan (serius sekaleee…)

Analisa situasi: Saya telah salah mendengar pengumuman, jam 14.15 adalah waktu kapal meninggalkan pelabuhan, bukan waktu penumpang harus kembali ke kapal. T juga merasa turut andil, karena ia tidak melakukan ‘cross-check’ tentang waktu ini. Logistik: Kami tidak mempunyai apapun, selain jaket yang melekat di badan, HP, dompet dan paspor (untung sempat terbawa). Yang harus dilakukan: memastikan semua barang kami di atas kapal aman, mencari tempat bermalam, mencari ide untuk mengisi waktu hingga esok hari. Blessing in disguise: ada waktu ekstra untuk melihat2x kota Kiel di malam hari 🙂

Baru kali inilah saya berada di luar negeri hanya dengan baju seadanya yang melekat di badan. Untung masih ada T yang juga senasib-sepenanggungan. Setidaknya, saya tidak seorang diri ‘mengelandang’ di Jerman, di kota, dengan orang dan bahasa yang sungguh sangat asing.

Akhirnya, kami menemukan tempat bermalam yang tak jauh dari pelabuhan dan pusat kota. Waktu yang ada dimanfaatkan untuk kembali berkeliling kota seperti hari sebelumnya. Saya tidak terlalu bersemangat untuk mengambil foto2x pada waktu itu. Siang harinya, pada waktu yang ditentukan kami menuju kapal 45 menit lebih awal :). Lega rasanya, bisa kembali berada di kapal dan memastikan bahwa kami akan kembali ke Oslo. Setidaknya, kami mendapat kesempatan untuk ‘studi banding’ antara kapal dari Kiel menuju Oslo dengan kapal yang membawa kami dari Oslo menuju Kiel yang serupa namun tak sama. Pemandangan pun nampak lebih indah, terutama saat senja hari melewati jembatan di perbatasan Swedia.

Di tengah malam, terdengar suara berdentam-dentam dari lantai di atas yang sangat menganggu. Usut punya usut…lantai di atas kami adalah lokasi diskotik dan night club. Pantas saja, kami diberi kamar gratisan di sini, mungkin tidak banyak orang yang mau tinggal di lantai yang berisik. Setelah menyampaikan protes ke pihak manajemen kapal, entah ilmu apa yang T gunakan saat bernegosiasi, kami bisa mendapat upgrade dari kamar biasa ke kamar suite. Well, not bad,… Good job, my dear! 😀

But, the misery is not over yet…
Setibanya di Oslo, kami harus langsung menuju kantor T, karena semua tas dan barang2x kami di-drop di sana. Hari itu semua staff sudah masuk kantor. Tak urung, kami pun menjadi bahan olok2x dan candaan. T mengingatkan saya sebelumnya untuk siap mental, karena peristiwa konyol ini akan selalu diungkit, setidaknya selama satu tahun dalam acara kumpul2x bersama rekan kantor, pesta musim panas, acara natal bersama dan paskah tahun depan…Hiks ….hiks….*gigit jari*

Lesson learned:
-Memperhatikan waktu itu wajib hukumnya
-Dalam situasi darurat, panik boleh tapi jangan kehilangan akal sehat
-Untuk jaga2x, bawa paspor /atau foto kopinya dan barang2x berharga dengan hati2x
-Senyum ramah dan wajah ‘innocence’ adalah senjata ampuh dalam bernegosiasi, khususnya jika kita ada di pihak yang butuh 🙂
-Lebih baik memiliki seorang ‘partner in crime’ daripada seorang diri saja. Ini penting untuk distribusi resiko 🙂
-Setiap kekonyolan yang diketahui publik pasti akan jadi bahan guyonan, siap mental itu perlu 😀
-Tetap berpikir positif, setiap kejadian tak mengenakkan pasti ada hikmahnya. Kalau belum tahu juga apa hikmah di balik peristiwa itu, ayoooo…coba cari tahu lagi 😀

Disclaimer: Foto2x di atas diambil di Museum Seni Kiel, koleksi pribadi dan dari website resmi Color Line di http://www.colorline.com/

Masalah Pendamping Korban yang Kerap Terabaikan

Tulisan kali ini terinspirasi dari artikel pribadi yang pernah dimuat di harian Kompas edisi cetak tanggal 11 Maret 2002 lalu. Hingga sekarang, persoalan yang sama masih relevan. Untuk keperluan blog, tulisan asli telah mengalami suntingan tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan
………………..

PENDAMPINGAN bagi korban yang mengalami berbagai bentuk kekerasan baik fisik, kekerasan psikis, kekerasan ekonomi maupun kekerasan seksual (termasuk state violence) merupakan sebuah tugas yang tidak mudah. Dalam sebuah pelatihan tentang “Pembelaan Hukum Berperspektif Gender” yang diselenggarakan sebuah LSM perempuan di Jakarta, terungkap berbagai masalah yang dihadapi rekan-rekan pendamping korban, baik yang bekerja sebagai penasihat hukum, pendamping di shelter (rumah aman) dan crisis center, termasuk staf divisi pendampingan korban di berbagai organisasi sosial nirlaba.

Terungkapnya masalah-masalah tersebut merupakan hal yang cukup mengejutkan. Tak banyak yang menyadari di balik ketegaran dan keteguhan para pendamping korban, mereka juga manusia biasa yang mempunyai masalah. Lebih sulit lagi, masalah tersebut harus bisa dieliminir, paling tidak disamarkan agar tidak diketahui korban yang sedang didampingi karena akan mempengaruhi tingkat kepercayaan terhadap pendamping. Padahal, masalah-masalah yang dibiarkan menumpuk seperti ini justru berbahaya, karena akan terakumulasi sebagai “bom waktu” yang siap meledak.

Pengalaman pendamping korban

Konflik keluarga yang dialami umumnya terkait dengan minimnya waktu buat keluarga pendamping korban akibat kesibukan pekerjaan yang tak mengenal batasan waktu. Seorang rekan menceritakan, ia mendapat telepon dari klien pukul 02.30 dini hari untuk segera datang ke shelter karena ada masalah, padahal lokasi rumahnya jauh dan tidak memungkinkan. Rekan lain mengalami saat berkumpul keluarga ketika liburan Natal-yang sangat jarang bisa dilakukan-mendadak harus pergi untuk mendampingi korban.

Sikap korban yang didampingi juga berpengaruh-sedikit atau banyak-terhadap pendamping korban. Tak jarang, pendamping harus menerima mulai dari umpatan kekecewaan, kesedihan, cacian, sampai kejadian yang membuat banyak orang “makan hati”. Seorang rekan pendamping pernah harus berangkat pagi hari sekali untuk memenuhi janji mendampingi klien, namun saat tiba tepat waktu sang klien justru baru datang dua jam kemudian dan dengan tanpa rasa bersalah mengatakan alasan terlambat: susah bangun pagi.

Teror, tekanan dan intimidasi yang diterima pendamping korban bukanlah hal aneh. Baik lewat telepon, surat kaleng, sampai teror oleh bodyguard atau preman bayaran lainnya, bahkan intimidasi memanfaatkan oknum militer pun pernah dialami seorang rekan. Belum lagi masalah yang ditemui saat berhadapan dengan aparat kepolisian yang sering kali justru menyudutkan korban yang didampingi. Meski sudah ada ruang pelayanan khusus (RPK), namun belum merata tersebar di daerah-daerah.

Masih kentalnya bias nilai patriarki dalam sistem hukum di Indonesia sangat berpengaruh terhadap penanganan kasus terhadap anak dan perempuan korban. Khusus kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, substansi hukum yang bermasalah sering terkait dengan sulitnya pembuktian, apalagi untuk kasus pemerkosaan yang sudah berlangsung lama, serta sulitnya memperoleh saksi yang memberatkan pelaku dalam kekerasan dalam rumah tangga, misalnya, yang sering takut karena diancam pelaku. Dalam struktur hukum, selain sikap aparat kepolisian yang sering sangat bias jender dan menyudutkan korban, sikap petugas pengadilan baik hakim maupun jaksa juga tak kalah menyudutkan korban dan pendamping korban.

Profesi sebagai pendamping (yang kebanyakan perempuan) saat mendampingi korban (yang juga kebanyakan perempuan dan anak) sering dianggap remeh dan dipandang sebelah mata, apalagi dibandingkan dengan profesi di perusahaan swasta, lawfirm, apalagi perusahaan multinasional. Tak jarang berbagai stigma negatif diberikan masyarakat awam, birokrat, aparat kepolisian maupun pengadilan, agamawan, termasuk akademisi terhadap para pendamping korban yang bekerja di LSM-LSM sebagai orang-orang yang sok idealis dan tukang cari masalah. Pahit memang.

Solusi dan harapan

Berbagai usulan dilontarkan, mulai dari penguatan internal sesama pendamping melalui pertemuan rutin untuk berbagi kasus, tukar informasi, diskusi pengalaman pendampingan dan masalah lain, konseling untuk konselor (pendamping korban), pelatihan/trainingpendampingan termasuk penguatan jaringan.

Semua usulan solusi itu masih perlu direalisasikan bersama. Selama ini masalah yang dihadapi para pendamping korban masih sering dianggap kurang penting dari masalah korban yang didampingi, padahal tak kalah rumit persoalan yang dihadapi pendamping korban. Tulisan ini saya buat untuk membuka (kembali) wacana pendampingan terhadap korban yang sering terpinggirkan, sekaligus urun rembuk untuk masukan, saran, usulan, solusi atas permasalahan yang dihadapi para pendamping korban.

Lewat tulisan ini juga saya sampaikan penghargaan setinggi-tingginya atas perjuangan, dedikasi, pengorbanan rekan-rekan pendamping korban baik di shelter, crisis center, kamp pengungsian, wilayah konflik bersenjata, relawan di lokasi bencana dan kerusuhan, serta rekan-rekan lain yang tersebar dan tak dapat disebutkan satu per satu, semoga tetap teguh dalam berjuang melewati the road less travelled.

Tambahan: Pada tanggal 14 September 2004,pemerintah telah mengesahkan Undang-undang tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Berdasarkan pengalaman pribadi selama bekerja di Aceh, institusi kepolisian setidaknya telah berupaya cukup maksimal untuk mendukung penghapusan KDRT. Memang tidak mudah mensosialisasikan peraturan hingga ke level terendah dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana yang ada, terlebih lagi merubah pola pikir patriarkhis yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi.

Disclaimaer: Foto2x diambil dalam pameran lukisan di Institut Kesenian Jakarta pada bulan Juni tahun 2006.

Banyak Jalan di Roma: Nyasar Dehhh… :D

Orang bilang, banyak jalan menuju Roma. Tetapi kota Roma yang banyak jalan ini, justru pernah membuat saya dan seorang kawan ‘tercecer’ di sana, berawal dari sebuah perbedaan persepsi… Yah, namanya juga manusia… masing2x memiliki isi kepala serta cara berpikirnya yang kadang ‘ajaib’ 😀

Kisah ini mirip dengan kejadian dalam post Malu Bertanya… dengan setting, lokasi dan pelaku berbeda.

Tahun 2004, saat liburan Paskah, saya dan beberapa kawan pelajar lain di Den Haag berencana untuk mengadakan tur kecil ke kota Roma-Italia dengan tiket murah. Dalam grup ini, hanya sayalah yang berdarah Asia sementara Miranda, Silva, Petrina dan Kristina (bukan nama sebenarnya) berasal dari negara2x yang berbeda di Afrika.

Karena kondisi dana terbatas, kami pun mencoba mencari tempat menginap yang semurah-murahnya, syukur2x bisa mendapat secara gratis :D. Total waktu yang dimiliki adalah lima hari dan kami mendapat rejeki nomplok boleh tinggal tanpa bayaran di ‘Wisma X’ milik konggregasi biarawan berkat koneksi dari seorang teman asal India (thank you, Michael…)

Sayangnya, ketika tiba di Roma nomor telepon ‘Wisma X’ tadi tidak pernah bisa dihubungi dan alamat yang diberikan Michael juga tidak jelas. Karena lelah, diputuskanlah untuk bermalam di sebuah hostel kecil dekat stasiun ‘Termini’.

Hostel ini dikelola suami-istri berdarah campuran. Sesuai harga sewa yang 15 Euro per malam, tak ada servis khusus tersedia. Ruangan hostel yang ada di lantai dua bangunan apartemen penuh sesak dan sempit dengan barang2x yang ada. ‘Kamar’ yang tersedia pun hanya tiga dengan kondisi yang nyaris tak layak disebut kamar.

Di ruang sempit berukuran sekitar 4×5 meter (mungkin lebih kecil lagi) ada 4 pasang tempat tidur bertingkat. Seluruhnya ada delapan buah kasur dan lima sudah ditempati oleh kelompok remaja dari salah satu negara Eropa Timur, yang kelakuannya menurut saya dan kawan2x lain sangat tidak sopan.

Saya, Petrina dan Kristina mendapat jatah tempat tidur. Sementara Miranda harus tidur di lantai dengan matras tambahan. Silva yang berumur sekitar empat puluh tahunan merasa risih jika harus satu kamar dengan perempuan dan memilih untuk membayar ekstra satu kamar kecil lain yang berbeda untuknya.

Di malam pertama, para remaja rekan sekamar kami pulang larut malam, mengobrol dengan keras2x, merokok bahkan bermesraan di tempat tidur ketika kami masih ada di dalam kamar. Saat Miranda masih membaca Kitab Suci yang dibawanya dan berdoa, mereka dengan seenaknya saja mematikan lampu kamar tanpa permisi terlebih dahulu.

Keesokan harinya, kami sempat protes pada pengelola dan berencana membatalkan kamar yang sudah dibooking untuk satu malam lagi. Ternyata si pengelola ngotot dan memaksa kami tetap membayar harga kamar tanpa peduli apakah kami akan tidur di hostel itu atau tidak (yeeee…rese banget…konsumen yang komplain dan dirugikan kok malahan disuruh bayar). Nomor telepon ‘Wisma X’ masih belum bisa terhubungi. Karena tidak ada pilihan lain, terpaksa kami harus tidur satu malam tambahan di hostel yang tidak nyaman dan tidur berdesakan seperti ikan sarden di kaleng (naseeebbb…ya naseebbb…)

Syukurlah, pada akhirnya kami bisa menghubungi nomor ‘Wisma X’ dan mendapat alamat yang lebih jelas yakni:
“Via Tiburtina No 9XX (Sembilan Ratus Sekian), Roma”.

Karena beresiko akan menempuh perjalanan yang panjang dan kemungkinan tersesat, akhirnya diputuskan bahwa saya dan Miranda –sebagai yang termuda dalam rombongan– akan menjadi ‘tim perintis’ untuk mencari tempat tujuan mendahului yang lain (hehe…kayak mau panjat tebing :D). Sementara yang lain bisa beristirahat sesuai kehendak masing2x.

Sebagai gambaran, Miranda adalah teman akrab satu jurusan di kampus, berasal dari Ghana, memiliki karakter tegas, keras, lantang jika berbicara, sengit saat berdebat; tetapi juga baik hati dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama. Dibandingkan saya, ia juga sangat religius. Kalau berdebat dengannya, saya lebih banyak tersenyum dan menjawab seperlunya saja, percuma kalau diteruskan.

Belum apa2x, perdebatan sudah terjadi. Kami memiliki perbedaan persepsi dalam membaca alamat yang tertulis: “Via Tiburtina No 9XX (Sembilan Ratus Sekian), Roma”.

Miranda menafsirkan kata ‘Via’ yang dalam bahasa Inggris juga berarti ‘melalui’. Sedangkan saya menafsirkan kata ‘Via’ dalam bahasa Italia yang artinya ‘Jalan’. Jadi, Miranda ‘membaca’ petunjuk: ‘Melalui (stasiun bus) Tiburtina, kemudian cari bangunan bernomor 9XX’…. Sementara, saya ‘membaca’ petunjuk tadi: ‘Jalan Tiburtina, No 9XX’…

Seperti diduga, pada akhirnya saya mengikuti kemauan Miranda. “Yah nggak apa2x deh… Kalaupun tersesat pasti juga nggak akan terlalu jauh, masih di sekitar situ juga…”, pikir saya. Ternyata, perhitungan ini meleset.

Mengikuti cara Miranda membaca petunjuk, kami berhenti di stasiun bus ‘Tiburtina’. Keluar dari stasiun mulailah saya dan Miranda mencari nomor 9XX (sembilan ratus sekian). Sulit juga mengurutkan nomor rumah yang sering loncat tak beraturan. Setelah hampir satu jam mencari dan memasuki kawasan pemukiman, mencoba bertanya dalam bahasa Inggris, melihat peta (yang tak mendetil dan kemampuan membaca peta pas2xan), semua menggelengkan kepala saat menjawab dalam bahasa Italia yang tak dimengerti. Barulah di salah satu jalan kecil, seorang ibu muda bisa berbahasa Inggris menjelaskan bahwa alamat yang kami cari tidak ada di lokasi itu.

Berdasarkan penjelasan si ibu muda tadi, maka hasil ‘bacaan’ sayalah yang benar. ‘Wisma X’ terletak di Jalan Tiburtina No 9XX…jauh sekali dari stasiun bus Tiburtina. Keluar ke jalan besar, nampak Jalan Tiburtina No 1, dan kami harus mencari nomor sembilan ratus sekian…

Kami hanya berjalan…dan berjalan melewati nomor2x 50,… 100,…200,… 300,…350 …400, 470…570…Setelah hampir dua jam, saya mulai bertanya2x dalam hati: “Mana nomor sembilan ratus, yak? Kok nggak kelihatan seeehhhhh…Capek niiiyyyy…”.

Tidak tega juga kalau harus menyalahkan Miranda. Mencak2x dan mengomel dalam kondisi semacam ini justru akan membuat keadaan akan lebih buruk lagi. Padahal rasanya ingin juga mendapat ‘pengakuan’ dari Miranda kalau dia salah dan saya benar. I told you sooooooooo!!!!!!!!!……….

Hari semakin gelap. Entah kapan bisa menemukan nomor sembilan ratus sekian di jalan yang luar biasa besar dan panjang ini…

Perasaan mulai tidak enak ketika melewati kawasan yang mulai sepi dan dipenuhi semak2x, jauh dari kawasan pemukiman. Meski lalu-lalang kendaraan cukup banyak, lama-kelamaan hampir tidak ada pejalan kaki lain yang kami temui. Melewati kolong sebuah jembatan, perasaan tidak enak semakin kuat melihat situasi yang mencekam, sepi dan gelap.

Sempat terlintas bayangan2x buruk tentang hal yang mungkin terjadi di lokasi semacam ini. Tak ada rekan, kenalan atau saudara yang kami bisa dikontak atau dimintai pertolongan. Bahkan nomor telepon ‘Wisma X’ pun sulit dihubungi. So, basically…we were…all by ourselves…

Karena kekuatiran sudah mencapai puncaknya, saya memutuskan bahwa kita harus kembali demi alasan keamanan. Melanjutkan mencari di tempat yang asing, dengan bahasa yang tidak dimengerti pada hampir tengah malam adalah sebuah tindakan nekat beresiko. Miranda pun setuju untuk kembali dan menerima argumentasi saya.

Waktu menunjukkan jam sebelas malam lebih. Kami berputar menyusuri kembali rute yang tadi dilalui. Tak lama kemudian nampak cahaya lampu dan suara orang bercakap2x terdengar di sebuah terminal bus kecil yang agak terisolir. Beberapa orang (para supir) mencoba mengatakan bahwa ada stasiun kereta tak jauh dari sana tetapi saat itu sudah tak ada lagi kereta beroperasi. “No train…no train now…Better use my taxi…”

Hmmmm…Meski pada awalnya sempat mempercayai informasi yang diberikan, mendengar embel2x ‘tawaran’ untuk menggunakan taksi membuat saya meragukan ‘ketulusan’ si informan. Bayangan supir taksi di Jakarta dengan segala polahnya yang ‘ajaib’ membuat saya was2x bahwa kejadian serupa pun bukan mustahil bisa terjadi di kota Roma ini.

Betul saja, tiba di tempat pemberhentian, masih ada kereta yang akan lewat (seperti judul film saja, ‘Arini: Masih Ada Kereta yang Akan Lewat…:D) melalui stasiun utama ‘Termini’. Yeeessssssss……

Saat kereta datang, saya sempat was2x, waduhhhh ini kereta beneran apa kereta jadi2xan?… (hehe, kebanyakan dicekoki sinetron horor Indonesia di TV…). Tak banyak orang yang ada di dalam gerbong. Namun, saya merasa lebih aman dibandingkan beberapa menit sebelumnya, ‘tercecer’ di jalanan yang gelap dan sepi. Secara total kami menghabiskan waktu hampir empat jam lamanya malam itu nyaris tanpa hasil. Paling tidak, ada gambaran tentang arah yang harus dituju menuju ‘Wisma X’.

Keesokan harinya –mengikuti cara saya membaca petunjuk, ehm 😀 — dengan mudah kami bisa menemukan tempat yang dicari, yang ternyata… terletak persis di seberang salah satu pemberhentian kereta. Wah, jika tahu begini, daripada jalan kaki tadi malam lebih baik kami terus naik kereta hingga pemberhentian di sekitar Jalan Tiburtina nomor sembilan ratus sekian ini.

Tempat2x lainnya yang kami kunjungi di Roma saat itu adalah ‘standar’ yang dikunjungi para wisatawan seperti: ‘Collosseum’, ‘The Catacombe di San Callisto’, ‘Trevi Fountain’ dan St Peter’s Basilica’ di Vatican dll. Namun, dari semua itu, pengalaman mencekam saat mengembara di kota Roma –pada hampir tengah malam– bersama Mirandalah bagian yang akan selalu saya kenang dari seluruh perjalanan singkat ini.

Tak lupa saya menghela nafas lega dan bersyukur kepada Tuhan; karena atas perlindungan-Nyalah maka kami masih bisa kembali pulang dengan selamat dan tak kurang satu apapun… Phewwwww….

Kalau orang bilang banyak jalan menuju Roma, memang betuullll… Tetapi banyak jalan di Roma juga bisa bikin keblinger alias pusing tujuh keliling…

Disclaimer: Mohon maaf, berhubung foto2x tentang kota Roma ada di Jakarta. Kali ini saya tampilkan foto2x yang diambil dari perjalanan ke Lourdes dan Cauteretz di Perancis tahun lalu sebagai illustrasi.

Potong Rambut

Bagi pelajar yang tinggal di luar negeri –khususnya di Eropa Barat dan Utara– dengan mengandalkan uang beasiswa atau kiriman orang tua mungkin pernah merasakan dilema saat ingin potong rambut (kecuali bila kiriman tadi tidak bermasalah dalam jumlah)

Harga standar di salon2x untuk potong rambut bagi perempuan (saya tidak tahu pasti untuk laki2x) rata2x sebesar 20 Euro pada tahun 2003 di Den Haag. Dengan kurs rupiah waktu itu sekitar Rp. 11.000-Rp 12.000 per 1 Euro, bisa dihitung berapa jumlah yang harus dibayar demi rambut di kepala ini.
Dengan banyak pertimbangan, waktu itu saya hanya mencoba bertahan untuk tidak memotong rambut selama hampir satu tahun lamanya.

Memang, dari kasak-kusuk sesama pelajar lain ada info salon yang murah di kawasan imigran. Tetapi embel2x harus siap terima nasib jika hasil potongan tidak sesuai harapan sudah cukup menyurutkan niat yang ada. Rambut saya sendiri tidak pernah panjang melebihi bahu. Karena strukturnya yang halus dan tipis, maka rambut panjang tidak pernah disarankan. Justru dulu, kata nenek almarhumah, saya harus sering2x potong rambut supaya lebih lebat.

Selama di Jakarta, acara ke salon untuk potong rambut pasti dilakukan setiap tiga bulan sekali. Setelah gonta-ganti, akhirnya ada satu salon favorit dengan harga masih terjangkau namun pelayanan dan hasil memuaskan di daerah Depok. Dengan uang Rp 90.000.- pelanggan sudah bisa keramas, potong rambut, hair spa, plus vitamin, plus blow-dry, plus massage… Buat saya ini adalah sebuah kemewahan…

Suatu hari, karena tidak tahan lagi melihat potongan rambut yang semakin tak berbentuk, saya bertekad untuk pergi ke salon dan mengorbankan uang yang ada di saku. Kebetulan, Milka (kawan dari Bolivia) juga ingin melakukan hal yang sama dan sudah memiliki referensi ‘hair-dresser’ yang –menurut dia– terpercaya. Sempat ada rasa kuatir sebelum mengiyakan ajakan Milka tadi, maklum beda selera dan beda gaya. Dibandingkan kawan latina yang gaul dan atraktif ini, saya tergolong kuper dan tidak mengerti mode.

Ternyata betul dugaan saya…
Usai membuat janji dengan pihak salon, Milka membawa kami ke sebuah salon untuk anak muda yang funky, trendy, gaul, modern dan futuristik… Waduhhh…bagaimana melukiskannya yah?… Kurang lebih, ini adalah salon yang tidak akan pernah saya masuki jika hanya seorang diri saja. Pikiran pertama yang muncul saat memasuki pintu salon tersebut adalah: berapa yah nanti harga yang harus dibayar?…Cukup nggak uang saya?…Duh, semoga nggak mahal2x banget deh…

Awalnya, karena meyakini profesionalitas penata rambut yang ‘wong londo’ asli, saat ditanya model yang diinginkan, saya hanya bilang kurang lebih: “Terserah mas aja deh, yang jelas harus dibuat terlihat ber-volume karena rambut saya tipis…” Saya tidak berani sering2x melihat ke cermin, takut melihat hasil akhir potongan rambut juga tidak berani untuk protes. Sungguh sebuah kepasrahan yang bodoh (baru sadar setelah kejadian ini…)

Jika mau jujur, dibandingkan dengan salon langganan saya yang ada di sebuah ruang kecil di daerah mall Depok, saya lebih menyukai pelayanan dari salon langganan tadi. Di salon funky nan gaul ini, saat rambut saya ‘dikerjai’, boro2x ada massage, semua dikerjakan dengan terburu2x (mungkin sedang kejar setoran yah...).

Sambil tangan sibuk bergerak kesana-kesini di atas kepala, si mas ‘londo’ ini menawarkan berbagai produk yang katanya bagus untuk rambut saya yang tipis agar terlihat lebih berisi bla..bla..bla…

Karena masih ‘ingusan’ saya pun hanya termanggut-manggut sepanjang ‘commercial break’ secara langsung tadi. Ditambah karena sulit menolak apalagi berkata ‘tidak’, saya pun membeli produk yang ditawarkan tanpa berani menanyakan harga. Yup, tidak berani menanyakan harga karena gengsi jika ketahuan berkantong pas-pasan (ck..ck…sungguh terlalu dan konyol sekali jika diingat lagi…). Milka juga melakukan hal yang sama.

Setelah selesai, kami pun menanyakan harga di kassa, dan….jumlah yang harus saya bayar adalah… 250 Euro, dua ratus lima puluh Euro hanya untuk rambut di kepala!!! Saat mendengar harga tadi (Milka harus membayar sekitar 190 Euro), kami berdua terlihat tenang dan mengeluarkan kartu ATM, menggesek, menekan nomor pin, beres dan segera keluar salon sambil mencoba tersenyum.

Di luar salon, beberapa meter kemudian… dengan kompak kami berdua berteriak histeris. Aaaaaaaarggghhhhh!”#¤?=/%##%&”!()&%)=%!!!!!!… …”Two hundreds and fifty Euro! That is so ridiculous. It will never be happening to me again. Never!”

Untung waktu itu hari masih pagi dan kami berada di jalan yang cukup sepi sehingga terhindar dari tatapan aneh orang melihat kami berteriak dan loncat2x histeris. Rasanya saya seperti baru saja ‘dirampok’ secara halus. O ya, hasil akhir potongan rambut saya sangat mengecewakan. Pertama kali melihatnya, saya langsung membayangkan perpaduan gaya rambut ala remaja Jepang di kawasan Harajuku, manga (komik bergambar) dan gaya jambul tempoe doeloe. Sangat tidak mencerminkan kepribadian saya yang kalem, tenang, lembut ehm… :D. Soooo…’not me’ at all!

Kejadian yang sama pun terulang lagi saat saya berada di Oslo. Sebagai salah satu kota termahal di dunia, harga rata2x untuk potong rambut di salon pun berkisar 400 NOK (1 NOK (Norwegian Kronor) sekitar Rp 1800.-). Akibatnya, keingingan untuk potong rambut di salon lagi2x harus dipendam hingga lebih dari enam bulan.

Saat berulang-tahun, barulah keinginan itu tercapai ketika T memberikan hadiah yang salah satunya adalah biaya potong rambut (sesuai permintaan pribadi, hehe :D). Kebetulan T’s mom juga akan pergi potong rambut ke salon langganannya. Belajar dari pengalaman, saya pun mengecek terlebih dahulu apakah ini termasuk salon mahal atau tidak, bagus atau tidak, terpercaya atau tidak dll. Jawaban yang saya dapat cukup meyakinkan, tidak mahal namun hasil memuaskan.

Ternyata…ukuran ‘mahal’ atau ‘tidak mahal’ antara saya berbeda jauh dengan T’s mom. Salon yang katanya ‘biasa’ ini terletak di sebuah rumah di atas bukit kecil, dengan si pemilik dan pengelola tunggal seorang penata rambut yang cukup dikenal. Ia juga seorang artis yang berbakat dan memamerkan hasil karyanya di Hennie-Onstad Center, sebuah pusat pameran bagi para seniman yang prestisius di Oslo.

Saat rambut sedang ‘dikerjai’, ia menawarkan beberapa produk untuk rambut agar begini dan begitu… (kok sama yah dengan yang di Den Haag, di Indonesia nggak begitu2x banget deh). Berdasarkan pengalaman, saya hanya bilang ‘No, thank you”, sambil tersenyum semanis-manisnya.

Setelah selesai, selanjutnya giliran T’s mom. Sebelumnya saya sempat bilang ke T’s mom bahwa semua pengeluaran akan saya tanggung (ini sebagai balasan karena T’s mom selalu membayar bill jika kami makan bersama atau pergi ke bioskop) Jumlah yang harus saya bayar saat itu ‘hanya’ 1045 NOK untuk kami berdua atau sekitar 133 Euro (tanpa massage, tanpa blow, hanya potong saja dan rambut sudah dikeramas sendiri dari rumah). Jumlah yang tidak sedikit buat saya meski tanpa embel2x produk tambahan yang ditawarkan. Kali ini, potongan akhir rambut tidak separah saat di Den Haag dan tidak aneh2x (pheww…). T’s mom membeli produk untuk rambut yang ia bayar sendiri, yang harganya lebih mahal dari ongkos potong.

Belajar dari pengalaman di atas, saya sekarang berani menolak tawaran produk di salon dan mengecek harga sebelum rambut ‘dikerjai’. Lebih baik bertanya terlebih dahulu sebelum tercekat melihat bill yang harus dibayar.

YA…YA… RAMBUT OH RAMBUT… 🙂

……………………..

Disclaimer: Foto2x diambil di Museun Seni Kiel-Jerman; pameran foto di Oslo, Juni 2008 dan koleksi pribadi.

Blog Baru

Setelah sekian lama, akhirnya blog baru yang berbeda bisa diwujudkan.

Blog ini adalah ruang untuk isi kepala yang lebih kontemplatif sifatnya.

Sebuah ruang catatan refleksi dan cermin diri berjudul ‘I have Learned…’ (http://felicity-ihavelearned.blogspot.com/)

Kelak, 10 tahun ke depan (jika Tuhan mengijinkan), melihat kumpulan isi blog selama ini adalah melihat kembali jejak langkah perjalanan yang pernah dilalui.

Saya tidak bermaksud menggurui (who am I, anyway?…)

Lewat tulisan, saya hanya bermaksud untuk sharing.
Syukur2x bisa berdialog dengan para pembaca yang akan memperkaya khasanah ilmu kehidupan.

Semoga bisa bermanfaat.

Salam Manis
🙂