Monthly Archives: October 2012

Makan Siang yang Merepotkan

Setelah sekian lama, gegar budaya yang satu ini masih juga saya rasakan.

Bagi mereka yang tinggal atau pernah berkunjung ke Oslo pasti tahu betapa tingginya biaya hidup di sini. Makan di restoran misalnya, porsi untuk satu makanan yang layak untuk dimakan, seperti gambar di atas (ikan cod dengan sedikit sayuran) berkisar 250 NOK (sekitar 370 ribu rupiah). Mencari makanan di bawah 100 NOK (sekitar 150 ribu rupiah) di Oslo tidaklah mudah. Karena saya tidak terlalu suka Mac Donalds maka kedai kebab, restoran India di kawasan kota tua atau bilik restoran Asia mungil di tengah taman kota biasanya menjadi pilihan untuk mengisi perut.

Hampir sebagian besar kolega di kantor selalu membawa bekal makan siang dari rumah. Dan inilah yang sering menjadi beban pemikiran di kepala: apa yang harus dibawa sebagai bekal besok hari?

Alhasil makan siang saya mengalami beberapa fase, yakni:

1. Fase pencarian dan eksplorasi
Fase ini dimulai dengan masa observasi (pengamatan) dan studi komparatif (studi banding) apa yang kawan2x lain makan di siang hari. Tujuannya adalah mempelajari budaya makan siang setempat, makanan apa yang biasanya dibawa, mana yang praktis, lumayan enak namun ramah di kantong.

Foto: Roti kering, ikan mackarel dan tomat

Foto: Roti, pate (hati sapi) dan ketimun

Foto: Roti gandum dilapisi ikan salmon, dilapisi alpukat dan sosis domba,dilapisi selai berry.

Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa: bahan dasar yang selalu ada dalam makan siang ala kolega yang mayoritas penduduk lokal adalah:
– roti (mulai dari roti gandum berwarna kecoklatan, roti pipih, roti kering dsb)
– sayuran pelengkap: tomat, ketimun, selai buah2xan, alpukat
– sumber protein hewani seperti: ikan, sosis daging, pate (hati yang dihancurkan), telur rebus
– lain2x untuk dioleskan seperti: mustard, mentega dan mayones.

Hal penting yang dipetik dari fase ini adalah bahwa:

SAYA BUTUH NASIIIII!!!!!!!!….. 😀  Continue reading

Advertisements

Terjebak Kabut

Dulu saya menganggap bahwa kabut adalah fenomena alam biasa yang tidak perlu ditakuti atau dikuatirkan. Tapi….setelah mengalami beberapa kejadian terkait dengan ‘kapas putih’ ini pandangan itu pun berubah.

1. Colombo-Nuwara Eliya, Sri Lanka, 2007
Nuwara Eliya yang terletak di bagian tengah Sri Lanka adalah daerah tujuan wisata yang mengingatkan saya dengan suasana di Lembang atau Puncak di Jawa Barat. Sempat terbersit ucapan supir bus yang pernah saya naiki saat menempuh perjalanan di rute Ciater-Jakarta beberapa tahun silam bahwa melewati kawasan pegunungan seperti ini di atas jam 5 sore sangatlah rawan karena jalan yang licin dan kabut yang muncul sewaktu2x bisa mengurangi jarak pandang. Dan….kini saya dan T duduk di mobil bersama Deeva (supir yang kami sewa bersama mobilnya) di jam….10 malam! Dan benar saja, tak lama setelah berkendara dengan jarak pandang yang semakin berkurang kami pun harus berhenti. Yang nampak di luar kaca jendela hanyalah:

…….Putih Total……..

Lampu mobil jarak jauh tidak kuat menembus tebalnya kabut. Jika diumpamakan, saat itu mobil kami seperti berada di dalam kotak berisi kapas putih disekelilingnya. Tak banyak yang bisa dilakukan selain menunggu sampai kabut berkurang atau sampai ada kendaraan lain lewat. Tapi apakah akan ada kendaraan lewat di tempat dan waktu seperti ini?… Sepuluh menit…lima belas menit… dua puluh menit….tiga puluh lima menit… tidak ada kendaraan yang lewat. Ada rasa ngeri membayangkan jika ada kendaraan yang tiba2x muncul tidak bisa melihat kami karena mengalami kendala serupa. Sampai akhirnya secercah sinar berwarna kuning dan kemerahan terlihat, sebuah truk besar pun datang. Dengan menggunakan insting, Deeva mengambil posisi bersiap2x mengikuti truk tepat di belakangnya penuh kehati2xan. Untunglah kami bisa tiba di hotel tujuan dengan selamat berkat lampu sorot truk yang kebetulan lewat tersebut. Phewww….

2. Jotunheimen-Bergen, Norway 2008

Foto: Dan kabut pun mulai turun di kejauhan…

Setahun kemudian setelah episode di Nuwara Eliya, kami mengalami kejadian serupa yang jika dibandingkan sebenarnya masih tidak ada apa2xnya (lihat post: Menembus Awan. Kabut yang menghalangi jalan hanya dijumpai di beberapa lokasi tertentu seperti jalan di antara dua bukit yang cukup rapat atau lembah. Jalan yang kami lewati di kawasan pegunungan di bagian barat Norwegia ini adalah jalan kecil yang harus ditutup saat musim dingin karena rawan longsor serta ketebalan salju yang bisa mencapai 3-4 meter. Kelokan yang ada tidak terlalu ekstrim sementara di kiri kanan jalan nampak suguhan pemandangan cantik gunung dan bukit yang masih tertutup es di beberapa bagian di akhir musim semi.

3. Rio De Janeiro-Paraty, Brazil 2010

Foto: Pemandangan cantik yang kami jumpai di tengah jalan

Kabut tidak selamanya menakutkan, ia juga bisa menimbulkan suasana mistis dan magis apalagi jika berpadu dengan keheningan alam dan suasana perairan atau pegunungan. Dalam perjalanan dengan mobil rental dari Rio de Janeiro menuju kota tua bernama Paraty di Brazil saat melewati jalan yang diapit oleh bukit dan lembah kami terhenyak melihat pemandangan yang terbentang di depan mata. Nampak perbukitan di kejauhan yang berbaris tertutup kabut, sementara batas air di bawahnya terlihat samar. BEAUTIFUL! Continue reading