Monthly Archives: June 2008

Gay Pride Parade (2): The Symbols

Warning!

Tulisan dan gambar berikut hanya untuk dewasa. Dilarang berprasangka, menghakimi atau merasa diri (paling) benar. Setiap orang bertanggung jawab atas orientasi seksualnya masing2x.

Lanjutan dari: Gay Pride Parade (1)

‘Gay Pride Parade’ atau ‘LGBT Pride’ adalah sebuah gerakan yang mendunia sekaligus sebuah filosofi yang menghendaki agar individu yang termasuk dalam kelompok ini bangga akan orientasi seksual dan identitas gender mereka. Beberapa simbol yang dipakai oleh kelompok LGBT dan muncul selama ‘Gay Pride Parade’ misalnya: bendera pelangi, huruf lambda dalam bahasa Yunani, termasuk segitiga pink dan segitiga hitam.


The Rainbow Flag
‘The Rainbow Flag’ atau bendera pelangi merupakan kreasi dari artis Gilbert Baker dari USA pada tahun 1978 yang telah beberapa kali mengalami revisi. Warna pelangi dianggap merefleksikan keberagaman yang ada dalam komunitas LGBT. Hingga tahun 2008, ada enam warna yang digunakan dalam ‘the rainbow flag’ yakni: merah, jingga, kuning, hijau, biru dan nila yang berjejer secara horisontal dengan warna merah berada di urutan paling atas.

Foto: Bendera dan warna pelangi yang identik dengan kelompok LGBT dalam parade

Meski bukan pertama kalinya warna pelangi diasosiasikan dengan kelompok LGBT pada saat itu, ‘the rainbow flag’ kreasi Gilbert Baker muncul pertama kali dalam ‘Gay Freedom Day Parade’ pada tanggal 25 Juni 1978 di San Fransisco, USA. Awalnya ada delapan warna yang digunakan dan masing2x memiliki arti tersendiri yakni:
-Merah muda : Seksualitas
-Merah : Kehidupan
-Jingga : Penyembuhan
-Kuning : Cahaya Matahari
-Hijau : Alam
-Turqoise : Magic
-Biru : Keheningan
-Nila : Spirit/roh kehidupan

Setelah beberapa kali mengalami perubahan, pada tahun 2003, dalam perayaan 25 tahun ‘the rainbow flag’, Baker mengembalikan warna bendera ke delapan warna asli yang digunakan di tahun 1978. Kini, bendera pelangi banyak dipasang oleh individu LGBT juga kaum heteroseksual yang mendukung mereka di depan pintu, balkon atau halaman rumah sebagai simbol ekspresi seksualitas dan dukungan moral.

The Leather Pride Flag
Simbol lain yang melambangkan ‘Gay Pride’ adalah ‘the Leather Pride Flag’ (lihat gambar di bawah). Bendera ini diciptakan oleh artis Tony DeBlase dan pertama kali dimunculkan pada tanggal 28 May tahun 1989 di Chicago (USA) dalam kontes ‘Mr. Leather’. Simbol ini melambangkan mereka yang tergabung dalam ‘the leather community-people’ yang menyukai atribut dari kulit (leather), sado-masochism, ikatan (bondage), dominasi (domination), seragam (uniforms), karet (rubber) dan bentuk lain dari ‘sexual fetishes’.

Foto: ‘The Leather Pride Flag’

Mengapa ‘Lambda’ Menjadi Simbol?…
Dalam alfabet Yunani yang terdiri atas 30 huruf, ‘lambda’ atau Λ (huruf besar) dan λ (huruf kecil), Λάμβδα atau Λάμδα merupakan huruf ke-11.

Foto: ‘Lambda’

Dalam bahasa Yunani modern, nama huruf tadi Λάμδα, dilafalkan dengan [lamða] sebagaimana huruf ‘L’ atau ‘l’ dalam alfabet latin yang kita gunakan. ‘Lamda’ pertama kali dipakai oleh Gay Activists Alliance of New York pada tahun 1970; selanjutnya dipakai secara luas (dalam huruf kecil) sebagai simbol ‘Gay Pride’ di kalangan LGBT khususnya pada sekitar tahun 1970-an dan 1980-an. Ada beberapa spekulasi yang terkait dengan pertanyaan mengapa simbol ini digunakan antara lain: huruf ‘L’ adalah singkatan dari ‘Liberation’ (pembebasan); kaum Spartan di Yunani mempercayai simbol ini sebagai lambang ‘unity’ atau kesatuan; bagi bangsa Romawi, hal ini menggambarkan ‘cahaya pengetahuan menyinari kegelapan dan ketidakpedulian’; simbol energi yang baru bagi gerakan kelompok gay sebagaimana simbol yang sama juga dipakai dalam bidang Fisika dan Kimia untuk menggambarkan energi dalam perumusan formula, dan beberapa alasan lainnya.

Foto: Barisan kelompok lesbian dalam ‘Gay Pride Parade’

The Bear Pride Flag
‘Beruang’ atau ‘the Bear’ adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan seorang gay laki2x yang memiliki banyak rambut di tubuhnya, khususnya di daerah wajah dan dada. Meski beruang juga identik dengan kesan ‘tua’ dan ‘chubby’ (gembul/ menggemaskan), namun stereotip ini dianggap tidak berpretensi negatif. ‘The bear pride flag’ yang melambangkan kelompok terkait diciptakan di sebuah ‘bear bar’ bernama ‘Spags’ di Seattle (USA).

Garis2x berwarna biru melambangkan langit dan garis2x berwarna hijau melambangkan bumi. Di antara garis2x hijau dan biru, ada beberapa garis lain yang melambangkan beruang yang ada di muka bumi, yakni: warna putih untuk beruang kutub; warna hitam untuk beruang hitam; dan warna coklat untuk beruang coklat. Sedangkan tapak kaki beruang warna kuning adalah matahari sebagai simbol ‘the spirit’. Bendera ini banyak dipakai meskipun bukan merupakan bendera yang diakui resmi sebagai simbol. Kelompok2x ‘beruang’ cenderung menciptakan sendiri simbol dan bendera yang dianggap paling representatif untuk melambangkan kelompok mereka masing2x.

berlanjut di: Gay Pride Parade (3): The History

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Rainbow_flag_%28LGBT_movement%29
http://en.wikipedia.org/wiki/Gay_Pride
http://en.wikipedia.org/wiki/Lambda
http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Lambda_uc_lc.svg
http://www.lambda.org/symbols.htm

Gay Pride Parade (1)

Warning!

Tulisan dan gambar berikut hanya untuk dewasa. Dilarang berprasangka, menghakimi atau merasa diri (paling) benar. Setiap orang bertanggung jawab atas orientasi seksualnya masing2x.

Keterangan: Rangkaian tulisan berikut ini akan dibagi dalam beberapa bagian.

Seperti yang pernah diulas dalam post Summer is coming!, pada setiap musim panas ada banyak peristiwa kultural, sosial dan festival yang diselenggarakan. Event tahunan ‘Gay Pride Parade’ misalnya, berlangsung di Oslo pada hari Sabtu, akhir pekan lalu. Dari informasi yang ada di website, disebutkan bahwa acara akan dimulai jam 3 sore hari dari depan Rådhusplassen (City Hall), dilanjutkan dengan acara ‘Oslo Mardi Grass’ pada jam 6 sore hari.


Setelah menemukan tempat parkir umum (yang sangat sulit ditemukan di daerah pusat kota di akhir pekan), saya dan T bergegas menuju tempat parade dimulai. Tak lama kemudian, saat sedang berjalan nampak banyak stand pameran berjejer di sekitar pelabuhan. Dari warna-warni bendera dan poster kami mengetahui bahwa ajang pameran ini masih terkait dengan acara ‘Gay Pride Parade 2008’. Informasi dari penjaga pintu masuk lokasi menyatakan bahwa parade akan melewati beberapa jalan utama seperti Karl Johans Gata, Nationaltheatret dan berakhir di depan Akershus Festning, tepat di sisi pelabuhan Oslo Havn tak jauh dari pameran.

Di luar rencana awal, kami pun penasaran ingin melihat2x pameran yang berlangsung sebelum melihat parade yang menurut perkiraan akan memakan waktu beberapa jam. Meski terbuka untuk umum,lokasi pameran yang tidak terlalu luas ini dibatasi oleh pagar besi temporer yang cukup tinggi. Pengunjung yang masuk pun harus melewati pemeriksaan penjaga untuk mencegah (khususnya) minuman keras masuk ke dalam lokasi yang jelas2x tertulis ‘Kawasan Bebas Alkohol’.

Foto: Poster pameran ‘Alcohol-free Area’

Tak jauh berbeda dengan pameran2x lainnya, di dalam stand2x yang memenuhi arena, nampak merchandise seperti kaos, buku, film, poster, brosur dan sejenisnya. Namun, pameran ini nampak berbeda saat kita melihat ‘content’ atau isi pameran yang bagi banyak orang dianggap isu sensitif yakni tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

Foto: Salah satu stand pameran berisi buku, film dan informasi tentang LGBT

Dalam stand pertama yang kami lewati, nampak kumpulan film DVD tentang LGBT seperti ‘Ma Vie En Rose’, ‘Desperate Living’, ‘Querelle’, ‘Pink Flamigos’, ‘ Un Chant d’Amour’, ‘Tipping the Velvet’ dan lainnya. Kebetulan sekitar 2 bulan yang lalu kami baru saja menonton film ‘Ma Vie En Rose’ (My Life in Pink), sebuah film berbahasa Perancis yang telah memenangkan tak kurang dari 11 penghargaan internasional dan 5 nominasi, termasuk memenangkan Golden Globe Award pada tahun 1998 untuk kategori ‘Best Foreign Language’. Film ini berkisah tentang perjalanan hidup seorang bocah laki2x bernama Ludovic yang yakin bahwa dirinya adalah seorang perempuan, dikemas dalam bahasa sehari2x yang polos, sedehana namun menyampaikan pesan kuat di dalamnya.

Foto: Aneka film dvd tentang LGBT

Saya pribadi terkesan dengan salah satu adegan di film tadi saat Ludovic mengalami penolakan dari tetangga, rekan sekelas, guru, bahkan keluarga sendiri. Ia juga berusaha keras memahami apa yang ‘salah’ dari mata anak seusianya. Untunglah ada tokoh nenek yang berjiwa bebas dan berpikiran terbuka memahami pergulatan sang cucu. Pada akhirnya, Ludovic berkesimpulan, bahwa saat Tuhan membuat ‘work plan’ untuk bayi2x yang lahir ke dunia, di buku besar Tuhan tertulis: “…Ludovic Fabre: Perempuan, kromosom: XX…” Namun, pada saat pelaksanaannya di lapangan–di bumi–, terjadi kekeliruan saat huruf2x kromosom XY,X,X,Y,XX berjatuhan dari langit masuk ke cerobong asap rumah orang tua Ludovic, masuk ke dalam perut sang ibu…

Walaupun dalam ‘buku besar’ Tuhan sudah tertulis jenis kelamin ‘Perempuan’, ternyata yang jatuh ke cerobong asap orang tua Ludovic adalah huruf2x ‘X’ dan ‘Y’, akibatnya: secara fisik Ludovic adalah anak laki2x, namun secara psikis ia adalah anak perempuan yang suka bermain boneka, masak2xan dan berdandan. Dari pemahaman sederhana ini, Ludovic bersikeras menemukan kembali kromosom ‘X’ lain miliknya yang hilang di tong sampah, kolong bangku, di pojok2x rumah, di gudang…sebuah adegan yang menyentuh. Meski film ini juga dikritik karena terlalu menyederhanakan kompleksitas isu LGBT, setidaknya kita bisa mendapat gambaran pergulatan yang dialami seorang seperti Ludovic Fabre yang juga dialami banyak orang lainnya di dunia nyata.

Foto: Poster dalam pameran berbunyi: “Mengapa beberapa orang menilai homoseksualitas lebih negatif daripada terorisme?”

Kembali ke pameran, karena masih belum banyak pengunjung saya pun berkesempatan mengambil foto2x dengan leluasa tanpa gangguan arus hilir-mudik arus manusia. Jujur saja, sempat ada rasa tak enak dan risih saat berkeliling pameran dan mengambil foto. Sesekali saya melihat beberapa pria melirik ke arah T yang berjalan beberapa meter di depan saya yang sedang sibuk mencari ‘angle’ pemotretan. Meski didominasi oleh pengunjung berkulit putih, nampak beberapa wajah Timur Tengah, Asia dan Afrika, termasuk manula, anak2x bahkan hewan peliharaan seperti anjing yang berhiaskan bendera pelangi. Pengunjung yang datang bervariasi, ada yang datang bersama pasangan sesama jenis dan termasuk kelompok LGBT, ada yang datang seorang diri, dengan pasangan berbeda jenis kelamin, juga beberapa turis yang penasaran dan kebetulan lewat di sekitar area saat itu.

Foto: Media informasi dan aneka item yang terkait dengan LGBT dan HIV/AIDS dalam pameran

Informasi yang ada dalam pameran tidak hanya terkait dengan isu tentang LGBT, tetapi juga tentang bahaya HIV/AIDS, obat2xan terlarang (marijuana, amfetamin, ekstasi, LSD,dsb), seks yang aman bagi pasangan sesama jenis, kesehatan dan semacamnya.

Foto: Suasana stand pameran dan pengunjung

Para penjaga stand pun terdiri atas beragam usia, dari remaja hingga manula. Di salah satu stand dekat pusat informasi nampak merchandise gratis untuk pengunjung. Salah satu diantaranya dikemas dalam kantung plastik kecil berwarna-warni yang menurut tebakan saya adalah kondom gratis (hal yang biasa dibagikan di acara serupa), ternyata ini adalah permen warna-warni.

Foto: Pusat informasi yang memberikan informasi gratis bagi pengunjung

Foto: Permen gratis buat pengunjung pameran

Di salah satu stand nampak gambar ‘the Pink Triangle’ (segitiga merah muda) yang pernah dipakai untuk menandai seorang gay di kamp konsentrasi Nazi. Kelompok ini oleh Hitler dianggap sebagai ‘kuman sosial’ yang harus dibasmi dan dimusnahkan dari muka bumi. Untuk lesbian, dipakai ‘the black triangle’ (segi tiga hitam), meski untuk kelompok lesbian tidak ada catatan resmi Nazi yang menguatkan hal ini. Kalaupun ada lesbian yang tewas di kamp konsentrasi Nazi, hal ini lebih dikarenakan statusnya sebagai bagian dari ras Yahudi (lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Pink_triangle)

Foto: ‘The Pink Triangle’. Aslinya, badge yang dipakai oleh Nazi adalah segitiga merah muda sederhana.

berlanjut di: Gay Pride Parade (2): The Symbols

Susah Juga Ternyata… :)

Sudah lama saya berkeinginan untuk mempunyai sebuah ruang untuk menuangkan apa yang ada di kepala. Dulu menulis di diary (buku harian) adalah sarana paling praktis; selanjutnya mengirim artikel ke majalah atau surat kabar cetak (yang ternyata dimuat :D), mengikuti lomba karya tulis atau esai (yang syukurnya bisa mendapat penghargaan :D) juga pernah dilakukan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kesibukan, seringkali tidak ada cukup waktu untuk mempersiapkan tulisan yang serius untuk media yang serius seperti kolom opini atau jurnal. Untunglah perkembangan teknologi telah memberikan pilihan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya: Blogging.

Awalnya, sempat ada kekuatiran bahwa memiliki blog sendiri hanya akan merepotkan, memakan waktu dan tidak banyak bermanfaat. Ternyata…dunia blogging adalah ruang berekspresi yang nyaris tanpa batas yang mudah dengan segala kesulitannya dan sulit dalam kemudahannya (bingung, kan?:D)

Tanpa bermaksud menggurui, kali ini saya mencoba merangkum (berdasarkan pengalaman pribadi), hal2x mendasar yang pernah saya lewati sebagai blogger pemula dari NOL besar pengetahuan tentang blogging, hingga saat ini:

1. Niat
Yang juga berarti ‘visi dan misi’ untuk apa blog dibuat. Niat awal saya membuat blog ini bisa dilihat di Mengapa Saya Membuat Blog Ini?

2. Blogging technique
Di sini mencakup antara lain blog design, blog editing, publishing hingga archiving

3. Blog maintenance
Mencakup seperti networking (untuk memperluas lingkup sosial), backing-up dan lagi2x archiving

Karena memang sudah memiliki niat, kendala terbesar saya adalah ‘blogging techniques’ alias teknis dunia perbloggingan. Memahami istilah seperti ‘html’, ‘java script’, ‘rss feed’, ‘permalink’ dan semacamnya tidaklah mudah bagi orang awam seperti saya. Meski sudah membaca berkali2x dari berbagai sumber berbeda sering kali ‘bahasa planet’ tadi tetap tidak dipahami. Akhirnya, pelajaran harus ditempuh dengan nekat ala ‘trial and error’.

cartoon from www.weblogcartoons.com

Alhasil, peristiwa seperti hilangnya seluruh post tulisan pernah terjadi karena salah mengklik tombol komputer saat mengedit Html layout. Meski post tulisan bisa diselamatkan, namun setting lay-out berubah total kembali ke jaman doeloe 😦 saat sign-up pertama kali yang nyaris polos. Pernah juga terjadi kecerobohan dengan memposting tulisan berupa draft yang masih di tengah jalan, hal ini baru disadari setelah beberapa hari kemudian. Belajar dari kesalahan ini, saya menyadari pentingnya ‘backing-up’ data, yang sekarang secara rutin dilakukan dan pentingnya editing, bahkan untuk tulisan yang sudah diposting sekalipun.

cartoon from www.weblogcartoons.com

Selama ini saya mencoba memiliki jadwal tetap untuk memposting satu post setiap hari (kecuali akhir pekan). Keuntungan memiliki jadwal rutin ini adalah memacu otak untuk berpikir setiap hari untuk ide yang akan dituangkan. Di sisi lain terkadang ada perasaan seperti dikejar-kejar untuk menghasilkan satu tulisan di blog (semoga blog ini tidak menjadi blog ‘kejar tayang’ seperti sinetron :D). Hal ini tentu saja bisa ‘mengancam’ unsur kebebasan dalam berkarya dan berkreasi. Solusinya: tetap mengikuti jadwal, namun juga membiarkan ide muncul hingga saatnya muncul di menit2x terakhir. As simple as that 🙂

Sekarang saya sedang mencoba membuat ‘expandable link’ untuk post yang terlalu panjang. Setelah membuka banyak website tentang teknik blogging dan menerapkan petunjuk yang diberikan, ternyata tidak semua bisa dipakai di template blog ini. Untunglah, dari sekian kegagalan tadi, pada akhirnya ada satu keberhasilan 🙂

Namun, masih ada satu kendala lain: berhubung ‘expandable link’ tadi melibatkan modifikasi kode html, maka perubahan tadi juga berlaku untuk semua post lama (termasuk post yang pendek dan tidak memerlukan feature ini). Akibatnya, para pembaca… saya mohon maaf jika tampilan blog ini, khususnya post yang masih awal dan pendek2x diakhiri dengan embel2x ‘Read more…’ meski tidak ada sambungan teks-nya. Persoalan ini ternyata dialami oleh semua pencipta kode ‘expandable link’ yang dibaca di internet. Pegemana, yah?:D …*garuk2x kepala*

Untuk post lama yang memang perlu dipotong karena terlalu panjang, pada akhirnya kode ‘expandable link’ harus di’copy-paste’ satu demi satu. Untunglah, masih belum terlalu banyak post yang ada di blog ini. Tak terbayang jika harus melakukan langkah tadi satu demi satu di ratusan post misalnya.

Untuk saat ini, saya sedang mencoba menata arsip blog yang nampaknya agak sedikit rumit juga *gigit jari*

Kesimpulan: membuat blog itu mudah dan menyenangkan serta bermanfaat untuk kesehatan hati dan pikiran sebagai katarsis ide. Dengan mencoba ‘membaca’ dan mengikuti jejak2x tulisan selama ini di blog, nampak alur pikiran, mood, perasaan yang dialami saat suatu ide muncul dan dituangkan lewat tulisan. Ada kalanya memori tentang Aceh begitu kuat, kenangan tentang Sri Lanka, suasana musim panas, ketika merasa down, rindu tanah air dan teman2x, kangen pada ibunda (alm), sedang ingin bercanda dan rileks dsb. Bagi saya, blog ini menjadi seperti cermin diri dan tempat melihat ‘jejak-langkah’ di masa lalu untuk berefleksi di masa kini.

Namun, saya masih pemula dan perlu banyak belajar lagi, khususnya untuk menjaga dan merawat blog yang memang perlu sedikit ‘perjuangan’…Hmmm, susah juga ternyata… 🙂

Disclaimer:

Cartoon by Dave Walker. Find more cartoons you can freely re-use on your blog at We Blog Cartoons.)

Pengamat Senja

Saya suka sekali mengambil objek foto kala senja hari tiba yang merupakan momen paling indah dari 24 jam dalam satu hari (menurut saya loh…). Pemandangan kala matahari terbit pun pasti juga tak kalah indahnya. Namun… berhubung agak susah untuk bangun pagi, maka jadilah diri ini ‘hanya’ sebagai seorang ‘Pengamat Senja’. Kelak kalau sudah bisa bangun pagi dini hari, mungkin saya juga akan menjadi seorang ‘Pengamat Fajar’… 🙂

Foto: Lembang, West Java-Indonesia (2005)



Foto: Dalam perjalanan dari Kiel-Germany melewati Sweden (2008)

Foto: Oslo-Norway (2008)

Foto: Lund, Sweden (2006)

Foto: Cauteretz, France (2007)

Foto: Glaskogen, Sweden (2006)

Foto: Western Coast Sri Lanka (2007)

Foto: Gili Air, Lombok-Indonesia (2006)

Foto: Senja di Tanah Lot, Bali-Indonesia (2006)

Foto: Valdres, Norway (2006)

Foto: Oslo-Norway (2006)

Sebagai tambahan, saya bukanlah seorang fotografer profesional. Jujur saja, buat saya teknik fotografi nampak agak sedikit rumit untuk dipahami (hehe :D)

Meski ada juga niat untuk belajar teknik fotografi secara lebih serius, untuk saat ini saya masih hanya bermodalkan dengkul, eh…hmmm…maksudnya bermodalkan: my feeling, my passion and emotion… 🙂

O ya, juga modal kamera yang dibelikan ayah beberapa tahun lalu. Meski sempat protes pada awalnya karena ukuran dan berat kamera (yang sebenarnya tidak seberapa:D); ternyata banyak momen indah yang bisa diabadikan dengan baik (terima kasih ayahku)

Untuk foto senja hari lainnya di Aceh bisa dilihat di post: Beautiful Aceh

Salam Manis,

….

English is a Tough Stuff

Tulisan berbahasa Inggris berikut ini banyak beredar di internet, mungkin banyak dari pembaca blog yang pernah melihat atau mencoba mempelajarinya. Bagi yang belum pernah mencoba, saya ucapkan selamat membaca!


Staf multi-nasional dari kantor pusat Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dekat Paris menganggap bahwa Bahasa Inggris adalah bahasa yang mudah–hingga mereka belajar melafalkannya. Untuk membantu menghilangkan aksen yang masih ada, maka disusunlah barisan kata2x di bawah ini. Seorang yang berasal dari Perancis mengatakan bahwa ia lebih memilih harus melakukan enam bulan kerja paksa ketimbang membaca enam baris kalimat ini keras2x. Silahkan dicoba sendiri…

The Chaos

Dearest creature in creation,
Study English pronunciation.
I will teach you in my verse
Sounds like corpse, corps, horse, and worse.
I will keep you, Suzy, busy,
Make your head with heat grow dizzy.
Tear in eye, your dress will tear.
So shall I! Oh hear my prayer.

Just compare heart, beard, and heard,
Dies and diet, lord and word,
Sword and sward, retain and Britain.
(Mind the latter, how it’s written.)
Now I surely will not plague you
With such words as plaque and ague.
But be careful how you speak:
Say break and steak, but bleak and streak;
Cloven, oven, how and low,
Script, receipt, show, poem, and toe.

Hear me say, devoid of trickery,
Daughter, laughter, and Terpsichore,
Typhoid, measles, topsails, aisles,
Exiles, similes, and reviles;
Scholar, vicar, and cigar,
Solar, mica, war and far;
One, anemone, Balmoral,
Kitchen, lichen, laundry, laurel;
Gertrude, German, wind and mind,
Scene, Melpomene, mankind.

Billet does not rhyme with ballet,
Bouquet, wallet, mallet, chalet.
Blood and flood are not like food,
Nor is mould like should and would.
Viscous, viscount, load and broad,
Toward, to forward, to reward.
And your pronunciation’s OK
When you correctly say croquet,
Rounded, wounded, grieve and sieve,
Friend and fiend, alive and live.

Ivy, privy, famous; clamour
And enamour rhyme with hammer.
River, rival, tomb, bomb, comb,
Doll and roll and some and home.
Stranger does not rhyme with anger,
Neither does devour with clangour.
Souls but foul, haunt but aunt,
Font, front, wont, want, grand, and grant,
Shoes, goes, does. Now first say finger,
And then singer, ginger, linger,
Real, zeal, mauve, gauze, gouge and gauge,
Marriage, foliage, mirage, and age.

Query does not rhyme with very,
Nor does fury sound like bury.
Dost, lost, post and doth, cloth, loth.
Job, nob, bosom, transom, oath.
Though the differences seem little,
We say actual but victual.
Refer does not rhyme with deafer.
Feoffer does, and zephyr, heifer.
Mint, pint, senate and sedate;
Dull, bull, and George ate late.
Scenic, Arabic, Pacific,
Science, conscience, scientific.

Liberty, library, heave and heaven,
Rachel, ache, moustache, eleven.
We say hallowed, but allowed,
People, leopard, towed, but vowed.
Mark the differences, moreover,
Between mover, cover, clover;
Leeches, breeches, wise, precise,
Chalice, but police and lice;
Camel, constable, unstable,
Principle, disciple, label.

Petal, panel, and canal,
Wait, surprise, plait, promise, pal.
Worm and storm, chaise, chaos, chair,
Senator, spectator, mayor.
Tour, but our and succour, four.
Gas, alas, and Arkansas.
Sea, idea, Korea, area,
Psalm, Maria, but malaria.
Youth, south, southern, cleanse and clean.
Doctrine, turpentine, marine.

Compare alien with Italian,
Dandelion and battalion.
Sally with ally, yea, ye,
Eye, I, ay, aye, whey, and key.
Say aver, but ever, fever,
Neither, leisure, skein, deceiver.
Heron, granary, canary.
Crevice and device and aerie.

Face, but preface, not efface.
Phlegm, phlegmatic, ass, glass, bass.
Large, but target, gin, give, verging,
Ought, out, joust and scour, scourging.
Ear, but earn and wear and tear
Do not rhyme with here but ere.
Seven is right, but so is even,
Hyphen, roughen, nephew Stephen,
Monkey, donkey, Turk and jerk,
Ask, grasp, wasp, and cork and work.

Pronunciation — think of Psyche!
Is a paling stout and spikey?
Won’t it make you lose your wits,
Writing groats and saying grits?
It’s a dark abyss or tunnel:
Strewn with stones, stowed, solace, gunwale,
Islington and Isle of Wight,
Housewife, verdict and indict.

Finally, which rhymes with enough —
Though, through, plough, or dough, or cough?
Hiccough has the sound of cup.
My advice is to give up!!!

Written by Dr. Gerald Nolst Trenite (1870-1946), a Dutch observer of English.

Sumber: http://www.unique.cc/ron/estuff.htm

A Librarian’s Prayer

Keterangan: harap membaca teks di atas dengan bijaksana dan tidak terburu2x mengambil kesimpulan yang menyudutkan kelompok tertentu. Please, be wise and use your common sense!…

Kadangkala, saat mencari inspirasi untuk bahan tulisan di blog, saya iseng membuka kembali koleksi foto2x lama di hard drive komputer. Banyak kenangan dan kisah di balik setiap foto yang ada. Tulisan kali ini muncul saat membuka folder foto yang diambil ketika saya mendapat beasiswa untuk Summer School tahun 2007 lalu.

Dalam salah satu kunjungan ke Nobel Peace Center di Oslo, kami berkesempatan memasuki setiap ruang di lokasi dimana Nobel Peace Prize committee berkantor (lebih lengkap tentang ini akan saya bahas dalam tulisan lain). Saat memasuki ruang perpustakaan yang tak terlalu besar, mata saya tertumbuk pada sebuah tulisan sederhana di dinding. Tak ada yang istimewa, sampai saya membaca keseluruhan kalimat ‘maut’ yang tertulis di teks ‘A Librarian’s Prayer’ yang terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:

Buku ini milik…
Jika ada orang yang mengambilnya (tanpa ijin)…
semoga ia menemui ajal,
matang di penggorengan,
mengalami sakit keras dan menderita demam,
digantung dan terbalik
Amin

Hmmmm… sungguh mengerikan dan sadis sekali! Waduh, kok bawa2x penggorengan segala, yah… Bayangkan jika semua pustakawan di dunia menaruh teks ‘maut’ tadi di ruang perpustakaan. Mungkin diperlukan sebuah kajian kuantitatif untuk mengetahui jumlah statistik ‘korban’ yang sudah berjatuhan. Mungkin juga angka kehilangan buku di perpustakaan menurun secara drastis. Who knows?

Sebenarnya, saya sempat bingung, apakah ini sebuah doa, kutukan, sumpah serapah atau guyonan? Yang jelas, saya tidak mau mengambil kesimpulan apapun tanpa informasi yang memadai. Saya pikir, kita harus melihat konteks dan latar belakang saat teks tersebut dibuat agar tidak muncul penafsiran yang keliru apalagi terburu-buru.

Foto: Katalog manual di perpustakaan Nobel Peace Center, Oslo (2007)

Berangkat dari teks di perpustakaan tadi, ingatan saya pun melayang ke beberapa kenangan unik yang pernah dialami yang terkait dengan perpustakaan…

Karena terbiasa dengan dongeng sebelum tidur yang dibacakan ibunda tercinta, sejak kecil saya suka membaca. Ada rasa haus untuk mengetahui hal2x baru di luar sana lewat bacaan (silakan baca post Mother How Are You Today?…)

Beruntung di SD (Sekolah Dasar) saya pada waktu itu ada sebuah perpustakaan, yang berupa sebuah ruang kecil berukuran sekitar 2×3 meter di ujung bangunan sekolah di antara toilet dan gudang. Bagi para murid, hampir tidak ada yang berani mendatangi ruang ini di luar jam sekolah karena letaknya yang terpencil dan sedikit menyeramkan. Perpustakaan pun hanya dikelola oleh satu orang guru piket dan dibuka 3 kali dalam seminggu dalam jam2x tertentu. Saya sering tak sabar menunggu jam sekolah bubar di hari Sabtu atau Jum’at, karena pulang lebih awal maka kami bisa lebih leluasa memilih buku yang akan dipinjam. Bagi saya, melahap kisah2x Winnetou karangan Karl May, kumpulan cerita rakyat Indonesia, dongeng rakyat internasional dan semacamnya adalah sebuah kenikmatan tersendiri.

Foto: Winnetou dan Old Shatterhand, salah satu kisah favorit masa kecil 🙂

Ada satu peristiwa berkesan yang tidak akan pernah saya lupakan yang dialami bersama kakak laki2x saya saat saya duduk di kelas 4 SD (waktu itu berumur 10 thn) dan kakak duduk di kelas 5 SD (umur 11 thn). Mengetahui ada perpustakaan umum di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta Timur suatu hari, saya membujuk kakak untuk mengantarkan saya pergi ke perpustakaan ini. Waktu itu kami pergi diam2x dengan membawa bekal uang recehan beberapa ratus perak untuk ongkos naik angkot (mini colt yang bisa memuat 10 orang). Lokasi bumi perkemahan Cibubur sendiri sebenarnya lumayan jauh dari rumah orang tua, namun saya ditemani kakak tetap nekat pergi (thanks, my dearest Brother :D)

Sayang, karena kurang informasi kami tiba beberapa menit setelah jam buka perpustakaan berakhir. Usai melihat2x dan melongok sebentar ke dalam ruangan (dari luar jendela), dengan lunglai, saya dan kakak pun harus kembali pulang. Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih (hehe :D), saku celana olah raga yang saya kenakan ternyata bolong! Dan…akibatnya bisa ditebak, uang recehan untuk ongkos pulang kami pun raib 😦

Dengan panik, kakak mencoba merogoh saku celananya sambil berharap untuk menemukan sesuatu. Untunglah masih ada uang dua ratus rupiah. Hmmm, dengan uang sejumlah ini paling tidak kami hanya bisa naik angkot hingga 1/3 perjalanan, sisanya?…tak ada pilihan lain, kami harus berjalan kaki…

Foto: Majalah ‘Bobo’, sang sahabat setia

Karena takut dimarahi pak supir angkot, kami pun tahu diri dimana harus berhenti dengan ongkos sebanyak dua ratus perak tersebut. “Betul nih, Mas tahu jalan pulang ke rumah?…”, tanya saya. “Tahu, gampang kok, tinggal ngikutin jalan ke perkampungan ini, terussss aja… sampe ujung kompleks perumahan, nanti ada pabrik ini, di sebelahnya ada lagi pabrik ini, lewat kompleks, ada lapangan bola, sampe ketemu pasar Inpres, terus nanti ada jalan besar, lewat gang ini, nyambung ke sini, jalan terusss sampe deh…”. Berhubung masih kecil dan lugu, saya masih menganut asas “presumption of smartness and reliability” (seseorang saya anggap pandai dan dapat dipercaya hingga ia berbuat suatu kebodohan atau kesalahan), yang kemudian saya sadari bahwa prinsip ini pun sejalan dengan asas ‘presumption of innocence’ yang saya pelajari di Fakultas Hukum 😀

Yang jelas, karena sering berkelana menjelajahi lingkungan tempat tinggal kami bersama kakak dan kawan laki2xnya, saya menaruh kepercayaan penuh pada kakak. Tambahan lagi, kakak memang memiliki kemampuan metematika, teknik, logika dan membaca peta yang bisa diandalkan sejak kecil. Kalau saya, hingga sekarang masih bermasalah dengan membaca peta 😀 (lihat post Malu Bertanya…)

Dan, kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Entah bagaimana, tak lama kemudian hujan mulai turun, sambil sesekali diiringi suara guntur. Saya dan kakak terus berjalan…dan berjalan karena takut terlambat sampai di rumah. Akhirnya, setelah berjalan cukup lama, di sore hari kami pun tiba di rumah dengan selamat sambil basah kuyup. Kami sempat merasa heran karena di daerah sekitar rumah orang tua sama sekali tidak ada hujan, semua nampak kering.

Karena takut dimarahi (khususnya oleh ibu), kami pun menyusup masuk lewat pintu belakang rumah dengan diam2x, mandi secepat kilat dan mengganti baju, serta berupaya bersikap biasa2x saja. Untunglah saat itu hari Minggu sore, orang tua mungkin menganggap kami sedang asyik bermain bersama kawan2x lain, selain itu tidak ada yang melihat kami yang saat itu mungkin nampak seperti tikus yang baru tercebur got (hehe…). Setelah sekian lama baru kami berani bercerita tentang kisah ini, yang (tentu saja) dianggap cerita anak kecil dan bualan belaka (yah, inilah nasib menjadi anak kecil :D)

Foto: Buku sang ‘Jendela Dunia’ dan ‘Gerbang Ilmu Pengetahuan’ 🙂

Setiap kali mengingat memori masa kecil tentang kegembiraan, petualangan, pengetahuan dan pelajaran dari bacaan yang kami dapat, juga ‘perjuangan’ untuk bisa membaca buku di perpustakaan, saya pun ingin menanamkan hal serupa (gemar membaca) pada dua keponakan kecil saya Dika (6 tahun) dan Rian (5tahun). Jalan2x ke toko buku adalah menu wajib saat saya berkesempatan menikmati waktu bersama mereka. Dulu, sempat ada rasa iri sebagai anak2x melihat kawan lain yang bisa mempunyai buku2x bagus, sedangkan kami hanya bisa bermodalkan pinjam perpustakaan atau orang lain. Namun, saya bersyukur, dengan segala keterbatasan yang ada kami bisa menyelesaikan studi dengan baik.

Foto: Dua keponakan kecil saya Dika dan Rian, bersembunyi di balik buku 🙂

Kembali pada judul ‘A Librarian’s Prayer’ di atas, dengan berefleksi dari pengalaman pribadi semasa kecil, doa seorang pustakawan, menurut saya mungkin (sebaiknya) berbunyi:

Buku ini milik bersama.
Siapapun boleh meminjam dan membacanya,
namun jangan lupa untuk mengembalikan kembali.
Semoga dengan buku yang ada
akan menuntun kita ke jalan pengetahuan,
menambah wawasan,
menjadi pegangan,
menjadikan manusia yang cerdas dan beriman,
Amin


Gegar Budaya

Meskipun saya ’numpang lahir’ dan besar di Jakarta (yang sering dianggap bukan di Jawa itu 🙂 ), namun keluarga dari kedua orang tua tetap menganut budaya Jawa dalam pergaulan sehari2x. Peraturan tidak tertulis seperti tidak boleh tertawa keras2x, tidak boleh duduk sambil ongkang2x kaki, tidak boleh keluar malam hari sendiri, harus pulang maksimal jam 9 malam, harus berjalan dengan sedikit membungkuk saat lewat di depan orang yang dituakan, tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus ini, harus itu rasanya banyak sekali.

Saat lepas dari orang tua pertama kalinya untuk melanjutkan studi di negeri kincir angin dengan beasiswa tahun 2003, rasanya seperti menjadi orang yang bebas merdeka. Banyak momen2x gegar budaya yang saya alami di Den Haag (tempat saya belajar) seperti melihat orang beradegan mesra di trem, di jalan dan tempat umum lainnya, pertama kali bertemu dengan mereka yang tidak beragama atau mempercayai Tuhan dan hal2 lain. Rasanya saya seperti ‘wong ndeso’ yang baru datang ke kota besar. Continue reading