Monthly Archives: September 2008

Selamat Hari Raya

Saya ingin mengucapkan:

SELAMAT IDUL FITRI 1429 H

bagi para pembaca yang merayakannya.

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN…


Hmmm, sepinya lebaran di sini. Hanya bisa membayangkan ketupat, opor sayur dan keluarga nun jauh di sana…

Bertemu Johan Galtung

Hari ini adalah hari yang bersejarah buat saya saat bertemu dengan seorang Johan Galtung dalam acara peluncuran bukunya yang terakhir berjudul ‘Norge Sett Utenfra’ (Norwegia Dilihat dari Luar) di toko buku Norli, Oslo. Bagi kalangan praktisi atau akademisi bidang ‘Peace and Conflict Studies’, ‘Peace Journalism’, ‘Development Studies’ serta Sosiologi, teori Galtung tentang ‘the triangle of violence’, ‘the structural theory of imperialism’ dalam ‘dependency theory’ serta ‘positive-negative peace’ adalah sebuah referensi yang tak lekang oleh waktu.

Saat pertama kali bergelut dengan isu gender di sebuah lembaga bantuan hukum, teori tentang ‘segitiga kekerasan’ yang dicetuskan Galtung banyak dipakai, selain teori dari Lawrence M. Friedman tentang tiga pilar yang sangat penting dalam pembangunan sistem hukum, yaitu struktur hukum, substansi hukum dan kultur hukum. Kedua teori ini terkait erat dalam upaya pembentukan hukum berperspektif jender dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Johan Galtung menjelaskan tentang mata rantai kekerasan yang terdiri dari kekerasan langsung, kekerasan kultural dan kekerasan struktural. Sementara Friedman mengingatkan bahwa modernisasi hukum biasanya hanya menyangkut unsur struktur hukum (kalangan aparatur pembuat undang-undang dan penegak hukum) dan substansi hukum (isi undang-undang, peraturan-peraturan, norma-norma hukum, serta putusan pengadilan) saja, sedangkan kultur hukumnya jarang mendapatkan perhatian yang seksama.

Foto: ‘The Triangle of Violence’


Sumber: Johan GaltungViolence, War, and Their Impact On Visible and Invisible Effects of Violence (http://them.polylog.org)

Teori imperialisme struktural Johan Galtung mulai saya kenal lebih jauh saat mengambil S2 Development Studies di ISS-The Hague dalam mata kuliah ‘Analysis of Social Structure’ dan ‘General Theory of Development’. Kedua mata kuliah ini adalah favorit saya :D. Bersama dengan konsep teori dependensi (Cardoso)dan teori imperialisme kultural (Herbert Schiller), teori ini menjadi bagian dari teori dependensi yang lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara Dunia Ketiga, karenanya dianggap mewakili suara negara-negara pinggiran untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara maju. Teori dependensi muncul sebagai kritik terhadap arus pemikiran utama persoalan pembangunan yang sebelumnya didominasi oleh teori modernisasi.

Sementara konsep tipologi kekerasan, ‘positive peace’ dan ‘negative peace’ menjadi bahasan dalam summer school ‘Peace Research’ yang saya ambil tahun lalu di University of Oslo (UiO) dengan beasiswa Norad. Kuliah semester pendek ini diorganisir oleh UiO bekerja sama dengan International Peace Research Institute of Oslo (PRIO) yang didirikan oleh Johan Galtung pada tahun 1959.

Galtung meraih gelar formal di bidang matematika, sosiologi dan tujuh gelar doktor kehormatan dari University of Oslo serta beberapa universitas lain. Tahun 1964, ia mencetuskan sebuah jurnal yang disegani di bidang ‘Peace and Conflict Studies’ berjudul ‘Journal of Peace Research’ dan mendirikan IPRA (International Peace Research Association). Selanjutnya ia banyak mengajar di beberapa univesitas mulai dari Geneva, Santiago, Columbia, Princenton, hingga Hawaii. Hingga kini tak kurang dari 100 judul buku dan 1000 artikel Galtung telah dipublikasikan.

Foto: Tipologi Kekerasan


Sumber: Peace Education Basic Course 2- Violence Typology, International UNESCO education server D@dalos, (http://www.dadalos.org)

Saat Norwegia berada di bawah pendudukan Jerman pada Perang Dunia II, ayah kandung Galtung harus mendekam di penjara NAZI ketika ia masih berusia 12 tahun. Galtung sendiri pernah mendekam di penjara selama 6 bulan kala menolak menjalani wajib militer dan memilih menjadi aktivis perdamaian. Selanjutnya, ia terlibat sebagai mediator dalam upaya damai di sekitar 40 konflik di seluruh dunia. Pada tahun 1970-an Johan Galtung pernah memprediksi kejatuhan Uni Sovyet pada tahun 1990 dengan selisih ketepatan prediksi kurang dari satu tahun.

Meski di Norwegia Galtung masih dianggap figur yang kontroversial, namun sumbangsihnya sebagai pelopor ‘Peace and Conflict Studies’ dan ‘Peace Research’ serta teori2xnya tentang perdamaian dan keberpihakan pada negara berkembang akan selalu diingat sepanjang masa. Karenanya, sebuah perjumpaan langsung dengan beliau adalah sebuah momen yang tak akan pernah terlupakan. 😀

Bacaan:
http://www.prio.no/
http://www.prio.no/News/NewsItem/?oid=84128
http://www.visdomsnettet.dk/a-402/
http://portland.indymedia.org/en/2003/05/264373.shtml
http://them.polylog.org/5/fgj-en.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Dependency_theory
http://www.dadalos.org/frieden_int/grundkurs_2/typologie.htm

Welcome to The Club!…Nootttt….

Kemarin, saya dan T memenuhi undangan Ingar dan Brigitte yang baru saja melahirkan anak kedua mereka. Semua tamu yang hadir adalah pasangan orang tua dengan 1-2 orang anak (8 pasangan)dan calon orang tua (1 pasangan). Hanya saya serta T yang berstatus pasangan (berjiwa) muda tidak jelas :D. Dengan nada ironik, mengikuti gurauan yang dipelajari Sacha Baron sebagai Borat dalam film, saya hanya berkata dalam hati: “Welcome to the club!…nooottttt…”

Suatu saat ingin rasanya bisa memiliki anak2x sendiri, entah kapan hal itu bisa terealisasi. Rasanya banyak sekali yang harus diselesaikan dan menjadi ‘unfinished business’. Masih ingin melanjutkan S3, mau bekerja dulu beberapa tahun, menabung untuk beli rumah, mau ini, mau itu… Mungkin kami terlalu banyak perhitungan dan pemikiran yah…atau terlalu realistis?… *berpikir*. Hmmm. mungkin hanya faktor timing?… Entahlah. Yang jelas, segala sesuatu memang ada waktunya.

Gunung Sibayak, Belerang dan Kelelawar

Dalam kunjungan ke Brastagi, Kabupaten Tanah Karo-Sumatera Utara pada tahun 2005 lalu, saya dan T tak ingin menyia2xkan kesempatan mendaki Gunung Sibayak atau dikenal juga sebagai Gunung Rangkap Sibayak. Dengan ketinggian 2.094 m di atas permukaan laut, gunung aktif tipe B ini telah menjadi kunjungan wisata andalan bahkan sejak jaman penjajahan Belanda.

Foto: Pedagang sayuran segar di pinggir jalan.

Kota Brastagi terletak 7 km sebelah selatan Gunung Sibayak, menjadikannya sebagai kota terdekat dengan gunung berapi ini. Hawa yang sejuk, barisan gunung di kejauhan, lahan pertanian, buah2xan dan sayuran segar menjadi pemandangan khas yang ditemui di banyak sudut. Sekilas, pemandangan yang sama mengingatkan saya pada suasana pegunungan di Jawa Barat.

Foto: Anak kecil dan sebuah lori

Kami memulai titik pendakian dari Desa Semangat Gunung yang memiliki instalasi bangunan PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi). Asap mengepul hebat di sekitar area PLTP, bau belerang menyengat dan memenuhi udara di area sekitar bangunan. Seorang staff yang ramah sempat bercakap2x, memberikan informasi serta menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan T yang penasaran. Sejak eksplorasi dimulai pada tahun 1990, Geothermal Sibayak Area telah melakukan pemboran di 9 sumur bor dengan kedalaman bervariasi yang dibagi dalam beberapa kelompok. Sang petugas juga menjelaskan bahwa energi panas bumi dianggap sebagai sumber energi yang bebas polusi pada atmosfir bumi, tidak mengandung radio aktif dan bersih lingkungan.

Foto: Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Desa Semangat Gunung

Usai berterima kasih pada si petugas yang ramah, kami melanjutkan perjalanan yang dikelilingi rerumputan dan pepohonan khas daerah pergunungan. Selain melewati kebun2x kecil dan besar dengan tanaman kopi, jeruk, kol, tomat, cabai, daun bawang, kami juga menemui sebuah pohon unik yang jarang ditemui di tempat lain yakni: terong belanda (lihat gambar di bawah). Selama berada di Aceh, memang banyak tersedia jus terong belanda di restoran dan warung makan, namun baru kali inilah saya dan T melihat secara langsung bentuk buah dan pohon tanaman yang konon memiliki khasiat sebagai obat tradisional ini.

Foto: Terong Belanda

Tidak banyak orang lain yang dijumpai sepanjang perjalanan. Usai melewati jalan mendaki yang berkelok2x, seorang bapak tua berjaket tebal terlihat mengangkut sesuatu di keranjang rotan besar di punggungnya. Kami saling tersenyum dan bertegur sapa saat berpapasan. Dari dialog yang terjadi, si bapak mengatakan bahwa ia sedang bekerja mengangkut belerang yang berkilo2x beratnya, bolak-balik dari puncak gunung, setiap hari demi sejumlah rupiah untuk membiayai hidup keluarga.

Foto: Kuliah sepuluh menit gratis tentang belerang dari bapak tua yang kami temui

Kawah gunung Sibayak memang solfatara yang memiliki deposit sulfur (belerang) dan menjadi sumber pemasukan bagi penduduk sekitarnya. Menurut bapak tadi, tidak banyak belerang yang bisa diangkut jika bangun kesiangan, banyak saingan atau tidak enak badan. Ia membuka sebuah kantung plastik dan menunjukkan perolehan belerang yang ada. Dengan wajah serius ia mengatakan bahwa belerang banyak dipakai sebagai obat sakit perut oleh masyarakat lokal dengan cara memakannya langsung. Kata2x bapak ini mengingatkan saya pada cerita seorang kawan SD yang berasal dari daerah timur Indonesia yang meminum sedikit minyak tanah sebagai obat tradisional.

Foto: Barisan pegunungan yang indah

Mendekati puncak gunung, jalur pendakian yang berbatu2x membuat kami harus lebih berhati2x. Bau belerang semakin menyengat terutama saat angin berhembus. Beberapa penunjuk jalan sederhana terlihat cukup jelas, meski tumpukan bebatuan alami yang tersebar bisa mengecoh mata. Di sebuah hamparan daerah berbatu yang terbuka, kami melihat titik2x hitam bergerak seperti jejeran semut berjalan beriringan. Ternyata, itu adalah rombongan anak sekolah yang kembali dari arah puncak dan berpapasan dengan kami yang hendak menuju kawah.

Foto: Ladang belerang di kawah gunung

Puluhan hingga ratusan pelajar yang memenuhi kawah membuat suasana sedikit riuh. Wajah2x lelah, tawa, canda, senyuman muncul silih berganti tiap kali berpapasan dengan kami. “Good afternoon, Mister!…”, “Mister, where are you coming from?…”, “Take picture, Mister…”, “Mister, do you have money?…” Itulah beberapa sapaan yang meluncur dari mulut mereka terhadap T yang menjawab seperlunya sambil tersenyum.

Foto: Jejeran batu2x kecil ‘kreasi’ pengunjung di kawah gunung

Setelah berhasil mencapai kawah, saya tak ingin menyia2xkan kesempatan untuk mengabadikan pemandangan yang nampak di sekeliling. Hawa hangat, kepulan asap yang membumbung ke atas dan bau belerang tercium kuat. Ada sedikit rasa ngeri jika gunung api yang aktif terakhir kali pada tahun 1600-an ini tiba2x aktif lagi. Di tengah krater, agak ke bawah dari kejauhan terlihat huruf, tulisan atau ‘goresan’ yang dibuat dari susunan batu2x kecil. Entah siapa, atau apa maksud si pembuatnya. Moga2x kreativitas ini tidak berkembang menjadi grafitti yang merusak keindahan alam.

Foto: Asap dengan uap belerang dari perut bumi

Tidak banyak waktu yang kami habiskan di atas kawah. Hari yang beranjak sore dan sedikit mendung membuat kami harus turun kembali secepatnya. T berniat mengambil jalur turun yang berbeda, namun rencana dibatalkan mengingat situasi dan kondisi yang tak memungkinkan. Sekitar 1,5 jam kemudian kami kembali ke titik awal pendakian.

Foto: Di perjalanan

Benar saja, saat tiba di tempat parkir motor sewaan, hujan pun turun dengan deras. Kami berteduh di sebuah warung makan sederhana yang resik di pinggir jalan. Sekitar 45 menit kemudian, hujan mulai reda. Tiba2x T berkata sambil setengah berteriak: “Lihat!… Anak muda itu membawa sesuatu di tangannya. Saya akan menemui mereka!…”. Belum sempat menjawab, T sudah berlari keluar warung dan mengejar si anak muda tadi sambil membawa kamera saya di tangan.

Foto: Pemburu kelelawar (foto diambil oleh T)

Beberapa menit kemudian T kembali dengan senyum ‘kemenangan’. Masih dengan antusias, ia menunjukkan foto yang baru saja diambil (lihat gambar di atas). T mengatakan bahwa si pemburu kelelawar akan menjual hasil buruannya. Sekilas terlihat bekas2x perjuangan berupa cakaran dan goresan di tangan si anak muda itu. Sayang, kendala bahasa membuat T tidak bisa menggali informasi lebih jauh lagi dari dua anak muda yang baru saja ditemuinya. Saya hanya bisa menebak2x bagaimana nasib kelelawar malang tadi? Berakhir sebagai sate kelelawar-kah? atau menu makanan lain?… Entahlah.

Hingga kini setiap kali berkisah tentang perjalanan ke Brastagi, pengalaman saat mendaki Gunung Sibayak, cerita tentang bapak tua pengangkut belerang dan pemburu kelelawar tadi akan selalu ada dan tak pernah terlewatkan sebagai sebuah kenangan.

Good Karma

Dalam setiap perjalanan, selalu ada kesan2x khusus yang tertinggal. Kisah, orang2x yang dijumpai, peristiwa yang dialami adalah sumber inspirasi dan pelajaran berharga tentang kehidupan yang tak ternilai. Di akhir perjalanan Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (3), ada satu pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan.


Saya dan T tiba di Østerbø jam 16.00 pm, cuaca saat itu mendung, dingin ditambah hembusan angin yang sesekali bertiup. Sesuai perkiraan, kami akan menggunakan bus kembali menuju titik awal perjalanan di Vassbygdy, tempat mobil T diparkir.

Usai menikmati wafel dan coklat panas, kami memiliki waktu sekitar 45 menit menanti bus yang akan berhenti di depan Guest House Østerbø jam 17.15. Namun sayang, keberangkatan bus tersebut dibatalkan. Bus terakhir menuju Vassbygdy adalah jam 18.20 pm. Karena tidak mau membuang waktu, diputuskan bahwa kami akan nekat menumpang kendaraan yang lewat alias hitchhiking.

Saya langsung teringat film serial TV berjudul ‘The Hitchhiker’ yang mengisahkan pengalaman tokoh utama saat berkelana dari satu tempat ke tempat lain dengan menumpang kendaraan. Kisah Asterix dan Obelix saat menjadi hitchhikers di Roma juga sempat terbersit. Namun, tak pernah terpikirkan sedikitpun bahwa saya akan menjadi ‘the real hitchhiker’ di Norwegia 😀

Segera kami mengambil posisi di pinggir jalan yang memungkinkan kendaraan untuk berhenti. Ransel disusun rapi, memakai jaket waterproof dan aksi pun dimulai. Terus terang, saya masih belum memiliki tingkat percaya diri sebesar T yang untungnya mempunyai ‘tongkrongan’ sebagai orang baik2x :D. Ia cuek saja mengacungkan jempolnya ke mobil yang lewat, tanda hendak menumpang sambil tersenyum.

Saya hanya duduk menjaga ransel beberapa meter dari tempat T berdiri, sambil sibuk berpikir dalam hati, menebak2x dan berharap. Ternyata, kami tidak sedang beruntung. Meski sudah siap mental untuk duduk di atas truk atau bak terbuka, namun tak ada satupun kendaraan bersedia memberi tumpangan, termasuk beberapa pick-up kosong dan kendaraan yang terlihat mempunyai ruang ekstra.

Menarik sekali mengamati respon yang ada. Ada anak muda dengan pick-upnya yang terlihat ingin mengangkut kami tapi bingung dan ragu2x (mungkin kendaraan dinas yah), lalu minta maaf; penumpang kendaraan mewah yang tidak sedetikpun menengok; ada penumpang mercedes yang tersenyum; ada yang melambaikan tangan saja; ada yang menggeleng dari kejauhan; ada yang hanya melongok dari jendela terlihat penasaran; ada yang mengatakan menuju arah berbeda, padahal kami lihat kendaraan itu menuju arah yang kami tuju; ada yang mengatakan bahwa ia sedang terburu2x; ada beberapa supir dan penumpang berwajah Asia tanpa ekspresi hanya melihat kami… dan aneka tingkah-polah lainnya.

Hari pun semakin gelap dan hujan mulai deras. Mampir 1,5 jam sudah kami mencoba tanpa hasil positif. Hingga saat kami mulai merasa lelah dan memutuskan untuk menuju pemberhentian bus terakhir, ada sebuah mobil sedan berhenti beberapa meter dari tempat kami. T segera berlari dan menyebutkan tujuan kami yang ternyata searah.

Seorang pria muda –sebut saja Stefan– berumur 26 tahun, berwajah rupawan bak bintang film (bukan karena dia berhenti loh…) tersenyum dan memperkenalkan diri. Usai memasukkan barang bawaan, T duduk di sebelah Stefan di kursi depan dan saya di belakang. Saat duduk, saya melihat sebuah Alkitab terselip di antara barang2x lain di kursi. “Hmmmm, he is a believer, no wonder…”, pikir saya. Lewat obrolan di dalam mobil, kami mengetahui bahwa Stefan adalah orang Jerman yang sudah 4 tahun terakhir tinggal di Bergen. Ia berbicara bahasa Norwegia dalam aksen dari Bergen dengan sempurna. Bekerja di sebuah perusahaan konstruksi dan sedang berada di kawasan Aurlandsdalen untuk mengunjungi kawan. Stefan adalah seorang pecinta alam yang juga sering bertualang. Pembicaraan selanjutnya diisi dengan berbagai topik mulai dari olahraga hingga pekerjaan. Kurang-lebih satu jam kemudian, kami sampai ke tujuan dan berterima kasih pada si anak muda baik hati itu.

Lega rasanya saat berada di dalam mobil sendiri. Usai menata kembali barang2x kami melanjutkan perjalanan selanjutnya ke Bergen. Dan…seperti sebuah deja vu, kejadian yang sama pun terulang…

Kami melihat seorang perempuan berusia sekitar 35 tahun dan pasangannya berdiri di pinggir jalan mencoba menumpang kendaraan. Hal sama yang baru saja kami alami. Karena pernah merasakan betapa senang dan bersyukurnya saat ada yang bersedia memberi tumpangan di saat membutuhkan, kami pun ingin ‘membalas jasa’ Stefan (yang telah menolong kami) dengan menolong pasangan ini.

Hidup memang aneh. Dalam beberapa menit, kami yang tadi menjadi penumpang, kini menjadi yang ditumpangi. Yang tadinya butuh pertolongan, kini berada di pihak yang bisa menolong. Pasangan tadi melakukan perjalanan yang serupa dengan kami, menyusuri wilayah yang berbeda dan memarkir mobil di tempat lain. Setelah berdiri di jalan selama 3 jam lebih, tak ada satupun kendaraan yang berhenti. Karena itulah mereka sangat berterima kasih saat kami bersedia berhenti memberi tumpangan. Dengan mimik serius mereka berkata: “Terima kasih banyak. Kami sangat menghargai pertolongan kalian. Jika di tengah perjalanan kami nanti ada orang lain yang butuh tumpangan, kami berjanji akan memberikan mereka tumpangan…”

Satu perbuatan baik, berbuah perbuatan baik lainnya…
Kami dulu pernah menolong orang, Stefan kini menolong kami, kami menolong si pasangan, si pasangan entah menolong siapa… Apakah ini yang disebut ‘good karma’?… Entahlah.

How people treat you is their karma;
how you react is yours…

–Wayne Dyer–

Keterangan: Foto2x di atas adalah koleksi pribadi

Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (3)

Lanjutan dari: Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (2)

Jalan terjal yang kami lewati adalah jalur perjalanan tua yang digunakan ratusan tahun lalu (mungkin lebih) dari kawasan Bergen dan sekitarnya menuju Oslo. Hal ini mengingatkan saya dengan jalur ‘silk road’. Sebelum dinamit ditemukan, jalur yang harus dilalui jauh lebih sulit dan menantang. Belum lagi beban barang bawaan dan logistik yang dibutuhkan membuat perjalanan kian melelahkan. Dari foto2x tua yang kami lihat, tangga dan jembatan darurat ala kadarnya pernah digunakan saat melewati titik2x sulit dan curam.

Foto: Peringatan bagi para hikers yang kurang lebih berbunyi: “Harap berhati2x dalam perjalanan. Resiko yang ada mohon ditanggung masing2x”

Di salah satu jalur yang menjadi titik persimpangan, ada sejumlah papan pengumuman dipasang dalam bahasa Norwegia dan Jerman yang meminta kita untuk waspada dan berhati2x karena kondisi jalan yang sulit. Dicantumkan pula nomor telepon yang bisa dihubungi saat emergency. Khusus untuk hewan, harus selalu dalam pengawasan untuk menghindari hal2x yang tak diinginkan.

Foto: Beristirahat

Kondisi jalan yang harus dilalui memiliki tingkat kesulitan khusus. Di beberapa titik, kami harus melewati jalan sempit yang langsung berbatasan dengan jurang di sisi kanan dan dinding tebing di sisi kiri. Untunglah saat itu tidak sedang hujan yang bisa membuat jalan menjadi licin dan rawan tergelincir.

Foto: Di antara bebatuan

Usai makan siang di sebuah tanah landai di dekat sungai, perjalanan kembali dilanjutkan. Beberapa jam kemudian, kami tiba di titik terakhir, sebuah kompleks pertanian tua terbesar di kawasan lembah. Di kejauhan, terdengar suara deru kendaraan bermotor tanda jalan raya sudah dekat. Nampak deretan kabin di sisi kiri dan kanan lembah. Usai melewati jalan berbatu2x, kami pun tiba di Østerbø. Tempat ini menyediakan fasilitas lengkap bagi pengunjung, mulai dari restoran, bungalow, camping site dan internet.

Beberapa orang terkenal sempat mengunjungi Østerbø. Dari tulisan di buku tamu dan foto2x yang dipajang, terlihat mantan Sekjen PBB Kofi Annan dan isteri pernah menjadi tamu kehormatan.

Foto: Kofi Annan dan isteri saat mengunjungi Østerbø. Diambil di Østerbø guest house-Norway.

Usai menikmati wafel dengan selai strawberry dan segelas coklat hangat, kami pun beristirahat sejenak sambil melihat2x lingkungan sekitar dan menunggu bus kembali ke Vassbygdy tempat T memarkir mobil. Saya menghela nafas panjang dengan beragam perasaan yang campur-aduk. Bersyukur karena dapat tiba dengan selamat, kagum pada keindahan alam yang baru saja dinikmati, rasa lelah dan memikirkan rencana untuk perjalanan selanjutnya.

Yang jelas, perjalanan ini tidak akan pernah saya sesali dan lupakan. Keindahan alam yang ada membuat saya semakin mengagumi keajaiban Sang Pencipta. Sebuah memori yang indah akan selalu terpatri tentang lembah Aurlandsdalen… 🙂

Yang perlu diingat saat hiking jarak jauh:

1. Sedia logistik sesuai perkiraan waktu makan dan jumlah orang yang ada dalam perjalanan. Jangan terlalu berlebihan karena akan menambah beban dan jangan terlalu pelit (untuk berjaga2x jika waktu perjalanan meleset dari rencana). Jangan bawa makanan yang cepat membusuk seperti ikan atau udang. Jika terpaksa membawa makanan yang dibekukan, gunakanlah dengan segera;

2. Jika hiking dilakukan di jalur yang mengikuti arus sungai, tak perlu membawa persediaan air dalam jumlah besar. Sediakan botol secukupnya, air bisa diambil sewaktu2x dari sungai atau mata air yang bersih (catatan: sebelumnya harus dipastikan dahulu bahwa sungai dan mata air di daerah tersebut masih bebas dari polusi dan layak minum);

3. Jas hujan tipis dan praktis diperlukan jika sewaktu2x hujan turun. Letakkan di bagian ransel yang mudah dicapai bersama snack kecil dan botol air. Gunakan sepatu khusus untuk hiking yang nyaman untuk perjalanan jauh. Sepatu yang baik memiliki penyangga khusus untuk mencegah kaki agar tidak terkilir;

4. Perlengkapan P3K, pisau multi-fungsi, lilin dan senter adalah barang2x yang perlu dibawa jika hendak bermalam di tengah jalan;

5. Untuk kamera digital, siapkan battery dan memory card cadangan. Simpan di tempat yang mudah dijangkau jika sewaktu2x diperlukan;

6. Peta dan keterangan tentang lokasi adalah hal yang wajib dipersiapkan. Jika menggunakan kendaraan umum, pelajari jadwal keberangkatan kendaraan terkait agar persiapan lebih matang;

7. Carilah tempat yang landai, aman dari gangguan binatang, kotoran hewan dan hempasan angin untuk bermalam. Jauhi kubangan atau ‘air mati’ karena ini adalah tempat ideal untuk nyamuk2x nakal. Dataran di dekat aliran sungai adalah pilihan jika tidak ada tempat lain, namun siap2xlah dengan suara bising dari gemericik air sungai atau suara air terjun;

8. Perhatikan keselamatan! Saat menyalakan api di dekat tenda, lihat arah bertiupnya angin. Saat mengambil gambar dengan kamera, carilah pijakan yang kuat atau pegangan. Jika hujan turun sepanjang jalan, lindungi tenda dan makanan agar tidak basah terkena hujan sebelum digunakan;

9. Tersenyum saat berpapasan dengan hikers lain bisa membuka pintu untuk sebuah keakraban dan menambah kawan;

10. Pelajari hal2x yang harus dihindari, misalnya jenis tumbuhan penyengat dan hewan berbahaya yang ada di sekitar dan situasi khusus lainnya, misal: daerah rawan longsor atau runtuhan batu;

11. Jangan memakai pakaian terlalu tebal karena akan membuat tubuh cepat berkeringat dan merasa haus. Gunakan pakaian secukupnya dan jaket yang sewaktu2x bisa dipakai. Meski berada di daerah dingin, metabolisme tubuh akan membuat tubuh hangat. Penting untuk diingat: saat beristirahat, langsung kenakan jaket untuk menjaga panas tubuh agar tidak menguap;

12. Prinsip ‘Leave No Trace’ harus selalu diingat, jangan membuang sampah sembarangan. Sediakan kantung plastik khusus untuk sampah;

13. Jangan lupa untuk berdoa, memohon keselamatan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi;

14. Be flexible, jangan manja atau mengeluh untuk hal2x yang tidak perlu. Be tough! (I am talking to myself :D)

Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (2)

Lanjutan dari: Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (1)

Keesokan harinya, sekitar jam 9 pagi saya terbangun. Deru suara angin yang bertiup sepanjang malam dan suara aliran sungai yang mengalir cukup deras tak jauh dari tenda telah membangunkan saya beberapa kali. Namun, dari semua lokasi yang telah disurvey secara singkat, hanya inilah tempat yang paling landai dan aman untuk lokasi bermalam. Tidak banyak pilihan tersedia.


Foto: Tenda yang sudah sebagian dibongkar. Desain khusus dibuat agar tahan hempasan angin dan solid di daerah berbatu.

Usai sarapan pagi dengan roti, mie plus salami dan telur mata sapi, coklat hangat untuk saya dan kopi untuk T, kami pun bersiap2x untuk melanjutkan perjalanan. Jalan setapak untuk naik kembali ke jalur hiking menjadi licin karena air hujan. Kabut pagi masih bergayut di atas lembah, suara burung sesekali terdengar (unidentified singing bird :D), gemericik air masih menemani langkah kaki di tengah pagi hari yang indah dan udara yang menyegarkan ini.

Foto: Dalam perjalanan

Kami memperkirakan bahwa perjalanan menuju titik akhir di Østerbo akan memakan waktu sekitar 6 jam. Entah mengapa barang bawaan di pundak saya terasa lebih berat dari hari kemarin. Tidak ada gunanya mengeluh pada T, meski sempat terbersit niat untuk bermanja2x dan meminta T meringankan beban. Karena barang bawaan T jauh lebih berat, saya pun tidak tega dan mengurungkan niat ini.

Di sela perjalanan, sesi percakapan ini sempat terjadi:

“Wow, you are so strong. I am proud of you!”, ujar T sambil tersenyum
“Becanda apa serius neh ngomongnya?…”, saya mencoba mencari tahu.
“Serius, kok. Kalo sekarang kamu bisa mengangkut ransel seberat ini sambil hiking di tempat begini. Winter besok kita bisa hiking dari kabin ke kabin di gunung, sambil cross-country skiing dan nginep dari satu tempat ke tempat lain selama beberapa hari”, T melanjutkan.
“Ok”, jawab saya dengan singkat sambil tersenyum.
(dalam hati)
“Mati deh gw. Skiing aja masih belum bisa ngerem dengan baik dan benar. Eh… ini mau hiking sambil skiing, bawa ransel 12 kilo, pake acara nginep lagi…” *adegan saat ‘babak belur’ di daerah Beitøstolen saat jatuh dari ski tahun lalu muncul di depan mata*. Glekk…. saya hanya bisa menelan ludah, tanpa bisa berkata2x. Di sisi lain bayangan betapa menyenangkannya meluncur di atas papan ski membuat saya kembali bersemangat 🙂

Foto: Aneka flora yang cantik dan unik

Sepanjang jalan, tak henti2xnya kami menikmati pemandangan yang dijumpai. Tumbuhan2x unik, bunga2x cantik, hamparan batu di kanan-kiri, rumah pertanian di seberang lembah yang terlihat kecil di atas bukit, jembatan tua yang sudah rubuh di atas jurang, aliran sungai seperti ular dari atas lembah, membuat kami berdecak kagum. Saat merasa haus, kami dapat langsung meminum air dari aliran sungai2x kecil di sekitar. Air yang bersumber dari mata air di pegunungan, lelehan es (glacier) atau air hujan ini terasa begitu menyegarkan di tenggorokan.

Foto: Titik persimpangan

Kali ini, lebih banyak hikers lain yang dijumpai dibandingkan hari kemarin. Mayoritas aktivitas dilakukan dalam kelompok (antara 5-10 orang). Dari pengamatan singkat, banyak turis asal Jerman yang menikmati wisata alam Norwegia. Jika kemarin, tidak ada satupun wajah Asia atau Afrika yang saya jumpai sepanjang jalan, hari ini saya berpapasan dengan beberapa wajah Asia Timur dan Asia Selatan mulai dari remaja hingga dewasa.

Foto: Rumah pertanian tua

Beberapa rumah di kompleks pertanian tua yang ada memang tertutup untuk umum. Meski demikian, kami sempat melihat2x sedikit ke dalam bangunan2x yang terbuka. Nampak tempat penyimpanan kayu bakar, kompor dan kandang ternak, serta gudang yang berumur ratusan tahun. Semua rumah tadi beratapkan rumput yang sekaligus menjadi insulator untuk menjaga agar panas di dalam bangunan tetap terjaga.

Foto: Kompor tradisional di dalam rumah pertanian tua

Sayangnya, masih ada tangan2x jahil yang merusak keindahan bangunan tua tadi. Saya hanya bisa menyesalkan dan ‘mengutuk’ dalam hati. Rupanya, kesadaran untuk menjaga dan melindungi benda bersejarah di alam terbuka semacam ini masih perlu dikampanyekan.

Foto: Coretan yang tak bertanggung-jawab

Sisa perjalanan hari ini betul2x mengagumkan. Pemandangan terlihat lebih hijau, terbuka dan spektakuler dibandingkan setengah perjalanan pertama kami sebelumnya. Melewati pertemuan antar lembah, kami pun dibawa menyusuri lembah lainnya dengan pemandangan yang memanjakan mata dan hati. Gua2x dan air terjun besar masih kami jumpai di kiri-kanan jalan. Di salah satu gua –berdasarkan keterangan yang ada– digunakan sebagai tempat transit bagi mayat warga yang akan dikuburkan di tempat lain. Sebuah pohon besar tak jauh dari gua (kini tidak ada lagi) dijadikan sebagai tempat berjaga dari gangguan hewan oleh para pengantar.

Foto: Lembah di kawasan Aurlandsdalen yang indah

Salah satu titik disebut sebagai tempat troll –mahluk ‘fairy tale’ paling populer di Norwegia– berhidung besar konon terlihat saat musim dingin tiba. Di tempat lain yang agak tersembunyi dan keluar dari jalur, nampak sebuah kolam kecil yang dikelilingi batu2x besar menjulang ke atas. Suasana yang sepi, dingin dan gelap menimbulkan aura magis dan mistis di sekeliling tempat ini.

berlanjut ke: Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (3)