Bertahan di Musim Dingin

 winter6 copy

Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Kutub Utara maka musim dingin di Norwegia dikenal lumayan ekstrim. Suhu rata2x di puncak musim dingin di kota Oslo yang notabene ada di dataran rendah berkisar antara -13 C  sampai -15 C. Tahun lalu bahkan mencapai suhu – 22 C . Berikut adalah informasi penting dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi untuk bisa survive menghadapi musim dingin:

1. Jaga bagian kepala, tangan dan kaki agar tetap hangat.

Biasanya panas tubuh keluar lebih cepat di bagian kepala, tangan dan kaki, dan panas tubuh tadi akan keluar lebih cepat lagi jika kita tidak menggunakan perlengkapan yang memadai. Karenanya melindungi kepala dengan topi kupluk yang solid dari material yang baik sangatlah penting. Untuk anak2x biasanya dianjurkan untuk memakai balaklava (seperti topeng yang menutupi kepala sampai bagian leher dan terbuka di bagian wajah) dilengkapi dengan topi tahan angin dan semacam scarf yang menutupi bagian dagu, hidung dan mulut. Untuk bagian wajah perlu diwaspadai agar bagian telinga, ujung hidung, pipi, dahi tidak beku.  Mati rasa di bagian tersebut atau melihat bercak putih di pipi adalah gejala awal radang dingin atau frosbite yang tidak bisa dianggap remeh.

Foto: Aktivitas di atas fjord yang membeku. Musim dingin bukan berarti harus berdiam di dalam rumah terus…

winter8-8

O ya, udara dingin sekitar  -13 C dapat membuat sebagian orang sulit bernafas (apalagi jika memiliki hidung manusia tropis seperti saya…hehe… :D ), kalau sudah begini scarf  bisa dipakai untuk menutupi hidung, mulut, dagu dan membantu mengurangi dinginnya udara yang kita hirup. Namun, perlu diperhatikan agar tubuh tidak terlalu lembab akibat  berkeringat saat beraktivitas atau memakai jaket terlalu tebal misalnya. Keringat yang terkespos udara dingin bisa dipastikan akan mendatangkan masuk angin dan flu.

2. Wool is the best! 

Wool adalah material yang diperoleh dari hewan khususnya domba dan bisa juga dari hewan lainnya. Cashmere (kashmir) dan mohair diperoleh dari sejenis kambing, angora dari sejenis kelinci, qiviut dari sejenis moose, vicuna, alpaca dan camel dari keluarga onta.
Continue reading

Makan Siang yang Merepotkan

Setelah sekian lama, gegar budaya yang satu ini masih juga saya rasakan.

Bagi mereka yang tinggal atau pernah berkunjung ke Oslo pasti tahu betapa tingginya biaya hidup di sini. Makan di restoran misalnya, porsi untuk satu makanan yang layak untuk dimakan, seperti gambar di atas (ikan cod dengan sedikit sayuran) berkisar 250 NOK (sekitar 370 ribu rupiah). Mencari makanan di bawah 100 NOK (sekitar 150 ribu rupiah) di Oslo tidaklah mudah. Karena saya tidak terlalu suka Mac Donalds maka kedai kebab, restoran India di kawasan kota tua atau bilik restoran Asia mungil di tengah taman kota biasanya menjadi pilihan untuk mengisi perut.

Hampir sebagian besar kolega di kantor selalu membawa bekal makan siang dari rumah. Dan inilah yang sering menjadi beban pemikiran di kepala: apa yang harus dibawa sebagai bekal besok hari?

Alhasil makan siang saya mengalami beberapa fase, yakni:

1. Fase pencarian dan eksplorasi
Fase ini dimulai dengan masa observasi (pengamatan) dan studi komparatif (studi banding) apa yang kawan2x lain makan di siang hari. Tujuannya adalah mempelajari budaya makan siang setempat, makanan apa yang biasanya dibawa, mana yang praktis, lumayan enak namun ramah di kantong.

Foto: Roti kering, ikan mackarel dan tomat

Foto: Roti, pate (hati sapi) dan ketimun

Foto: Roti gandum dilapisi ikan salmon, dilapisi alpukat dan sosis domba,dilapisi selai berry.

Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa: bahan dasar yang selalu ada dalam makan siang ala kolega yang mayoritas penduduk lokal adalah:
- roti (mulai dari roti gandum berwarna kecoklatan, roti pipih, roti kering dsb)
- sayuran pelengkap: tomat, ketimun, selai buah2xan, alpukat
- sumber protein hewani seperti: ikan, sosis daging, pate (hati yang dihancurkan), telur rebus
- lain2x untuk dioleskan seperti: mustard, mentega dan mayones.

Hal penting yang dipetik dari fase ini adalah bahwa:

SAYA BUTUH NASIIIII!!!!!!!!….. :D   Continue reading

Terjebak Kabut

Dulu saya menganggap bahwa kabut adalah fenomena alam biasa yang tidak perlu ditakuti atau dikuatirkan. Tapi….setelah mengalami beberapa kejadian terkait dengan ‘kapas putih’ ini pandangan itu pun berubah.

1. Colombo-Nuwara Eliya, Sri Lanka, 2007
Nuwara Eliya yang terletak di bagian tengah Sri Lanka adalah daerah tujuan wisata yang mengingatkan saya dengan suasana di Lembang atau Puncak di Jawa Barat. Sempat terbersit ucapan supir bus yang pernah saya naiki saat menempuh perjalanan di rute Ciater-Jakarta beberapa tahun silam bahwa melewati kawasan pegunungan seperti ini di atas jam 5 sore sangatlah rawan karena jalan yang licin dan kabut yang muncul sewaktu2x bisa mengurangi jarak pandang. Dan….kini saya dan T duduk di mobil bersama Deeva (supir yang kami sewa bersama mobilnya) di jam….10 malam! Dan benar saja, tak lama setelah berkendara dengan jarak pandang yang semakin berkurang kami pun harus berhenti. Yang nampak di luar kaca jendela hanyalah:

…….Putih Total……..

Lampu mobil jarak jauh tidak kuat menembus tebalnya kabut. Jika diumpamakan, saat itu mobil kami seperti berada di dalam kotak berisi kapas putih disekelilingnya. Tak banyak yang bisa dilakukan selain menunggu sampai kabut berkurang atau sampai ada kendaraan lain lewat. Tapi apakah akan ada kendaraan lewat di tempat dan waktu seperti ini?… Sepuluh menit…lima belas menit… dua puluh menit….tiga puluh lima menit… tidak ada kendaraan yang lewat. Ada rasa ngeri membayangkan jika ada kendaraan yang tiba2x muncul tidak bisa melihat kami karena mengalami kendala serupa. Sampai akhirnya secercah sinar berwarna kuning dan kemerahan terlihat, sebuah truk besar pun datang. Dengan menggunakan insting, Deeva mengambil posisi bersiap2x mengikuti truk tepat di belakangnya penuh kehati2xan. Untunglah kami bisa tiba di hotel tujuan dengan selamat berkat lampu sorot truk yang kebetulan lewat tersebut. Phewww….

2. Jotunheimen-Bergen, Norway 2008

Foto: Dan kabut pun mulai turun di kejauhan…

Setahun kemudian setelah episode di Nuwara Eliya, kami mengalami kejadian serupa yang jika dibandingkan sebenarnya masih tidak ada apa2xnya (lihat post: Menembus Awan. Kabut yang menghalangi jalan hanya dijumpai di beberapa lokasi tertentu seperti jalan di antara dua bukit yang cukup rapat atau lembah. Jalan yang kami lewati di kawasan pegunungan di bagian barat Norwegia ini adalah jalan kecil yang harus ditutup saat musim dingin karena rawan longsor serta ketebalan salju yang bisa mencapai 3-4 meter. Kelokan yang ada tidak terlalu ekstrim sementara di kiri kanan jalan nampak suguhan pemandangan cantik gunung dan bukit yang masih tertutup es di beberapa bagian di akhir musim semi.

3. Rio De Janeiro-Paraty, Brazil 2010

Foto: Pemandangan cantik yang kami jumpai di tengah jalan

Kabut tidak selamanya menakutkan, ia juga bisa menimbulkan suasana mistis dan magis apalagi jika berpadu dengan keheningan alam dan suasana perairan atau pegunungan. Dalam perjalanan dengan mobil rental dari Rio de Janeiro menuju kota tua bernama Paraty di Brazil saat melewati jalan yang diapit oleh bukit dan lembah kami terhenyak melihat pemandangan yang terbentang di depan mata. Nampak perbukitan di kejauhan yang berbaris tertutup kabut, sementara batas air di bawahnya terlihat samar. BEAUTIFUL! Continue reading

Nasib Punya Bos yang Ajaib

Nasib seorang bawahan biasanya tidak lepas dari bayang2x bos atau pimpinan yang bersangkutan. Efektivitas kerja, mood dan ketentraman hati sehari2x pun dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan dan perilaku si bos.

Menilik ke belakang, rasanya saya cukup kenyang memiliki sejumlah bos yang beraneka rupa warna dan keanehannya masing2x. Mau tahu seberapa ajaibnya mereka?

1. Bos Metal

Nathan (bukan nama sebenarnya) berasal dari Australia, baru menyelesaikan studi doktoralnya ketika memimpin tim penelitian kami di salah satu daerah konflik di Indonesia. Dalam sehari entah berapa bungkus rokok dihabiskannya. Penggemar musik rock, metal dan heavy metal; selalu memakai jeans dan t-shirt saat bekerja di lapangan atau di kantor, atau paling rapi memakai kemeja lengan pendek yang tidak diseterika dan ujungnya sering lupa dimasukkan ke dalam celana jeans belelnya. Meski terlihat berantakan Nathan adalah seorang pemikir yang strategis, peduli terhadap anak buah, disiplin dan selalu tertawa lebar jika ada sesuatu yang dianggapnya lucu. Ia memiliki hobi aneh: minta diajari bahasa Indonesia dan bahasa daerah lokal khusus kosa kata umpatan dan makian dari supir kami. Alhasil dalam waktu tiga minggu di lapangan ia sudah memiliki perbendaharaan makian dan umpatan yang tidak bisa dianggap remeh. Terus terang saya kuatir jika sewaktu2x ia mempraktekkan kata2x tadi ke orang lain, yang untungnya nyaris tidak pernah.

…..Fiuhhhhh…..

Setiap pagi dan sore saat kami berangkat dari base camp menuju desa yang terpencil dan sebaliknya Nathan akan memutar kaset (bukan CD ya, masih kaset sodara2x…) musik keras2x di mobil yang secara harfiah benar2x keras sampai pada level membahana dan menggelegar. Untuk kaset sayangnya kami tidak punya banyak pilihan, yakni hanya ada satu album Queen, satu lagu dangdut dan satu lagu daerah lokal. Album Queen adalah pilihan favoritnya yang dalam sehari bisa diputar berkali2x…. bolak-balik sepanjang perjalanan yang bisa berlangsung 4-8 jam bahkan lebih itu, termasuk di waktu break makan siang di mobil. Kalau dihitung2x dalam sehari tidak kurang kami bisa mendengar lagu yang sama 10 kali lebih (mabokkkk dehhhh.…)

Yang paling mengerikan adalah saat menempuh perjalanan nyaris 12-14 jam akibat medan yang sulit dicapai dan berada jauh di pelosok, cuci otak dengan lagu2x Queen pun tak bisa lagi dihindarkan (huhuhu :( …) Dampak jangka panjang terhadap diri saya yang sering (harus) satu mobil dengan si bos sepanjang 2 bulan total waktu pencarian data lapangan adalah: hapal di luar kepala urutan album Queen dan lagu2xnya dalam kaset, side A dan side B mulai dari ‘Bicycle’, ‘Bohemian Rhapsody’, ‘We Are the Champion’ dll….hingga sampai pada level trauma nyaris akut saat baru mendengar intro lagu2xnya saja…. (haha :D …parahhhh...).

Setelah melancarkan aksi bujukan, ledekan, protes, permintaan dan paksaan (berikut umpatan di lubuk hati kami yang terdalam) untuk memutar  jenis lagu lain barulah si bos mengganti kaset dengan lagu… DANGDUT….yang hanya berlangsung 2 menit….berganti lagu lokal daerah yang mendayu2x yang hanya sukses bertahan selama 1 menit saja… Kamipun akhirnya menyerah dan membiarkan si bos memutar satu2xnya kaset yang dianggap paling ‘bersahabat’: album Queen favoritnya. Sebagai penggemar lagu2x yang tenang, mendayu dan sentimental seperti Celine Dion, Enya, Charlotte Church saya hanya bisa mengelus dada dan menangis dalam hati (lebayyyy…. :D ). Pikiran2x untuk menyabot tape recorder atau memusnahkan kaset Queen tadi memang sempat melintas namun tidak pernah terlaksana. Dan pilihan antara mendengarkan musik QUEEN atau DANGDUT sepertinya tidak terlalu sulit: bayangan mendengarkan lagu dangdut 4-8 jam dalam satu perjalanan non stop nyaris setiap hari terdengar lebih horror….

Ampuuunnnn…dehhhh….

2. Bos yang Nyaris Tak Terlihat dan Tak Terdengar

Bos yang satu ini unik dan lain dari yang lain. Beliau adalah penduduk lokal Sri Lanka keturunan Sinhala yang dihormati dan memiliki posisi penting di departemen tempatnya bekerja di Colombo. Waktu itu saya dibuang ditempatkan di lokasi konflik aktif di daerah mayoritas beretnis Tamil yang membutuhkan 9 jam perjalanan dari ibukota tempat si bos bercokol. Sepanjang waktu tugas sekitar 7 bulan, si bos sudah 3-4 kali berjanji akan datang berkunjung ke duty station tempat saya bekerja. Sayang, janji hanya janji, si bos tidak pernah nampak batang hidungnya. Telepon pun hanya beberapa kali dilakukan ke pimpinan kantor tempat saya menumpang, laporan tidak pernah ditanyakan atau ditagih.

Awalnya saya senang karena diberi kebebasan dan dipercaya oleh si bos, namun lama kelamaan ada rasa jenuh juga karena merasa tidak diperhatikan. Meski selalu masuk kerja tepat waktu, melaksanakan kewajiban, memberikan laporan monitoring dan aktivitas….saya butuh feedback, masukan, teman berdiskusi dan tempat bertanya. Barulah di saat akan mengakhiri masa kontrak saya mendapat informasi dari sejumlah orang bahwa si bos sering diam2x mencek absensi, menelpon dan memonitor kinerja saya….dari kejauhan….nyaris tak terlihat…dan tak terdengar….. (bos siluman kaleee… :D ) Continue reading

Kehidupan Asmara Di sini dan Di sana

Kehidupan asmara atau percintaan di Norwegia dianggap sebagai salah satu privacy yang hanya dibicarakan oleh orang yang sangat dipercaya. Topik asmara secara umum pun tidak pernah muncul saat kami duduk2x bersama dan ngobrol di jam makan siang atau break. Sesekali topik ini baru muncul ketika memberikan selamat terhadap seorang kolega yang baru saja bertunangan atau meresmikan hubungan. That’s all.….

Biasanya informasi seperti ini tanpa sengaja saya ketahui saat terjadi pembicaraan empat mata di luar urusan pekerjaan misalnya berita kalau si A hendak bercerai, si B baru punya pacar baru, si C baru saja putus dll.

Hasil mapping alias pemetaan kehidupan asmara di kantor (nggak-penting-banget.com…yeahh, I know :D ) menunjukkan paling tidak ada sebelas (11) orang single yang terdiri dari 9 perempuan dan 2 laki2x.

Dilihat dari jumlah total staff di institusi kami yang 35 orang maka angka single di kantor bisa dibilang cukup tinggi yakni sekitar 30% (wedewwww...). Meski bukan urusan saya, hal ini menimbulkan tanda tanya: —–MENGAPA????—–

Kawan2x yang masih single di kantor tadi secara umum masih muda, ganteng, cantik, cerdas, mapan, sehat…dan ketika ada yang nekat bertanya (biasanya non-native): “Mengapa masih single?” mereka hanya menjawab singkat: “belum menemukan yang cocok”.

Di sini tekanan sosial bagi mereka yang belum menikah hampir tidak ada. Semua seakan memahami bahwa ini adalah hak asasi setiap orang yang tidak boleh diintervensi orang lain. Pertanyaan “Kapan menikah?” akan dianggap aneh dan berlebihan. Usia 30 tahun-an masih dianggap muda dan biasanya di usia 35-36 tahun barulah perkawinan menjadi satu hal yang dipikirkan.Tidak sedikit yang menganggap bahwa perkawinan bukan sesuatu yang penting dan hanyalah dibutuhkan karena sepucuk kertas untuk formalitas. Cinta menurut kelompok ini tidak mengenal batasan institusi atau legalitas yang duniawi sifatnya.

Mencari pasangan serasi sendiri bukan hal yang mudah dan kesesuaian atau compatibility adalah salah satu faktor penting. Karena secara umum penduduk Norwegia mencintai alam maka kriteria menyukai aktivitas di alam terbuka biasanya cukup menjadi salah satu tolok ukuran. Kalau kita berjalan di tempat publik di sini maka nyaris tidak ditemui orang Norwegia yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. Sejak kecil di taman kanak2x biasanya aktivitas outdoor sudah diperkenalkan. Beberapa kali seminggu anak2x di TK akan dibawa hiking ke puncak bukit kecil, ke taman, menikmati pemandangan di tepi fjord dll. Saat musim liburan puncak2x gunung di luar kota yang populer biasanya dipenuhi manusia segala usia yang ingin hiking atau mendaki.

Memikirkan hal ini tak urung membuat saya teringat sejumlah kawan yang masih lajang di Jakarta di usia mereka yang menurut banyak orang Indonesia tidak muda lagi. Semua kawan yang saya kenal tersebut memiliki kesamaan: berpendidikan tinggi (tamatan S2 dalam dan LN), memiliki karir yang bagus, mandiri secara finansial dan berkepribadian kuat…dan semua perempuan.

Kesimpulannya, kalau dilihat lebih lanjut lagi, kawan2x yang masih single di Norwegia dan di Indonesia, terlepas dari jenis kelaminnya memiliki kesamaan:
1. Pendidikan tinggi
2. Mandiri
3. Kepribadian kuat

Yang membedakan adalah persepsi tentang pernikahan atau menemukan pasangan. Bagi orang sini mungkin menikah dan berpasangan BUKAN suatu keharusan dan menjadi single adalah sebuah pilihan sadar tanpa tekanan… Sementara di Indonesia tekanan dari lingkungan keluarga dan sosial untuk berpasangan masih cukup besar yang tak jarang membuat yang bersangkutan capek ditanya ‘kapan menikah?’.

Faktor pendidikan tinggi di sini menjadi nilai tambah karena yang bersangkutan akan menjadi orang yang enak diajak berdiskusi, sementara di Indonesia pandangan patriarkal yang dominan masih sering muncul bahwa perempuan tidak boleh ‘lebih’ dari suami membuat perempuan berpendidikan tinggi dianggap sebagai ‘ancaman’ dan membuat laki2x mundur terlebih dahulu. Apakah memang demikian? Entahlah. Sepertinya prioritas dan pilihan individu serta setting sosial tempat kita berinteraksi juga memegang peranan yang tidak sedikit.

Buat saya lajang atau menikah adalah hak yang harus dihormati. Apapun statusnya saya selalu mendoakan agar kawan2x tersebut bahagia dan bisa menjadi dirinya sendiri… :)

Tabik.

Gegar Budaya – Di Sisi Yang Lain

Gegar budaya (culture shock) bisa dialami oleh setiap orang saat berada di lokasi atau lingkungan yang baru. Perbedaan adat-kebiasaan, makanan, cuaca adalah beberapa contoh yang bisa memicu kejutan2x budaya tersebut.

Sejumlah kolega yang berasal dari negara berbeda pernah curhat ke saya mengenai kejutan budaya yang mereka alami saat berada dan berinteraksi dengan orang2x di Indonesia, mau tahu apa saja?

1. Senyum Penuh Misteri
Kita sering mendengar bahwa Indonesia adalah bangsa dengan penduduk yang suka tersenyum, terbuka terhadap tamu dan ramah-tamah. Namun, senyum orang Indonesia ternyata sering membuat sejumlah teman asing bingung menafsirkannya. Saat seorang petinggi militer marah pada seorang kawan dari Norwegia misalnya si petinggi tadi justeru tersenyum dengan wajah marah dan kumis tebal yang naik-turun (hmmm…kalau begini saya yang orang Indonesia juga ikutan bingung…apalagi si kawan dari Norwegia tadi ya?.)

Kali lain sejumlah kawan bertanya arti senyum dari seorang tersangka teroris atau koruptor yang tertangkap dan difoto oleh wartawan yang bisa ditafsirkan bermacam2x…. Mengapa dia tersenyum setelah membunuh ratusan orang atau mengkorupsi uang negara milyaran rupiah? Apakah dia senang karena sudah ditangkap? Apakah dia tidak menyesali perbuatannya?

Alhasil saya hanya bisa tersenyum kecut ketika seorang kawan yang sudah lama bergelut dengan Indonesia hanya berkomentar pendek sambil mencoba menjelaskan bahwa: “Orang Indonesia memiliki lebih dari 500 macam senyum yang bisa diartikan berbeda2x… Mulai dari senyuman tulus sampai senyum penuh misteri… “

HMMMM…Apa betul begitu?….Entahlah….Jangan2x memang iya… *sambil garuk2x kepala*

2. Gelak-tawa dan canda senantiasa
Buat saya berbahasa Norsk seharian di tempat kerja non-stop dapat membuat otak nyaris ‘hang’ jika tidak diselingi oleh jeda berbahasa Inggris yang lebih natural dibandingkan norsk. Seminggu tanpa berbahasa Indonesia sudah bisa membuat lidah merindukan bahasa ibu ini. Bertemu kawan sebangsa dan setanah air, bersenda-gurau bercanda dan tertawa bersama adalah oase yang dirindukan jika rasa kangen terhadap tanah air muncul.

Dan…. di sinilah kebingungan bisa muncul….
Dalam suatu kumpul2x pelajar Indonesia di asrama kampus yang dipenuhi canda serta gelak tawa tiada henti akibat saling lempar ledekan tiba2x seorang pelajar Russia muncul di pintu sambil cengengesan dan bertanya: “Boleh nggak saya ikut mencicipi ‘barang’ yang kalian pakai?…” Pertanyaan tadi membuat orang2x Indonesia dalam ruangan terdiam dan berpikir, ‘barang’apa yang dimaksud si pelajar Russia tadi?

Melihat kebingungan yang ada si pelajar Russia menjelaskan lebih lanjut: “Iya….itu loh, kalian make ganja ya…atau alkohol kali….kok ketawa2x mulu non-stop gitu…. saya penasaran kalian make apa sih kok bisa hepi kayak begini….” Ooooooo….. ternyata gelak tawa warga Indonesia saat kumpul2x itu disangka akibat pengaruh obat2xan atau alkohol… Seorang teman langsung menjelaskan: “Wah, maaf….kita pelajar dan orang baik2x…. nggak make begituan… dan kita nggak butuh juga obat2xan ato alkohol buat merasa hepi….ketawa kita murni dari hasil becandaan dan ledekan sesama temen… well, memang bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang mudah tersenyum dan tertawa…. “

Jawaban tadi justeru membuat si pelajar Russia garuk2x kepala karena sepengetahuannya orang akan menjadi lebih mudah tertawa jika sudah mabuk…ternyata gelak tawa orang Indonesia bisa muncul hanya dari acara kumpul2x dengan minuman dan makanan seadanya….as simple as that… Yeppp….. entah bagaimana menjelaskan konsep ‘mangan ora mangan asal ngumpul’ (makan nggak makan asal kumpul) ke kawan tadi dalam versi yang lebih mudah dimengerti….

3.Dilarang makan sambil bicara ?
Sesi makan bersama di sejumlah negara Eropa, termasuk di Norwegia biasanya bisa berlangsung lebih dari 1 jam. Waktu makan malam misalnya menjadi lebih panjang (bisa 2 jam lebih) karena pembagian waktu untuk makanan pembuka, makanan utama, makanan penutup, teh dan kopi serta snacks yang berurutan. Saat makan obrolan bisa berlangsung non-stop dari A-Z, mulai dari topik ringan hingga topik berat, mulai dari hal yang bersifat personal (pekerjaan, studi) sampai perkembangan situasi politik terakhir.

Sementara di Indonesia, banyak keluarga yang melarang anak berbicara saat sedang makan karena takut tersedak, makanan berantakan dll. Akibatnya, tak jarang sesi makan berlangsung sunyi saat masing2x sibuk berkonsentrasi dengan makanannya dan hanya berbicara seperlunya.

Seorang kawan Norwegia mengalami kejutan budaya saat makan bersama di Indonesia dalam salah satu kunjungan lapangan. Kensunyian di meja makan membuatnya bertanya2x apakah ia harus berinisiatif memulai percakapan? Apakah ada sesuatu yang salah? Mengapa semua diam? Sesi makan berlangsung singkat, hanya sekitar 15-20 menit kemudian melanjutkan perjalanan baginya sangat aneh dan berbeda dengan sesi makan bersama di negaranya. Untunglah ia bisa mengerti setelah saya coba jelaskan bahwa selain kendala bahasa, rasa enggan untuk memulai percakapan, mungkin’instruksi’ dari orang tua yang kami dapat saat masih kecil untuk tidak banyak ‘bertingkah’ saat makan nampaknya masih cukup melekat hingga dewasa di hati cukup banyak orang.

bersambung dalam postingan berikutnya…

Terjebak di Elevator

Terjebak di elevator atau lift adalah satu hal yang paling saya takutkan. Tangga adalah pilihan utama saat harus menaiki gedung bertingkat. Bukan hanya demi alasan lebih sehat…tapi juga karena takut naik lift (hehe… :D ). Tetapi, malang tak dapat ditolak dan untung tak dapat diraih (lebayyy…), pagi ini dalam perjalanan menuju kesebuah rapat penting hal yang paling saya takutkan terjadi: yep, TERJEBAK di dalam lift, seorang diri pula…huhuhu :(

MENIT2x PERTAMA. Masih tenang dan percaya bahwa pertolongan akan datang.

Sepi.

LIMA MENIT berikutnya. Mulai gedor2x pintu lift dan berharap ada orang yang mendengar di luar sana. Pintu lift yang transparan memungkinkan saya melihat ke luar. Posisi lift saat itu 1/3 di lantai 2 dan sisanya menggantung di lantai 1 yang saya tuju.

MENIT SELANJUTNYA. Mulai berpikir dan mencerna situasi, membayangkan skenario terburuk bahwa saya akan terjebak di lift selama seharian sampai jam pulang kantor atau bahkan sampai Senin pagi. Saya coba menghubungi nomor telepon kantor dan teringat bahwa hari Jumat ini kantor sepi karena ada pelatihan di luar kota dan resepsionis tidak ada di tempat.

Dan, HP pun menjadi andalan. Tapi, SIAPA yang harus dihubungi? Pemadam kebakaran? Ambulan? Polisi? Penjaga gedung? Hubby yang di luar kota? Keluarga di Indonesia?

Dalam kepala ini adegan film2x TV saat ada orang yang yang terjebak di lift langsung berseliweran. Memori pelajaran yang didapat saat security training pun saya coba ingat2x lagi…Tapi…security training saya kan untuk keadaan emergency di daerah bencana dan konflik, tidak ada sesi pelatihan jika terjebak di lift di pusat kota….  *WHAAAA….Jaka sembung bawa golok…..*

*tarik nafas dalam2x, berdoa khusyuk, berpikir keras*

Alhasil, setelah beberapa saat saya berhasil memaksa otak menyusun daftar realistis orang2x yang bisa diandalkan untuk bisa menolong. Prioritas pertama pasti orang yang SAAT ITU BERADA DI DEKAT lokasi … (ah, Feli…kamu sungguh cerdas!!! :D …)

Telepon pertama, Geir, kolega satu unit yang ada ruangan lantai 5.

Tidak ada jawaban.

Saya coba kontak nomor yang sama dan lagi2x hanya terdengar nada tunggu

*galau dan kuatir*

Setelah sekian lama menggedor2x pintu dari dalam, nampak sekelebat bayangan manusia di luar sana. AHA!!!, tukang pos. Dia berdiri di luar dan berteriak: “Coba pencet alarm dan nomor2x emergency yang tertempel di dinding!”

Alarm saya pencet. TETTT…TEETTTT…TET,TET,TEEETTTTTTT!!!!!!….

Lalu?

Ternyata alarm dalam lift tadi adalah tombol untuk menarik perhatian orang agar ada yang datang. Lah, ini kan sudah ada yang datang, si tukang pos tadi…tapi dia tidak bisa berbuat apa2x.

…..BAGOOOSSSSSS….

Continue reading